Pak Hardi tak menunggu sampai pejabat datang untuk mulai membersihkan kampung. Ia mulai dari kata-kata.
Bu Inah yang membawa kabarnya, dan kali ini suaranya lebih gentar dari biasa. "Mbak, Pak Hardi ngumpulin keluarga-keluarga yang ada... yang ada anggotanya begitu. Termasuk Pak Darmin. Dia bilang kunjungan pejabatnya dimajuin, tinggal tiga minggu. Dia minta semua 'ditertibkan'. Katanya, 'pas hari H, jangan ada yang keluyuran, jangan ada yang keliatan, kalau perlu dikondisikan di rumah dulu sampai acara selesai'."
Dikondisikan. Rani sudah hafal kosakata itu—bahasa halus untuk dikunci, dikurung, dipasung sementara. Dan ia tahu, di balik kata yang sopan itu, ancaman langsung pada Sutejo yang baru bisa melangkah lima langkah tanpa dipapah, pada tiap titik merah di petanya yang baru mulai ia sentuh. Satu kalimat dari kepala dusun, dan minggu-minggu kerja bisa kembali ke kayu dan paku, demi tiga jam acara seremoni.
Naluri lamanya menyala: lawan. Datangi Pak Hardi, hadapkan ia dengan Sutejo yang sudah pulih, paksa ia melihat bahwa yang ia sebut aib adalah manusia yang sedang sembuh. Tapi Rani menahannya, sama seperti ia menahan tangannya dari obeng di gudang itu. Melawan kepala dusun secara frontal di kampungnya sendiri—kampung yang lebih takut pada keributan daripada penderitaan—adalah cara tercepat membuat seluruh program dicap pembuat onar. Pak Hardi tak perlu mengalahkannya. Ia hanya perlu membuatnya terlihat seperti pengganggu ketertiban, dan kampung akan menutup pintunya sendiri.
Maka malam itu Rani tak menyusun strategi serangan. Ia menyusun strategi celah.
Ia membongkar map peraturan yang selama ini ia simpan setengah dilupakan—surat edaran Kemenkes soal Stop Pasung, instruksi bebas pasung, ketentuan tentang hak ODGJ. Ia membaca ulang sampai larut, mencari satu hal: dasar resmi yang lebih tinggi daripada kehendak seorang kepala dusun. Karena Rani belajar dari urusan depot dan rujukan bahwa di negeri ini, melawan kekuasaan kecil paling efektif bukan dengan kemarahan, tapi dengan menunjukkan kekuasaan yang lebih besar yang berdiri di belakangmu. Pak Hardi bisa menekan keluarga. Tapi Pak Hardi tak bisa, secara hukum, memerintahkan pemasungan—dan justru pemasungan-lah yang akan jadi aib sesungguhnya jika tercatat saat penilaian desa.
Di situ Rani menemukan celah yang ia cari, dan celah itu membuatnya tersenyum tipis di tengah lelah. Kunjungan pejabat yang Pak Hardi anggap alasan untuk menyembunyikan ODGJ—Rani bisa membaliknya jadi alasan untuk tidak menyembunyikan mereka. Karena kalau pejabat datang menilai desa, maka desa yang punya program kesehatan jiwa berjalan, yang berani menangani pasung secara terbuka, justru lebih unggul daripada desa yang berpura-pura tak punya masalah. Aib bukan punya ODGJ. Aib adalah memasungnya.
Tapi celah itu hanya berguna jika ia bisa meyakinkan orang yang tepat sebelum Pak Hardi sempat mengeksekusi rencananya. Dan ia tahu ia butuh sekutu yang suaranya didengar di tingkat desa—dr. Pram untuk legitimasi medis, Ustaz Karim untuk legitimasi moral, mungkin bahkan Pak Lurah langsung, melompati kepala dusun.
Ia baru menutup map ketika ponselnya berdering. Pak Hardi. Rani menarik napas sebelum menjawab.
Suara di seberang ramah, terlalu ramah, dengan dinginnya yang khas. "Mbak Rani. Saya denger Mbak ngumpulin-ngumpulin surat-surat, peraturan-peraturan. Saya cuma mau ngingetin, Mbak, secara baik-baik." Jeda. "Kampung ini lagi mau diliat pejabat. Ini kesempatan kita semua, ada bantuan, ada nama baik. Jangan sampai gara-gara Mbak mau nunjukin orang-orang sakit itu ke pejabat, kampung kita malah diliat jelek. Diliat kampung yang penuh orang gila. Mbak ngerti maksud saya?"
"Saya ngerti, Pak," kata Rani, suaranya rata.
"Bagus. Jadi pas hari H, Mbak jangan bawa-bawa Sutejo, jangan bawa-bawa yang lain-lain ke depan pejabat. Biar saya yang atur tampilannya. Mbak urus medisnya aja, di belakang, diem-diem. Jangan permaluin dusun saya di depan orang kabupaten." Nada terakhirnya turun, kehilangan keramahan palsunya, jadi datar dan keras. "Saya nggak mau ngulang ini, Mbak."
Telepon ditutup sebelum Rani sempat menjawab. Ia memegang ponsel yang sudah senyap, lalu memandang map peraturan terbuka di mejanya, lalu peta titik merah di tripleks dengan Sutejo dan Wulan dan nama-nama lain yang menunggu. Pak Hardi pikir ia baru saja memberi peringatan. Tapi tanpa sadar, lelaki itu baru saja memberitahu Rani persis di mana medan perang akan digelar—dan kapan. Tiga minggu. Hari kunjungan pejabat. Dan untuk pertama kali sejak subuh yang menghancurkan itu, Rani tidak merasa terpojok.
Ia merasa, untuk sekali ini, ia tahu lebih dulu di mana harus berdiri.