Malam ketika ia tak mengangkat telepon menghantui Rani bukan sebagai rasa bersalah, melainkan sebagai diagnosis. Ia mengenali polanya seperti mengenali gejala pada pasien: program yang bergantung pada satu tubuh adalah program yang sudah dirancang untuk gagal. Bukan kalau, tapi kapan. Ia hanya satu orang, dan satu orang tak bisa berada di dua kamar terkunci sekaligus—ia sudah membuktikannya dengan harga sebuah luka yang menganga kembali.
Maka ia melakukan hal yang, baginya, lebih sulit daripada menembus gang subuh-subuh untuk merujuk Wulan. Ia mulai melepas.
Pagi itu di ruang konseling yang aslinya gudang arsip bersekat tripleks, ia memanggil Yoga dan menyerahkan map tipis berisi catatan Sutejo. "Mulai minggu ini, kunjungan Sutejo yang hari Selasa dan Jumat kamu yang pegang. Bukan nemenin saya. Kamu sendiri. Kamu yang kaji, kamu yang putusin, kamu yang lapor ke saya malamnya."
Yoga memandang map itu seperti diberi sesuatu yang terlalu berat dan terlalu berharga sekaligus. "Kalau saya salah gimana, Mbak?"
"Pasti salah," jawab Rani, dan ia tersenyum tipis. "Saya juga masih salah. Yang penting kamu lapor sebelum salahnya jadi besar. Itu gunanya saya masih ada."
Tapi melepas tak berhenti di Yoga. Rani tahu satu perawat tambahan masih satu titik rapuh; kalau Yoga sakit, kalau Yoga libur, jaring itu kembali bolong. Maka ia menemui Bu Inah dan meminta sesuatu yang lebih ambisius: dua kader baru. Bukan kader balita, tapi kader yang khusus dilatih mengenali tanda-tanda jiwa, menenangkan saat gelisah, dan—ini yang paling penting—yang tinggal di gang yang sama dengan pasien, yang bisa sampai dalam dua menit, bukan lima belas.
Bu Inah mengusulkan dua nama. Bu Sri, ibu rumah tangga di Wuni Lor yang rumahnya hanya tiga pintu dari Darmin dan yang sudah lama diam-diam ikut prihatin pada Sutejo. Dan Mas Gun, tukang ojek pangkalan yang motornya bisa jadi ambulans dadakan kapan saja, dan yang—Bu Inah menambahkan dengan suara pelan—punya adik yang dulu juga "begitu", yang meninggal tanpa pernah diobati. Rani mengenali sesuatu di nama kedua itu. Duka yang sama yang membawanya pulang ke kecamatan ini mungkin juga bisa jadi bahan bakar bagi orang lain, asal diarahkan, bukan dibiarkan membusuk jadi rasa bersalah.
Yang tak ia duga adalah dr. Pram.
Dokter itu memanggilnya sore itu, dan Rani sudah menyiapkan diri untuk teguran lain soal beban kerja. Tapi dr. Pram tidak membuka map. Ia hanya menatap Rani lama, lelaki yang biasanya menghitung anggaran sebelum mendengar rencana, dan ketika ia bicara, ada sesuatu yang retak di suaranya.
"Aku denger soal subuh kemarin. Wulan dirujuk, Sutejo dipasung lagi, dua-duanya di pagi yang sama." Ia memijat pelipisnya. "Aku hampir kehilangan dua pasien sekaligus karena kita cuma punya satu orang yang sanggup lari ke dua arah. Itu... itu bukan cuma soal kamu kecapekan, Rani. Itu soal sistem yang aku biarin terlalu lama bersandar di satu punggung."
Ia menarik selembar kertas dan mendorongnya ke meja. Sebuah jadwal. Piket bergilir—dirinya, Yoga, Rani, dengan nomor darurat yang berputar tiap malam sehingga selalu ada yang mengangkat. "Aku ikut piket. Malam Selasa dan Kamis aku yang pegang telepon. Aku dokter, aku harusnya yang paling siap, dan aku malah ngebiarin kamu nanggung sendirian."
Rani memandang kertas itu, dan untuk sesaat ia tak bisa bicara. Skeptisisme dr. Pram selama ini bukan ketidakpedulian—ia baru menyadarinya sekarang. Itu ketakutan seorang dokter yang sudah terlalu sering melihat program ambisius runtuh dan meninggalkan pasien lebih hancur dari sebelumnya. Dan ketakutan itu, malam kemarin, hampir terbukti.
Malam harinya Rani duduk sendiri di depan peta titik merah, menyusun daftar tugas baru: siapa pegang siapa, siapa back-up siapa, nomor mana telepon mana. Tulisan tangannya rapi, sistematis, seperti yang selalu ia banggakan. Tapi tangannya berhenti di tengah daftar, dan ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya sesak dengan perasaan yang sulit dinamai.
Membagi beban berarti melepas kendali. Berarti Sutejo akan dirawat oleh tangan yang bukan tangannya. Berarti suatu malam telepon akan diangkat oleh orang lain, keputusan diambil oleh orang lain, dan ia harus percaya bahwa orang lain itu cukup. Selama ini, di tengah kelelahannya, ada satu hal yang ia genggam erat tanpa sadar: keyakinan bahwa hanya ia yang bisa. Bahwa kalau bukan ia, maka tak ada. Keyakinan itu adalah sumber kekuatannya—dan, ia mulai mengerti, juga rantai yang mengikatnya, paku yang ditancapkan ke kakinya sendiri sejak hari ia melihat kayu dipasang di gudang Bagas.
Ia menatap nama-nama di daftar itu, tangan-tangan baru yang akan ikut memikul, dan menulis kalimat terakhir untuk dirinya sendiri di sudut kertas, pelan, seperti seseorang yang sedang belajar mengeja kata asing.
Bukan aku sendirian. Bukan lagi cuma aku.