Kabar tentang Sutejo menyebar lebih cepat daripada yang Rani inginkan. Di kampung, berita baik dan berita aib berjalan di gang yang sama. Sebagian warga datang melihat "orang gila yang sembuh" seperti melihat tontonan. Sebagian ibu-ibu di Posyandu mulai bertanya pada Bu Inah—setengah berbisik, setengah menguji—apakah anak mereka, saudara mereka, suami mereka, juga "bisa diurus" seperti Sutejo.
Bu Inah membawa pertanyaan-pertanyaan itu ke Rani suatu sore, dan sesuatu di wajah kader itu membuat Rani meletakkan tehnya.
"Mbak," kata Bu Inah, "selama ini kita kira di Tanjung Wuni cuma ada beberapa yang dipasung. Yang kecatat di kita berapa? Tiga? Empat? Sutejo malah dulu nggak kecatat sama sekali. Saya keliling buat Posyandu balita ke rumah-rumah, ke gang-gang yang jarang dilewatin. Mbak... saya nemu lebih banyak. Yang disembunyiin. Yang keluarganya nggak pernah ngomong ke siapa-siapa karena malu."
Ia mengeluarkan buku catatan Posyandu-nya, halaman belakang yang ia pakai diam-diam mencatat. Bukan data resmi. Hanya nama, alamat, dan keterangan satu-dua kata yang ia kumpulkan dari obrolan ibu-ibu, dari pintu yang sengaja tak dibuka, dari gudang yang selalu terkunci di rumah-rumah tertentu.
Rani membaca daftar itu dan terasa lantai sedikit miring di bawahnya.
Ada nama lelaki di Wuni Kidul yang katanya "sudah lama nggak keluar kamar". Ada seorang nenek di gang pasar yang dikurung anaknya karena "suka kabur dan lupa jalan pulang"—demensia, tebak Rani, dirantai karena keluarganya kerja seharian dan takut ia hilang. Ada pemuda yang epilepsinya disangka kerasukan, sama seperti Sutejo dulu. Dan ada satu keterangan yang membuat Rani membaca ulang dua kali, ditulis Bu Inah dengan tangan yang gemetar: Wulan, 24, rumah belakang masjid Wuni Tengah. Habis lahiran. Dikurung di kamar. Dibilang kena guna-guna. Suaminya nggak mau cerita.
"Yang Wulan ini," kata Bu Inah pelan, "saya cuma sekali ketemu pas posyandu bayinya. Bayinya sehat, ditimbang sama neneknya. Tapi ibunya nggak pernah keluar. Kata neneknya, 'lagi nggak enak badan'. Sudah dua bulan 'nggak enak badan', Mbak. Saya... saya nggak enak hati."
Rani menutup buku itu pelan. Selama berminggu-minggu ia menumpahkan seluruh tenaganya pada satu gudang, satu lelaki, satu janji. Dan selama itu, di gang-gang yang ia lewati tiap hari menuju rumah Sutejo, di balik tembok-tembok yang ia kira biasa, ada nama-nama lain yang juga menunggu—yang tak pernah dilaporkan karena melaporkan berarti mengaku punya aib di rumah sendiri.
Malam itu, di ruang konseling Puskesmas, Rani melakukan sesuatu yang sederhana dan, baginya, mengubah segalanya. Ia menempel peta kecamatan Tanjung Wuni di tripleks—peta biasa, fotokopian dari kantor desa. Lalu, dengan spidol merah, ia menandai tiap nama dari daftar Bu Inah di lokasinya. Rumah Sutejo di Wuni Lor, satu titik. Nenek di gang pasar, satu titik. Pemuda epilepsi di Wuni Kidul, satu titik. Lelaki yang tak keluar kamar, satu titik. Dan, dengan ragu, rumah belakang masjid Wuni Tengah—Wulan—satu titik.
Yoga datang membawa kopi dan berhenti di ambang pintu, memandang peta. "Itu... semua dipasung, Mbak?"
"Belum tentu semua dipasung," jawab Rani, matanya tak lepas dari peta. "Tapi semua disembunyikan. Dan yang disembunyikan biasanya disembunyikan karena ada yang malu menunjukkannya."
Ia mundur selangkah untuk melihat keseluruhan. Dan di situlah ia merasakannya—bukan kemenangan, bukan semangat, melainkan beban yang sesungguhnya dari pekerjaan ini. Sutejo bukan akhir. Sutejo bahkan bukan kasus besar. Sutejo hanya titik pertama yang kebetulan ia temukan lebih dulu. Peta di depannya, kecamatan tempat ia lahir dan besar, kampung yang ia kira ia kenal—peta itu bertabur merah, dan tiap titik adalah satu tubuh di balik papan, satu keluarga yang hancur, satu nama yang selama ini disebut "katanya, sudah lama, orang gila".
Rani berdiri lama di depan peta itu, kopinya mendingin di tangan Yoga, lampu Puskesmas berdengung di atas mereka. Untuk pertama kali sejak ia memutuskan pulang ke kecamatan ini, ia melihat dengan jelas berapa banyak yang menunggu—dan berapa kecil tangannya, dan timnya, dan obat di lemari yang sering kosong tengah bulan. Ia menatap satu titik merah di Wuni Tengah, rumah belakang masjid, nama Wulan, dan sesuatu di nada Bu Inah tadi—dua bulan "nggak enak badan", bayi yang ditimbang neneknya bukan ibunya—membuat titik itu terasa lebih panas daripada yang lain. Lebih mendesak. Seolah titik itu, di antara semua yang lain, tak punya waktu untuk menunggu giliran.