Tanah masih dibasahi oleh derasnya hujan pada akhir Januari 1972. Turunnya titik-titik air dari langit itu tak bisa memaksanya masuk ke dalam relung kerinduan. Tidak ada air mata yang berlaku untuknya sejak hari-hari perpisahan. Ia tidak kehilangan akal, tidak pula sampai meneguk racun hanya untuk menyusul kepergian orang yang dicintai. Prasangka yang telah membawa laki-laki itu pada kematian, bahkan bukan karena cintanya yang telah membangunkan sang Kekasih. Bagaimana itu hendak terjadi sedang pemuda ini bukanlah seperti tokoh cerita dari negeri Itali. Dia tetaplah Rama yang dahulu. Ia tidak merasa patah hati meski sudah ditinggal pergi. Sejal awal Rama sadar bahwa ia hanya akan mencinta dengan caranya sendiri.
Setiap hari Rama masih disibukkan dengan rutinitasnya di tempat kerja. Sekarang ia menggantikan posisi mas Jo yang baru saja keluar dari pekerjaannya. Suasana di tempat kerja terasa sepi tanpa kehadiran orang yang biasa menjahili Rama. Mas Jo akan menikah. Ia memutuskan untuk merantau dengan istrinya mengikuti program Transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah. Mas Jo ingin mewujudkan cita-citanya mempunyai lahan penghidupan sendiri.
“Kenapa kamu tidak makan, Ram?” Tanya paman Supar kepada Rama yang sibuk dengan kertas-kertas di meja kamarnya.
“Iya, sebentar!” Jawab si Rama.
Selesai membereskan barang-barang pribadinya, Rama datang juga ke meja makan.
“Hari ini kamu jadi pamit dari SERAT SURYA?” Tanya paman sambil melahap lauk tempe garit yang masih hangat.
“Iya Paman! Setelah itu rencananya saya mau langsung pulang ke rumah.” Ucap Rama.
“Begitu rupanya! Rasanya sebentar sekali kamu tinggal di sini!” Kata paman Supar.
“Iya! Perasaan baru kemarin ibumu memberitahu kalau kamu mau menetap di rumah paklik sama bulik.” Sambung istri dari paman Rama tersebut. “Dulu setiap ada hari libur pasti Rama diajak ibunya main ke sini. Jadi rasanya sudah seperti di rumah sendiri bukan? Kalau ada waktu senggang, mampir-mampirlah sebentar!” Pesan dari Buliknya.
Rama hanya tersenyum sambil menikmati menu sarapannya pagi ini.
“Tapi kamu jangan merasa terbebani, Ram! Jalani saja sebaik yang kamu bisa! Paman dan Bibimu ini pasti turut mendoakan untuk keberhasilanmu. Tinggal bagaimana niat dan usaha dari dirimu sendiri.” Ujar sang Paman seraya menasihati.
“Iya Paman, terima kasih! Semoga Tuhan membalas kebaikan paman Supar sekeluarga atas bantuannya selama ini kepada saya dan juga Ibu.” Rama membalas kata-kata pamannya.
“Aamiin..! Semua sudah ditakdirkan. Sudah seharusnya menjadi bagian dari tanggung jawab kami untuk memenuhi wasiat dari bapakmu. Kalau saja ia masih hidup…” Ucap sang Bibi.
“Sudah, jangan berandai-andai! Ayo Rama cepat selesaikan makanmu, jangan sampai kesiangan!” Saran paman Supar.
Setelah mengakhiri sarapan dan obrolan di meja makan, Rama langsung pamit dengan paman dan bibi. Rama menggendong tas yang terisi penuh di punggungnya juga menenteng satu kardus buah tangan dari paman Supar dan istrinya. Pergilah ia dari rumah yang selama dua tahun telah menjadi bagian dari pijakan hidupnya. Rama dengan optimis menapaki jalan di antara dua kebun di desa tersebut.
“Dasar kurang ajar! Teganya kau menyakitiku seperti ini!” Teriak seseorang dari atas pohon kelapa.
Langkah Rama terhenti. Ia mencari arah suara tetapi tidak menemukan seseorang. Namun terus saja terdengar suara seorang laki-laki yang mengomel tidak jelas apa yang di keluhkannya. Mata Rama kemudian tertuju pada butir-butir kelapa muda yang jatuh di atas rerumputan.
“Eh! Mas Jo?” Sapa si Rama.
Dengan langkah merayap, mas Jo turun dari batang pohon yang beruas itu. Hap! Melompatlah ia saat sudah dekat dari atas permukaan tanah. Kemudian diusapnya peluh yang membasahi dahi. Mas Jo bertolak pinggang lalu memanggil Rama dengan isyarat dua kali gerakan jari tangan sebelah kanan. Belum apa-apa Rama sudah merasa terintimidasi seperti seseorang yang bertemu perampok di tengah jalan. Tiba-tiba si Paijo hendak menjatuhkannya ke tanah lalu mengunci kedua pergelangan kaki Rama. Melakukan hal yang tidak Rama sukai untuk membuatnya tertawa geli lalu marah hingga memaki dan tertawa lagi. Namun kali ini mas Jo tidak berhasil melakukan misi dari tabiatnya yang usil.
“Kenapa kamu sekarang berat begini? Hah!” Protes mas Jo cepat menyerah tanpa memperhatikan barang bawaan yang menambah beban tubuh si Rama.
“Masa Rama kecil dengan satu tas punggung dan satu kardus bekas mie instan itu sampai membuat lengan juga bahuku pegal begini! Apa yang kau bawa?” Tanya mas Jo sambil memijat dan memutar-mutar sendi di bahunya.
“Ini! Ini yang Sampeyan tidak tahu mas Jo! Isi tas punggung ibarat masa kini. Lihat kardus ini! Terlihat ringan kok malah berat? Isinya ibarat masa depan. Lalu kenapa saya berat adalah karena saya baru saja makan.” Jawaban Rama mengada-ada.
Mas Jo menggelengkan kepala. “Bisa-bisanya kamu menggurui orang yang sudah mau menikah ini!” Katanya.
“Hei! Tidak bisa ditunda beberapa hari lagi tinggal di sini, Ram? Paling tidak sampai hari pernikahanku lah! Kalau malu balik ke rumah pamanmu, tinggallah sementara di tempatku juga tidak apa-apa. Saya malah senang ada teman di rumah selain bapak.” Mas Jo memberi penawaran.
Rama tertawa. “Maaf mas Jo! Awal bulan dua ini saya sudah masuk tahun akademik. Jadi akan ada banyak agenda di kampus.” Jawabnya.
“Weleh! Bahasamu itu mendahului jejak sandal jepit di kakimu, Ram! Kepalamu boleh mendongak melihat orang-orang dengan gelar sarjana itu, tapi kamu juga harus tetap melihat ke bawah! Intinya tetaplah jadi dirimu yang rendah hati. Kalau sudah pinter jangan keblinger!” Nasihat dari mas Jo.
“Meski hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama, Aku sudah mau menikah lho! Baca tulis pun aku juga bisa Ram! Berhitung apalagi. Mau berapa? Seribu ditambah seribu sama dengan dua ribu. Seribu dikalikan seribu sama dengan sejuta. Sejuta dikalikan sejuta ialah sebanyak cintaku pada wanita yang akan menjadi istri dan ibu dari anak-anakku. Bagaimana, hebat kan aku?” Bangganya si Paijo pada diri sendiri.
“Katanya disuruh rendah hati? Dia sendiri malah kelakuannya begitu!” Gumam si Rama sambil menolehkan wajahnya ke arah belakang.
“What!” Teriak mas Jo yang hampir marah.
Rama lalu menetralkan suasana dengan berkata, “Iya Mas! Petuah dari mas Jo akan saya ingat dengan baik.”
“Baguslah kalau begitu! Oh iya, bawalah beberapa buah kelapa muda ini Ram? Lumayan untuk bekal di perjalanan.” Kata mas Jo lalu membeset sedikit bagian kulit dari dua buah kelapa muda dan mengikatkannya satu sama lain.
Si Paijo memberinya secara dengan paksa. “Terima kasih mas Jo!” Ucap Rama yang sudah merasa kerepotan dengan barang bawaannya.
“Kalau sudah, saya mau jalan dulu Mas! Semoga besok acara Ijab Kabulnya diberikan kelancaran. Saya ucapkan selamat atas pernikahannya. Semoga langgeng dan bahagia selalu. Selamat tinggal mas Jo!” Kata-kata pamit dari Rama mengakhiri sesi ini.
Lambaian tangan mas Jo mengudara, mengiringi kepergian si Rama.
“Selamat jalan Rama! Sering-sering kirim kabar ya? Ingat aku! Akan kukirimkan surat dari pulau seberang. Hei Rama! Kau dengar tidak? Hoi!” Ujarnya dengan suara lepas.
Rama terus berjalan ke depan. Melangkah ia lebih cepat hingga berlari tanpa peduli beban di pundak dan kedua tangannya. Berlarilah ia cepat-cepat menjauhi kebisingan tersebut.
Rama naik bus trayek antar kota dalam provinsi untuk sampai ke rumah sang Ibu. Ia menikmati perjalanan dengan santai sambil memutar kembali ingatannya. Tidak banyak yang berubah dalam penglihatannya sejak Rama pergi meninggalkan desa kelahirannya. Namun kali ini ia kembali untuk membuat perubahan yang tidak pernah ia pikirkan sejak lulus dari Sekolah Menengah Atas. Rama memang menjadi begitu tertarik dengan bidang keilmuan ini, tetapi kenapa ia harus mengikuti jejak langkah orang itu?. Akhirnya ia pun sampai di depan halaman rumah yang nampak ramai karena banyak orang datang untuk jajan di warung soto milik ibu Rama. Masuklah Rama ke dalam rumah, meletakkan semua barang bawaannya, berganti pakaian dan langsung membantu pekerjaan ibu dan kakak iparnya di depan. Namanya mbak Dewi.
“Sudah cuci tangan?” Tanya istri dari kakak laki-laki si Rama.
“Sudah! Mas Eka mana, kok tidak kelihatan?” Rama balik menanyainya.
“Belum pulang sepertinya. Dari pagi diajak temannya pergi ke tempat pelelangan ikan. Makan dulu sana! Ibu juga sedang ada di dapur.” Kata mbak Dewi kepada Rama.
Tanpa menuruti perintah kakak iparnya, Rama malah terus sibuk mengantarkan pesanan ke meja pelanggan dan membereskan piring-piring dan gelas kosong yang sudah ditinggalkan. Setelah azan ‘Ashar biasanya warung makan sudah sepi dan bersiap untuk tutup. Ibu Rama selalu membuka warung makannya sampai sebelum senja di awal petang tiba. Sejak di bangku Sekolah Dasar, Rama sudah terbiasa disuruh membantu pekerjaan ibunya di warung soto. Tapi apa daya jika ia lebih memilih kabur untuk bermain dengan teman-temannya. Jadi sang Ibu lebih sering meminta bantuan tetangganya hingga mempekerjakan seorang karyawan.
Berbeda dengan Rama yang sekarang. Tanpa disuruh, Rama berinisiatif sendiri untuk membantu sang Ibu ataupun kakak satu-satunya yang berdagang macam-macam ikan laut hasil tangkapan para nelayan. Minggu-minggu ini Rama sibuk melayani pembeli di warung makan, ikut berdagang dengan mas Eka di pasar, berkunjung ke rumah kawan lama. Banyak Rama bercerita tentang pengalamannya sebagai pengantar surat yang berlalu-lalang di jalanan kota hingga desa. Namun Rama tidak pernah berbagi tentang kisah cintanya yang tamat begitu saja. Mungkin ia ingin menyimpan rasa itu sendiri. Atau semudah itukah Rama menggugurkan bunga-bunga yang pernah bersemi di hatinya?
“Tentu tidak mudah!” Kata mas Eka. “Kemarin kamu tidak mengambil ilmu Keguruan dan Pendidikan saja, Ram? Prospek kerjanya bagus. Banyak temanmu dulu yang masuk jurusan itu. Tetangga kita juga beberapa sudah berprofesi sebagai guru. Mengapa kamu lebih memilih masuk ke Akademi Arsitektur?” Tanyanya panjang lebar atas keputusan si Rama.
Rama memandangi genangan air yang masih ditetesi oleh rintik air hujan di pagi hari. Perasaannya tenang dan dalam. “Ya…mungkin karena Saya terlanjur mencinta, Mas?” Jawaban Rama yang mengernyitkan dahi sang Kakak.
Rama adalah Rama. Biarkan saja dia bertindak sesukanya asal tetap mengindahkan nilai dan norma-norma. Bukan karena pertambahan usia yang terus mengubah perilaku dan pemikiran Rama. Hanya saja ia telah memiliki cita-cita dan hasrat dalam jiwa mudanya.