Setelah selesai membersihkan wajahnya, Rama kembali bergabung dengan yang lainnya untuk melaksanakan rencana awal mereka. Mereka berkeliling mengamati potensi dari masyarakat sekitar sehingga bisa bersinergi dengan tujuan pembangunan wisata edukasi yang dikehendaki oleh si klien. Dibandingkan kejadian awal yang menimpa Rama, dua jam aktivitas mereka di sana berjalan dengan lancar. Mereka kembali membuat janji untuk berkunjung lagi pada keesokan hari. Tiga hari waktu kunjungan Rama berjalan tanpa ada gangguan. Mungkin karena selama itu Safya hanya berada di balik meja menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Sejak peristiwa lalu, Safya merasa lebih sering diawasi. Ia bahkan dilarang menyentuh segala hal yang masih masuk dalam proses produksi.
Saat Safya akan pulang dari tempat kerja, sore itu ia melihat seorang pria berdiri di seberang jalan seolah tengah mempelajari sesuatu. Nampak pria yang memakai kemeja putih dengan dasi panjang warna biru bergaris hitam itu, tiba-tiba saja mengarahkan pandangan kepada Safya saat berjalan. Hal tersebut membuat langkah Safya terhenti. Matanya berkedip-kedip dengan pupil yang membesar karena terkejut. Hampir-hampir Safya tidak bisa mengenalinya karena potongan rambut cepak si Rama.
“Apa dia melihatku? Oh tidak! Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?” Jeritan suara hati Safya.
Rama melambaikan tangan dan menyapanya dengan senyuman lebar dari jarak belasan meter itu. Safya hanya mematung di tempat.
“Astaga! Apa yang di lakukan? Apa aku harus menanggapinya? Siapapun tolong saya!” Desakan suara hati Safya tidak karuan.
Rama pun melangkahkan kaki, berjalan dengan santai menyeberangi jalan yang tengah sepi tersebut tanpa mengalihkan pandangannya.
“Jangan ke sini! Jangan mendekat! Saya peringatkan kamu!” Bisik Safya.
Rama sama sekali tidak peduli dengan kegelisahan yang tengah merasuki Safya. Ia terus saja berjalan ke sana dan mendekatinya. Sementara wanita dengan rambut panjang dikepang satu ke belakang itu terus berguman, “Jangan mendekat…jangan mendekat!”. Tetapi si pria itu semakin jelas terlihat berdiri di depan matanya.
Safya berteriak, “Tidak…!” sampai matanya terpejam, mulutnya terbuka dan kedua tangannya menghalau ke segala arah.
“Apa kabar pak Santoso?” Ucap Rama memberi salam setelah melewati posisi dimana Safya berdiri.
“Hah? Apa itu?” Tanya Safya dalam hatinya lagi. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Rama bersama dengan seorang bapak-bapak. Kedua lelaki itu saling berjabat tangan lalu terkesan akrab dengan topik pembicaraannya. Safya terpaku tapi juga merasa malu. Cepat saja ia menghilang dari keadaan tersebut kemudian berlari kembali ke tempat kos. Selang beberapa detik, Rama menolehkan wajah dan pandangan matanya mengikuti arah lari wanita itu. Rama sadar dengan perilaku aneh dari wanita yang rambutnya dikepang satu tadi. Ia merasa tidak asing.
“Siapa wanita tadi itu? Oh!” Mata Rama terbelalak karena sudah mengingat sosoknya.
“Bukankan dia yang waktu itu melemparkan tanah liat ke mukaku? Wah..! Pantas saja tadi dia bertingkah aneh!” Kesal si Rama yang belum juga mengetahui bahwa wanita itu adalah Safya. Gadis yang dahulu pernah dikenalnya.
Di depan kamar, Safya duduk melamun sendiri di atas lincak sementara Reni begitu lahap menikmati camilannya pada malam itu. Reni adalah teman satu kos dengan Safya sejak menetap di dekat industri gerabah tersebut. Melihat Safya yang melamun, Reni mengambil satu potong camilan dan menggerak-gerakkankan ke seluruh hadapan wajah satu temannya itu. Safya sama sekali tidak tergoda, ia tetap melayang dalam angan-angan kosong. Karena tak memberikan reaksi apapun, lantas Reni menyosorkan sebungkus makanan ringan itu. Dalam sekejap Safya langsung merebut dari tangan Reni dan memakan isinya hingga memenuhi mulut.
“Ck! Apa lagi yang terjadi kali ini?” Tanya si Reni dengan menggerutu.
“Rasa-rasanya aku keliru memilih untuk tetap tinggal di sini, Ren!” Kata si Safya.
Reni menanggapi. “Memangnya kenapa? Baru sekarang kamu bicara seperti ini.”.
“Seharusnya aku tidak bertemu dengannya lagi di sini.” Jelas Safya sambil memainkan rambut panjangnya yang terurai.
Reni mulai tertarik, “Siapa? Si Majnun itu?” Pemuda gila yang menganggap Safya adalah kekasihnya yang telah memilih untuk menikah dengan orang lain dan meninggalkan cintanya.
“Apa sih? Bukan!” Sanggah si Safya merasa kesal karena mengingatkan pada masa-masa sulit saat ia terus berlari,sembunyi untuk kabur dari dramatisasi orang yang sudah tidak waras.
“Lantas siapa? Eh, apa aku juga pernah melihatnya? Dimana?” Tanya Reni antusias.
“Kamu belum pernah kenal.” Jawaban si Safya.
Reni putus asa, “Huh! Jangan-jangan orang yang pertama kali kamu suka, yang kamu ceritakan waktu kita liburan ke pantai!”.
Safya terdiam.
“Benar itu? Wah, dugaanku memang selalu benar!” Anggapan Reni meski baru saja salah sangka sebelumnya. “Kapan kalian bertemu?”
“Tadi sore. Tapi sepertinya dia tidak mengenaliku. Sudah sepuluh tahun, banyak hal yang berubah bukan?” Ujar Safya.
“Memang seperti apa dia sekarang? Wajah manis atau tampan? Tingginya semampai bukan? Ayo cepat ceritakan kepadaku?” Reni ribut sendiri sehingga tidak memahami perasaan Safya saat ini.
Safya yang terperangah berupaya untuk pergi. “Sudahlah! Aku mau tidur saja.”
“Hei, tunggu dulu! Kamu tidak mau memberitahuku? Hei!” Protes si Reni tanpa digubris oleh Safya yang langsung mengunci pintu kamar.
Di lokasi yang berbeda, malam itu Rama tengah menyaksikan bulan purnama sambil tiduran di atas papan-papan di belakang rumah mas Eka.
“Rembulan itu dilihat begini saja nampak sempurna ya Mas? Sinarnya… wujudnya…” Kagum si Rama.
Mas Eka tertawa kecil karena mendengar cara adiknya itu berbicara. “Ya seperti itulah bulan diciptakan. Tetapi bukan untuk kamu nikmati saja keindahannya Ram! Bulan juga punya tujuan penciptaannya. Mau bagaimanapun benda tiruan buatan manusia, tidak akan pernah bisa menggantikan fungsi dan manfaatnya bagi kehidupan.” Celoteh sang Kakak.
“Ram! Kamu mendengarkanku tidak?” Tanya mas Eka kepada Rama karena tidak bereaksi dengan ucapannya.
“Iya…!” Jawab Rama dengan malas.
“Bulan bersinar karena memantulkan cahaya dari matahari. Berbeda dengan bintang-bintang yang bisa memancarkan cahayanya sendiri. Kamu saksikan sendiri betapa terang sinarnya sampai memecah kegelapan malam. Tetapi kamu tidak perlu harus menjadi seperti bulan ataupun bintang yang bersinar untuk diapresiasi semua orang. Cukup lakukan saja apa yang menjadi niat dan tujuan baikmu! Biarkan manfaat itu mengalir begitu saja kepada siapapun yang ingin mengambilnya. Ram, kamu tidak tidur kan?” Tanya mas Eka memastikan keadaan si Rama.
“Hemm!” Jawab Rama singkat saja.
“Bulan itu bisa diibaratkan seorang wanita. Penampilannya memang indah, tetapi ternyata jika kamu telah mengenalinya lebih dalam ada banyak sifat yang harus diperhatikan. Bulan itu berwarna putih dan terang dalam penglihatan kita, padahal warna sejatinya adalah abu-abu gelap. Wanita bisa memperlihatkan bahwa ia kuat padahal relung hatinya terluka. Bak kaca yang berdebu, kamu harus memperlakukannya dengan baik dan benar. Jangan terlalu keras karena ia bisa pecah, dan jangan terlalu lembut karena bisa mudah keruh dan bernoda.” Tak disangka syair-syair kalimat terlontar dari seorang penjual ikan laut tersebut.
“Cepat selesaikan pekerjaannya! Sudah malam ini…!” Terdengar suara omelan istri mas Eka dari dalam rumah.
“Iya, iya…” Sambut mas Eka.
Rama lalu terbangun dari tempat bersantainya dan berkata, “Mas, kalau mbak Dewi sepertinya bukan ibarat bulan.”
“Apa?” Tanya sang Suami.
“Batu meteor. Menyala karena terbakar atmosfer jadinya panas!” Jawab Rama dengan bercanda.
Mas Eka langsung menerbangkan sandal jepitnya namun tidak mengenai Rama. “Hush! Nanti dia marah-marah lagi kalau dengar. Sudah, cepat bantu pindahkan peti es ini!” Perintah mas Eka dengan suara yang tertahan.
“Siap, mas Bos! Jam berapa besok berangkat?” Ucap si Rama.
“Nanti jam tiga pagi sudah harus siap pokoknya.” Beritahunya masih dengan suara setengah berbisik kepada Rama.
“Mas?” Tanya Rama dengan berbisik-bisik.
“Apa?” Tanya mas Eka dengan nada suara yang sama.
Kemudian Rama berkata dengan lirih, “Mas Eka takut sama mbak Dewi ya?”
“Bukannya takut. Sebagai suami aku harus lebih mengerti dan banyak mengalah sama istri. Namanya juga pasangan hidup, Ram! Wajib untuk saling melengkapi dan menutupi kekurangan masing-masing. Kalau aku sepatu, dia kaos kakinya. Kalau dia bunga, aku adalah tangkainya.” Jawab Mas Eka membela diri.
Rama menambahi, “Kalau kamu, kaktus?”
“Dia adalah untanya..!” Jawab mas Eka dengan bergurau.
“Sakit dong termakan durinya?” Respon si Rama.
“Ngobrol melulu, berisik!” Teriak mbak Dewi yang mendadak mempercepat gerak tangan mas Eka dan juga Rama hingga pekerjaan mereka akhirnya selesai. Mereka semua pun tertidur.
Pada keesokan hari, Rama kembali melihat-lihat sentra produksi gerabah dalam satu hari terakhir ini. Beberapa bulan selanjutnya ia akan fokus untuk menyelesaikan gambar desainnya hingga masuk tahap pengembangan rancangan, pembuatan gambar kerja, serta pengadaan pelaksana konstruksi termasuk pengawasan berkala ke lokasi pembangunan. Sampai sore ini berjalan aman-aman saja, seperti kemarin. Tapi itu sebelum Safya datang menemui Rama karena disuruh bosnya untuk memberikan kenang-kenangan dari tempat usahanya tersebut. Sekaligus dimaksudkan agar Safya meminta maaf langsung atas kejadian di awal pertemuan mereka. Safya patuh saja karena belum tahu bahwa korbannya adalah Rama.
Safya berjalan menuju seseorang yang berdiri di dekat petakan lahan persawahan. Dengan langkah percaya diri ia mempersiapkan mental untuk mengucapkan permohonan maaf. Sesampai di dekat orang tersebut, Safya mengucapkan salam dan meminta waktu sebentar untuk berbicara dengan nada kalimat yang lembut dan sopan.
“Ha?!” Safya spontan membuka mulut lebar-lebar dengan bola mata yang hampir mau keluar karena begitu tercengang melihat Rama tiba-tiba menampakkan wajah di hadapannya.
“He?!” Balas Rama menirukan reaksi Safya dengan gaya dan ekspresi yang bermain-main.
“Kamu?” Tunjuk si Safya kepada Rama.
“Iya! Sekarang saya baru ingat, pantas saja sepertinya muka itu tidak asing lagi. Jadi kamu yang sudah melempari saya waktu itu?” Kata si Rama sedikit kesal.
Kemudian Safya langsung menyesali, “Iya. Maafkan perbuatan saya waktu itu! Saya benar-benar tidak sengaja. Ini pemberian dari tempat usaha kami semoga berkenan menerimanya!”
“Kenapa selalu begitu? Dulu saat masih awal bertemu kamu juga tiba-tiba memukuli saya!” Keluh Rama sambil menerima pemberian tersebut.
“Memangnya Anda mengenal saya?” Tanya Safya sedikit meremehkan jika Rama masih ingat siapa dirinya. Sementara ia bukan lagi Safya dengan rambut panjang kepang dua.
Rama heran dengan sikap Safya. “Kalau bukan perajin lain yang memberitahukan namamu, mungkin saya tidak akan pernah ingat lagi.”
“Untuk apa juga mengingat saya. Anda sendiri saya minta untuk datang ke rumah dinas bupati dulu saja tidak mau. Padahal itu hari terakhir saya di sana sebelum pulang kampung.” Ujar Safya.
“Apa? Apakah itu menjadi hal yang sangat penting?” Rama mengelak.
“Hah! Menyebalkan sekali orang ini.” Gerutu Safya dengan bergumam sendiri. “Baiklah, karena saya sudah melaksanakan amanah dari pemilik usaha, saya cukupkan sampai di sini. Terima kasih!” Safya mulai beranjak pergi.
Namun Rama kembali memanggilnya, “Hei! Bukan begini cara meminta maaf yang benar.”
Safya menunjukkan ekspresi wajahnya yang sedikit marah, “Lalu harus bagaimana? Saya kan sudah bilang maaf tadi!”
Sementara dalam kejengkelan itu, langit semakin gelap karena awan mendung. Seekor Soang jantan kabur dari kandang ternak pemiliknya. Berlari dan terbang ke sana ke mari dengan membentangkan sayapnya yang lebar. Eeekkk…oookkk…! Bunyinya keras dan berulang-ulang membuat bising di telinga. Hampir-hampir tingkah laku binatang itu merusak sejumlah gerabah yang masih dijemur. Beberapa orang berhasil menghalau dengan tangan bahkan tubuhnya. Akan tetapi angsa besar itu justru terbang tinggi melesat ke arah Safya dan juga Rama. Safya berada di posisi depan tidak sanggup menangkis serangan yang tak terduga. Jalannya mundur dengan terhuyung melawan kibasan sepasang sayap. Soang itu lalu melayang, melewati atas kepala Safya sampai memancal tepat di kepala Rama. Safya mendorong tubuh Rama yang sudah berhati-hati berdiri di pematang sawah.
Byurrr…! Rama dan Safya tenggelam sampai kedalaman 40 cm?? Kini tidak hanya wajah tapi seluruh badannya berlumuran lumpur. Tidak ada yang menolong atau bahkan sempat memperhatikan keduanya. Orang-orang di sana lebih sibuk memasukkan gerabah-gerabah yang belum kering sempurna ke dalam bangunan. “Plink, plink, plink” Bunyi tetesan air yang telah mulai menjatuhkan diri ke bumi. Tiba-tiba angin datang dengan membawa air hujan yang lebih deras. Rama kemudian segera berdiri dan mengeluarkan kaki-kakinya yang terjeblos di dalam lumpur sawah. Rama berusaha berjalan dengan langkah yang berat. Safya yang masih kesulitan mengangkat kaki kanannya meminta tolong.
“Tunggu...Bantu saya! Sepatu sandalnya keblesek ini!” Mohon si Safya.
Hampir saja Rama tidak ingin memedulikannya. Namun hujan semakin lebat, Rama pun menyarankan Safya melepaskan sepatu sandalnya yang tersangkut sehingga kakinya bisa diangkat, kemudian Rama mengambilnya. Setelah berhasil mereka berjalan beriringan menuju ke tepian. Tinggal sedikit lagi sampai, tapi sekarang gantian kaki kiri Safya yang terperosok.
“Tolong, tolong!” Teriaknya.
“Tidak bisa, sudah mau sampai ini!” Jawab Rama geregetan.
Rama membungkukkan badannya untuk mencapai pematang sawah itu. Tangannya menjulur ke depan dan meraih batang-batang rumput yang tumbuh.
“Kyaaa’! Saya tercekik, tolong! Tolong…!” Suara Rama semakin tinggi dan nyaring. Safya lalu melepaskan tangan yang menarik kemeja Rama. Sedetik saja leher Rama serasa tercekik oleh dasi yang melingkar di kerah bajunya. Akhirnya mereka bisa keluar dari tanah berlumpur itu, dengan Safya berpegangan pada Rama. Kemudian Rama dan Safya berpisah begitu saja dengan lumpur yang sudah nyaris bersih karena lama diguyur air hujan.