“Apa bahasamu selalu seperti ini? - Pantas saja dia dulu sangat menyukai hal-hal yang kamu tulis! - Semua terjadi bukan karena kesalahan karena memang beginilah sifatku. – Maafkan aku sudah banyak merepotkanmu! - Bolehkah kita memulainya dari awal lagi? - Terima kasih sudah memperlakukan saya dengan baik! - Sekarang saya hanya bisa meyakini bahwa inilah takdir kita berdua!”
Begitulah sedikit kalimat-kalimat balasan pertama dari Safya setelah berpuluh kali Rama mengirim surat setiap harinya. Entah bagaimana Rama menyempatkan untuk menulis diantara realita kesibukan kerja, harapan bahagia meski dalam kondisi badan yang lelah. Kesungguhan dari Rama menggoyahkan hatinya yang mengeras. Pada akhirnya, Safya juga memutuskan untuk menerima jalinan asmara dengan Rama. Sampai Rama menyelesaikan satu proyek besarnya, mereka hanya berhubungan jarak jauh. Mengulang ke masa lalunya, Rama merasa sangat senang hanya dengan mengutarakan isi hati melalui tulisan di dalam surat-suratnya. Sekarang Rama bukan lagi pengantar kabar untuk cinta rahasia tetapi sang Penulis surat untuk cinta yang benar-benar menjadi kekasihnya. Ia tidak ingin bersikap bodoh dengan menyembunyikan perasaan sebagai orang lain.
Rama dan Safya tidak pernah berpikir bagaimana hubungan diantara mereka bisa sampai pada titik ini. Mereka sudah saling merasa nyaman berkomunikasi secara tertulis. Akan tetapi suatu hari Rama dan Safya membuat janji untuk bertemu kembali di pantai itu. Tiba-tiba dua orang yang jatuh cinta merasa gugup. Jantungnya berdebar-debar dengan kedua pipi yang memerah. Mereka menjadi malu untuk melihat wajah satu sama lain. Safya merasa tidak percaya diri. Rambutnya masih pendek untuk bisa dikepang seperti awal masa bertemu dahulu. Safya membeli sebuah wig dengan gaya kepang di sebelah kanan dan kirinya. Ia juga memoleskan riasan pada wajah, kini Safya justru terlihat layaknya sebuah boneka anak-anak.
“Pantaskah ini untuk wanita berusia tiga puluh tahun?” Pikir Safya sambil memandang di depan kaca.
“Tentu saja!” Jawabnya untuk tetap menyemangati dirinya sendiri.
Safya sudah siap untuk pergi ke tempat yang dijanjikan. Sudah dua hari yang lalu Safya datang dan baru malam tadi menginap di tempat kos, satu kamar dengan Reni. Ia tidak sabar untuk menemui Rama meski rasanya pasti sangat canggung menghadapi kenyaaan ini. Tapi…
“Tapi apa kamu mau pergi seperti ini?” Tanya Reni yang terkejut dengan hasil makeup Safya.
“Kenapa? Memangnya ada masalah ya?” Safya sedikit merasa ragu.
Reni tidak enak hati untuk memberitahunya. “Tidak! Tidak ada masalah. Terlihat cocok untukmu.”
“Sungguh? Kalau begitu aku berangkat dulu. Sampai jumpa!” Ucap Safya.
“Anehnya…!” Batin Reni menjerit. Tapi ia juga tidak pandai dalam hal berdandan seperti itu.
Di tepi pantai mereka bertemu. Lama tidak saling berbicara secara langsung membuat lidah Safya terasa kaku. Seperti ada lem kuat yang merekatkan kedua bibirnya.
“Bagaimana ini? Kenapa Rama tidak mengatakan apapun padaku? Air…air! Aku butuh air! Ah! Aku tidak bernapas. Napasku terhenti. Kemana dia? Oksigen…aku butuh oksigen!” Rengek si Safya dalam hati.
“Huh…hah! hah! hah!” Suara satu tarikan napas lalu dihembuskannya. Safya malah jadi tersedak hingga menyebabkan batuk-batuk.
Di saat seperti itu Rama tertawa melihat Safya.
“Mengapa kamu berdandan seperti itu? Kamu lebih baik tampil biasa saja!” Kata si Rama.
Seketika batuknya berhenti dan angin laut berhembus kencang hingga menerbangkan rambut palsu yang dipakai oleh Safya saat itu. Tawa Rama pun semakin menjadi-jadi. Ia tidak tahan melihat kekonyolan ini. Safya merasa sangat malu dihadapan Rama.
Tiba-tiba tangan Rama menyentuh kepala Safya yang tertunduk.
“Tidak apa-apa! Aku tetap menyukainya. Terima kasih sudah membuatku tertawa hari ini!” Ucap Rama dengan lembut.
Safya tersenyum dengan lega. “Tapi maaf, tanganmu…!”
“Ada apa?” Tanya Rama.
“Sudah seminggu aku belum sempat keramas. Jadi rambutku sedikit bau dan berminyak!” Ujar si Safya dengan menyesal.
“Heh! Oh, ya, ya! Ternyata memang sudah bau!” Tutur Rama dengan hati-hati agar tidak menyakiti perasaan Safya, meski tercium wangi apek yang menempel di jari-jari tangannya.
“Hehehehehe! Mari kita jalan-jalan!” Ajak si Rama.
“Eh, iya!” Jawab Safya merasa malu atas penampilannya.
Rama dan Safya berjalan-jalan di sepanjang pesisir pantai itu. Mereka tidak canggung lagi untuk berbagi cerita satu sama lain. Kedua anak muda yang banyak bertingkah, kini sudah menjadi sepasang manusia yang dewasa. Mereka tidak lagi terlalu mudah untuk membesar-besarkan permasalahan yang sepele. Namun bagi Rama, Safya tetaplah sama seperti Safya yang dari dulu dikenalnya. Dari gaya rambutnya memang terlihat seperti orang yang berbeda, tapi sesungguhnya dia tidak akan pernah bisa berubah. Begitulah sifat dan perilaku Safya, hanya butuh waktu untuk Rama bisa mengerti dan menerima. Sekuat dan sejauh apa dia berlari, Rama tetap mengejarnya dengan berjalan. Hingga Safya merasa lelah dan meraih tangan Rama untuk bangkit dan berjalan bersama-sama.
Sebuah botol kaca itu terhanyut bersama isi surat di dalamnya. Mengikuti kemana arus air itu akan membawanya. Terus mengalir menuju ke muara. Derasnya aliran bisa saja membenturkan botol itu dan memecahkan bentuknya karena memang sudah retak dan terbuang. Tapi kenyataan melebihi harapan, ia tetap kuat untuk menjaga harta yang tersimpan. Selembar kertas putih yang digulung itu masih menyimpan rahasia dari pemiliknya. Bukan kalimat rayuan ataupun kutukan yang dituliskan oleh Rama pada waktu perpisahan dahulu. Dalam hati dan pikirannya memang ada rasa kecewa. Tapi mau bagaimana lagi jika ia tidak mampu berbuat apa-apa baik untuk dirinya sendiri dan untuk cintanya yang pertama.
Kini ombaknya semakin tinggi dan menghantam keras hingga pecahlah batu karang. Ngeri gulungan gelombang di tengah lautan tetap akan berakhir dengan air yang tenang ke tepian. Dan botol kaca itu pun berakhir di sana. Seseorang dengan tangan halus dan gemulai itu kini berdiri dengan bebas. Tersenyum dengan damai ke arah lautan lepas. Membiarkan anaknya bermain-main dengan air dan juga pasir. Tapi anak kecil itu tetap terjaga dan dalam pengawasan. Deru ombak seolah-olah telah memanggil wanita itu untuk datang dan menjadi pengantar kabar baik untuknya.
“Ibu…! Berat.” Ucap anaknya dengan menarik-narik baju sang Ibu.
Lalu diberikanlah sebuah botol bekas berwarna bening yang baru saja ditemukannya. Si Ibu membuka tutup botol dan mengeluarkan benda yang ada di dalamnya. Wanita itu kemudian membuka selembar kertas yang sengaja digulung tersebut. Kondisinya masih cukup baik meski sedikit basah oleh butiran air yang masuk. Tersingkaplah pesan terakhir dari seseorang.
“TERIMA KASIH! - dari Rama”
Begitulah kalimat yang terbaca olehnya. Kini wanita tersebut juga sudah merasa bahagia. Ia lalu tersenyum dan tertawa lepas dengan candaan sang Anak.
“SAMA-SAMA!” Ucapannya untuk yang terakhir kali.
(TAMAT)