Pertengkaran itu pecah di ruang pertemuan Puskesmas, di antara dua orang yang seharusnya berada di pihak yang sama.
Rani datang terlambat—ia menepati janjinya untuk makan siang duduk—dan mendapati Pak Hardi dan dr. Pram sudah saling membentak dengan suara yang ditahan-tahan agar tak terdengar ke ruang tunggu, yang justru membuat keduanya tampak seperti ketel yang hampir meledak.
"Saya nggak bilang nggak penting," kata Pak Hardi, telapak tangannya menampar meja pelan tapi tegas. "Saya bilang harus kelihatan. Bulan depan ada kunjungan Bupati ke kecamatan sebelah. Kalau kita bikin acara—panggung, spanduk, mantan pasien cerita, foto bareng—nama Tanjung Wuni naik. Dana berikutnya gampang. Itu kerja saya, Dok. Saya yang ngerti politik."
"Dan saya yang ngerti pasien," balas dr. Pram, dingin. "Pak Hardi mau Sutejo, Wulan, Ratri naik panggung, cerita penyakit jiwa mereka di depan ratusan orang dan kamera. Tahu nggak risikonya? Stres pemicu relaps. Wulan baru stabil. Ratri baru dua bulan obat. Pak mau pamer pemulihan mereka, dan dalam prosesnya, ngerusak pemulihan itu sendiri."
"Mereka kan bukti hidup—"
"Mereka manusia, bukan trofi!"
Rani menutup pintu di belakangnya. Kedua lelaki itu menoleh, dan ada kelegaan licik di wajah keduanya—seolah masing-masing yakin Rani akan berpihak padanya.
Dan di situlah letak jebakannya. Rani tahu, dengan kejernihan yang baru ia miliki sejak kolaps, bahwa setiap kalimat yang akan ia ucapkan bisa meruntuhkan koalisi rapuh yang menopang puluhan nyawa. Pak Hardi memegang akses ke pejabat dan dana. dr. Pram memegang kemudi klinis dan legitimasi medis. Jika salah satu menarik diri, program pincang. Bu Inah pernah memperingatkannya: orang yang dulu memasang rantai sekarang ingin memegang kuncinya. Tapi Rani juga tahu, kunci itu—seberapa pun ia tak suka tangan yang memegangnya—membuka pintu yang membuat obat tetap mengalir.
Dulu, sebelum anak tangga itu, ia akan mencoba memenangkan keduanya, melelahkan dirinya menjadi perekat. Sekarang ia tahu perekat bukan tugasnya. Tugasnya menjahit kepentingan yang bertabrakan menjadi sesuatu yang, meski tak memuaskan siapa pun, tetap berjalan.
Ia menarik kursi dan duduk, tidak di antara mereka, tapi di ujung meja, menghadap keduanya.
"Pak Hardi benar," katanya, dan Pak Hardi menegakkan punggung. "Tanpa nama naik, dana berikutnya susah. Itu nyata. Dan dr. Pram benar—" Pak Hardi mengerut, dr. Pram menahan senyum tipis— "naikin pasien yang belum stabil ke panggung bisa ngerusak mereka. Itu juga nyata. Jadi dua-duanya benar, dan dua-duanya nggak bisa dapet semua yang diminta."
Ia menarik selembar kertas dan mulai menulis sambil bicara, cara lama yang membuat orang berhenti berdebat dan mulai melihat.
"Acaranya jadi. Pak Hardi dapet panggungnya. Tapi yang tampil bukan pasien yang masih rapuh." Ia menatap Pak Hardi. "Yang tampil saya, dr. Pram, kader. Kita cerita programnya, datanya, peta titik merah yang jadi biru. Itu yang bikin Bupati terkesan—bukan satu orang nangis di panggung, tapi sistem yang kelihatan kerja. Lebih meyakinkan buat pejabat, percaya saya."
Pak Hardi membuka mulut, ragu. "Tapi cerita personal lebih ngena—"
"Ada satu yang sudah stabil bertahun dan mau, atas kemauan sendiri, tanpa dipaksa," potong Rani. "Bu Surti. Dia bukan pasien—dia ibu yang dulu masung anaknya sendiri dan sekarang jadi kader. Ceritanya soal penebusan, soal kampung yang berubah. Itu yang Pak Hardi mau—panggung, air mata, tepuk tangan—tanpa ngerusak siapa pun yang masih rapuh. Bu Surti kuat. Dia bahkan udah biasa cerita di Posyandu."
Diam sejenak. dr. Pram mengangguk pelan—Bu Surti aman, ia setuju. Pak Hardi mempertimbangkan; cerita penebusan seorang ibu bahkan mungkin lebih kuat secara politis daripada pasien yang menderita. "Bisa," gumamnya akhirnya. "Bisa."
"Satu lagi." Rani meletakkan pena. "Yang ngatur siapa boleh tampil, siapa nggak, dr. Pram dan saya. Yang ngatur panggung dan undangan, Pak Hardi. Kemudi medis di tangan medis. Kemudi acara di tangan yang ngerti acara. Nggak ada yang nyetir wilayah orang lain."
Keduanya terdiam. Tak satu pun benar-benar puas—Pak Hardi tak dapat drama personal yang ia idamkan, dr. Pram terpaksa menerima acara yang ia anggap pemborosan. Tapi keduanya bisa hidup dengannya. Dan program tetap berjalan.
Setelah keduanya pergi—Pak Hardi sudah menelepon seseorang soal spanduk, dr. Pram menggerutu soal waktu yang terbuang—Bu Inah masuk membawa teh.
"Pinter, Mbak," katanya. "Dua-duanya pulang ngerasa setengah menang."
"Dua-duanya pulang setengah kalah," koreksi Rani lelah, memijit pelipisnya. "Itu bedanya mimpin sama jadi pahlawan, Bu. Pahlawan bikin orang seneng. Pemimpin bikin orang bisa terus kerja bareng walau nggak seneng." Ia menyeruput teh. "Dan jujur aja, saya juga nggak seneng. Tapi obatnya tetep ngalir bulan depan. Itu yang penting."
Di luar jendela, ia melihat Pak Hardi melambai-lambai bersemangat sambil bicara di telepon, sudah membayangkan namanya di spanduk. Rani menghela napas. Bu Inah benar dulu—lelaki yang dulu memasang rantai itu kini memegang kunci. Tapi selama kuncinya membuka pintu yang benar, Rani sudah belajar untuk tidak menghabiskan tenaga membenci tangan yang memutarnya.