Kriing kriing kriing…Bunyi bel sepeda ontel menyeruak, membelah kerumunan manusia di jalanan area pasar. Wajah ceria dengan sorot mata penuh optimis berlalu cepat mengayuh sepedanya menuju ke sebuah bangunan diantara kompleks ruko. Aaah.. pemuda itu. Siapa yang tak mengenalnya. Topi flat cap, rambut lurus sebahu, mantel yang kebesaran dan sepasang sepatu usang dengan kaos kaki putih. Rama, nama yang diberikan mendiang bapaknya yang menyukai kisah-kisah pewayangan. Setiap pagi ia mulai menyusuri tiap sudut kota hingga masuk ke desa untuk mengantarkan surat milik orang-orang. Di tengah hari ia kembali ke tempatnya bekerja untuk makan siang, istirahat sejenak lalu kembali mengambil sisa surat-surat yang akan dikirimkan hari itu juga.
Siang itu ia baru saja kembali dari mengirimkan surat di dalam kota.
“ Hei Rama! Istirahat masih 2 jam lagi. Cepat sekali kau habiskan surat-surat itu.” Tanya pak Harso pegawai paling senior di tempat itu.
“ HaHa..bukannya cepat Pak…Ban sepedaku bocor rantainya juga tiba-tiba putus. Bagaimana cara aku bisa antarkan semua barang itu?” Seperti biasa Rama menjawab dengan nada yang santai.
“Bagaimana tidak mau putus? Kamu saja mengendarai sepeda seperti mau menjinakkan banteng liar..” ujar pak Darjat pegawai yang tiga tahun lebih muda dari pak Harso. Seseorang menjawab dari arah meja belakang sambil mengetukkan cap stempel.
“ Yaa namanya juga anak muda pak Daar...pak Dar...Bujang mau cari perhatiaaan..iyakan Ram?”.
“ Tidaklah mas Jo..Aku ini dari kecil sudah diajar bapakku untuk bergerak dan berpikir cepat tepat akurat mas. Jadi tenagaku juga harus besar. Kalau istilah inggrisnya itu QUICKLY NOT SLOWLY gitu lho mas..Hehehe”, seloroh Rama kepada mas Jo yang lima tahun lebih senior darinya.
“Wess. Sudah ngobrolnya. Rama ini tolong kamu antarkan paket surat ini. Jatah suratmu tadi biar diantar yang lainnya.” Perintah pak Bagyo pegawai administrasi di “SERAT SURYA” nama tempat jasa pengiriman itu.
“Satu amplop ini saja? Tanya Rama keheranan.
“Iya. Hati-hati! Itu surat khusus untuk si penerima. Jangan kau buka ditengah jalan..Mengerti?!” tegas pak Bagyo.
“ Memangnya untuk siapa surat ini sampai-sampai harus dikirim secara khusus?” gumam Rama tak jelas.
“ Noonaa…” bisik mas Jo yang tiba-tiba berdiri disampingnya.
“ Ett..cepatlah. Kamu antarkan saja sesuai alamat yang tertulis di situ. Oh ya nanti pakai sepeda saya saja sekalian ini uang untuk kamu beli makan siang di luar!” kata pak Bagyo.
“ Siap pak.” Jawab Rama penuh semangat lalu bergegas keluar ruangan sambil memasukkan amplop itu ke dalam tas pinggangnya.
Tanpa pikir panjang ia langsung mengambil sepeda dan terus mengayuhnya. Melaju ia dengan kencang melalui jalan yang berbeda arah saat ia kembali tadi. Hingga ia sampai di seberang perlintasan kereta dan …....
"Bu..Nasi gudhegnya satu porsi makan di sini” pesan si Rama. Si Ibu hanya tersenyum dan mempersilahkan duduk dengan isyarat tangannya. Ramapun duduk dan meletakkan tas pinggangnya di atas meja. Ia mengeluarkan amplop berisi surat itu untuk memeriksa alamat penerima.
“Inikan alamat rumah dinas bupati? Bukannya yang biasa mengantarkan pos seperti ini hanyalah pak Narendra? Kata Rama dalam pikirannya.
Pak Narendra adalah satu-satunya orang yang diberi kepercayaan untuk mengantarkan surat-surat yang berkaitan dengan lingkungan pemerintahan.
“Aadinda Deewi Asmaaa Shi…n” belum selesai membaca satu piring nasi gudheg dengan segelas es jeruk tersaji di atas meja. Sontak iapun menarik tas dan memasukkan amplop itu ke dalamnya.
Selepas mengisi perut dengan sajian khas, Rama kembali mengayuh sepedanya sampai di alamat tujuan. Rumah gaya kolonial dengan pagar batu di sekelilingnya dapat dengan mudah ia kenali setelah memasuki sebuah gapura. Ya. Itulah tempat kediaman sang Bupati beserta keluarganya selama ia menjabat sebagai abdi wilayah. Ramapun menarik rem dan turun dari sepeda lalu memarkirkannya di samping pintu pagar depan.
” Tapi kenapa nama penerimanya seperti nama perempuan?. Apa mungkin ini surat untuk istrinya?” tutur Rama sembari mengambil surat dari dalam tasnya. Tak lama ia melihat seorang wanita separuh baya sedang menyapu halaman rumah.
“ Peermisii..” salam Rama. Menyadari arah suara, wanita itu langsung mengangkat wajah dan melepaskan pandangan matanya ke pintu pagar depan. Wanita itu langsung meletakkan sapu dari tangannya.
“Iya. Siapa ya?” ucapnya sambil berlari kecil. Setelah pintu pagar dibuka…
”Anda mencari siapa?” tanya wanita itu.
Si Rama langsung menjawab “Apa di sini ada yang bernama Adinda Dewi Asma Shii..n”.
“ Oh Nona Muda?” sela wanita itu. Hehmm… lagi-lagi Rama tidak bisa menyelesaikan nama penerima surat itu.
“Noonaa…?? Sementara Rama merasa bingung,
“ Sini sini biar saya yang sampaikan!” pinta wanita yang berdiri di depannya itu.
Tanpa sadar Rama menyerahkan satu-satunya amplop berisi surat yang dibawanya selama seperempat hari itu.
“ Eh tanda terimanya Bu? Ini tanda tangan di sini, silahkan!” mendadak tersadar Rama berkata sambil memberikan pena.
“Eeee saya tidak bisa tanda tangan. Biasanya pak Narendra tidak minta ke saya. Mbak Shinta juga sudah mengerti, Eh! sudah saya masuk dulu. ” alasan wanita itu.
"Non suratnya sudah sampaiiii Noon..” Teriaknya sambil berlari menuju ke dalam rumah. Ditinggal pergi begitu saja, Rama pun segera berbalik badan lalu menuntun sebentar sepedanya. Pulanglah Rama kembali melewati perlintasan kereta. Awan senja menyertainya ditengah deru laju kereta yang semakin lirih menjauhi.
Sementara itu seorang gadis muda duduk anggun di atas bangku di samping taman kediamannya. Ia tengah terhanyut dalam rangkaian kata-kata yang dituliskan untuknya. Entah dari siapakah itu. Namun hanya Simbok yang tahu di rumah itu.
“ Mbok..mbok Darsih..” panggil Gadis itu.
“ Iya Non..” sahut Simbok.
“Tadi pak Narendra hanya mengantarkan surat saja? Apa tidak ada titipan paket lain?” tanyanya pada mbok Darsih. Simbok Darsih tiba-tiba merasa gugup.
“ Eeehh tidak ada itu. Tapi tadi yang mengantarkan bukan pak Narendra Non. Sepertinya seorang pemuda yang seumuran dengan Nona Muda. Mungkin dia juga pegawai di sana. Soalnya saya langsung mengenali gambar logo pada tas yang dipakai anak muda tadi. Apa ada masalah, Non?” jawab Simbok panjang lebar.
“ Oh tidak ada apa-apa mbok. Mungkin Yusuf memang belum mengirimkannya. Ya sudah, silahkan lanjutkan pekerjaannya!” perintah si Nona Muda itu.
Pikiran Gadis Muda itupun kembali tertuju pada lembaran surat itu. Temaram lampu minyak ditemani cahaya bulan sabit seolah mewakilkan perasaannya yang masih berharap akan adanya satu tanda bukti kasih yang setia.