Orang mengatakan pintar itu sudah sifat asal manusia. Cerdas itu anugerah. Sementara bodoh itu pilihan. Bagi Rama, ia hanya bertahan sebaik mungkin agar tetap bisa berpikir dan berupaya. Teman-teman di sekelilingnya nampak giat dan serius untuk memperdalam jurusan teknik ini. Cabang dari seni dan ilmu untuk mendesain bangunan yang bernilai estetis. Pada mulanya Rama hanya mencoba untuk tidak mau kalah dengan mereka. Namun semakin lama ia mulai lelah akan diri sendiri. Perjuangan macam apa yang sedang Rama lakukan? Untuk apa dan siapa semua ini? Apa yang terjadi pada diri Rama? Sudahkah menjadi sebuah kesalahan sejak awal? Mungkin sama sekali tidak! Rama hanya telah melupakan cinta pertamanya pada sebuah estetika.
Setiap garisnya adalah penghubung. Bentuknya adalah karakter, simbol dan detail. Teksturnya adalah penilaian dari indra manusia. Setiap ruang dan ukuran menjadi pancaran rupa sehingga warna akan menunjukkan pesan visual dari desainnya. Kini sinarnya temaram. Rama ingin kembali dan memulai ulang satu titik saat dahulu ia merasa telah jatuh hati. Rama harus berhasil menyelesaikan pendidikannya sampai tiga tahun ke depan. Ia terus menunjukkan kesungguhan hati. Menciptakan sebuah seni dari goresan tangannya. Sampai tiba saatnya Rama tersenyum lega dan bangga menapakkan kakinya satu langkah lagi melewati satu jalan hidup lagi saat diwisuda.
Suatu hari Rama mengikuti ajang pameran dan kompetisi untuk para Arsitek Pemula di kota Palembang. Sang Moderator mulai membukakan acara. Beberapa sambutan mengawali gelaran apresiasi tahunan tersebut. Rama dengan santai mengikuti tiap susunan acara yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Peserta kompetisi yang lainnya juga nampak tenang dengan masing-masing karya di meja besar penjurian.
”…Yusuf Mahmud Abdillah!” Sebut si Pembawa acara pada saat memperkenalkan para juri yang telah hadir di tempat.
Tiba-tiba nama itu mengusik pikiran Rama. Memorinya terketuk dan mengingatkan sosok lama yang sama sekali tidak penting untuk Rama ingat. Namun ia hanya dapat mengintip dari setiap celah dan melongok melewati ubun-ubun kepala para hadirin yang duduk di kursi masing-masing . Sudut penglihatan Rama tertuju pada seorang pria yang menampilkan kharismanya dengan jas warna biru, duduk dengan seksama diantara juri-juri yang lain. Rama masih tak mengenali wajahnya dari arah tersebut.
Akhirnya, sampailah mereka pada acara inti. Satu demi satu peserta mempresentasikan hasil karyanya. Tak luput semua juri mempertanyakan detail dari desain rancangan dan maket yang dibuat oleh banyak pemula tersebut. Hingga tiba giliran Rama menghadap para juri.
“Silakan perkenalkan profil diri Anda terlebih dahulu!” Kata sang Moderator mengingatkan.
Rama mulai tegang dengan microphone yang digenggamnya. Kini nampak jelas di depan mata, seseorang yang pernah berpapasan dengannya hari itu. Terpaksa Rama sekali lagi menyapanya pada giliran terakhir dengan senyum yang dibuat-buat lalu menempelkan kertas gambar rancangannya pada sebuah papan dan mempresentasikannya bersama maket yang telah terpajang di hadapan dewan juri. Yusuf bertanya kepada Rama mengapa ia mengambil nilai estetis dari rumah adat di Indonesia.
“Lantas mengapa Saudara tidak mengambil latar belakang dari daerah asal Anda sendiri?” Tanyanya lagi kepada Rama.
“Hal tersebut dikarenakan….. tidak seharusnya kita menciptakan sesuatu yang hanya akan menjadi harapan kosong bagi seseorang. Maksud saya begini! Bukankah lebih menarik jika kita mencoba saling mempelajari karakter dari budaya daerah satu sama lain. Dengan begitu kita bisa menggali potensi darinya bahkan bisa mewujudkan suatu bangunan baru dengan beragam corak khas tersebut. Tentu ini akan membuka ruang kritik yang lebih luas dan inovatif.” Jawab Rama hampir saja melibatkan perasaan pribadinya.
“Lalu menurut pak Yusuf, apakah makna dari seorang pria jika membuat sebuah miniatur rumah adat dari daerah asalnya sendiri untuk diberikan kepada seorang wanita yang berasal dari tempat yang jauh dan berbeda budaya dengannya?” Tiba-tiba Rama mengajukan pertanyaan.
“Bukankah itu berarti hanya menjadi sebuah hadiah? Saya rasa tidak lebih dari itu!” Jawab Yusuf santai saja.
“Begitukah?” Tegas si Rama.
Memahami suasana yang sedikit canggung ini, sang Moderator segera mengakhiri waktu tampil si Rama sebagai peserta terakhir.
“Baiklah sekarang kita segera masuk ke babak final penilaian. Kepada dewan juri, waktu kami persilakan untuk menentukan pemenang dari kompetisi ini. Kepada para peserta kami berikan kesempatan untuk istirahat selama tigapuluh menit. Terima kasih atas kerja samanya!” Tuturnya.
Rama tidak berharap apapun dari kompetisi ini. Pada saat pengumuman pemenang dari mulai juara satu, dua, tiga hingga harapan satu dan dua tidak sekalipun nama Rama disebut. Rama Satya Prawira, namanya kini hanya tertulis di atas kertas dengan status sebagai peserta. Rama kembali pulang ke pulau Jawa tanpa satu prestasi di awal karirnya bahkan untuk membalaskan patah hati dari wanita yang dulu dicintainya. Tidak ada piala sebagai simbol kebanggan Rama, namun karena hal tersebut ia bertekad untuk fokus pada bidang pekerjaan yang akan digelutinya sampai seterusnya. Bukan sekadar arsitek yang membuat rancang bangunan tetapi juga yang mewujudkan setiap mimpi dan harapan.
Usianya kini menginjak kepala tiga. Rama sangat serius terhadap profesi dan tanggung jawab pekerjaannya. Ia mengeyampingkan perhatian selainnya bahkan untuk mencari pasangan hidup. Mungkin hatinya sudah seperti batu yang tidak mudah diretakkan oleh apapun. Hanya bisa diketuk tapi tak bisa dimasuki oleh perasaan wanita manapun. Setelah Shinta, tidak ada lagi yang bisa menarik hatinya. Rama hanya bertindak secara profesional. Tidak terbuka lagi ruang untuk perasaan pribadi. Ibunya hanya selalu berpesan supaya Rama memilih wanita yang juga berdarah jawa. Namun setiap kalimat itu terucap, Rama hanya teringat pada sosok Shinta yang justru harus dilupakannya. Mengapa harus dilupa jika memang cinta? Sebab Shinta sudah hidup bahagia dengan suami dan satu anaknya yang masih balita. Begitulah kabar yang sempat ia dengar dari surat yang mas Jo kirimkan karena ayahnya sendiri, pak Narendra berbagi cerita saat di perantauan. Mas Jo sendiri dengan bangga memamerkan fotonya dengan istri dan tiga anak kembarnya kepada Rama.
Bertemu dengan orang baru banyak mewarnai hidup Rama. Ia tidak merasa kekurangan suatu apapun dengan jalan hidupnya. Kadang ada rintangan yang menghambat namun dapat terselesaikan dengan solusi-solusi terbaik bersama pihak-pihak yang bekerja sama dengan Rama. Suatu kali kesempatan Rama merancangkan suatu ide proyek baru dari kliennya yang ingin mengembangkan lokasi wisata edukasi. Untuk bisa mengadaptasikan konsepnya dengan kehidupan masyarakat sekitar, mereka juga secara rutin mengunjungi sentra industri kerajinan gerabah di wilayah tersebut dalam sepekan.
Tetapi satu hal yang tak disangka terjadi. Kali pertama Rama datang, sebuah lemparan tanah liat mendarat di kepalanya. Wujud kendi yang masih basah tersebut hancur, dengan rata menutupi wajah si Rama.
“Safya!” Teriak seseorang yang menyaksikan Safya jatuh karena tersandung sesuatu di dekat pintu.
Safya, gadis desa asal Semarang itu kini bekerja di usaha kerajinan tersebut. Sejak ia tidak jadi pulang ke rumah bersama bude Darsih, Safya belajar di tempat ini karena ingin membuat macam-macam jenis gerabah dengan tangannya sendiri. Meski terus belajar dari berbagai kesalahan tidak cukup membuat dirinya menjadi seorang yang terampil. Sang pemilik lalu memindahkan Safya untuk mengurusi bagian administrasi. Namun Safya tetap teguh dengan niat awalnya. Terkadang ia mencuri kesempatan untuk belajar dari mereka yang sudah mahir. Lebih sering yang Safya lakukan ini justru mengganggu pekerjaan para perajin di sana. Tidak ada yang sanggup menghentikan Safya dari rasa hausnya untuk terus belajar. Mereka juga akhirnya secara sukarela mengajarinya meski harus sembunyi-sembunyi.
Beruntung hari ini menjadi kali pertama Safya berhasil membentuk tanah liat itu menjadi sebuah kendi dengan sedikit hiasan ukir pada permukaannya secara sempurna. Safya begitu semangat hendak menjemur hasil kerajinannya di bawah panas sinar matahari.
Plak! Jerih payah Safya dibayar tunai dengan kecerobohan yang ia buat sendiri. Alisnya menukik ke atas, senyuman lebar dan gigi-gigi yang dirapatkan. Safya merasa takut sekaligus khawatir dengan wajah menakutkan yang berdiri mematung di hadapannya.
“Bapak tidak apa-apa?” Tanya salah seorang mitra kerja Rama yang datang bersama.
“Bagaimana ini? Maafkan atas kesalahan kami, Pak!” Sesal sang Pemilik usaha yang akan menemani mereka berkeliling.
Rama tidak bisa menjawab apa-apa. Dia hanya mencoba mengambil sapu tangan dari saku celana panjangnya dan mengusapkan pada tanah lengket yang menempeli muka.
“Maaf! Dimana saya bisa membersihkannya dengan air?” Pinta si Rama.
“Oh! Mari-mari ikut saya, Pak!” Ajak salah seorang perajin dengan bekas olesan lempung di telapak tangannya.
Rama berjalan mengikuti petunjuk arah dari orang tersebut. Sementara Safya sempat diperingatkan oleh atasannya karena sifat keras kepalanya. Kemudian Safya kembali ke pekerjaan yang sudah lama ditugaskan untuknya. Meski tidak sengaja menyebabkan kejadian sebelumnya, Safya juga merasa bersalah kepada salah satu tamu, dengan rupa yang belum sempat dikenalinya.