Pekan demi pekan hingga empat kali berganti Minggu, Rama semakin mengakrabkan diri dengan Shinta anak sang Bupati. Sikap Nona Muda yang terlihat kaku namun berpikiran terbuka itu semakin menarik hati si Rama. Tumbuh rasa cinta dan kekaguman pada dirinya. Namun Rama tidak akan pernah bisa menyampaikan perasaan terdalamnya.
Dalam suatu kesempatan saat mengantarkan surat ke rumah dinas Bupati itu, tidak biasanya Rama ditawari untuk makan siang bersama. Ia diajak masuk ke ruang makan keluarga. Meskipun ruangan itu terlihat luas, hanya Rama dan Shinta yang duduk di sana. Satu meja besar dengan hidangan sate, gulai daging sapi, nasi secentong di atas piring masing-masing dengan irisan timun dan kubis juga sedikit taburan bawang merah goreng di atasnya. Aneka sajian rasa di lidah itu tidak sebanding dengan suasana hening di antara dua orang tersebut.
“Mbak Shinta punya aturan kalau sedang makan tidak boleh ada yang bicara!.” Pesan mbok Darsih sebelumnya saat menyajikan makanan. Rama hanya mengangguk dan patuh saja.
Denting lonceng jam klasik mengakhiri jamuan makan siang ini. Lalu Shinta memulai pembicaraan.
“ Terima kasih kamu sudah mau menggantikan pak Narendra untuk mengantarkan surat ke sini. Juga karena telah menyimpan rahasia ini terutama dari ayah saya. Mungkin hidangan ini tidak seberapa untuk membayar rasa lelah karena harus jauh-jauh mengayuh sepeda setiap akhir pekan di jam kerjamu.”
“Ah..tidak apa-apa. Itu sudah menjadi kewajiban kami sebagai pengantar pos surat.” Jawab Rama.
“Emmm. Rama besok sore kalau bisa, tolong kamu datang lagi ke sini. Saya ada surat yang harus dikirim ke Sumatera." Pinta Shinta.
“Apakah untuk mas Yusuf, Mbak?” Tanya Rama ingin tahu
“Iya. Saya harap surat dari saya ini akan mendapatkan kepastian hubungan kami ke depannya.” Jawaban Shinta.
Sementara itu simbok Darsih masuk ruangan membawakan minum.
“Ini minumnya mas Rama.” Ucap Simbok.
Rama membalas, “Iya Mbok. Terima Kasih.”
“Saya kira sudah saatnya Yusuf untuk membawa saya bertemu dengan keluarganya.” Shinta melanjutkan pembicaraan.
Meskipun seumuran tetapi Rama tidak menyangka bahwa Shinta akan berpikir sedewasa itu.
“Bagaimana menurutmu?. Bukankah begitu?” Tiba-tiba Shinta membuat pertanyaan yang membuat Rama menjadi salah tingkah.
“Iya..kalau itu keputusan terbaik ya terserah mbak Shintanya saja.” jawabnya.
“Kamu tidak apa-apa?” Shinta bertanya sambil melihat Rama.
“Sa..Saya tidak apa-apa Mbak. Saya kan bukan bukan pacarnya mbak Shinta. Jadi terserah kalau mau memilih pria lain.” Sahut Rama yang grogi dengan pertanyaan tersebut.
“Bukan begitu, maksud saya itu!” Tunjuk Shinta ke arah mulut Rama yang tidak sadar sedang menggerogoti tusuk sate yang hampir habis.
“Hah? Ehh!, maaf Mbak.” Kata si Rama.
Shinta lalu berkata, “Jadi kamu mendukung saya untuk segera menikah dengan Yusuf kan?”. Rama hanya tersenyum menyeringai dan mengangguk penuh keraguan. Namun ia bisa melihat pancaran mata yang berbinar penuh dengan harapan dari wanita yang disukainya itu.
“Kalau begitu, cepat diminum teh hangatnya!. Nanti dingin.” Nona Muda itu mempersilahkan. Karena bersikap serba salah, Rama langsung saja meminumnya.
“Aaaaarghh...hah..hah..,panas Mbak!” Ujar Rama menjulurkan lidahnya.
“Maaf mas Rama. Tadi Simbok membuat tehnya pakai air yang baru mendidih!” Kata mbok Darsih yang terlambat memberitahu. Rama menjadi malu disertai tawa kecil dari Shinta untuk pertama kali.
Pada keesokan sore, Rama datang memenuhi janjinya. Begitu sampai di kediaman keluarga Bupati itu, pak Subekti langsung menyambutnya dan mengatakan bahwa mbak Shinta sudah menunggu di dekat taman tempat biasanya beliau membaca buku dan surat-surat dari kekasihnya itu. Pak Subekti adalah nama pria paruh baya yang menerima paket barang yang diberikan kepada Shinta waktu itu.
“Silahkan masuk Mas!” sambut pak Subekti.
“Ya Pak.” Balas Rama. Karena sudah diberitahu lokasinya, Ia langsung saja berjalan melalui halaman samping rumah. Sebuah pohon Kiara Payung menandai taman di mana Shinta berada. Pohon Kiara Payung tergolong pohon tropis yang mana orang-orang luar negeri sering menyebutnya Japanese Fern Tree. Sore itu terlihat pula kuncup-kuncup bunga Wijayakusuma yang tumbuh menjadi penghias pagar rumah. Bunga jenis ini mekar sempurna pada tengah malam dan akan layu pada pagi harinya.
“Selamat sore, Mbak?” sapa Rama kepada Shinta yang baru selesai memasukkan lembar suratnya ke dalam amplop.
“Iya. Eh, syukurlah kamu sudah datang. Saya baru saja selesai menulis. Silahkan duduk dulu.” Katanya kepada Rama.
Rama pun duduk di bangku taman yang sedikit berjarak dengan posisi Nona Muda itu. Sambil menunggu, dilihatnya dengan cermat sebuah miniatur rumah adat di atas meja taman itu.
“Itu adalah miniatur rumah Limas khas Palembang. Yusuf yang memberikannya sebagai cinderamata.” Ujar Shinta menyadari keingintahuan Rama.
Begitu mendengar hal itu, Rama langsung saja meluruskan posisi duduknya semula.
“Ini suratnya, sekalian juga kirimkan paket ini ya!” Kata Shinta sambil berjalan mendekati Rama.
Rama pun menerima kedua benda yang disodorkan ke tangannya.
“Oh. Siap Mbak!” tegas Rama setelah berdiri dari posisi duduknya.
“Saya juga ada sesuatu untuk kamu, Rama. Sebentar ya..Saya ambilkan dulu.” Pintanya lalu berlalu memasuki pintu kamar di dekat taman itu.
Mendengar hal yang tak diduganya, mata Rama menjadi terbelalak. Lalu sepatu sebelah kanannya beradu gesek dengan rumput-rumput di taman. Tampak ia sedang berpikir. Tiba-tiba kepalanya tertunduk dan Rama menahan tawa sendiri sambil menutupi mulutnya. Entah kesenangan apa yang meracuni otaknya.
Shinta kemudian kembali dengan sebuah jam tangan vintage brand “Omega” dari Swiss.
“Ini untuk kamu. Terimalah!” Ucapnya.
Rama sangat terkesan. Namun dia juga merasa keberatan.
“Sepertinya ini terlalu mahal untuk saya.” Jawab Rama meski tidak tahu berapa harga asli jam tangan itu.
“Tidak apa-apa Rama. Sebenarnya itu barang lama pemberian orang untuk ayah saya. Tetapi beliau tidak pernah sama sekali memakainya dan hanya menjadi pajangan di rumah ini. Jadi menurut saya jam itu akan lebih berguna untukmu.” Kata Shinta
“Tapi nanti kalau pak Bupati menanyakannya? Tanya Rama khawatir.
“Tidak akan. Beliau mungkin sudah lupa karena tak pernah merawat barang pemberian orang. Anggap saja ini adalah hadiah terakhir dari saya!.” Jelas Shinta.
Mendadak Rama merasa sedih karena mungkin mereka tidak akan bertemu lagi jika Shinta benar-benar segera menikah. Terlebih harus dengan orang lain.
Obrolan yang tak seberapa itu, menghabiskan panorama langit senja dan menggulirkan langit malam yang berhiaskan cahaya bintang.
“Karena sudah selesai keperluannya, saya mohon pamit.” Ujar Rama.
“Oh iya. Sepertinya saya sudah banyak membuang waktumu ya?” Jawab Shinta dengan nada penyesalan.
“Tidak sama sekali. Saya justru senang bisa berbicara banyak hal dengan mbak Shinta seperti ini.” Respon Rama.
Ketika Rama hendak melangkah pergi, Shinta tiba-tiba berbicara, “ Kamu sudah pernah melihat bagaimana bunga Wijayakusuma mekar, Rama?”. Tangannya yang gemulai menunjuk kuncup-kuncup bunga di pagar itu.
“Belum, Mbak.” Jawaban Rama.
“Kalau kamu ingin tahu, Kamu tunggu saja di sini sampai tengah malam nanti!” Sinta memberi tahu.
“Walah!, nanti saya disangka maling?. Tengah malam menunggu bunga mekar di halaman rumah orang sendirian” Rama beralasan.
“Atau kamu malah ditemani hantu-hantu yang datang dari pohon Beringin besar di ujung jalan sana?” Kata Shinta bernada datar dengan ekspresi wajah yang kaku seolah menakut-nakuti Rama.
“Hahahahaha..!”. Tawa Rama dengan muka masam karena sempat merinding dibuatnya.
“Hihihihihi..!”. Sambung Shinta dengan tawanya. Rama pun tersentak dan segera membalikkan badan berjalan cepat menuju pintu keluar.
Rama menuntun sepeda onthelnya lalu terhenti di depan pagar dengan tanaman bunga Wijayakusuma tadi. Dipandanginya kuncup bunga yang mulai terbuka itu. Tanpa direncanakan, Rama duduk bersila beralaskan tanah dan kerikil. Ditunggunya warna putih gading yang merekah sempurna dari sang “Ratu Malam”. Malam pun semakin larut dan sunyi. Tiba-tiba tercium semerbak wangi khas dari bunga Wijayakusuma tersebut. Rama akhirnya menyaksikan sendiri rekahan kelopak bunga yang jarang disaksikan banyak orang. Akan tetapi bau wangi itu seketika mengingatkannya pada perkataan Shinta mengenai hantu-hantu dari pohon beringin di ujung jalan. Bulu kuduknya berdiri dan nyalinya menjadi ciut. Rama pun segera mengayuh cepat sepedanya dan meninggalkan keindahan bunga satu malam tersebut. Pemandangan itu mungkin akan terus berkesan dan diingat oleh Rama. Namun ia tidak tahu, bahwa bunga Wijayakusuma sejatinya benar-benar menjadi layu dan mati pada keesokan paginya.