Surat persetujuan datang dua belas hari kemudian, dalam amplop coklat berkop provinsi yang Bu Retno antar sendiri—menempuh tiga jam dengan dalih 'urusan dinas', padahal Rani tahu ia datang untuk melihat wajah Rani saat membukanya.
Program lolos. Dana cair.
Rani membaca surat itu tiga kali sebelum percaya. Di dalamnya tertera angka yang, bagi seorang perawat yang selama ini mengakali alokasi obat dan urunan ongkos rujukan dari kantong sendiri, terasa seperti angka dari dunia lain. Ada pos untuk obat tambahan. Pos untuk honor kader—Bu Inah dan kader baru akhirnya akan dibayar untuk kerja yang selama ini mereka lakukan gratis. Pos untuk pelatihan. Dan yang paling membuat dada Rani sesak: pos untuk satu unit kendaraan rujukan, ambulans, untuk Tanjung Wuni.
Bu Retno tersenyum lebar melihat Rani membaca bagian itu. "Mbak nggak perlu lagi urunan ongkos angkot buat rujuk pasien ke provinsi. Nggak perlu lagi pasien batal dirawat cuma karena keluarganya nggak punya ongkos pulang."
Rani teringat malam-malam ketika rujukan gagal bukan karena tak ada tempat, tapi karena tak ada ongkos. Teringat surat rujukan Sutejo yang ditolak di lantai gudang. Teringat berapa banyak nyawa yang bergantung pada hal sesepele transportasi. Ia harus menahan diri untuk tidak menangis di depan Bu Retno.
Tapi kelegaan itu tidak datang murni. Rani sudah cukup lama berurusan dengan sistem untuk tahu bahwa uang tak pernah datang telanjang—ia selalu datang dengan pakaian persyaratan yang harus dipakai.
Lembar kedua surat itu adalah daftar kewajiban. Laporan bulanan ke provinsi dengan format baku. Indikator capaian yang harus dipenuhi: sekian pasien dibebaskan per triwulan, sekian persen kepatuhan obat, sekian kunjungan rumah terdokumentasi. Pertanggungjawaban keuangan dengan kuitansi tiap rupiah. Verifikasi berkala. Foto kegiatan. Tanda tangan penerima manfaat.
Malam itu, di meja konseling, Rani menatap dua tumpukan: di kiri, kabar gembira tentang ambulans dan obat dan honor; di kanan, setumpuk format laporan yang akan memakan waktu yang selama ini ia habiskan di rumah-rumah. Ia menyadari, dengan kejernihan yang sedikit pahit, bahwa ia baru saja menukar satu jenis kelangkaan dengan jenis lain. Dulu ia kekurangan sumber daya. Sekarang ia akan kekurangan waktu—waktu yang tersedot ke dalam kolom-kolom, kuitansi, dan angka yang harus dilaporkan.
"Dana itu kayak tamu yang baik tapi rewel," kata dr. Pram ketika Rani mengeluh keesokan harinya. "Dia bawa makanan banyak, tapi dia juga nontonin kamu masak sambil nyatet semua yang kamu lakukan. Selamat datang di dunia akuntabilitas, Rani."
"Saya jadi perawat buat ngerawat orang, Dok. Bukan buat ngisi tabel."
"Iya. Tapi tanpa tabel itu, tahun depan nggak ada dana, dan kamu balik ngerawat orang pakai kantong sendiri sampai kamu sendiri yang dirujuk." dr. Pram menepuk bahu Rani. "Belajar bagi. Yoga bisa bantu dokumentasi. Bu Inah bisa pegang absensi kader. Kamu nggak harus ngerjain semuanya sendiri—itu pelajaran lama yang kayaknya kamu masih belum betul-betul percaya."
Rani tahu dr. Pram benar, dan ia juga tahu betapa sulitnya melepas. Tapi ada juga sesuatu dalam kewajiban-kewajiban itu yang, kalau ia mau jujur, melegakan. Indikator capaian berarti provinsi akan terus menagih—dan tagihan itu, betapapun menjengkelkannya, adalah jaminan bahwa program ini tak akan dibiarkan mati diam-diam. Mata yang mengawasi adalah mata yang juga melindungi. Selama ada yang menagih laporan, selama ada angka yang harus dipenuhi, akan selalu ada alasan bagi siapa pun—termasuk pejabat yang malas—untuk menjaga program ini tetap hidup.
Ambulans itu datang tiga minggu kemudian.
Bukan ambulans mewah—mobil bekas yang dikonversi, cat putihnya masih bau baru, sirine sederhana di atapnya. Di sisi badannya tertulis dengan huruf hijau: 'Layanan Rujukan Kesehatan Jiwa — Kecamatan Tanjung Wuni'. Pak Hardi, tentu saja, sudah mengatur agar ada acara serah terima kecil dengan dirinya berdiri di depan, berfoto memegang kunci mobil seolah ia yang membelinya. Rani membiarkannya. Panggung untuk Pak Hardi, kemudi untuk tim—itu kesepakatan, dan ia menepatinya.
Setelah keramaian bubar, ketika sore turun dan halaman Puskesmas sepi, Rani berdiri sendiri di depan mobil itu. Ia mengusap badannya yang masih dingin oleh cat baru, membaca tulisan hijau itu pelan-pelan. Mobil ini berarti tak akan ada lagi pasien yang batal dirujuk karena ongkos. Berarti tak akan ada lagi malam Rani mengetuk pintu tetangga meminjam uang transport. Berarti Wulan, jika kambuh lagi, bisa dibawa dengan tenang, bukan ditahan dalam panik.
Tapi membaca tulisan itu, Rani juga merasakan beratnya. Mobil ini, dana ini, nama program yang kini tercetak di mana-mana—semua itu berarti Tanjung Wuni kini punya sesuatu untuk dijaga. Dan sesuatu yang berharga selalu mengundang yang ingin merebutnya, mengklaimnya, atau—jika anginnya berubah, seperti kata Bu Inah—mencabutnya. Ia lega. Ia juga, untuk pertama kali sejak proposal itu lolos, waspada dengan cara yang belum bisa ia jelaskan, seakan kemenangan ini telah memasang target di punggungnya yang dulu, ketika ia hanya perawat miskin sumber daya, tak pernah ada.