Happy Reading ^_^
***
“Saya tanya sekali lagi, kamu beneran nggak mau periksa di rumah sakit?” dokter Hendrawan, dokter pribadi Ganendra, bertanya untuk yang ke sekian kalinya. Ia masih tidak percaya keputusan perempuan di depannya. “Kita lupakan masalah visum dan lain sebagainya, tapi ini untuk memeriksa kondisi kamu secara menyeluruh. Alat-alat yang saya bawa nggak akan bisa mendeteksi kamu gegar otak atau tidak, Lentera.”
Lentera menghela napas lemah. Dokter paruh baya itu benar-benar cerewet, persis seperti tuannya, batin Lentera karena teringat Ganendra Tanaka.
“Saya buatkan appointment khusus. Mau ya?”
Walau sebal, Lentera mencoba tetap tersenyum walau tipis. “Terima kasih, dokter, tapi izinkan saya menolak tawaran ini. Saya sudah jauh lebih baik.”
Dan Lentera memang tidak boh