Akhir-akhir ini pikiran Rama menjadi terganggu. Ia tidak mudah berkonsentrasi pada pekerjaan. Hatinya merasa gelisah tanpa sebab yang jelas. Proyek pembangunan sudah dimulai. Rama kembali harus datang untuk melakukan pengawasan di lapangan. Lokasi proyek yang berdekatan dengan kawasan industri gerabah itu selalu mengingatkan Rama pada pertemuan dengan Safya setelah sekian lama. Rama tidak membenci Safya, namun ada rasa kesal yang sering muncul dan memisahkan keduanya. Rama masih menganggap Safya sebagai gadis yang suka berbuat onar. Tapi Rama merasa sudah banyak berubah jadi ia berpikir mungkin sosok Safya yang sekarang adalah seorang wanita yang juga sudah dewasa. Tidak seharusnya mereka bersikap sama seperti dahulu saat masih berusia belasan tahun. Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri apabila kedekatan Rama dengan Safya hanya akan mengingatkan pada kenangan bersama Shinta.
“Ada apa mas Rama? Nampaknya sedang ada masalah!” Tanya pak Santoso, kenalan lama yang tinggal di sekitar tempat proyek itu membuyarkan lamunan si Rama.
“Eh, pak Santoso! Sudah cukup lama kita tidak bertemu ya?” Jawab Rama segera menjabat tangan pria berusia enam puluh tahun itu.
“Iya, lumayan lama juga. Terakhir kali waktu mas Rama sering bertandang ke tempat pembuatan gerabah di sana!” Tunjuk pak Santoso.
Rama dan pak Santoso saling menikmati perbincangan antar keduanya. Sedikit banyak membicarakan tentang kehidupan keluarga dan pekerjaan masing-masing. Selisih usia yang jauh tidak membuat hubungan kekerabatan mereka menjadi kaku. Pak Santoso selalu bersikap hangat terhadap Rama yang lebih muda, begitu juga Rama yang selalu bersikap terbuka terhadap teman main ayahnya saat remaja tersebut. Setiap kali bertemu pasti ada satu perbincangan mengenang masa muda pak Santoso dengan ayah Rama. Meski hampir tidak pernah bertemu semenjak kematian sang Ayah saat masih kecil, Rama sangat merasa akrab dengan pak Santoso yang sudah dianggap seperti saudara sendiri. Rama yang juga pandai bercakap-cakap mampu mengimbangi materi perbincangan yang adakalanya terkesan kolot.
“Sering-seringlah main ke rumah, mas Rama! Kalau kerjanya hanya di daerah sini pasti bisalah menyempatkan diri untuk mampir sebentar! Saya sangat senang bisa banyak bercerita denganmu. Ya mau bagaimana lagi, di rumah hanya ada istri dan tinggal satu anak perempuan yang sudah dewasa. Sudah sibuk dengan urusan dia sendiri.” Keluh kesahnya kepada Rama.
“Senang rasanya kalau ada anak laki-laki di rumah.” Lanjut pak Santoso.
Rama mencoba menghibur. “Bersyukur masih bisa mengobrol dengan istri kan, Pak? Nanti pasti juga ada menantu laki-laki yang menemani. Katanya nanti maunya anak perempuan pak Santoso dengan suaminya tinggal di rumah yang ditinggali sekarang?”
“Iya, tapi jarang ada laki-laki yang mau tinggal bersama di rumah mertua kalau tidak karena terpaksa. Katanya gengsi, begitu! Tapi kalau menantu saya mas Rama mungkin saja bersedia ya? Hahahahaha!” Ujar pak Santoso dilanjutkan dengan gelak tawa.
Rama juga mengimbangi suara gelak tawa dari pak Santoso dengan jenaka. Kemudian, tiba-tiba terlontar pertanyaan serius untuknya apakah Rama sudah memiliki seorang istri saat ini. Pertanyaan yang membuat Rama ragu untuk menjawabnya. Jika mengatakan secara jujur bahwa dirinya belum pernah menikah ataupun mempunyai istri ada besar kemungkinan pak Santoso ingin menjodohkan Rama dengan putrinya. Namun jika terpaksa Rama berbohong perihal status lajangnya, ada kemungkinan besar juga ia diminta berkunjung ke rumah pak Santoso bersama dengan yang diakui sebagai istrinya.
“Saya..” Belum jelas apa yang akan menjadi jawaban Rama.
“Bicara apa saya ini! Kalau mas Rama pastinya sudah punya bukan? Ya… kalau belum, paling tidak calon istri atau tunanganlah! Betul bukan?” Tegas pak Santoso.
“Iya, iya. Seperti itulah pokoknya! Hehehe!” Jawab si Rama sambil terkekeh karena tidaklah dari kedua tebakan itu yang ia miliki untuk saat ini.
“Rasanya saya tidak pernah puas untuk membicarakan banyak hal dengan mas Rama. Tapi saya tahu kamu juga tidak punya banyak waktu kosong di lokasi proyek seperti ini. Maaf sudah mengambil jam bekerjanya, sebenarnya saya mau pergi beli obat di apotek tapi malah keasyikan ngobrol jadi kelupaan!” Alasan pak Santoso.
“Oh begitu rupanya. Saya juga minta maaf kalau begitu!” Kata Rama.
“Mari, saya duluan mas Rama!” Pamitnya.
Rama membiarkan bapak itu pergi dengan sepeda tua yang dinaikinya. Pak Santoso masih nampak begitu sehat ketika mengayuhnya. Sementara Rama kembali melaksanakan tugas sebagai seorang arsitek, Safya mendapat kabar bahwa ayahnya sudah dibawa ke rumah sakit dan sempat mengalami masa kritis. Safya diminta untuk segera pulang kampung ke Semarang. Selain itu ternyata berita tersebut juga sampai ke telinga paman Supar. Mantan teman sejawat dari ayah Safya tersebut langsung saja pergi ke rumah ibunya Rama hendak silaturahim sekaligus mengajak Rama untuk menengok pak Ali yang sedang sakit.
“Pak Ali ayahnya Safya, Paman?” Tanya Rama saat menemui paman Supar di ruang tamu.
“Iya, Ram! Kalau bisa hari Sabtu besok kita ke sana.” Saran sang Paman.
“Kebetulan hari Sabtu saya libur. Tapi apa paman Supar tahu di rumah sakit mana pak Ali sedang dirawat?” Tanya Rama lagi ingin tahu persisnya.
“Mudah saja! Besok kita langsung datang ke rumahnya dulu, kita minta diantarkan keluarganya yang ada di rumah.” Saran paman Supar.
Rama hanya menurut saja rencana sang Paman. Pada hari Sabtu pagi mereka pergi dengan berboncengan menggunakan sepeda motor milik Rama. Dari rumah si Rama langsung menghampiri ke rumah paman Supar untuk menjemputnya. Si paman nampak kerepotan dengan beberapa buah tangan untuk diberikan kepada keluarga pak Ali. Motor Rama serasa penuh dengan muatan di atasnya. Jarak perjalanan yang jauh membuat Rama sengaja memberhentikan kendaraannya sekadar untuk mengisi bahan bakar maupun mampir ke warung makan guna menghilangkan lapar dan dahaga juga mengistirahatkan badan sejenak. Beruntung tidak turun hujan sampai mereka tiba di kediaman dimana pak Ali tinggal. Paman Supar masih sangat ingat dengan arah jalan menuju ke rumah tersebut meski sudah lama tidak pernah mengunjunginya. Tapi kondisi rumah pak Ali sudah jauh berbeda dibandingkan dahulu, saat paman Supar pernah menginap di sana waktu sama-sama bekerja dengannya.
“Benar ini rumah pak Ali, Paman?” Tanya si Rama memastikan.
“Sepertinya benar Ram! Paklik masih ingat betul jalannya ke sini. Assalamu’alaikum?” Salam pamannya Rama kepada penghuni rumah.
“Wa’alaikumsalam! Siapa ya?” Suara seorang wanita dari dalam rumah.
“Saya Supar, teman dari pak Ali.” Jawab si Paman.
Seseorang lalu membukakan pintu depan rumah. Tidak hanya Rama, Safya juga menjadi sangat terkejut mendapati pertemuan pertama mereka di rumah orang tua. Hanya paman Supar yang tetap terlihat tenang dengan ekspresi wajah dan sikap wajar yang ditunjukkannya. Safya kemudian mempersilakan kedua tamu tak diundang tersebut masuk ke ruang tamu. Kakak ipar Safya kebetulan juga masih di rumah bersamanya mempersiapkan beberapa baju ganti untuk mertuanya yang sedang dirawat tersebut.
“Silakan diminum tehnya! Maaf hanya suguhan seadanya!” Ucap mbak Iin, kakak ipar si Safya yang membawakan nampan berisi dua gelas minuman dan setoples camilan.
“Tidak perlu repot-repot Mbak! Kami juga ingin singgah sebentar saja di sini. Ini, ada beberapa oleh-oleh dari Jogja untuk Anda sekeluarga!” Ujar paman Supar sambil menampakkan barang bawaannya di atas meja.
“Terima kasih banyak, malah jadi pak Supar yang harus repot-repot membawanya sampai ke sini! Kami tidak bisa membalas semua pemberian seperti ini.” Kata mbak Iin.
“Ini bukan apa-apa kok Mbak! Saya hanya berharap pak Ali segera sembuh dari sakitnya. Emm, kalau bisa kami minta tolong diantarkan ke rumah sakit untuk menengok beliau!” Pinta paman Supar.
“Oh, tentu pak Supar! Kami juga sudah siap-siap untuk berangkat ke sana.” Jawab kakak ipar dari Safya tersebut.
Rama menitipkan motornya di rumah pak Ali. Kemudian mereka berempat pergi dengan menaiki mobil Angkot untuk sampai ke rumah sakit. Sejak kedatangannya, Rama dan Safya tidak sekalipun berbicara. Keduanya merasa canggung di depan sanak saudara mereka. Di sepanjang perjalanan Rama berusaha mengalihkan perhatiannya begitu juga dengan Safya yang menjaga agar mata mereka tidak saling bertemu pandang. Namun ada saat lima detik dimana Rama melihat ada keresahan yang nampak dari air muka Safya. Rasanya cemas melihat jari-jari tangannya itu gemetaran di atas pangkuannya sendiri.
Akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Perjalanannya tidak memakan waktu lama. Rama beserta paman Supar segera menemui pak Ali di ruang rawat inap. Alih-alih mau banyak berbicara dengan pak Ali, Rama justru tidak terlalu lama berada di dalam ruangan bersama mereka. Ia lalu keluar dan duduk di kursi tunggu depan ruangan tersebut. Berseliweran orang-orang yang berjalan. Ada dokter, perawat, pasien maupun keluarga dan teman dari pasien yang datang untuk menjenguk. Bahkan tidak ketinggalan ada cleaning service yang masih mondar-mandir menuntaskan tugas-tugasnya. Diantara lalu lalang manusia di dalam gedung rumah sakit itu, Safya datang dengan membawa sekantong obat yang telah ditukar dengan resep dari dokter. Tanpa kata salam dan sapa kepada Rama, Safya langsung masuk ke dalam ruang inap ayahnya di rumah sakit itu. Namun cepat saja Safya kembali keluar dan duduk di samping Rama.
Tiba-tiba Safya berkata, “Terima kasih karena sudah datang menjenguk Ayah saya!”
“Hemm? Eh… tidak masalah, saya juga hanya mengantar paman Supar yang ingin sekali mengunjungi temannya.” Jawab si Rama.
Safya menganggukkan kepala menerima jawaban tersebut, namun gerak bola matanya ke segala arah. Jelas ada yang sedang mengganggu hati dan pikirannya.
“Dari tadi kamu nampak gelisah. Bukankah ayahmu besok sudah boleh dibawa pulang ke rumah? Kakakmu tadi yang mengatakannya kepada kami.” Penjelasan Rama kepada Safya.
“Benar juga yang kamu katakan. Tapi kenapa saya merasa sangat takut? Saya tidak bisa mengendalikan gejolak di dalam pikiran hingga rasanya jantung ini berdebar tidak karuan. Perasaan yang kini datang lagi seperti sebuah pertanda.” Keluh si Safya.
“Semuanya akan baik-baik saja. Ayahmu sudah berhasil melewati masa sulitnya melawan penyakit itu. Seharusnya kamu senang dia sudah dinyatakan sehat oleh dokter.” Nasihat sang Rama.
“Iya, tentu saja begitu!” Jawab Safya dengan tegas namun ia hatinya tetap merasa tidak tenang.
Jari-jari tangan Safya kembali terlihat gemetar. Kemudian Rama menggenggamnya dengan kedua tangan. Ia meyakinkan Safya untuk percaya bahwa tidak akan terjadi hal yang buruk pada ayahnya. “SAMBUTLAH DENGAN BERSIKAP LAPANG DAN TENANG KARENA BESOK IA AKAN PULANG KE RUMAH!” Begitulah pesan Rama untuk Safya. Safya menatap dalam-dalam mata Rama dan mencerna dengan baik apa yang disampaikannya.
Sementara itu, ayah Safya tengah berbicara kepada paman Supar. Pak Ali mengatakan bahwa ia sudah menitipkan semua pesan kepada anak tertuanya. Semua anak beserta menantu juga telah menjadi saksi atas segala keputusan pak Ali. Kemudian ia membisikkan beberapa kalimat kepada paman Supar.
“Sudah sore. Saya pamit pulang dulu. Semoga kamu semakin sehat setelah pulang ke rumah!” Ucap paman Suparjo.
“Tidak usah terburu-buru pulang. Menginaplah di rumah kami semalam saja! Sudah lama kan mas Supar tidak tidur di tempat kami? Nanti saya buatkan nasi goreng spesial, sudah teruji rasanya sama dengan buatan Almarhumah ibu saya dulu.” Kata pak Ali.
“Iya, saya jadi ingat rasanya memang sangat lezat. Sedikit berbeda dengan nasi goreng biasanya tapi lebih enak. Jadi ingin mencicipinya lagi! Tapi maaf, besok pagi-pagi sekali saya harus membuat bakpia! Mau bagaimana lagi sudah jatahnya tukang dagang, kapan-kapan saja saya main ke rumahmu ya, Li?” Alasan paman Supar.
“Besok kamu libur, Suparjo!” Ungkap Ali.
“Hah?” Ucap si Suparjo yang sempat terganggu pendengarannya karena tiba-tiba cucu pak Ali yang ikut datang membesuk, menangis karena terjatuh saat bermain-main di dalam ruangan tersebut.
Rama juga masuk kembali ke kamar pak Ali. Paman Supar lalu mengajak Rama berpamitan dengan pak Ali dan seluruh keluarganya yang berada di tempat itu termasuk Safya. Rama beserta sang Paman harus kembali lagi ke kediaman pak Ali untuk mengambil sepeda motornya. Mereka pulang bersama Mas Priyo, kakak kedua dari Safya. Saat Rama, paman Supar dan mas Priyo sampai di halaman depan rumah sakit, mbak Iin berlari mengejar mereka dan memanggil nama adik iparnya itu.
“Priyo!” Panggilnya dengan terengah-engah.
“Apa ada yang ketinggalan?” Tanya mas Priyo.
“Kembalilah ke dalam! Mari pak Supar, mas Rama!” Pinta mbak Iin.