Jika selalu perasaan ingin saling menolak satu sama lain, bagaimana dua insan itu akan bisa bersatu? Keduanya memiliki kisah kasih yang tak sampai. Cinta yang bertepuk tangan karena merendahkan diri sendiri dan rasa segan. Kemudian berpura-pura dengan ego masing-masing. Apakah kamu menyukaiku atau apakah aku menyukaimu? Tanpa ada kata saling yang terjalin diantara keduanya.
Di saat Rama sendiri menghabiskan waktu, tidak ada hal lain yang bisa dipikirkannya selain tuntutan pekerjaan. Kekasih? Dia bahkan tidak pernah punya keinginan untuk menunggu ataupun mencarinya. Entah kenapa Rama tidak ada kepedulian sama sekali. Ia menjadi takut akan kehilangan dan menahan sakit karena memendam rasa cinta sendiri sehingga menjadi belenggu untuk mulai membuka diri pada wanita lain. Namun pilihan Rama saat ini adalah antara mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan memberikan ganti rugi atau menerima perjalanan cinta yang akan ditulis ulang kembali.
Sabtu siang, Rama menemani mas Eka pergi ke tempat pelelangan ikan. Lokasi yang berdekatan dengan pantai membuat Rama ingin berjalan-jalan sambil menunggu sang Kakak menyelesaikan urusannya. Panas matahari tidak terlalu menyengat kulit karena sedikit terhalangi oleh awan mendung. Rama berjalan-jalan sendiri menikmati hempasan angin dari dorongan ombak di lautan. Tidak ramai wisatawan yang ada di pesisir pantai itu. Karena merasa haus, ia mampir di sebuah warung kecil dan membeli sebotol air mineral lalu duduk-duduk santai sambil memandangi hamparan pasir pantai dan air laut.
“Kemarin kamu tahu ada keributan di sini?” Tanya seorang pelanggan yang duduk di samping Rama kepada si Pemilik warung.
“Keributan apa?” Si Pemilik warung balik bertanya.
“Itu yang ramai-ramai di pantai! Katanya orang-orang sampai kewalahan melerai dua pemuda itu.” Jelas si Pelanggan.
“Oh yang itu! Iya, tapi itu hanya masalah sepele. Mereka bertengkar karena memperebutkan seorang wanita! Seperti dunia ini sudah tidak ada wanita lain saja! Untungnya mereka tidak saling kena pukul, baru saling mendorong sudah saling jatuh di atas pasir. Si perempuan itu kemudian dengan ragu-ragu berjalan masuk ke dalam air. Ia kira dua pemuda itu akan sadar bahwa dirinya bisa saja tenggelam dan membahayakan diri sendiri. Alih-alih membuat keduanya khawatir dan menghentikan perselisihan, gadis itu justru dibuat malu sendiri. Ternyata yang diperebutkan oleh pemuda-pemuda itu bukanlah dirinya, melainkan seorang gadis lain yang pergi bersama mereka. Ia juga dapat peringatan oleh penjaga pantai karena tidak mengindahkan larangan yang tertulis di papan peringatan. “PERHATIAN! - DILARANG MANDI DI LAUT - BERBAHAYA!!!” Sedangkan teman perempuan yang menjadi alasan sebenarnya dari pertengkaran itu hanya diam dan bingung menyaksikan kesalahpahaman teman-teman remajanya itu.” Cerita si Pemilik warung.
“Aneh-aneh saja ya, Pak! Ada saja permasalahan di kalangan anak muda! Kalau saya tidak mau anak saya main cinta-cintaan dulu!” Reaksi orang yang biasa jajan di tempat tersebut.
“Lha masa iya, kan anak-anakmu masih di Sekolah Dasar dan Taman Kanak-Kanak!” Respon penjual makanan dan minuman tersebut.
“Maka dari itu!” Tanggapan pembelinya.
Rama yang juga mendengarkan semua cerita itu sudah merasa tidak tertarik dengan obrolan dua orang bapak-bapak. Kemudian Rama pergi lagi untuk kembali ke tempat pelelangan ikan, memastikan bahwa mas Eka sudah selesai membeli kebutuhan dagangannya.
“Sudah beres, mas Eka?” Tanya si Rama yang langsung menemui sang Kakak.
“Oh, iya sudah! Dari mana saja kamu? Tadi mas Eka tidak melihatmu ada di sekitar sini.” Ujar mas Eka yang tiba-tiba mendapati Rama berdiri di belakangnya,
“Hanya berkeliling sebentar! Eh? Hanya ini ikan yang sudah kamu beli, Mas? Tidak sebanyak biasanya!” Heran si Rama.
Mas Eka menanggapi, “Hah? Iya Ram! Harga ikan sekarang sudah naik. Para nelayan tidak banyak melaut karena ada peringatan bahaya gelombang tinggi. Jadi ya…sedapatnya sajalah, sesuai dengan isi dompet!”
Kedua kakak beradik itu kemudian memindahkan beberapa drum plastik open top tanpa klem yang berisi tangkapan hasil laut tersebut, ke atas bak kendaraan pickup milik salah teman yang juga seorang penjual ikan.
“Titip diantarkan sampai ke rumah ya, Hib!” Pinta mas Eka kepada temannya itu yang bernama Sohib.
“Kalau kamu mau pulang sekarang, sekalian ikut dengannya saja Ram!” Saran sang Kakak.
“Mas Eka memangnya mau ke mana?” Tanya Rama.
“Saya ada urusan lain sebentar. Saya pergi dulu ya?” Pamit mas Eka tergesa-gesa.
“Heh? Mas!” Panggil si Rama namun tak ditanggapi.
Si Sohib yang sudah siap di kursi kemudi bertanya kepada Rama. “Bagaimana, mau ikut tidak?”
“Saya pulangnya nanti saja, Mas! Silakan duluan, terima kasih sebelumnya!” Jawab Rama yang sempat ragu.
“Kalau begitu saya jalan dulu!” Katanya.
“Iya. Hati-hati di jalan mas Sohib!” Pesan si Rama disambut dengan suara klakson dari dalam mobil.
Setelah itu, Rama berlari mengikuti arah pergi mas Eka tadi untuk segera menyusul. Namun ia sudah kehilangan jejaknya. Padahal hari sudah beranjak sore, perutnya sudah keroncongan karena belum sempat makan siang. Mestinya Rama tadi ikut pulang saja bersama mas Sohib. Jadinya tidak seperti orang terlantar begini. Rama akhirnya membeli satu bungkus mi yang diseduh. Dompetnya tidak dibawa, uang di kantongnya hanya cukup untuk membeli sebotol air tadi siang dan mi instan kemasan cup. Rama masih saja bertahan di sana. Berdiri di atas batu karang yang menyembul di atas pasir pantai. Dirinya sama sekali tidak berniat melihat matahari terbenam karena tahu mendung sudah ada sejak pagi hingga sore hari ini.
Dalam pengamatan Rama melihat orang berjalan sendirian lalu mengangkat tinggi-tinggi sebuah benda yang ada di tangannya. Seorang wanita dengan pakaian panjangnya berjingkrak-jingkrak melewati buih ombak laut yang menepi. Rama teringat ucapan si Pemilik warung tentang papan peringatan itu. Kemudian secara refleks, Rama berlari untuk memberitahunya. Namun sayang wanita itu hanya sibuk menerawang sesuatu dari liontin kalung yang dibawanya dan tidak mendengarkan nasihat si Rama. Oleh karena itu, Rama menarik lengan panjang baju si wanita yang menyebabkan dia sangat terkejut dan liontin itu jatuh bersama dengan datangnya pecahan ombak.
“Hah? Kemana? Mana liontinnya?” Resah wanita itu yang tidak menemukan benda berharganya di antara campuran pasir dan air laut di pantai.
Rama juga menjadi terkejut karenanya. “Sini biar saya bantu mencari!” Kata si Rama lalu ikut mengais di sekitarnya.
Rama dengan cermat mencarinya, sampai ia tidak sadar wanita itu memperhatikannya dari dekat.
“Ini benar-benar kamu? Ya.. ternyata dunia memang sempit hingga aku harus bertemu denganmu lagi!” Kata Safya lalu berdiri dengan tegak.
“Apa?” Tanya Rama langsung menengadahkan wajah. Ia baru tahu kalau wanita yang sedang dibantunya ternyata Safya. Seketika Rama merasa sungkan, tetapi ia tetap berusaha menemukan benda tersebut.
“Huh! Tapi apa ini? Kamu baru saja membuat aku kehilangan satu-satunya barang peninggalan ibuku. Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus menemukannya saat ini juga!” Keluh dan tuntutan si Safya.
Merasa tersinggung, Rama berdiri dan menjelaskan semuanya. “Maaf sebelumnya! Sepertinya ada beberapa poin penting yang harus saya beritahu. Pertama, bukan saya yang menjatuhkan liontin itu ke dalam air. Dua, saya hanya ingin memberi tahu bahwa ada tanda peringatan di sana yang harus dipatuhi. Tiga, saya bahkan tidak tahu kalau Anda yang bermain-main di sini. Dunia memang sempit, tapi saya juga tidak pernah berpikir untuk bertemu Anda lagi!” Ucap Rama menggebu-gebu.
Safya kehabisan kata-kata. “Tapi kalau kamu tidak mengagetkan saya, pasti liontin itu tidak akan terjatuh bukan?” Tanyanya tetap memprotes.
“Lalu untuk apa kamu tadi berbuat seperti itu? Melihat liontin seperti menerawang uang kertas!” Balas Rama.
“Itulah keindahan yang tersimpan. Hanya dengan cara seperti itu bisa melihat rahasia di dalamnya. Apa kamu masih tidak mengerti? Terserahlah mau percaya atau tidak! Yang terpenting adalah kita harus menemukannya hari ini, karena saya mau pulang karena teman saya sudah menunggu.” Kata Safya.
Keduanya berupaya mencarinya lagi, namun tetap saja tidak ditemukan. Suasana sudah mulai gelap, terdengar sayup-sayup azan maghrib dari kejauhan. Safya tidak bisa membuat temannya menunggu lagi. Ia lalu menyerahkan tanggung jawab itu kepada Rama dan mengembalikan liontin itu kepada Safya jika sudah menemukannya. Safya meminta Rama untuk meletakkannya di sela-sela ventilasi di atas jendela dan menunjukkan tempat dimana ia bekerja. Bangunan itu terlihat dari mata Rama searah dengan jari telunjuknya yang memberitahu. Safya akhirnya pergi suasana senja yang kelabu.
Rama ingin mengeluh, tetapi sebagai laki-laki ia yang harus bertanggung jawab. “Apa aku beri ganti rugi saja ya?” Pikirnya. Tapi tentu saja tidak bisa hari ini juga karena Rama tidak membawa uangnya.
Selama beberapa menit Rama memikirkan solusi tersebut, satu kilau cahaya kecil mengintip dari bawah gumpalan pasir yang ditinggalkan oleh air laut yang mulai surut. Rama mencoba mendekatinya.
“Ini dia yang aku cari-cari! Akhirnya dapat juga!” Ucap si Rama merasa beruntung.
“Hei!” Rama memanggil Safya namun orangnya sudah tidak ada lagi di sana.
“Hei Ram! Kamu dari tadi belum pulang?” Panggil mas Eka yang baru selesai dengan urusannya. “Mari pulang!” Ajaknya.
“Tapi..” Ucap Rama yang tidak bisa membuat alasan.
“Sudah, cepat! Ambil sepeda motornya dulu di tempat parkir!” Perintah sang Kakak.
Rama hanya bisa memenuhi keiinginan kakaknya. “Iya!” Teriak Rama lalu menyusul jalannya mas Eka. Dua bersaudara pulang bersama dengan berboncengan. Akan tetapi belum sempat keluar kawasan pantai, Rama melihat Safya dengan seorang pria yang tak diketahuinya. Namun sepertinya pria itu juga sebaya dengan Rama. Mereka terlihat serius membicarakan sesuatu. Perhatian Safya teralihkan saat melihat Rama berlalu begitu saja mendahuluinya. “Bagaimana?” isyarat yang terbaca dari gerakan mulut si Safya sambil memelototkan mata dan menengadahkan kedua telapak tangannya. Rama hanya terlihat menyesal dan mengatupkan tangannya sebagai tanda maaf.