Keesokan pagi, Safya berangkat lebih awal dari biasanya. Akan tetapi bukan untuk datang ke tempat kerja, melainkan pergi pantai itu bersama Reni. Reni sangat senang karena akan menghabiskan akhir pekannya dengan bersenang-senang. Meski ia bekerja di dekat kawasan pantai, Reni sangat jarang menghibur diri di tepi pantai. Sedangkan bagi Safya, pada kesempatan ini ia berharap bisa bertemu dengan Rama yang datang untuk mengembalikan liontinnya. Meskipun Safya sudah tahu, tidak seharusnya ia menaruh harapan kepada Rama.
“Kita hanya akan duduk-duduk di atas pasir ini seharian? Kamu tidak mau bermain-main dengan air, Ya?” Tanya Reni.
“Seseorang memperingatkanku untuk tidak masuk ke dalam air. Kamu baca sendiri papan peringatan di sana! Nikmati saja pemandangan pantai di pagi hari!” Jawab Safya.
“Apa masalahnya? Kita ini berlibur di pantai bukannya di gurun pasir! Pokoknya pergelangan kakiku harus menyentuh air!” Tegas si Reni lalu berlari kecil ke arah pantai.
“Ren!” Panggil Safya dengan rasa khawatir.
“Tenang saja, aku tidak akan berenang ke laut!” Jawab Reni dengan berteriak.
Safya tidak bisa menghalangi kesenangan temannya itu. Sudah hampir dua puluh menit mereka di tempat itu, Safya tidak melihat tanda-tanda kedatangan Rama. Mungkin saja karena Safya dan Rama tidak pernah berjanji untuk bertemu pada hari ini. Kemudian Safya memutuskan untuk melihat kondisi di tempat kerja yang sedang tutup pada hari Minggu. Masih ada kemungkinan jika Rama sudah mengembalikannya di tempat yang Safya sarankan. Tapi tiba-tiba saja Rama muncul di depan Safya yang hendak berjalan pergi.
“Bisakah kita berbicara di tempat lain?” Pinta Rama tahu bahwa Safya tidak datang sendiri.
Mereka berdua berjalan ke sebuah Gazebo. Setelah duduk beberapa saat, Rama mengeluarkan liontin milik Safya dari dalam dompet. Rama menjelaskan, “Kemarin sore saya menemukannya sesaat setelah kamu pergi. Saat ingin memberikannya tetapi kamu sudah tidak kelihatan dan kakak saya juga kebetulan mengajak pulang. Jadi saya tidak sempat untuk mengembalikannya pada waktu itu.”
“Tidak apa-apa! Yang terpenting sekarang barangnya sudah kembali.” Kata si Safya sembari memasukkan liontin itu ke dalam sebuah kantong kain.
“Kamu pergi dengan temanmu itu?” Tanya Rama dengan mengarahkan pandangannya pada Reni yang tengah asik bermain air seperti anak kecil.
Tiba-tiba saja pertanyaan sepele itu mengubah sikap tenang yang sebelumnya ditunjukkan oleh Safya. “Benar! Tapi saya rasa bukan hal penting kamu tahu mau dengan siapa saya pergi.” Ketusnya.
Jawaban dengan kalimat seperti itu, sedikit mengingatkan Rama akan kejadian pada petang kemarin. “Ooh…ucapanmu memang benar. Tidak sepatutnya untuk tahu kemana dan dengan siapa orang lain itu pergi. Tapi tidak seharusnya juga seorang wanita berduaan di tepi jalan dengan seorang pria yang bukan pasangannya, apalagi hari sudah gelap!” Balas Rama.
“Apa maksudmu? Bagaimana kamu bisa tahu kalau mereka bukan pasangan?” Tanya Safya dengan sangat jelas.
“Jadi pria kemarin yang bersamamu itu adalah kekasihmu?” Ucap Rama agak ragu.
“Apa yang sebenarnya kamu katakan? Kekasihku? Hah! Sejak kapan kamu mencampuri urusan saya?” Ujar Safya dengan suara lantang.
Rama merasa binggung dan berupaya menjelaskan. “Untuk apa kamu sampai marah begitu? Saya hanya tidak sengaja melihat Anda berdua waktu berpapasan kemarin malam.”
Safya baru paham dengan apa yang Rama maksud, tapi ia tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Mengapa sekarang Safya mudah kesal jika berurusan dengan Rama?. Safya tahu hubungan mereka memang tidak akrab sejak dulu tetapi bukan berarti ia membenci Rama. Demi menghindari emosi yang lebih jauh, Safya beralasan untuk segera meninggalkan tempat itu.
“Karena urusan kita sudah selesai, saya kembali ke sana terlebih dahulu. Takutnya dia nanti bingung mencari tahu kemana saya pergi. Terima kasih karena sudah menemukan liontin saya!” Pamit Safya yang telah berusaha meredam emosinya.
Beberapa langkah Safya meninggalkan Rama di Gazebo tersebut, dengan tergagap Rama memanggilnya. “Tu, tunggu! Apa sebenarnya yang ada di dalam batu liontin kalung itu? Saya yakin ada sesuatu yang tersembunyi.”
Safya lalu berhenti dan hanya membalikkan badannya seperempat putaran. “Itulah yang ingin saya lihat saat kemarin senja.” Jawabnya dengan tenang.
“Memangnya apa?” Tanya Rama penasaran.
“Jika kamu ingin tahu maka kamu harus melihatnya sendiri!” Saran Safya kepada Rama. Kini perasaan Safya berubah menjadi bahagia. Kemudian ia segera pergi dan berlari meninggalkan Rama sendiri.
Rama masih terus berpikir dengan rahasia tersembunyi di dalam liontin yang berwujud batu bening milik Safya. Ia sampai lupa waktu bahwa sudah lebih dari dua jam bersantai-santai di dalam bangunan terbuka pinggir pantai. “Apa yang sedang aku lakukan? Seharusnya aku pulang sejak tadi!” Ucapan Rama setelah kembali ke alam sadar. Rama lalu berjalan menuju ke tempat dimana ia menitipkan sepeda motornya. Di sana Rama kembali melihat Safya menemui pria itu. Tapi kali ini pembicaraan keduanya hanya sebentar. Setelah Safya menyerahkan kantong kain yang dibawanya, laki-laki tersebut langsung pergi meninggalkan Safya dan Reni yang sudah menunggu sambil duduk di atas motor.
“Siapa sebenarnya laki-laki itu? Kenapa dia menyerahkan barang miliknya? Oh! Bukankah tadi dia juga menyimpan batu liontin ke dalam kantong itu?” Pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Rama.
Setelah pria asing menghilang, Rama memergoki Safya sebelum Reni sempat menarik tuas gas motornya.
“Apa ini bayaran atas kerja keras saya? Kamu mengatakan bahwa benda itu sangat berharga, tetapi dengan mudah saja memberikannya pada orang lain?” Tukas si Rama sambil melihat kepada Safya.
“Apa yang dia maksud, Ya? Tiba-tiba muncul langsung berkata macam-macam!” Bisik Reni.
“Dia bukan orang lain.” Jawab si Sayfa.
“Lalu dia itu benar-benar pacarmu? Dia juga yang bersamamu waktu itu bukan?” Telisik Rama.
“Kenapa kalian seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar? Safya, kamu kenal orang ini?” Ucap Reni.
Safya mulai merasa kesal dengan situasi tersebut. “Anak itu adalah sepupuku! Lagi pula usianya baru enam belas tahun. Jadi jelas mana mungkin saya berpacaran dengan dia!” Tegas si Safya.
“Sepupu? Enam belas tahun, bagaimana bisa? Saya pikir dia satu tahun lebih tua dari saya!” Ujar Rama karena terkejut.
“Dia memang anaknya bongsor. Tapi kalau menurut penilaianmu seperti itu, tandanya Anda yang terlalu percaya diri!” Sindir Safya atas pendapat Rama.
“Lalu kenapa kamu menyerahkan liontin itu? Bukankah itu milikmu?” Tanya Rama yang masih keheranan.
“Hei, Bung! Anda ini siapanya Safya? Kenapa terlalu ingin tahu dengan urusannya? Benarkan, Ya?” Gertak si Reni terhadap Rama yang dari tadi sibuk bertanya.
“Tapi kamu tidak tahu padahal saya hampir putus asa untuk mencarinya kemarin. Kalau bukan karena bias warna merah itu mungkin saya tidak akan pernah mendapatkannya kembali.” Ujar si Rama.
“Kenapa kamu sangat tertarik dengan liontin itu? Heuh! Kalau kamu ingin, maka belilah! Saya akan menjualnya. Tapi sayang benda itu sudah dibawa pergi oleh sepupuku tadi untuk dijual ke toko perhiasan!” Safya berkata dengan terus terang.
“Apa, dijual? Jadi kamu kemarin bilang benda itu sangat berharga karena sekarang mau dijual! Bukan karena peninggalan ibumu?” Terka Rama.
“Bukan begitu juga! Kami terpaksa menjualnya untuk tambahan biaya pengobatan ayah. Jadi ya…seperti itulah!” Jawab Safya.
Sekarang Reni yang nampak heran mengapa Safya menceritakan urusan keluarganya kepada lelaki tersebut. Reni belum pernah mengenal Rama tapi ia melihat bahwa Safya sudah terlihat tidak canggung lagi. Bahkan Safya menyampaikan kabar yang Reni sendiri tidak diberitahu meski mereka bertempat kos yang sama. Reni merasa menjadi orang asing diantara Safya dan Rama.
“Bisakah kita pulang sekarang?” Ajak Reni kepada Safya.
“Iya, ayo!” Jawaban Safya.
Tanpa salam perpisahan, Reni dan Safya pergi mendahului Rama. Di tengah jalan yang sangat sepi , sepeda motor Reni melaju dengan lambat. Tanpa diduga muncul sebuah motor lain yang menghadang jalan mereka. Terpaksa Reni harus menginjak rem. Seseorang turun dari boncengan dan berjalan mendatangi Reni yang bersama Safya.
“Seharusnya tadi kamu jangan berhenti, Reni! Saya punya firasat buruk!” Bisik Safya di belakang Reni.
“Sudah, kamu berdoa saja supaya kita selamat!” Balas si Reni.
Seorang pria dengan topeng yang menutupi wajah, mengancam Reni untuk cepat menyerahkan kendaraan yang dinaikinya. Penjahat itu memaksa Reni dan Safya untuk turun dari motor. Namun Reni dan Safya tidak bergeming. Keduanya masih berpikir bagaimana caranya agar bisa meloloskan diri. Namun salah satu penjahat dari tadi hanya menunggu di atas motornya juga datang dan mengambil alih kendaraan itu dari pemiliknya. Para penjahat berhasil menguasai sepeda motor Reni, tapi saat akan dibawa kabur mesinnya tidak bisa menyala dan benar-benar macet.
“Tinggalkan mereka!” Teriak Rama dari arah belakang sambil membunyikan klakson motor berulang kali.
Karena kesulitan membawa kabur barang rampasannya, penjahat itu membanting jatuh sepeda motor Reni lalu segera meninggalkan tempat kejadian perkara. Kedua penjahat telah kabur tanpa mendapatkan hasil dari aksi kejahatan yang dilakukan. Reni mengutuk perbuatan penjahat yang sudah pergi menjauh dari pandangan sambil membangkitkan posisi motornya. Untungnya tidak ada kerusakan yang serius, hanya beberapa goresan yang terlihat pada bodi motor.
“Kalian tidak kenapa-kenapa?” Tanya Rama khawatir terhadap dua orang perempuan itu.
“Kami baik-baik saja.” Jawab Reni.
“Apakah motornya ada yang rusak?” Kata Rama.
“Tidak kok. Semuanya baik-baik saja!” Tegas si Reni.
Safya ragu. “Tapi tadi bukankah mesinnya macet, sehingga tidak berhasil dibawa kabur oleh penjahat tadi!”
Reni menjelaskan. “Sebenarnya bensinnya habis. Aku baru mau mengisinya ke kios bahan bakar di depan sana!” Sambil menunjuk tempat penjual bensin eceran tersebut.
Kemudian Reni, Safya dan Rama pergi bersama menuju tempat pengisian bahan bakar sepeda motor. Reni menghadap si penjual bensin untuk meminta diiisi penuh tangki bensin motornya yang sudah kering. Sementara itu Safya menunggu di sisi jalan yang berbeda bersama Rama. Pada saat itu, Rama yang memulai pembicaraan dan meminta maaf kepada Safya atas pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan sebelumnya. Rama tidak bermaksud untuk mengulik tentang urusan pribadi Safya. Dia hanya penasaran dengan batu liontin yang menyimpan rahasia keindahannya. Tapi sampai sekarang Rama tidak tahu seperti apa wujud keindahan yang ada di dalamnya.
“Itu hanya nama.” Jawab si Safya.
“Apa?” Tanya Rama ingin diperjelaskan arti ucapan Safya.
“Ayah saya bercerita kalau di dalam batu liontin kalung ibu saya itu terukir nama saya. Dan hanya terlihat jika terpantul cahaya matahari! Tapi karena kemarin mendung jadi saya mencoba menerawangnya di udara. ” Jelas Safya.
“Terus kenapa harus di pantai? Kamu kan bisa menerawangnya dari tempat kerjamu. Bahkan kedudukan tanahnya lebih tinggi!” Protes si Rama.
“Lah? Suka hati saya dong! Mau saya lihat di manapun terserah!” Jawab Safya dengan santai.
“Bodoh sekali.” Rama mencela dirinya sendiri.
“Apa baru saja kamu mengakui kebodohanmu? Bagaimana kamu bekerja selama ini? Hahahahaha!” Tawa Safya tidak bisa dicegah.
Safya terus tertawa hingga tidak memperhatikan kondisi tempat di sekitarnya. Hampir saja ia terpeset ke bawah tanah curam di belakang tempat ia berdiri. Beruntung Rama dengan sigap menarik tangan Safya. Dengan raut muka yang serius, Rama mengingatkan Safya untuk berhati-hati. Namun entah kenapa kalimatnya terdengar lembut di telinga Safya. Inilah nada suara yang Safya dengar jika Rama berbicara kepada Shinta. Cara Rama bicara kepada orang yang dicintainya.
Lalu seketika suara klakson dari motor Reni membuyarkan lamunan sesaat. Rama dan Safya melepaskan perpegangan tangan diantara keduanya. Kembali mereka harus berpisah. Namun perpisahan kali ini menunjukkan cara yang berbeda. Tidak ada rasa benci, tapi rasa rindu untuk bisa bertemu kembali.