Shinta tidak berkenan untuk mengikuti misi pencarian harta karun yang disebutkan Rama dan temannya. Berbeda dengan Safya. Membaca sekilas isi buku, ia menjadi sangat tertarik untuk mengetahui harta yang dipendam oleh pembantu itu. Menurut Safya tuannya adalah seorang pengusaha keturunan Tionghoa yang berpihak kepada Sultan, jadi ia pikir hartanya pasti banyak entah emas, perhiasan ataupun mata uang pada masa itu. Safya membujuk agar Shinta mau bergabung. Karena terus didesak oleh Safya dan mas Jo yang pandai membual, akhirnya Shinta terpaksa ikut bersama dengan mereka.
Jam di pergelangan tangan Shinta menunjukkan pukul sembilan malam. Mereka berempat berjalan menuju bukit yang berada di belakang lumbung. Dua buah sepeda beserta bahan pangan yang akan dibawa oleh Shinta ditinggalkan di dekat pintu belakang. Shinta mengatakan bahwa di sana aman karena tidak pernah ada kasus pencurian.
Rama, Shinta dan Safya mengikuti arahan dari mas Jo sebagai pemimpinnya.
“Di mana mas Jo? Kita sudah berjalan cukup jauh menapaki bukit!” Tanya Rama sambil berhenti untuk mengatur napas. Shinta dan Safya bahkan sudah sama-sama duduk selonjoran di atas dedaunan kering karena begitu kelelahan.
“Sabar! Seharusnya tinggal mengikuti jalan setapak ini, kita sudah menjumpai pohon Kelor. Tapi di mana ya? Kata mas Jo sambil mengarahkan cahaya senternya ke segala arah.
“Seharusnya tadi menurut kata mbak Shinta saja! Jadi saya tidak perlu capek-capek begini! Sudah malam juga!” Ujar Safya yang mengeluh.
“Kan kamu sendiri tadi yang bersemangat mencari harta karun itu. Sekarang malah mau menyalahkan orang lain?” Sanggah si Rama.
“Siapa yang menyalahkan orang lain?” Tanya Safya setengah emosi kepada Rama.
“Dasar bocah! Kalian ini malah bertengkar malam-malam begini!” Bentak mas Jo kepada keduanya.
“Lah? Situ juga sama saja tadi!” Gumam Rama bersuara lirih.
Sementara itu mas Jo sibuk menyelidiki pemandangan di sekeliling lokasi mereka berhenti.
“Ram! Itu dia, lihat!” Mas Jo mengarahkan lampu senter ke sebuah pohon yang menjulang.
Pohon berdiameter pokok batang sekitar 40 sentimeter dengan tinggi kurang lebih 11 meter, berdaun kecil bentuk bulat telur dan memiliki bunga berwarna putih kekuning-kuningan.
“Ini dia yang kita cari! Rama, cepat kamu gali tanah di sekitarnya!” Perintah mas Jo kemudian mengambil peralatan dari tas yang dibawanya dan ikut menggali.
Namun, Shinta melihat ada beberapa pohon Kelor lainnya yang tumbuh di lokasi tersebut. Mungkin tanaman itu telah banyak tumbuh dari biji buah Kelor yang sudah tua dan jatuh ke atas tanah. Tapi apakah posisi harta karun itu benar dipendam di bawah tanah dimana Rama dan mas Jo menggali?. Shinta mempertanyakan hal itu, namun mas Jo sangat yakin akan kebenarannya karena pohon itu yang terlihat paling tinggi dan besar batangnya dibandingkan pohon Kelor lainnya.
“Bau apa ini?” Tanya Safya yang mencium aroma semerbak.
“Mungkin ini yang dinamakan bau kemenangan! Hahaha!” Jawab mas Jo optimis.
Sudah cukup perkiraan mas Jo dan Rama mengenai seberapa dalam galian yang mereka buat untuk menemukan peti harta itu. Tetapi mereka tidak menjumpai tanda-tanda harta itu akan diketemukan.
“Cari saja terus!” Safya menyemangati.
“Sepertinya tenagamu lebih bermanfaat daripada sekadar semangat!” Sindir mas Jo.
“Ck! Iya, iya…dengan gadis pun tak berbaik hati sedikit!” Gerutu Safya lalu ikut membantu dengan alat seadanya.
Mas Jo menghentikan pekerjaannya dan berjalan-jalan mengitari pohon Kelor. Tiba-tiba ia berkata, “Masukkan kembali alat-alat kalian! Lebih baik kita pulang sekarang!”
“Kenapa mas Jo? Harta karunnya kan belum ketemu!” Tanya Rama.
“Iya. Anda tadi sudah janji akan membaginya dengan saya dan mbak Shinta juga. Lagi pula kita sudah sampai sejauh ini, masa tidak dapat apa-apa?” Keluh si Safya.
“Sudah…! Itu tidak penting lagi sekarang. Ayo cepat!” Kata mas Jo sambil menarik tangan Rama dan mengajak mereka semua pergi dari lokasi tersebut.
Rama mempertanyakan sikap mas Jo yang tiba-tiba berubah. “Ada apa ini sebenarnya, mas Jo?”
Sambil berjalan dengan hati-hati mas Jo berbisik, “Tadi di belakang area pohon itu, aku melihat ada mayat yang tergeletak. Kondisinya sudah membusuk mungkin sudah dibuang sekitar lima hari yang lalu.”
“Ooh.” Respon Rama dengan santai.
“Lari...!” Teriak Rama seketika, mengagetkan yang lainnya. Safya dan Shinta yang berada di barisan belakang, secara spontan ikut berlari sambil teriak-teriak.
Keempat anak muda itu lari tunggang langgang menuruni bukit. Rama, Safya dan mas Jo akhirnya berhasil sampai di bawah.
“Kenapa tadi?” Tanya Safya dengan napas terengah-engah.
Jantungnya masih terasa berdebar kencang. Rama dan mas Jo malah menertawakan diri sendiri karena berlari ketakutan, padahal tidak ada sesuatu yang mengejar mereka. Safya merasa keduanya hanya orang aneh yang telah mengerjainya.
“Eh? Mana mbak Shinta?” Terkejut Safya yang tidak mendapati keberadaan Shinta.
“Bukannya tadi lari di belakangmu?” Tanya mas Jo.
“Mungkin masih tertinggal di belakang. Aku akan menjemputnya kalian jalan duluan tidak apa-apa!” Usul Rama. Kemudian Safya dan mas Jo pergi dulu untuk mengambil sepeda masing-masing.
Rama kembali menaiki jalan setapak itu dengan bantuan penerangan dari lampu senter. Ia menemukan Shinta duduk di atas batu dengan menjulurkan kakinya yang nampak berdarah.
“Mbak Shinta, kenapa bisa begini?” Tanya si Rama.
“Tadi kakiku tersandung batu, terus aku berusaha menghindari tunggak bekas pohon di depannya tetapi malah tergores cabang tanaman yang mencuat itu!” Tutur Shinta menceritakan kejadian yang telah dialami.
Rama memperhatikan sekitarnya lalu memetik daun dari pohon yodium dan mengoleskan getahnya pada luka di kaki Shinta. “Tahan! Ini akan sedikit terasa perih.” Katanya.
“Naiklah! Saya akan menggendongmu sampai ke bawah!” Rama menawarkan bantuan.
“Tidak perlu Rama! Aku masih bisa jalan sendiri.” Tolak Shinta dengan halus.
“Jangan sungkan! Saya hanya berniat supaya lebih cepat sampai ke sana. Mereka pasti sudah lama menunggu!” Ujar Rama yang merujuk kepada Safya dan juga mas Jo.
Mendengar alasan Rama, Shinta pun bersedia menerima uluran tangannya.
Sementara itu di tempat mereka memarkirkan sepeda, Safya dan mas Jo bertengkar karena saling berebut sepeda.
“Ini sepedanya mbak Shinta!” Jerit si Safya.
“Bukan! Ini sepeda saya!” Bantah mas Jo.
Mereka berdua saling menarik sepeda keranjang ke arah masing-masing. Rama yang sudah sampai di lokasi mereka segera menurunkan Shinta dari punggungnya.
“Kenapa kalian malah berantem to? Lihat, kaki mbak Shinta terluka!” Tegur Rama meleraikan kedua orang itu.
“Pria lajang ini mau merebut sepeda mbak Shinta dan mengambil barang bawaan kami!” Tuduh si Safya.
“Heh? Siapa yang kau sebut lajang ha? Jelas-jelas tadi sepeda saya parkir di sebelah sini!” Berontak si mas Jo tak mau kalah.
“Seingat saya tadi diparkir bersebelahan di sini!” Kata Shinta.
“Apa mungkin terjatuh dalam lubang yang ada di dekatnya itu mas Jo? Coba kau tengok!” Curiga si Rama.
Mas Jo lalu memeriksanya, “Masa sepedanya masuk ke dalam lubang sih?”. Dirinya tidak percaya, namun benar ia menemukan sepedanya terperosok di dalam lubang sedalam satu setengah meter itu.
“Kamu yang menjatuhkan sepedaku ke sini ya?” Tuduh mas Jo kepada Safya.
“Enak saja! Jangan sembarangan menuduh orang! Makanya kalau mau parkirin sepeda itu dilihat dulu tempatnya pakai mata ini lho mata!” Jawab Safya sambil membuka lebar-lebar kelopak matanya. “Bukan pakai mata kaki!”
“Kamu mengejek saya?” Tantang mas Jo yang umurnya lebih tua dari Safya.
“Sudahlah! Kalian malah ribut lagi? Ayo, kita semua pulang! Mas Jo, ambil sepedanya!” Tegas Rama.
“Iya. Sudah larut malam ini!” Sambung Shinta.
Mereka kemudian mengendarai sepeda masing-masing. Mas Jo memboncengi Rama, sedangkan Safya memboncengi mbak Shinta. Kedua sepeda itu melaju bersama sampai berhenti sejenak di pertigaan jalan desa.
“Hati-hati di jalan, Rama!” Pesan mbak Shinta.
“Mbak Shinta juga hati-hati!” Balas Rama.
“Mas Jo dan Safya yang memegang setang sepeda tidak mau melirik satu sama lain.
Mereka akhirnya berpisah melalui arah jalan pulang masing-masing. Rama yang membonceng, menoleh ke belakang untuk melihat kepergian Shinta. Bersamaan itu, Shinta juga mengarahkan pandangannya ke Rama. Lalu ia melambaikan tangannya dan Rama membalas lambaian tangan itu dengan malu-malu. Setelah melepas pandang Rama menjadi seperti orang gila. Dia tertawa-tawa sendiri dan menarik-narik mas Jo hingga membuat sepeda yang sedang dikendarainya bergoyang-goyang.
“Rama! Duduk yang benar woi!” Kalimat peringatan dari mas Jo.
Rama tidak mendengarkan dan masih dengan kegilaannya sendiri.
“Eh! eh eh eh eh eh, Gubrakkkk... Aduh!”
Mas Jo tidak bisa mengendalikan sepeda dan akhirnya terjatuh.
“Maaf mas Jo!” Ucap Rama yang sudah sadar melihat mas Jo yang menahan sakit.
Rama kembali menengok ke belakang namun Shinta sudah menghilangi di kegelapan malam.