Setelah kepulangannya dari menjenguk sahabat lama, paman Supar tidak banyak bicara. Saat Rama mengantarnya pulang sampai di rumah, pamannya itu berjalan dengan lesu bahkan sampai lupa memperkenankan Rama untuk mampir dulu. Karena merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut, Rama memutuskan untuk langsung pulang. Satu pekan kemudian paman Supar datang lagi ke rumah khusus bertemu dengan Rama. Ada yang ingin ia sampaikan secara langsung.
“Bagaimana kabarmu Rama? Kebetulan kamu ada di rumah!” Ucap si Paman.
“Baik, Paman! Tapi sepertinya pertanyaan itu lebih tepat ditujukan untuk paman Supar.” Jawab si Rama.
“Iya, maaf Ram! Saat itu paman tidak tahu bagaimana harus berbicara kepadamu.” Alasan dari pamannya.
Rama lalu menanggapi sikap adik kandung dari ibunya tersebut. “Saya tahu paman pasti merasa sangat kehilangan. Tapi sebaiknya…”
“Tapi sebenarnya bukan karena hal itu!” Tegas paman Supar yang menyela ucapan sang Keponakan.
Rama mulai mendengarkan dengan saksama apa yang akan dikatakan olehnya. Ia menunggu inti dari pembicaraan yang serius itu, namun paman Supar tampak sangat kesulitan untuk mengutarakan kalimat dari mulutnya sendiri.
“Menikahlah dengan putri dari pak Ali!” Celetuk si Paman.
“Apa?” Rama terkaget-kaget.
Paman Supar berkilah. “Bukan! Maksud paman cobalah kamu untuk mendekati Safya dulu. Eh, lebih baik kamu berkencan dengannya. Eh..tidak! Bukan, bukan seperti itu maksudnya! Ehmm, ya sudahlah! Paman dan ayahnya sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan Safya. Bagaimana?”
“Heh? Ah, begitu rupanya! Eh! Ehmmm, Ha? A..Apa yang baru saja paman katakan?” Kata Rama tergagap-gagap.
“Tenanglah, maaf tidak bertanya dulu padamu! Tapi keadaan saat itu sangat tidak tepat. Ini adalah permintaan terakhir dari pak Ali kepada paman secara langsung.” Jelas paman Supar mengharap pengertian dari Rama.
Rama tidak mampu berbuat apa-apa, lidahnya kelu. Paman Supar sudah tahu sejak awal jika Rama tidak akan menyukainya tapi ia terlanjur berjanji untuk memenuhi permintaan tersebut. Kini Rama juga menjadi bingung. Paman Supar bercerita bahwa pak Ali berpesan agar Rama bisa menggantikannya untuk menjaga Safya dengan baik. Rama bertanya-tanya mengapa harus dirinya padahal masih ada kakak-kakaknya yang bisa dipercaya. Paman Rama sendiri tidak tahu alasannya, mungkin sudah menjadi firasat dari orang tua. Akan tetapi bisakah Rama menerima hal ini begitu saja? Padahal Safya sendiri juga tidak tahu-menahu mengenai persoalan yang akan berdampak pada hubungan keduanya.
Hari-hari cerah memasuki musim kemarau. Raut wajah dari kesedihan tidak pernah tampak sejak meninggalnya sang Ayah, empat puluh hari yang lalu. Bahkan saat wafatnya di rumah sakit pada sore itu, Safya terlihat kuat dan sabar menghadapi kenyataan yang berbanding terbalik dengan ekspektasi keluarga dan sahabat dekat ayahnya. Pak Ali yang sudah dinyatakan sehat ternyata hanya menjadi pengobat hati dan kabar gembira sebelum ajal datang menjemputnya untuk kembali kepada sang Pencipta. Sama seperti keadaan istrinya yang telah berpulang lebih dulu. Umur seseorang memang tidak pernah ada satu manusiapun yang tahu. Sejak itu Safya tidak pernah balik lagi ke tempat kerja maupun kos yang menjadi tempat tinggal sebelumnya. Safya tinggal bersama kakak tertuanya sekeluarga yang diwasiatkan untuk merawat dan menempati rumah lama mereka. Di rumah itu Safya banyak sibuk membantu mengembangkan bisnis kerupuk Rambak sang Kakak. Meski tampil ceria dan bersemangat, Safya sekarang sudah banyak berubah. Ia memotong pendek rambutnya. Senyumnya tak pernah sirna tapi sekarang Safya menjadi lebih pendiam.
Pada Minggu siang, seseorang tiba-tiba datang. Tidak salah lagi, Rama berdiri di depan pintu lalu disambut oleh mas Ahmad, kakak pertama Safya. Mbak Iin juga keluar untuk menemui tamu itu dengan membawakan minuman dan makanan ringan sebagai teman.
“Seingat saya Mas ini yang datang bersama temannya bapak ke rumah sakit waktu itu ya?” Tanya mas Ahmad.
“Iya benar! Saya Rama, keponakan dari pak Supar.” Jawabnya.
“Oh iya, iya!” Sambut dari suami mbak Iin tersebut.
Kemudian Rama mengutarakan niat dan tujuannya berkunjung ke rumah mereka. Setelah cukup lama berbincang-bincang diantara dua orang laki-laki, Rama mengeluarkan satu kotak cincin tunangan dan diterima oleh anak tertua dari mendiang pak Ali itu. Safya ternyata tahu keberadaan Rama di rumah kakaknya saat ini. Ia pun mendengar dengan jelas maksud yang disampaikan oleh Rama. Rama juga berpesan kepada sang Kakak, agar Safya bisa memberikan jawaban dalam waktu tiga hari kedepan. Setelah berpamitan kepada mas Ahmad dan mbak Iin, Rama berjalan keluar menuju sepeda motornya. Tanpa basa-basi, Safya langsung keluar lalu mengambil kotak cincin yang ditinggalkan di atas meja ruang tamu. Safya berjalan cepat untuk menyusulnya.
“Berikan ini pada Shinta!” Pinta Safya sambil mengembalikan kotak beserta cincinnya kepada Rama.
“Kenapa?” Rama menjadi heran.
“Dia sekarang sudah menjanda. Suaminya telah meninggal dalam suatu kecelakaan dan sekarang mbak Shinta hanya hidup sendiri bersama anaknya.” Kata Safya.
“Bagaimana, kamu bisa tahu?” Tanya si Rama.
Safya sempat ragu untuk memberitahu Rama, “Shinta datang satu hari setelah pemakaman Bapak. Dia juga, menanyakan kabar tentangmu.”
Lalu Safya melanjutkan perkataannya. “Kamu tidak perlu merasa kasihan hingga harus menuruti keinginan dari bapak saya pada saat itu. Tidak ada kebahagiaan dalam rumah tangga jika tidak didasari oleh rasa cinta, bukan begitu?”
Rama berpikir tidak tepat waktunya untuk berdebat dengan Safya di depan anggota keluarganya sendiri. “Bisakah kita berbicara di tempat lain?” Saran dari Rama. Namun Safya memutuskan bahwa tidak ada yang perlu dipermasahkan lagi dan urusan diantara mereka sudah selesai sampai di sini. Safya pun meminta Rama untuk pulang. Ia langsung pergi masuk ke dalam rumah. Mas Ahmad yang menyaksikan keributan kecil itu meminta maaf kepada Rama. Hal itu sudah menjadi keputusan Safya, kakak-kakaknya tidak bisa berbuat apa-apa.
Sepulang dari perjalanan, Rama merenungkan kembali niatnya. Apakah ia sudah mengambil keputusan yang salah? Rama memang bermaksud untuk memenuhi keinginan pamannya sekaligus permintaan mendiang pak Ali. Karena usianya yang sudah matang, mudah saja Rama memutuskan untuk menikah dengan wanita manapun. Termasuk Safya yang menjadi pilihan dari paman Supar. Tapi ia bertanya tentang rasa cinta, jika dipikir-pikir Rama memang tidak memilikinya untuk saat ini. Ada kalanya Rama memang bersikap dingin, meski bukan berarti hatinya tertutup untuk bisa merasakan jatuh cinta lagi. Kini dua nama wanita itu menjadi pilihan baginya. Dua sosok bagian dari masa lalu, tapi satu orang yang Rama pilih juga akan menjadi bagian dari masa depan. Senang atau tidak, salah satunya hanya akan menjadi sebuah jalan cerita. Rama sudah memutuskan!