Namanya Dewi Asma Shinta. Putri bungsu dari keempat saudara perempuannya. Bapaknya adalah Bupati yang terkenal akan wibawa dan ketegasannya. Namun banyak isu beredar bahwa sikapnya itu hanyalah topeng dari keserakahannya pada uang dan kekuasaan.
Siang harinya saat istirahat di kantor.
“Bagaimana Nona Muda itu Ram?” tiba-tiba mas Jo memulai pembicaraan.
“Siapa?” tanya Rama.
“Aalaah..Yang terakhir kemarin kamu antarkan suratnya itu.” jelas mas Jo. Rama masih bingung sambil bergumam sendiri,
“Kemarin mas Jo menyebut Noona. Eh, ibu yang aku temui kemarin di rumah itu juga memanggil Nona Muda?”.
“Hoi!. Malah ngomong sendiri. Bagaimana?” kata mas Paijo bernada kesal.
“Ehmm..Kemarin saya hanya bertemu dengan seorang wanita paruh baya saja.” jawabnya.
Paijo mengeluh “Ha??. Jauh-jauh engkau kayuh sepeda, bayangannya pun kau tak tampak?. Ckckck..”.
“Memangnya ada apa sih Mas dengan si Nona Muda itu?” tanya Rama. Mas Jo nampak menggeleng-gelengkan kepala lalu duduk mendekatinya
“ Sini aku beri tahu. Dia itu anak . Usianya yaaa sepantaran kau ini lah. Dia gadis satu-satunya yang belum menikah. Jadi orang tuanya ingin menjodohkan dia dengan salah seorang anak Gubernur di Jawa. Tapi anak itu tidak mau karena diam-diam sudah mengenal pria lain dan menjalin hubungan jarak jauh.Kamu tahu sendirilah bagaimana perangai Bapaknya kalau sampai tahu hal itu.”. Rama mendengar dengan seksama.
“Sudah. Saya mau kembali kerja dulu. Eh! kalau pak Narendra pekan depan masih belum masuk, mungkin kamu disuruh ngantar surat lagi ke sana. Semoga beruntung. Hahaha” ucapannya sambil berlalu meninggalkan Rama.
Dua hari kemudian ternyata pak Narendra sudah masuk kerja. Akan tetapi..”Ini!”. Tiba-tiba pak Rendra menyodorkan sebuah paket kepada Rama.
“Tolong kamu nanti sekalian antarkan ke tempatnya mbak Shinta ya!” perintahnya. “ Kata Bagyo kemarin kamu yang disuruh menggantikan saya untuk antar suratnya ke rumah dinas pak Bupati kan?” pak Rendra memastikan.
“ Oh betul pak. Tapi sekarang pak Rendra kan sudah dinas lagi jadi kenapa..”.
“Saya baru sempat mengambil kemarin, jadi nanti kalau kamu bertemu mbak Shinta tolong sampaikan maaf dari saya, takutnya beliau berpikir yang macam-macam.” sela pak Narendra sambil mengenakan topi seragamnya.
“Oh baik pak.” jawab Rama pendek saja. Ia pun bergegas melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang pengantar surat.
Karena tempatnya yang jauh, ia berniat mengirimkan paket itu belakangan. Namun bisa dipastikan dirinya sudah berada di luar jam kerja. Benar saja. Sampai depan pintu pagar jamnya sudah menunjukkan pukul 7 malam.
“Permisi..”.
Kali ini seorang lelaki paruh baya yang keluar membukakan pintu.
“Cari siapa Mas?” sambutnya.
“Apakah mbak Shintanya ada?” tanya Rama.
“ Ohh..Nona sedang sibuk membaca. Mas keperluannya apa nanti saya sampaikan.” saran lelaki itu.
“Ini. Saya mengantarkan paket untuk Beliau. Juga ada pesan dari pak Narendra, mohon maaf karena terlambat mengambilnya. Kemarin, beberapa hari ia sedang cuti kerja. Begitu.” Rama menjelaskan.
Lelaki itu hanya menjawab, “Oh ya.ya..Nanti saya sampaikan Mas”. “Terima kasih pak. Kalau begitu saya permisi.”
Kembali lagi Rama tidak menemukan gadis yang dipanggil Nona Muda itu. Ia pun berjalan santai sambil menuntun sepedanya begitu pelan. Matanya menatap luas di sepanjang halaman yang mengitari rumah itu. Saat pandangannya sempat teralihkan pada penampakan bulan sebagian, di teras samping rumah dekat taman terlihat sinar lampu minyak yang mengusik perhatian si Rama. Eh?. Bukan lampu minyaknya. Tetapi perhatiannya tertuju kepada seseorang bergaun klasik layaknya wanita Eropa dengan rambut panjang hitam bergelombang. Jari-jemarinya nampak indah membolak-balik setiap lembar kertas yang dibacanya. Rama hampir saja memalingkan wajahnya namun dilihatnya lelaki separuh baya tadi memberikan paket itu kepada sosok tersebut. Jadi dialah si Nona Muda itu, Shinta. Anak Bupati itu dikenal cerdas hingga ia menyadari ada seorang yang asing memperhatikannya dari balik pagar. Akhirnya pandangan mereka pun bertemu.
“Yashhhh..Apa-apaan ini? Kenapa dia melihat kearahku?”.
Gelagap Rama yang terkejut. Ia ingin segera pergi mengayuh pedal sepedanya. Begitu cepat ia mengayuh. Akan tetapi,
“ Kenapa posisiku masih di sini-sini saja?” gerutu Rama. Ternyata ia lupa bahwa tadi sepedanya sempat di standar tengah olehnya. Alih-alih hendak kabur Rama sudah mendapati Shinta berdiri di sampingnya.
“Heiit..” matanya terbelalak. “Siapa aku? Dimana Aku?” ucap Rama sambil bernyanyi diiringi tepuk tangannya sendiri.
Dengan pandangan curiga Shinta spontan bertanya. “Kamu pemuda yang mengantarkan surat dari Yusuf itu?”.
“Yusuf??” pikir Rama.
“Termasuk paket itu?” tegas Shinta.
“Paket??. Oh iya iya.” jawaban Rama.
“Mulai sekarang kamu yang antarkan surat-surat itu ke sini. Sepertinya pak Rendra juga tidak bisa terus-menerus saya andalkan. Tapi ingat! Jangan ada yang menerima selain saya atau Simbok di rumah ini. Mengerti?” instruksi Shinta.
“Akan tetapi..” desah Rama.
“Tidak bisa!!” Shinta memotong kalimat. “Karena kamu pasti sudah tahu rahasia saya, jadi mau tidak mau kamu harus melakukannya!”. Bicaranya dengan elegant.
Sejak hari itu setiap tiga hari sekali Rama berkunjung ke rumah dinas Bupati untuk menyampaikan surat dari Yusuf kepada Shinta. Sehingga tumbuhlah benih-benih cinta dalam jiwa mudanya. Namun hal terburuk yang terjadi ialah ia mengetahui betul bahwa surat yang diberikannya adalah dari Yusuf, Kekasih Shinta.