Pukul 10.00, Bos besar mendatangi kediaman Bupati bersama seorang anak buahnya. Laki-laki bertato itu adalah pimpinan dari komplotan geng preman di kota. Aksinya tidak main-main. Ia pernah bertransaksi dengan oknum anggota Dewan sampai bisa memanipulasi kejadian yang telah menjebloskan targetnya ke dalam penjara. Akan tetapi ia sangat lihai meloloskan diri dari jerat hukum.
Melewati halaman depan rumah dinas, kedua tamu tak diundang itu ditegur oleh sang Penjaga.
“Maaf! Bapak berdua ini ada perlu dengan siapa?” Tanya pak Subekti.
“Kami mencari Bapak bupati. Beliau ada di dalam bukan?” Jawab si Bos dengan tenang.
Pak Subekti membaca keadaan, “Kalau boleh tahu, siapa Anda ini?”.
Kedua pendatang itu mulai tersenyum remeh. Lalu sang Bos besar tertawa angkuh dan diikuti oleh si preman bawahan yang tertawa lepas. Bukk! Perut anak buah preman itu dipukul karena suara tawanya merusak suasana hati si Bos.
“Bawa saja kami untuk menemuinya! Beliau pasti sudah tahu siapa dan apa maksud kedatangan kami ke sini.” Kata si Bos.
“Baiklah! Mari ikuti saya!” Pak Subekti menunjukkan arah ruangan kemudian meninggalkan kedua orang itu bersama pak Bupati. Namun, Safya yang juga melihat dan mencurigai gelagat para tamu segera menguping dari balik pintu.
“Pagi sekali Anda datang menghadap saya! Mana si Rama? Kenapa tidak terlihat bersama kalian?” Tanya si Tuan rumah.
“Tenang saja Pak! Anak itu sudah kami tangkap. Bahkan putri bungsu Anda juga ada di tempat kami.” Jelas bos preman itu.
“Lalu mana dia? Dimana Shinta?” Tanya pak Bupati mulai naik emosinya.
Bos itu menata dengan baik kalimat dari mulutnya, “Bapak tidak usah khawatir! Dia baik-baik saja. Kami hanya perlu menagih uang muka sekarang. Sisanya harap pak Bupati lunasi saat kami membawa mereka ke sini besok malam!”.
“Besok malam?” sang Bupati terkejut. “Kenapa tidak sekalian hari ini saja? Apa yang sebenarnya kalian inginkan? Saya hanya minta anak saya dikembalikan!”
“Dua hari ini kami ada rencana lain, jadi...” Kata-kata preman tadi terhenti karena tatapan tajam dari si Bos.
“Kalau begitu, katakan saja di mana kalian meninggalkan anak saya!” Pinta ayah Shinta tersebut.
“Di bekas pabrik gula dengan simbol untaian bunga tebu di sampingnya..Aaaaaa!” Nada kalimatnya meninggi. Kaki si Anak buah harus merasakan injakan sepatu milik bosnya karena tidak bisa menjaga mulut.
“Apa?” Reaksi Safya yang dengan jelas mendengar semua pembicaraan mereka. Tanpa pikir panjang ia segera keluar rumah dengan mengendarai sepeda kayuh Shinta.
Seorang preman dengan bosnya itu masih terus menekan pak Bupati agar menyerahkan uang bayaran. Si bos beraksi menggeledah setiap laci meja yang ditemui dan menemukan satu buah koper yang setengahnya berisi uang kertas. Ayah Shinta berusaha menghalangi namun dicegah oleh si anak buah preman.
“Ingat pak Bupati! Ini hanya uang mukanya saja. Besok malam kami akan datang lagi dengan putri Anda. Terima kasih dan selamat menikmati liburan Anda!” Kedua orang itu akhirnya pergi dengan segala kepuasan hati. Sementara ayah Shinta tersebut merasa kesal karena telah dipermainkan.
“Apa yang terjadi, Pak?” Tanya istrinya yang terlambat datang.
Di satu sisi, Safya telah mengantongi ciri-ciri tempat dimana Shinta telah disandera. Tetapi ia tidak tahu persis di mana lokasi itu tepat berada. Satu-satunya yang bisa Safya mintai tolong adalah…
----------------------------
“Sekarang juga?” Tanya mas Jo kepada Safya.
“Iya! Tidak ada waktu lagi!” Desak Safya.
Mereka berdua pergi untuk menyelamatkan Rama dan Shinta dengan menaiki sepeda masing-masing. Beruntung mas Jo yang berpengalaman tahu betul di mana lokasi bangunan itu. Safya dan mas Jo melaju tanpa henti dengan berbagai opsi cara untuk membebaskan kedua sandera yang terkurung dalam gedung bekas pabrik.
Senja datang lagi. Bos dengan seorang bawahannya kembali ke dalam ruangan pabrik tua itu. Betapa marahnya si Bos preman karena ketidakbecusan sekelompok anak buahnya. Rama beserta Shinta sudah kabur dari dalam ruang penyekapan itu.
“Bagaimana bisa kalian sebanyak ini bisa sampai tidak tahu hilangnya dua anak seperti itu? Apa yang kalian lakukan seharian?” Bentaknya.
“Maaf Bos besar! Kami benar-benar tidak curiga ataupun menyadarinya. Pintu itu selalu kami kunci rapat dan tidak ada jalan lain lagi untuk keluar.” Jawab si Ketua preman tim lima.
“Tapi buktinya apa? Mereka berhasil kabur! Kamu lihat jendela kayu itu dijebol.” Tunjuk si Bos.
Amarah Bos Besar meluap dan membubarkan seluruh preman anggota tim lima untuk berpencar mencari Rama dan Shinta sampai ketemu. Sekarang dirinya yang merasa kesal dan kebingungan karena sanderanya telah meloloskan diri, padahal uang tebusan belum sepenuhnya diterima.
Alhasil, Rama dan Shinta nasibnya lebih beruntung. Mereka sudah cukup jauh pergi dari tempat yang bisa jadi membahayakan nyawanya. Meski lelah Rama juga Shinta harus berlari dengan kaki-kaki mereka. Sejak kemarin malam mereka berdua belum sempat makan. Perutnya keroncongan. Shinta yang mendadak kabur dari rumah tidak membawa uang satu sen pun. Sedangkan Rama yang beberapa hari sudah cuti kerja hanya punya satu lembar uang di saku celananya. Lalu Rama mencoba membelanjakan meski hanya dapat sepotong roti dan dua bungkus plastik air minum dengan sedotannya.
Mereka beristirahat di depan kedai sambil menghilangkan penat, sedikit lapar dan dahaga sebelum melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah. Rama-Shinta bercerita di sepanjang perjalanan. Rama yang banyak gaya malah iseng mengganggu seekor anak angsa. Pada akhirnya mereka harus kabur dari kejaran sekelompok angsa dewasa yang ingin menyerang. Beruntungnya lagi angsa-angsa itu tidak terlalu jauh mengejar kedua anak muda itu karena sudah keluar dari wilayah teritorialnya.
Rama dan Shinta berhenti dari pelarian keduanya. Sambil terengah-engah mereka melihat ke arah satu sama lain. Shinta tertawa dengan ekspresi saat Rama ketakutan tadi, begitu juga dengan si Rama. Insiden itu sedikit memberikan hiburan bagi perjalanan mereka yang melelahkan. Pada saat itu juga muncul Safya dan mas Jo yang bersepeda dari kejauhan. Mas Jo terus melaju, sedangkan Safya tiba-tiba terhenti di tengah jalan.
“Woi! Kenapa berhenti?” Tanya mas Jo yang mendapati Safya berhenti sedikit berjarak di belakangnya.
“Bukankah yang di depan sana itu mbak Shinta? Apa aku salah lihat?” Kata si Safya.
Mas Jo lalu menoleh ke arah jalan depan lagi. “Heh? Iya itu juga si Rama di sana. Hoi kalian!” Teriak si Paijo lalu melambaikan tangan. Rama yang mendengarnya juga membalas dengan lambaian tangan. Mas Jo nampak berseri setelah menemukan Rama dan Shinta berhasil menyelamatkan diri sebelum ia sampai ke tempat tujuan. Safya juga tersenyum lega melihat mbak Shinta juga selamat. Tetapi entah apa sebab sehingga air mata Safya menetes, terasa basah di pipinya. Ia bersyukur, namun saat memandang Rama dan Shinta saling tertawa lepas tiba-tiba membuat hatinya terasa perih. Adakah karena rasa cemburu di hati Safya?.
“Itu bukanlah apa-apa” Pikirnya. Safya berusaha membuang perasaan itu. Mas Jo sudah bergabung dengan Rama, Shinta juga memanggil si Safya yang melamun sendiri.
“Kenapa kalian berdua bisa bersama-sama lewat jalan ini?” Tanya Shinta kepada Safya dan juga mas Jo.
“Ini, tadi kami mau me..!” Safya menginjak sepatu mas Jo dengan keras sampai senior Rama di tempat kerja itu tidak bisa melanjutkan kata-kata.
“Ah tidak! Mana mungkin! Kami hanya kebetulan saja bertemu tadi. Saya khawatir sekali dengan keadaan mbak Shinta. Maaf hari itu saya tidak bisa menjaga rahasia dimana mbak Shinta tinggal sementara!” Kata Safya menyesali.
“Tidak apa-apa! Yang penting sekarang kami sudah selamat. Ini semua berkat pak Narendra.” Jelas Shinta.
“Apa? Pak Narendra?” Tanya mas Jo yang terkejut mendengar nama itu.
“Iya mas Jo. Bapakmu yang telah menolong kami.” Tegas si Rama.
Anak dari pak Narendra itu masih bingung, “Bagaimana bapakku bisa tahu? Terus kemana ia sekarang?”
“Malam itu ayahmu melihat kami berdua dibawa ke dalam mobil bergaya jip. Lalu mengenali wajah salah seorang dari pelakunya. Ternyata dulu sosok bos preman itu dengan pak Rendra adalah teman sejawat. Saat remaja mereka sama-sama bekerja di pabrik gula tebu yang sudah lama tidak beroperasi tersebut. Tempat itu juga sering dijadikan tempat para preman itu berkumpul, jadi ayahmu asal saja menebak bahwa kami berada di sini.” Cerita Rama yang didapat dari pak Narendra sebelumnya.
“Iya. Tenanglah! Ayahmu juga sudah dalam perjalanan pulang ke rumah.” Lanjut Shinta.
“Jadi dia sudah tahu semuanya. Kenapa tidak bilang ke saya? Tapi kenapa kalian tidak sekalian pulang bersama dengan Bapak?” Tanyanya kepada Rama juga Shinta.
“Saya tidak ingin pak Narendra ikut terseret dalam masalah kami. Kemudian kami mengambil jalan pulang yang berbeda. Lagi pula bapakmu juga orang kepercayaan pak Bupati, jadi kami usahakan untuk tetap melindungi profesinya” Jawab Rama.
Mas Jo malah garuk-garuk kepala. “Bukan begitu juga! Tadi itu bapakku pergi dengan mengendarai mobil sewaan. Lah, kalian kalau ikut kan bisa lebih cepat dan aman sampai rumah? Kalau masalah profesi sih tidak masalah karena satu bulan lagi Bapak mau pensiun.”
Rama dan Shinta hanya bisa mengeluhkan segalanya setelah mendengar. Keduanya tidak tahu kendaraan yang dinaiki karena pak Narendra sengaja memarkirkannya tidak terlalu dekat dengan lokasi. Mereka berempat kemudian menempuh jalan kembali masing-masing. Rama gantian yang memboncengkan mas Jo saat pulang. Sedangkan si Safya tetap yang memboncengkan nona mudanya. Safya lebih banyak diam karena masih terganggu oleh perasaannya tadi. Hanya kekuatan dari cara ia mengayuh sepeda yang sekarang nampak lebih santai dan teratur.
Satu kenyataan yang menyebalkan adalah, Bos preman dan komplotannya sudah hampir 20 jam kehilangan jejak dua orang yang telah mereka sekap. Namun hal tersebut tidak akan menyebabkan kerugian bagi mereka. Bos besar bersama tiga orang preman lainnya tetap pergi ke rumah dinas Bupati untuk menagih sisa pembayaran meski tanpa membawa apa yang dijanjikan. Lebih cepat dari rencana semula, para penjahat itu datang pada saat hari menjelang petang. Pak Subekti yang berjaga di pos keamanan dibuatnya pingsan dan tergeletak di atas kursi panjang. Kali ini pun tanpa mengetuk pintu mereka langsung memaksa masuk ke dalam rumah. Pak Bupati beserta istri yang sedang duduk di ruang keluarga mendadak takut dengan aksinya.
“Mana anak saya?” Tagih sang Bupati.
“Maaf sekali pak Bupati yang terhormat! Bukannya kami tidak bisa menepati janji. Tapi alangkah lebih baik jika pembayaran itu Anda selesaikan dulu. Setelah beres baru kami beri tahu dimana anak itu berada.” Tawar si Bos mencoba mengelabui ayah Shinta tersebut.
Bupati tersebut tidak mudah percaya begitu saja. “Tidak bisa! Serahkan Shinta terlebih dahulu kepada kami!” Gertaknya.
“Pada akhirnya memang harus menggunakan cara lain. Ikat mereka!” Perintah si Bos.
“Siap!” Jawab ketiga preman bawahan dengan kompak.
Bapak Bupati dan ibu Ajeng mencoba melawan dengan segenap kekuataan yang mereka miliki. Simbok Darsih yang kebetulan membawakan minuman dari dapur juga turut menjadi korban.
“Ada apa ini? Siapa kalian? Tolong! Tolong!” Teriaknya.
Dor! Suara tembakan ke atas dari pistol milik Bos preman menghentikan keributan yang terjadi. Kemudian ia mengarahkan ketiga penghuni rumah untuk jongkok di sudut ruangan. Pak bos lalu memberikan senjatanya kepada salah seorang anak buah untuk mengancam pak Bupati agar tidak berbuat macam-macam. Sementara itu, ibu Shinta dan mbok Darsih sudah merasa sangat ketakutan. Ia sendiri mencari harta simpanan keluarga itu di ruang-ruang utama.
“Jangan macam-macam! Kalau tidak? Saya tembak kamu!” Ancam si Preman yang membawa pistol menodongkannya kepada tiga orang korban yang merasa terhimpit oleh keadaan.
“Memangnya kamu berani melakukannya di sini?” Sindir kawannya.
“Sutt! Diam saja kamu! Aku hanya menakutinya saja. Nembak tikus di rumahmu saja aku masih takut. Bagaimana mau nembak orang?” Kata si Preman tadi lalu dilanjutkan oleh tawa dua orang temannya.
Ayah Shinta menilai para preman itu sedang dalam keadaan lengah. Ia kemudian memanfaatkan situasi. Direbutnya pistol itu dari tangan preman nomor satu. Lalu preman ke dua dengan cepat merebut dari tangan bupati tersebut tapi malah terjatuh di lantai. Si bapak segera mengambilnya. Tidak mau kalah preman ke tiga berusaha merebutnya dari arah belakang sambil memiting lengan pak Bupati. Dalam situasi yang runyam tersebut, ibu Ajeng memberanikan diri untuk menolong suaminya. Begitu pula dengan simbok Darsih yang berusaha menyelamatkan kedua majikannya.
Di saat genting pistol itu malah berhasil direbut oleh preman ke dua lalu spontan dilemparkannya kepada preman pertama tadi.
Dor! Tembakan itu kembali terjadi, namun kini tepat mengenai d**a sebelah kiri dari sang Bupati. Semua orang terguncang dengan kecelakaan yang baru saja terjadi, termasuk ketiga preman yang hanya berdiri di tempat.
“Apa yang telah kau perbuat?” Tanya preman ke dua merasa was-was.
Si preman pertama masih gemetaran dengan aksinya yang tak terduga. Saat itu, sang Bos besar keluar dari kamar pribadi ayah Shinta dan langsung memprotes ketiga anak buahnya itu. “Apa yang terjadi? Bukankah aku menyuruh kalian jaga orang-orang itu dengan benar?”
Betapa terkejut si Bos melihat mantan kliennya itu tergeletak tak berdaya dengan diiringi tangisan sang istri di sisinya.
“Pergi! Cepat pergi dari sini!” Komando Bos kepada para preman.
“Tapi uangnya Bos?” Tanya preman ke tiga langsung dilempari satu buah koper yang ditemukan oleh bosnya dari dalam kamar. Kemudian secepatnya, gerombolan penjahat itu kabur dengan mobil hardtop bergaya jip milik si Bos.
Tepat setelah mobil itu tancap gas dari kediaman sang Bupati, Safya yang naik sepeda bersama Shinta heran ada sebuah mobil asing yang berpapasan dengan mereka di jalanan yang tidak terlalu lebar tersebut. Safya tetap mengayuh sepeda sampai masuk halaman depan rumah.
“Kenapa sudah malam pintunya tidak ditutup?” Heran Shinta lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Safya masih sibuk mengurus sepeda Shinta. Ia hendak menyimpannya di ruang belakang, tapi ia baru sadar dengan keberadaan pak Subekti yang teridur di atas kursi panjangnya. Safya mendekati lalu membangunkannya.
“Jam segini kok sudah tidur pak Subekti?” Tanyanya namun tidak ada respon.
“Pak, bangun! Pak Bekti?” Panggil Safya sambil menepuk bahu pak Subekti tapi masih tidak bergeming.
Akhirnya setengah gelas kopi yang sudah dingin disiramkan ke muka pak Subekti dan berhasil membuka mata.
“Siapa itu? Aduh, pening sekali kepalaku!” Ucapnya setelah terbangun.
“Ada apa? Pak Bekti tadi pingsan?” Tanya Safya dengan hati-hati.
“Tidak tahu. Tadi tiba-tiba sekelompok orang datang lalu memukul saya.” Jelasnya.
Pada saat itu terdengar suara tangisan yang cukup keras dari dalam rumah. Safya dan pak Subekti yang matanya langsung membelalak dengan hal yang belum pernah terdengar sebelumnya. Mereka pun menyusul Shinta yang sudah masuk terlebih dahulu.
Begitu lemas kedua kakinya saat masuk ke dalam ruang keluarga. Shinta melihat ayahnya tergeletak tak berdaya dengan lumuran darah di tubuhnya. Sang ibu tidak sanggup berbicara untuk menceritakan semuanya kepada Shinta. Shinta pun menangis sejadi-jadinya. Safya dan pak Bekti tidak kalah shock dengan anggota keluarga lain. Bude Darsih yang melihat Safya berdiri di depan pintu segera berlari dan memeluknya. Hanya tangis dan diam yang mampu menjelaskan suasana detik itu.