“Rama! Sebaiknya kamu sudahi ini! Tidak perlu kamu mencampuri urusan orang lain... Masalahnya kamu itu mencampurkan perasaan pribadimu…kamu tahu sendiri, siapa yang Shinta cintai saat ini! Kamu juga pasti tahu apa isi surat yang sampai sekarang belum mendapat balasan itu? Aku hanya memperingatkanmu..!”
Kalimat dari mulut mas Jo terus mengusik pikiran Rama sejak saat itu. Rama tahu apa yang diperbuatnya adalah keliru. Akan tetapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Bagi Rama, ia merasa senang bisa mengungkapkan perasaan kepada Shinta melalui tulisan-tulisannya.
Hari itu Rama sampai di depan gapura menuju kediaman Shinta. Namun sekali lagi, ia lupa membuatkan surat seperti biasa. Rama segera menulis dan menempati tempat duduk di bawah pohon Kersen. Di bawah pohon yang berbuah itu ia merangkaikan kata-kata puitis untuk si Shinta. Beberapa butir buah berbentuk bulat kecil dengan warna merah cerah dan rasa yang manis berguguran dari pohonnya. Seolah ikut menghiasi suasana hati Rama yang sedang dipenuhi rasa cinta.
Lama-kelamaan Rama merasakan keanehan. Buah-buahan itu terus jatuh melempari kepalanya dari arah belakang. Betapa terkejut ia saat mengetahui Safya memergoki aksinya.
“Sejak kapan kamu ada di situ?” Tanya Rama kepada Safya yang berdiri di belakang pohon Kersen.
“Mungkin sejak kamu duduk di kursi saya? Kursi itu sengaja saya gunakan untuk memancal saat berusaha naik ke cabang pohon tadi! Saya jadi harus meloncat untuk turun kan?” Kata Safya sengaja menyindir.
“Hehe..” Tawa kecut dari Rama lalu segera memasukkan selembar surat yang ditulisnya.
“Kenapa kamu masukkan kertas itu ke dalam tas?” Safya mencoba menginterogasi.
“Hah? Apa maksudmu aku tidak mengerti!” Kata si Rama mengelak.
“Tidak usah pura-pura lagi! Saya sudah lihat semuanya. Itu surat untuk mbak Shinta kan? Berikan!” Pinta si Safya.
Dengan ragu-ragu Rama memberikan surat tanpa sampul tersebut. “Tolong jangan beritahu dia kejadian yang sebenarnya. Saya takut Shinta akan membenci saya!”
“Wo ooo! Kamu sudah berani menyebut dengan namanya saja ya? Mbak Shinta memang pantas untuk memarahimu!” Ucap Safya.
“Bukan begitu maksud saya! Saya hanya…” Rengekan Rama berhenti.
“Saya akan merahasiakan ini, tapi kamu harus menerima perjanjian yang saya buat!” Safya memberi penawaran. ”Bagaimana?”
“Apa-apan ini?” Reaksi Rama yang terkejut mendengar kesepakatan yang hanya menguntungkan pihak Safya.
“Mau aku berikan surat ini ke mbak Shinta tidak?” Tanya Safya yang malah lebih galak dari Rama.
“Iya, iya!” Kata Rama yang menyerah.
Safya kemudian pergi, berlari dengan selembar surat di tangannya.
“Eh, ini amplopnya ketinggalan!” Teriak Rama. Namun Safya sama sekali tidak mendengar.
Rama menggerutu, “Anak itu berbuat seenaknya sendiri. Sama persis wataknya seperti mas Jo!”.
Gubraaaaaak!. Suara seseorang terjatuh dari atas pohon.
“Wuh! Sejak kapan mas Jo ada di sini? Kenapa tiba-tiba jatuh dari pohon?” Tanya si Rama.
“Hishhhh! Aku tadi membuntutimu sampai ke sini! Tiba-tiba kamu berbalik arah, saya jadi spontan sembunyi naik ke atas pohon!” Jawab mas Jo sambil menggosok pinggangnya yang sakit.
“Memangnya mas Jo ada perlu apa?” Ucap Rama.
“Tidak apa-apa! Ayo kita pulang, badanku sudah sakit semua ini!” Kata si Paijo.
Sudah beberapa kali setelah siasatnya terbongkar, Rama lebih sering menitipkan surat untuk Shinta melalui tangan Safya. Dia selalu minta dibawakan macam-macam buah dan makanan sebagai syarat. Namun Rama tidak tahu pasti apakah suratnya benar-benar sampai ke tangan Shinta. Ia hanya menghindari surat-surat itu jangan sampai diketahui oleh pak Bupati maupun istrinya.
Tidak terasa sudah lima puluh kali Rama bolak-balik mengirimkan surat ke alamat rumah dinas Bupati itu. Tinggal satu bulan lagi menuju akhir tahun. Semua berjalan lancar sesuai rencana Rama, namun surat yang sesungguhnya diharapkan oleh Shinta tidak pernah datang. Rama berharap kebohongannya hanya untuk sementara waktu saja. Tapi ini sudah melampaui batas rencana. Rama mulai menyerah. Ia berpikir untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Shinta.
Pada akhir pekan ketiga bulan Desember, Rama mendatangi rumah dinas Bupati. Ia menemui Shinta yang dalam keadaan kurang sehat pada hari itu. Tidak biasanya Shinta menerima kunjungan Rama di beranda depan rumah. Tanpa mempersilakan duduk, Shinta menanyakan maksud kedatangan Rama pada jam-jam tersebut. Rama merasa canggung dan bingung bagaimana cara untuk mengatakannya. Sikap Shinta juga menjadi lebih dingin kepada Rama, mungkin karena memang ia sedang sakit. Tapi Rama juga tidak bisa mengelak, bahwa mungkin Shinta sudah mengetahui semua perbuatannya selama ini.
“Apa yang ingin kamu sampaikan?” Tanya Shinta.
“Sebelumnya saya minta maaf mbak Shinta! Saya…” Rama berulang kali berpikir untuk mengatakannya atau tidak.
“Sebenarnya selama ini saya telah memalsukan beberapa surat dari Yusuf, kenalan mbak Shinta itu!” Kalimat yang jujur dari Rama.
“Semoga mbak Shinta tidak marah ke saya!” Lanjutnya.
Mendengar pengakuan dari Rama, Shinta mengatupkan kedua bibirnya dengan erat. Lalu Shinta berkata, “Saya sudah tahu itu sejak lama!”.
“Apa?” Sontak Rama terkejut mendengar hal tak terduga.
“Saya sudah curiga sejak pertama kali kamu memberikan buket bunga atas nama Yusuf. Di kartu ucapannya juga tertulis kalimat Selamat Ulang Tahun!. Padahal Yusuf tahu betul saya tidak berulang tahun pada tanggal tersebut.” Jelas si Shinta.
“O Begitu rupanya!” Respon si Rama merasa bodoh.
“Bukan hanya itu!. Yusuf kalau menulis surat selalu menggunakan kertas berwarna putih, bahkan ia selalu menulis menggunakan mesin tik. Dan yang paling penting dari semuanya adalah Yusuf sama sekali tidak bisa membuat kata-kata puitis. Ia selalu menuangkan kalimat apapun dengan apa adanya.” Shinta mengungkapkan fakta yang bertolak belakang dengan semua tipu daya Rama selama ini.
“Ternyata sedetail itu kesalahan saya!” Sesal Rama.
“Lupakan saja apa yang sudah terjadi. Mulai sekarang kamu tidak perlu berpura-pura lagi sebagai Yusuf. Jika memang surat balasan darinya tidak pernah ada kamu tidak perlu susah payah ke sini. Saya baik-baik saja dengan hal itu!” Pesan Shinta kepada Rama.
Kemudian Rama bertanya, “Tapi, apa mbak Shinta tidak marah sama saya?”.
“Saya hanya merasa lega kamu sudah mengakui perbuatanmu.” Jawab Shinta lalu mengingatkan Rama untuk tetap menyimpan rahasia dari kedua orang tuanya.
Setelah pembicaraan itu, Rama sempat mengira bahwa ia tidak bisa berjumpa dengan Shinta sampai ada surat dari si Yusuf. Namun ternyata, Shinta meminta kesediaan Rama untuk datang apabila suatu saat ia butuh bantuannya. Rama dengan cepat menyanggupinya.
“Saya sangat menyukai buket bunga mawar yang kamu berikan waktu itu! Bisakah kamu membelikan beberapa buket bunga lagi untuk saya?” Pinta Shinta tiba-tiba saja.
“Tentu saja!” Jawab Rama meyakinkan.
Shinta lalu meminta Safya untuk pergi bersama Rama ke toko bunga mumpung hari belum terlalu siang. Namun karena ban sepeda milik Shinta bocor, terpaksa Safya membonceng sepeda Rama. Setelah uang diberikan, Rama dan Safya keluar dari halaman rumah dinas tersebut.
“Ternyata cinta tidak pernah membutakan matanya!” Gumam si Rama sambil melepaskan standar sepeda.
Safya yang sekilas mendengarnya bermaksud untuk bertanya, “Apa maksud ucapanmu? Kau mengatakan tentang mbak Shinta?”.
“Heh?! Ternyata dia sama sekali tidak marah…hey! Mulai sekarang saya tidak akan menuruti permintaanmu lagi. Kesepakatan kita sudah berakhir!” Ujar Rama dengan jelas.
“Maksudnya?” Safya masih belum mengerti.
“Shinta sudah tahu semuanya sekarang! Jadi kamu jangan mengambil kesempatan dariku lagi!” Kata si Rama.
“Mbak Shinta bukannya tidak marah, dia kasihan saja padamu! Beruntung mbak Shinta itu wanita yang cerdas jadi pasti sudah tahu kalau isi suratnya palsu.” Bantah si Safya yang baru memahami situasi.
Rama membela diri, “Siapa yang menganggap isi surat itu palsu?”
Safya terdiam dengan pernyataan spontan dari Rama. “Apa mungkin…Kamu diam-diam menyukai mbak Shinta? Apakah isi surat itu sebenarnya bermaksud mengutarakan isi hatimu?”.
Rama sedikit tertunduk mendengarnya kemudian Safya berbicara, “Jangan mengada-ada!".
"Ha! Ha! Dia pikir dia siapa?” Sambil berjalan mendahului Rama, Safya bergumam sendiri.
Rama yang lesu menaiki sepedanya. Meski merasa sudah diremehkan ia tetap menawarkan boncengan kepada Safya karena tempat tujuan mereka masih cukup jauh. Mereka saling diam selama di perjalanan. Hanya suara dari kayuhan sepeda Rama yang memecah kesunyian diantara keduanya. Akhirnya mereka berdua sampai di depan toko bunga yang terletak tidak jauh dari jalur perlintasan kereta api.
Kemudian Rama memasuki toko diikuti oleh si Safya. Gadis dengan rambut berkepang dua itu merasa canggung karena perkataannya tadi. Sekarang ia memilih lebih banyak diam dan membiarkan Rama yang memilihkan buket-buket bunga untuk Shinta tersebut. Mulai dari buket bunga mawar beraneka warna, lavender, lily, aster dan tulip putih. Terakhir, Safya yang membayarkan keseluruhan biaya kepada kasir toko sementara Rama keluar dengan bunga-bunga itu.
“Kamu bawakan semua buket ini di belakang! Aku tidak bisa membawa sambil mengendarai sepeda.” Kata si Rama.
Safya mau tidak mau harus melakukannya. Ia pun membonceng dengan banyak buket bunga yang hampir menutupi ubun-ubunnya. Hingga sampailah mereka, kembali ke kediaman bupati itu. Safya langsung saja pergi masuk ke dalam rumah tanpa berbicara kepada Rama yang memarkirkan sepeda di halaman depan. Melihat kondisi rumah yang sepi dan tak ada satu patah kata, Rama berniat untuk langsung pulang.
“Rama, tunggu!” Panggil Shinta yang tiba-tiba muncul dari beranda samping rumah.
Rama menolehkan wajahnya ke arah Shinta.
“Bawalah satu kotak kue ini! Terima kasih sudah membantu saya.” Ucap Shinta.
“Tapi saya…” Alasan Rama terpotong.
“Sebenarnya saya menyukai isi surat yang kamu berikan. Apa yang kamu sampaikan sangat menghibur dan menentramkan perasaan saya belakangan ini. Saya bahkan menjilidnya menjadi sebuah buku puisi kecil lho! Kalau begitu cepatlah pulang sebelum senja datang. Hati-hati di jalan ya?” Ujar Shinta dengan wajah penuh senyuman.
Menerima sedikit pujian dari Shinta membuat Rama menjadi salah tingkah. Kemudian ia pelan-pelan menuntun sepedanya keluar dari pekarangan rumah dinas bupati dengan Shinta yang masih mengantarkan kepulangannya. Safya yang sedari tadi menguping dari balik jendela hanya memperhatikan dari jauh, lalu menutup tirai dan meninggalkan pemandangan itu.