Peta itu sudah tak muat lagi di kepala Rani. Maka ia memindahkannya ke kertas.
Selama berminggu-minggu, tripleks di ruang konseling itu bertambah titik—Sutejo di Wuni Lor, Wulan di Wuni Tengah, Mbah Ginem di gang pasar, Darji yang depresi menahun, Topan yang epilepsi, dan nama-nama yang muncul dari pendataan door-to-door, dari pertemuan Posyandu Jiwa, dari ibu-ibu yang akhirnya berani berbisik. Tapi titik di tripleks adalah firasat. Untuk melawan sistem, Rani butuh angka. Maka malam-malam ia duduk mengubah spidol merah jadi tabel: nama, umur, alamat, dugaan diagnosis, lama pemasungan atau pengurungan, status penanganan. Data yang—seperti kata Mbak Yuli tentang Sutejo dulu—membuat orang-orang ini, untuk pertama kali, ada di sistem.
Ia menghitung. Dan angka itu membuatnya berhenti, pena tergantung di udara.
Di catatan resmi Puskesmas Tanjung Wuni selama ini, jumlah ODGJ dipasung yang tercatat bisa dihitung dengan jari satu tangan. Tiga, mungkin empat. Itu yang dilaporkan ke Dinas bertahun-tahun, angka kecil yang membuat masalah ini terlihat marjinal, hampir tak ada, tak layak diperjuangkan anggaran. Tapi tabel di hadapan Rani sekarang—hasil dari pintu yang ia ketuk, dari kepercayaan yang ia bangun rumah demi rumah—mencantumkan lebih dari belasan nama. Dan ia tahu ini pun belum lengkap. Masih ada pintu yang belum ia ketuk, masih ada gudang yang belum ia masuki, masih ada keluarga yang belum berani.
Angka resmi yang kecil itu bukan karena masalahnya kecil. Angka itu kecil karena tak ada yang pernah benar-benar menghitung. Dan selama tak terhitung, masalah ini bisa terus diabaikan, karena di mata birokrasi, yang tak terdata adalah yang tak ada.
Rani membawa tabel itu ke ruangan dr. Pram pagi berikutnya. Ia tak banyak bicara. Ia hanya meletakkannya di meja dan membiarkan angka itu bicara sendiri.
Dokter itu membacanya lama. Lelaki yang dulu menyandarkan punggung ke kursi sambil menghitung anggaran sebelum mendengar rencana, yang menyebut idealisme murah di tahun pertama dan mahal di tahun kelima, kini membungkuk ke arah kertas itu dengan wajah yang perlahan berubah. Rani melihat skeptisismenya luruh, digantikan sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih berbahaya dan lebih berguna daripada simpati: perhitungan strategis.
"Belasan," gumam dr. Pram. "Belasan di satu kecamatan. Dan yang kelaporan selama ini cuma tiga." Ia mengangkat wajah. "Kamu tahu apa artinya angka ini, Rani?"
"Artinya kita gagal mencatat orang-orang ini selama bertahun-tahun."
"Itu artinya yang menyakitkan. Tapi ada artinya yang berguna." dr. Pram mengetuk kertas itu dengan jari. "Angka ini nggak bisa diabaikan. Tiga orang gampang diabaikan—siapa peduli tiga orang. Tapi belasan, terdokumentasi, dengan nama dan alamat dan diagnosis—ini jadi masalah yang harus ditanggapi. Ini bisa kita pakai. Buat narik dana program. Buat nekan Dinas soal stok obat dan kuota rujukan. Buat ngomong ke Pak Lurah, ke kabupaten, bahwa Tanjung Wuni punya masalah keswa yang serius dan butuh sumber daya. Data ini senjata, Rani. Yang selama ini kita nggak punya."
Untuk pertama kali sejak Rani memulai program ini, dr. Pram bukan lagi rem. Ia jadi sekutu—dan bukan sekutu yang lembut, tapi sekutu yang tahu cara membaca medan birokrasi dan tahu bahwa angka adalah amunisi. Rani merasakan sesuatu bergeser di Puskesmas kecil itu, sesuatu yang lebih besar dari satu kasus, lebih besar dari satu gudang.
Ia menyusun tabel itu jadi laporan resmi—rapi, ditandatangani, dengan kop Puskesmas, dengan bahasa yang dipahami sistem. Laporan pendataan pasung dan gangguan jiwa berat di Kecamatan Tanjung Wuni. Dokumen yang, sebelum dirinya, tak pernah ada. Ia menyerahkannya ke meja administrasi Puskesmas untuk diteruskan ke Dinas, dan dr. Pram membubuhkan tanda tangan tanpa ragu di sampingnya—bukan tanda tangan setengah hati seperti dulu di lembar rencana asuhan, tapi tanda tangan seorang yang akhirnya ikut memikul.
Tapi ketika laporan itu lepas dari tangannya, masuk ke mesin birokrasi yang akan membawanya entah ke mana, Rani berdiri sejenak di ruang administrasi dan menyadari sesuatu yang membuatnya tak sepenuhnya lega.
Selama ini, pasung adalah aib privat. Disembunyikan di gudang, di kamar terkunci, di lorong gelap—milik tiap keluarga, ditanggung sendiri-sendiri, tak terlihat oleh siapa pun yang tak mau melihat. Dan ada perlindungan yang aneh dalam ketersembunyian itu: selama tak terlihat, tak ada yang bisa menyalahkan, tak ada yang bisa menuntut, tak ada yang bisa mempolitisasi. Tapi laporan yang baru ia serahkan mengubah semua itu. Ia baru saja mengangkat belasan aib privat dan menjadikannya satu masalah publik—dicatat, dinamai, dipertanggungjawabkan. Tak bisa lagi diabaikan.
Dan masalah publik, Rani tahu betul, bisa berayun ke dua arah. Bisa menarik dana, perhatian, perbaikan. Atau bisa menarik orang-orang seperti Pak Hardi, yang akan melihat angka itu bukan sebagai nyawa-nyawa yang harus dirawat, melainkan sebagai aib kampung yang harus dibersihkan, atau sebagai panggung yang bisa direbut, atau sebagai alasan untuk menertibkan sebelum pejabat datang. Ia telah menelanjangi sesuatu yang selama ini gelap, dan dalam terang, hal-hal bisa disembuhkan—atau diburu.
Rani memandang pintu administrasi yang menelan laporannya, lalu kembali ke ruang konseling tempat peta titik merah menunggunya di tripleks. Ia tak menyesal. Ia tahu menyembunyikan masalah tak pernah menyelamatkan siapa pun—Bagas mati justru karena disembunyikan. Tapi malam itu, berdiri di depan peta penuh nama yang kini bukan lagi rahasia, ia merasakan bobot dari apa yang baru ia lakukan: ia telah membuka pintu yang tak bisa ditutup lagi, untuk lebih baik maupun lebih buruk, dan di balik pintu itu, kunjungan pejabat tinggal dua minggu lagi.