Janji semalam membayar bunganya keesokan paginya. Ketika Rani datang membawa obat antikejang yang ia tebus sendiri dari apotek kota, ia mendapati halaman rumah Darmin sudah dipenuhi sandal dan motor. Di dalam gudang, seorang lelaki tua bersarung dan berpeci, dengan cawan air dan seikat dupa, sedang membaca mantra di atas kepala Sutejo. Pak Wira, orang pinter dari dusun seberang. Bu Surti berdiri di sudut dengan harap-harap cemas, dan Pak Hardi, kepala dusun, ikut hadir sambil menatap Rani dengan tatapan yang berkata: nah, ini cara kami.
"Kejang semalam itu tanda," kata Pak Wira tanpa menoleh. "Yang di dalam dia ini kuat. Obat dokter cuma bikin dia marah. Harus dikeluarkan dulu yang gaib, baru badannya bisa sembuh."
Di tahun pertamanya, Rani mungkin akan berdebat. Ia akan menjelaskan tentang neurotransmiter dan EEG dan akan kalah—bukan karena ia salah, tapi karena ia berbicara bahasa yang tak dipercaya ruangan ini. Ia sudah belajar mahal bahwa menghina kepercayaan orang adalah cara tercepat membuat pintu rumah mereka tertutup selamanya, dan pintu yang tertutup berarti Sutejo sendirian dengan kayu di kakinya.
Maka ia tidak melawan Pak Wira. Ia mundur, menunggu di teras, dan ketika ritual selesai dan orang-orang membubarkan diri, ia tidak pulang. Ia pergi ke satu rumah lain di kampung itu—rumah yang selama ini ia abaikan karena menyangkanya bagian dari tembok, bukan pintu.
Ustaz Karim mengajar mengaji anak-anak di langgar kecil dekat pasar. Usianya enam puluhan, suaranya lembut, dan ketika Rani menjelaskan duduk perkara—seorang lelaki dipasung belasan tahun, sakit yang bisa diobati, keluarga yang lebih percaya dupa daripada obat—ustaz itu mendengarkan tanpa memotong, lalu diam lama.
"Saya kenal Sutejo waktu kecil," katanya akhirnya. "Ikut ngaji di sini. Anak baik. Saya juga dengar dia dikurung. Saya... diam saja selama ini. Saya kira itu urusan keluarga." Ia menunduk. "Mbak tahu, di pesantren saya dulu diajari, ada penyakit yang Allah turunkan beserta obatnya. Tugas kita mencari obat itu. Memasung orang sakit sampai mati—itu bukan ajaran, Mbak. Itu kemalasan kita yang kita beri baju agama."
Rani menahan napas. Ia datang mencari sekutu dan menemukan sesuatu yang lebih: seseorang yang bisa mengucapkan kalimat yang takkan pernah dipercaya warga bila keluar dari mulut perawat Puskesmas.
Dua hari kemudian mereka datang bersama ke rumah Darmin—bukan dokter melawan dukun, tapi ustaz di samping perawat. Ustaz Karim duduk di teras bersama Pak Darmin dan Bu Surti, bicara dengan bahasa yang mereka hormati. Ia tidak menyangkal yang gaib. Ia hanya berkata bahwa doa dan obat bukan dua jalan yang bertabrakan, melainkan dua tangan yang sama-sama dipakai untuk menolong. Bahwa membiarkan Sutejo terus dipasung dan luka kakinya membusuk justru menambah dosa, bukan menguranginya. Bahwa menjaga akal yang Allah titipkan—dengan obat dari dokter—adalah ibadah, bukan pembangkangan.
"Kalau Ustaz bilang begitu..." Pak Darmin menggumam, dan Rani melihat di wajahnya beban yang sedikit terangkat. Selama ini ia takut bukan cuma pada anaknya, tapi pada penilaian kampung. Sekarang tokoh yang paling dihormati kampung itu duduk di terasnya, memberinya izin untuk berharap tanpa rasa malu.
Tapi yang membuat malam itu berbeda bukan kata-kata ustaz. Yang membuatnya berbeda adalah Sutejo sendiri.
Obat antikejang yang Rani berikan mulai bekerja. Dikombinasi dengan risperidon yang sudah tiga minggu meredam suara-suara di kepalanya, untuk pertama kali dalam belasan tahun Sutejo punya beberapa jam yang jernih. Ketika mereka semua masuk ke gudang—Rani, ustaz, kedua orang tua—Sutejo sedang duduk dan memandang ke arah pintu. Ia melihat ustaznya. Dan dari mulut yang sudah lama hanya mengeluarkan gumam, keluar sebuah kalimat utuh, pelan dan parau, tapi utuh:
"Pak Ustaz. Saya... masih boleh ngaji?"
Bu Surti jatuh berlutut. Pak Darmin menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ustaz Karim, lelaki tua yang sudah mengiringi ratusan jenazah tanpa goyah, mendekat dengan mata berkaca dan menggenggam tangan kotor itu seolah tangan itu suci.
Di tengah keharuan itu, kesepakatan rapuh lahir—bukan dipaksakan oleh Puskesmas, tapi diberikan oleh keluarga. Tujuh hari. Mereka akan melepas kayu itu untuk percobaan tujuh hari. Rani harus mengawal, harus menjamin keselamatan semua orang, dan jika dalam tujuh hari Sutejo membahayakan, kayu itu kembali tanpa perdebatan. Rani menyetujui dengan satu anggukan, sementara di dadanya tumbuh dua hal sekaligus yang ia tahu berbahaya bila bersama: harapan, dan tanggung jawab atas nyawa yang baru saja ia genggam terlalu erat.