Kemarin malam nyawa ayahnya tidak bisa tertolong lagi. Shinta dan Ibunya menerima dengan ikhlas kepergiaan lelaki itu dalam kehidupan mereka untuk selamanya. Hari ini menjadi hari berkabung bagi Shinta dan keluarganya. Banyak saudara dari keluarga besar yang datang untuk mengantarkan jenazah sampai ke tempat peristirahatan terakhir. Istri dari mendiang bupati itu nampak lemah tubuhnya dengan air mata yang terus bercucuran. Keempat kakak perempuan Shinta juga datang bersama anak-anak dan suaminya masing-masing. Mereka merasa sangat terpukul dengan kabar kematian sang Ayah secara mendadak. Keempatnya tidak bisa menutupi aura kesedihan. Sementara Shinta, si Anak bungsu hanya duduk terdiam di teras depan rumah dan menyalami para pelayat yang turut berbelasungkawa. Halaman rumah dinas itu hampir dipenuhi oleh teman sejawat ayahnya dari kantor Pemerintahan Kabupaten. Datang juga perwakilan dari beberapa instansi daerah. Sementara masyarakat sekitar hanya melayat sebentar kemudian langsung pulang. Rama yang datang bersama pak Narendra, juga ikut berduka atas kematian ayah Shinta tersebut.
Kerumunan itu hanya terjadi sampai saat upacara pemakaman selesai dilaksanakan. Setelah itu tinggal keluarga kerabat yang masih tinggal di kediaman bu Ajeng dan Shinta. Pak Narendra juga sudah kembali ke “Serat Surya” setelah ia meminta jam izin di hari pertama masuk kerja. Sedangkan Rama masih menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Shinta. Beruntung saat itu Shinta keluar dari dalam rumah dan melihat Rama yang berdiri memandang ke arahnya. Mereka berdua lalu berjalan saling mendekatkan diri.
“Kamu belum pulang?” Tanya Shinta kepada Rama.
Pemuda dengan model rambut belah pinggir itu hanya menggeleng dan tersenyum kecil kepada perempuan di depannya. Baru saja ia menarik napas dan ingin berbicara, tiba-tiba dua orang pria dengan pakaian batik berseragam keluar dari dalam rumah.
“Anda tidak perlu lagi menghindar dari kami nona Shinta! Kami sudah membicarakan semuanya dengan ibu Anda.” Kata pak Gubernur. “Seperti apa yang Anda inginkan, saya sendiri yang membatalkan perjodohan antara Anda dengan Arya!” Sambil menepuk bahu anak laki-lakinya tersebut.
Shinta mengalihkan perhatian untuk menghindari tatapan mata Arya. Sementara Arya sendiri masih mengharapkan Shinta untuk menjadi pendampingnya. Ia memang menyukai Shinta sejak pertama mereka diperkenalkan oleh orang tuanya. Tapi apa daya, Arya tidak bisa melawan keputusan ayahnya itu maupun memperjuangkan hati Shinta yang tak ingin dimiliknya.
Melihat ke sosok Rama di samping Shinta, kemudian ayah Arya melanjutkan perkataannya. “Sebagai teman lama, saya tentu juga mendoakan kebahagiaan bagi Anda sebagai putrinya. Semoga nona Shinta bisa mendapatkan lelaki yang benar-benar Anda cintai. Tapi pasti bukanlah pria di sampingmu ini, kan?” Tanyanya dengan pandangan yang meremehkan.
Rama hanya menunjukkan ekspresi tidak senang lalu membuang muka dari bapak-bapak di depannya itu.
“Hah! Tapi melihat kepribadian dua anak muda seperti ini, mungkin saja kalian akan menjadi pasangan yang serasi.” Sindir Bapak gubernur tersebut.
“Sekarang semua urusan sudah selesai. Kalau begitu kami mohon undur diri. Selamat siang!” Pamit mereka lalu pergi.
Tiba-tiba Shinta bicara, “Kamu tidak perlu memikirkan ucapannya, Rama! Dia hanya suka mengunggulkan status keluarganya saja.”
Mendengar ucapan tersebut membuat Rama berpikir apakah sungguh tidak ada ruang sedikitpun di hati Shinta untuk menerima cinta tulus darinya?. Rama mengurungkan niatnya untuk menyampaikan sesuatu yang dianggapnya kepada Shinta. Pada akhirnya ia hanya sekadar mengucapkan bela sungkawa kemudian langsung pamit pulang untuk kembali bekerja.
Selama tujuh hari, keluarga Shinta menggelar acara doa bersama untuk sang Ayah yang telah wafat di rumah dinas itu. Mereka juga membagikan sedekah untuk masyarakat sekitar. Namun entah dari mana berita kematian itu bisa sampai kepadanya. Yusuf datang tepat di hari ke tiga setelah pemakaman ayah Shinta. Kenapa dalam keadaan sudah seperti ini, ia baru menunjukkan diri di tengah-tengah keluarga Shinta. Pemuda itu berjalan menghampiri Shinta yang duduk di bangku taman.
“Saya turut berbelasungkawa atas meninggalnya ayahmu tiga hari yang lalu, Shinta!” Ucap Yusuf.
“Maaf karena saya baru bisa datang sekarang!” Lanjutnya.
Shinta memandangnya dengan rasa tak percaya. Tidak ada kata untuk membalas semua ucapan itu. Yusuf kemudian memberikan sebuah amplop surat. Shinta merasa tidak asing dengan lipatan kertas lama itu, nampaknya Yusuf menyimpannya dengan baik.
“Saya tidak pernah membaca surat terakhir yang kamu kirimkan itu. Waktu itu saya hendak bertunangan dengan gadis Melayu yang dipilihkan oleh keluarga besar di Palembang. Jadi saya memutuskan untuk tidak lagi berkirim surat denganmu. Adapun surat lama dan barang kenangan kita, sudah saya pendam dalam-dalam sebagai masa lalu. Hanya satu surat ini yang tidak berani saya baca, berharap dengan itu saya punya satu alasan untuk menemuimu secara langsung dan meminta maaf.” Penjelasan dari Yusuf.
Hati Shinta semakin merasa lemah dengan kenyataan bahwa Yusuf telah bertunangan dengan orang lain.
“Sudilah kiranya kamu memaafkan kesalahanku jika itu menyakitimu. Aku berharap bisa berbahagia dengan kehidupan baruku begitu juga dirimu. Semoga kamu mendapatkan lelaki yang engkau cintai, Shinta.” Harapan Yusuf kepada gadis yang telah lama menunggunya tersebut.
Shinta berusaha untuk menahan air mata jatuh dari pelupuknya. Baru sekali ini ia mendengar namanya disebut oleh Yusuf secara langsung di depan mata. “Apa kamu mencintainya?” Tanya Shinta ditunjukan kepada si Yusuf.
Awalnya Yusuf terdiam. Lalu ia menjawabnya dengan tenang, “Pada awalnya saya merasa enggan. Tetapi setelah mengenal kepribadiannya, sejujurnya saya beruntung bisa bersanding dengan wanita sepertinya. Dan pada akhirnya kami saling menyayangi begitu pula dengan keluarga dari kedua belah pihak.”.
Sejenak Yusuf menundukkan wajahnya. “Kami sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.” Perkataan itu seketika meluluhlantakkan hati dan perasaan Shinta. Rasanya bak disambar petir di tengah hari saat panas terik matahari.
“Semudah itukah kamu mengatakannya? Setelah semua yang terjadi pada saya? Pergilah! Tidak perlu lagi alasan dan cerita apapun untuk kita perdengarkan mulai sekarang.” Kata Shinta yang sudah tidak tahan dengan realita kehidupannya.
“Sekali lagi maafkan saya, Shinta!” Pamit Yusuf dan meninggalkan Shinta dalam kesendiriannya.
Bagi Shinta, air matanya sudah habis terbuang tinggal menyisakan penuh sesak di dalam d**a. Safya menyaksikan pembicaraan mereka berdua dari pintu belakang kamar Shinta. Ia juga merasakan sesak karena menahan amarahnya terhadap Yusuf yang baru pertama kali dilihatnya. Saat itu bersamaan pula Rama masuk ke halaman depan dan berpapasan dengan Yusuf. Rama yang belum pernah mengenal orang asing itu hanya berusaha menyapa namun Yusuf hanya berlalu begitu saja.
“Kamu datang ke sini lagi?” Tanya simbok Darsih kepada Rama yang ditemuinya di teras rumah.
“Iya Mbok! Saya disuruh paman untuk memberikan ini untuk mbak Shinta dan ibunya. Sekalian untuk mbok Darsih dan Safya juga.” Kata Rama lalu memberikan beberapa kardus berisi bakpia khas buatan sang Paman.
“Banyak sekali! Sampaikan terima kasih kami untuk paman dan bibimu ya?” Pesan mbok Darsih.
“Oh iya Mbok! Tadi siapa yang baru saja keluar?” Tanya si Rama.
Simbok Darsih hanya tersenyum masam dan diam dengan pertanyaan dari Rama. Kemudian Rama berjalan menyusuri teras samping rumah. Ia bertemu dengan Safya yang memandang jauh ke arah Shinta yang duduk sendiri di bawah pohon peneduh di sudut halaman.
“Simbok mengatakan bahwa Yusuf baru saja menemui Shinta.” Ujar Rama. “Sepertinya ia membawa sebuah kabar buruk!”
“Kamu bisa lihat sendiri bagaimana sikap mbak Shinta saat ini. Dia butuh banyak waktu untuk menyendiri.” Kata si Safya.
Rama melangkah pergi namun dihalangi oleh Safya. “Apa yang mau kamu lakukan? Biarkan ia tenang dahulu!” Pintanya kepada Rama. Rama yang keras kepala melepaskan tangan Safya yang menarik lengannya itu dan berjalan menuju tempat Shinta berada. Titik-titik air nampak samar jatuh dari langit. Safya khawatir hujan akan turun ketika mereka berdua masih berada di bawah pohon.
Tidak ada kata yang disampaikan Rama kepada Shinta. Ia langsung mengambil sesuatu dari dalam tas pinggangnya. Sebuah buku catatan berukuran sedang dan cukup tebal dengan sampul berwarna hijau, Rama letakkan di genggaman tangan Nona muda itu. Shinta hanya melihat pemberian itu dengan tatapan kosong. Rama terus saja tersenyum melihat wajah Shinta yang murung. Hingga akhirnya ia pun juga tersenyum saat menatap wajah Rama yang duduk di sampingnya.
Hujan tiba-tiba turun dengan lebat. Safya yang sempat pergi ke ruang dapur segera berlari menuju tempat Rama dan Shinta berada. Namun ia mendapati mereka berdua sudah tidak lagi berada di sana. Jantungnya berdebar-debar dengan sebilah pisau di tangan kanannya.
Lima hari kemudian Shinta bersiap-siap untuk pulang ke kampung halaman ibunya. Mereka akan tinggal di sana untuk seterusnya. Lagi-lagi Rama datang dengan sepedanya untuk memenuhi permintaan Shinta untuk terakhir kali. Ia membantu memasukkan barang-barang milik keluarga ke dalam mobil yang akan mengantarkan Shinta beserta sang Ibu. Hari ini Shinta nampak dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Meskipun ia lupa menyisir rambutnya karena sejak pagi sibuk berkemas.
Rama telah membereskan pekerjaan itu bersama dengan pak Subekti. Kali ini Shinta yang menghampiri Rama untuk mengucapkan salam perpisahan.
“Terima kasih Rama! Kebaikanmu selama ini akan saya ingat. Senang bisa mengenal orang sepertimu!” Ucap Shinta.
“Saya justru yang lebih berterima kasih dan senang bisa membantu mbak Shinta selama di sini!” Balas Rama dengan kerendahan hati.
Karena sekarang saya bukan siapa-siapa lagi di rumah ini, jadi akan lebih nyaman jika kamu memanggil nama saja. Lagi pula sebenarnya kita seusia bukan?” Tutur Shinta.
Rama menjadi malu sendiri. “Hehe. Benar juga!”
Sementara itu bu Ajeng berpamitan kepada semua orang yang tinggal, lalu naik ke mobil yang sudah siap dikemudikan oleh menantunya. Pada waktu yang sudah sempit, Shinta memberikan salah satu buku koleksinya kepada Safya sebagai kenang-kenangan. Ia berharap Safya bisa mewujudkan cita-citanya dengan potensi yang telah ia miliki. Bagaimanapun juga mereka telah banyak berbagi cerita dan harapan satu sama lain di rumah itu. Shinta pun menutup pintu mobil dan melambaikan tangannya ke luar jendela sebagai tanda perpisahan. Terlihat wajah-wajah yang sudah membayangkan suatu kerinduan dari orang yang ditinggalkan. Seluruh anggota keluarga mantan Bupati itu akhirnya pergi.
Di tengah perjalanan, Shinta membuka buku catatan hijau yang diberikan Rama saat rintik hujan mulai menetesi daun di pepohonan. Pada tiap sudut lembar kertas putih yang masih baru itu, Rama menuliskan satu sampai dua kata. Jika Shinta merangkaikan seluruh kata dari lembar pertama sampai lembar terakhir maka akan membentuk suatu kalimat-kalimat yang membuat ia berpikir sekaligus tertawa. Shinta menjadi lebih bersemangat untuk menjalani kehidupan selanjutnya. “Buku-buku itu telah menjadi alas tidurmu. Maka tegakkanlah ia dari jiwa dan pemikiranmu yang terbangun. Biar menjadi abu karena dibakar api, tetapi ilmu di dalamnya tetap tersimpan dalam memori. Ingat dan tulislah! Menulis layaknya seorang Kartini. Walau harus kembali di kala perjuangan masih terlalu dini.” Tulisan Rama pada akhir halaman buku. Pada akhirnya Shinta pun pergi jauh, jauh dari masa lalu dan dari seseorang yang diam-diam mencintainya.
“Apa?” Kaget si Rama yang menemukan sebuah surat yang tertinggal di dalam tas pinggangnya. “Seharusnya tadi aku berikan surat ini kepada Shinta! Kenapa aku sampai lupa? Hash!”.
Rama bergegas mengambil sepeda kayuhnya dan sekencang mungkin mengejar laju mobil yang membawa pergi Shinta.
“Hei! Kau mau kemana?” Teriak Safya lalu berusaha menyusul rama dengan sepeda Shinta yang sengaja ditinggal oleh pemiliknya.
Rama tidak mendengarkan suara-suara yang terus memanggilnya. Ia terus melaju, mencari arah perginya mobil itu hingga ia berhenti di persimpangan jalan. Rama sudah jauh ketinggalan jejak. Kayuhannya terhenti dengan hembusan napas yang berat. Kemudian disusul oleh Safya di belakang Rama. Tiba-tiba Rama berbalik arah bersama sepeda yang dinaikinya.
“Woi! Apa sih yang dia inginkan? Memangnya tidak lelah mengayuh sepeda seperti ini?” Keluh Safya lalu bergerak lagi mengikuti kemana Rama pergi. Mereka berhenti di tepi sebuah sungai. Safya memperhatikan apa yang Rama sedang lakukan. Rama mengeluarkan selembar kertas dari amplop surat, menggulung dan memasukkannya ke dalam sebuah botol bekas air minum. Dilemparkannya botol itu ke sungai lalu hanyut terbawa deras aliran air. Rama memandangnya sampai di kejauhan.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan? Apa yang kamu masukkan ke dalam botol tadi? Lalu mengapa kamu melemparkannya ke sungai? Kamu tahu kan bahwasanya hanya akan bermuara di laut?” Terlalu banyak pertanyaan Safya namun tak ada satupun yang dijawab oleh Rama.
“Pergi!” Kata Rama dengan sikap tenang.
“Apa?” Tanya si Safya keheranan.
“Aku telah membiarkannya pergi. Kau tahu? Bahwa sejatinya, dia tidak akan pernah hilang karena pasti berada di suatu tempat. Hanya kita saja yang tidak tahu. Tetapi saya tetap yakin dia akan baik-baik saja.” Ujar si Rama lalu tersenyum seolah menghibur diri sendiri.
Safya tidak mengerti apa dan siapa yang Rama bicarakan. Apakah Shinta ataukah perasaan yang Rama pendam sendiri. Ia mulai melangkah lagi menginggalkan Safya.
“Tunggu!” Cegah Safya. “Apakah kamu akan terus meninggalkanku seperti ini?”
Rama menunggu apa yang akan Safya katakan.
“Datanglah besok pagi di rumah dinas bupati! Saya dan bude Darsih..” Belum selesai permintaan Safya terucap Rama sudah menolak.
“Maaf saya tidak bisa! Besok di tempat kerja situasinya cukup sibuk. Pimpinan kami akan melakukan evaluasi kinerja dan seharian kami akan di kantor.” Alasan Rama.
“Tidak bisakah datang sebentar saja?” Pinta Safya.
Rama menunduk sejenak lalu berkata, “Mulai sekarang tidak ada lagi alasan bagi saya untuk datang ke tempat itu!”. Kemudian Rama benar-benar pergi dari hadapan Safya.
Keesokan harinya, Safya dan budenya telah bersiap pergi dari rumah dinas bupati. Mereka juga akan kembali ke tempat asalnya di Semarang. Beberapa menit lagi mungkin bus menuju terminal antar kota akan segera tiba. Sungguh Safya tidak bisa mengharapkan kedatangan Rama seperti hari kemarin untuk mengantarkan kepergian Shinta. Lalu lalang kendaraan di depan mereka sama sekali tidak mengaburkan pikiran tentang hal tersebut. Safya yakin bahwa Rama tidak pernah peduli dengannya sampai detik ini.
Suara klakson dari bus berbunyi. Safya dan bude Darsih pergi meninggalkan lokasi gapura yang kini telah menjadi tugu selamat jalan bagi mereka. Sepanjang perjalanan dari dalam bus, Safya selalu melihat ke arah pemandangan di luar jendela. Matanya berilusi, ketika bus bergerak maju maka semua yang dilaluinya seperti berjalan ke belakang. Saat bus berhenti, semua akan bermula dari satu keadaan yang sama. Namun apabila bus berjalan mundur maka tidak akan pernah mengantarkan penumpangnya sampai ke tempat tujuan. Bus itu hanya berhenti dan bergerak mundur sementara, jika ada tanda peringatan atau bahaya yang menghalangi jalannya. Sampai ia menemukan jalan lain untuk bisa berjalan ke depan mencapai tempat tujuan dengan selamat. Begitulah cara seorang pengemudi.
Tangan Safya mengusap-usap cover buku pemberian Shinta. Matanya kini tertuju pada gambar ilustrasi seorang pria yang duduk sambil membuat gerabah dan berbagai rupa kriya di sekelilingnya.
“Bangun Safya! Kita sudah sampai di terminal. Ayo cepat turun!” Kata bude Darsih.
Safya membuka mata. Kemudian ia berdiri tegak dan melangkahkan kakinya. Tas di punggung dan lengan yang berisi oleh-oleh menambah beban tubuhnya. Safya melihat arah jalan di hadapannya. Seketika jalan pikirannya terbuka serasa luas dan terang. Akhirnya Safya menitipkan oleh-oleh untuk sang Ayah kepada budenya tersebut.