Rumah keluarga Kowi tampak seperti rumah yang sengaja dilupakan.
Rani dan Yoga meninggalkan motor di mulut jalan setapak—lebih jauh tak bisa, parit memutus jalan dan hanya ada titian bambu lapuk. Mereka berjalan kaki di antara rumpun bambu yang menyaring matahari menjadi remang kehijauan, di tanah yang lembap dan berbau lumut. Tidak ada tetangga di sepanjang jalan ini. Rumah terdekat berjarak puluhan meter, dan jendelanya, Rani perhatikan, menghadap ke arah lain—seolah dibangun untuk tidak melihat.
Rumah Kowi sendiri berdiri di balik pagar bambu tinggi yang dirapatkan dengan kawat dan seng karatan. Dindingnya separuh tembok separuh papan, lumutan, dengan atap yang melengkung capek. Tak ada bunga, tak ada jemuran, tak ada tanda kehidupan biasa yang ada di rumah-rumah lain. Hanya keheningan yang terlalu pekat untuk siang hari.
Dan bau. Samar, tertiup angin, tapi Rani mengenalinya seketika—bau yang telah ia hirup di belasan gudang dan kamar belakang. Bau tubuh manusia yang lama tak dibersihkan, bercampur kotoran, bercampur sesuatu yang busuk dan tertutup. Bau pasung. Perutnya mengencang.
Seekor anjing kurus menyalak gila di balik pagar, rantainya berdenting—dan Rani menyadari, dengan ngeri yang dingin, bahwa anjing itu dirantai dengan rantai yang jauh lebih baik daripada yang ia takutkan diberikan pada manusia di dalam.
"Permisi!" Yoga memanggil, berdiri di kejauhan aman dari anjing. "Permisi, dari Puskesmas!"
Lama tak ada jawaban. Anjing terus menyalak. Lalu sebuah celah terbuka di pintu pagar—hanya celah, selebar wajah—dan sepasang mata menatap keluar. Mata seorang perempuan tua, dikelilingi kerut yang dalam, mata yang penuh sesuatu yang bukan malu seperti keluarga-keluarga lain, melainkan kewaspadaan binatang terpojok.
"Nggak ada apa-apa di sini," kata suara di balik celah, parau. "Pergi."
"Bu, kami cuma mau—" Rani melangkah maju, suara selembut yang ia bisa. "Kami dari program kesehatan, Bu. Cuma mau ngobrol. Mau mastiin semua orang di rumah ini sehat. Itu aja."
"Semua sehat. Pergi." Celah menyempit.
"Bu Kowi—" Rani menebak namanya, dan celah berhenti menutup, yang berarti ia menebak benar. "Saya Rani, perawat. Saya lahir di kampung ini, Bu. Saya bukan orang luar. Saya cuma mau bantu, sumpah, bukan mau nyusahin siapa-siapa."
Di balik celah, mata tua itu berkedip. Sesuatu bergerak di kedalaman—rasa lelah, mungkin, atau godaan untuk berhenti menjaga. Lalu sebuah suara lain, dari dalam rumah, suara lelaki yang berat dan datar:
"Suruh pergi."
Mata tua itu mengeras kembali. "Pergi," ulangnya, dan celah pun tertutup rapat, palang kayu jatuh di baliknya dengan bunyi yang final.
Yoga menghela napas. "Tuh, Mbak. Selalu begini. Mau diapain coba."
Tapi Rani tidak beranjak. Ia berdiri di sana, di antara rumpun bambu, mendengarkan. Bertahun ia melatih telinganya pada rumah-rumah seperti ini, dan ia tahu bahwa di balik penolakan selalu ada suara yang mencoba keluar. Anjing telah berhenti menyalak. Keheningan kembali turun. Dan dalam keheningan itu, ia mendengarnya.
Mula-mula ia kira itu angin di bambu. Lalu, kucing. Lalu ia menahan napasnya sendiri, dan suara itu menjadi jelas—datang dari dalam rumah, dari bagian belakang, teredam tembok dan jarak tapi tak salah lagi.
Erangan. Manusia.
Bukan teriakan, bukan tangisan. Lebih buruk—erangan rendah, monoton, ritmis, jenis suara yang dibuat tubuh ketika sudah terlalu lama menderita untuk berteriak, ketika rasa sakit telah menjadi keadaan permanen, bukan kejutan. Suara seseorang yang mengeluh pada kekosongan karena telah lama berhenti berharap ada yang mendengar. Naik turun, naik turun, seperti napas yang berubah jadi rintihan.
Rani merasa darahnya turun ke kakinya.
Ia pernah mendengar bunyi itu sekali sebelumnya. Bertahun lalu, sebagai gadis SMP, dari balik pintu kamar tempat orang tuanya mengurung Bagas—erangan yang sama, monoton, putus asa, yang menghantui mimpinya sampai hari ini, yang membuatnya menjadi perawat jiwa.
"Yoga," bisiknya, dan suaranya nyaris tak keluar. "Diam. Dengerin."
Yoga membeku. Beberapa detik berlalu. Lalu wajahnya berubah—warna terkuras dari pipinya saat ia juga menangkapnya, erangan teredam itu, mengalun dari kedalaman rumah yang dijaga anjing dan palang dan mata tua yang ketakutan.
"Ya Allah," bisik Yoga. "Itu—itu orang."
"Itu orang." Rani menatap pagar bambu yang dirapatkan kawat dan seng, palang yang baru saja jatuh, rumah yang dibangun seolah untuk menelan suara. Selama setahun ia membebaskan tubuh yang disembunyikan karena malu, karena miskin, karena tak tahu. Tapi rumah ini berbeda. Ada perbedaan dalam bau itu, dalam mata perempuan tua itu, dalam suara lelaki yang menyuruh pergi, dalam erangan yang sudah berhenti berharap—perbedaan yang dingin merayap di tengkuknya.
Ini bukan keputusasaan. Ini bukan ketidaktahuan.
Ini sesuatu yang lebih kelam, sesuatu yang membuat seluruh kampung memilih bisu selama puluhan tahun, sesuatu yang dijaga dengan anjing dan palang dan ketakutan. Dan di balik tembok itu, seseorang—manusia, hidup—telah mengerang ke dalam kegelapan begitu lama hingga ia lupa cara meminta tolong.
Rani berdiri di antara bambu yang berdesir, mencatat letak rumah itu dalam ingatannya seperti seorang dokter mencatat lokasi tumor, dan tahu, dengan kepastian yang membuat perutnya mual, bahwa apa yang menunggu di balik pintu Kowi akan menjadi yang terberat dari semuanya.