Pagi itu dari sudut jendela kamarnya, terlihat oleh Rama dua orang yang berjalan memasuki halaman rumah. Tak lama setelah itu, terdengar suara seseorang mengetuk pintu, “tok! tok! tok!”.
“Assalamu’alaikum?” Salam seseorang dari balik pintu depan rumah. “Kulonuwun?”. Ia mengulang salam dengan logat jawanya yang kental karena belum ada jawaban dari tuan rumah.
“Wa’alaikumsalam!” Jawab Paman Rama yang baru selesai menelan makanan di mulutnya saat sarapan di ruang tamu. Paman Rama itu pun bersegera membukakan pintu dan keramaian pun terjadi.
“Ali? Ternyata kamu?. Ini anak yang pernah kau ceritakan itu?” Tanya paman Rama.
“Iya, Par?” Jawabnya kepada Suparjo, paman Rama.
“Oalah. Silakan masuk! Anggap saja rumah sendiri!” Ujar paman Supar. “Duduk-duduk!”.
“Terimakasih. Maaf pagi-pagi sudah mengganggu.” Kata Ali
“Oh, tidak apa-apa. Ini juga saya masih santai-santai. Sejak kapan tiba di Jogja?” Tanya Supar.
“Baru tadi subuh sampai di terminal. Karena melewati daerah sini jadi sekalian mampir.” Jawab Ali.
“Eh, tamu dari mana ini Pak?” Tanya istri paman Suparjo sambil menyuguhkan tiga gelas teh hangat ke atas meja tamu.
“Ini lho bu, Ali! Temanku yang dari Semarang itu.” Jawab paman Rama itu.
“Iya Bu. Saya ada keperluan di Jogja. Jadi ingat dengan mas Suparjo, langsung saja saya mampir ke sini.” Jelas pak Ali.
“Memangnya ada keperluan apa kalau boleh tahu?” Bibi dari Rama itu kembali bertanya.
“Ini. Saya mau mengantarkan anak saya ke tempat Kakak perempuan saya. Kemarin kirim surat katanya mau dimintai tolong.” Cerita pak Ali.
“Oh..Begitu rupanya. Monggo! Silakan diminum!” Ucap Bibi Rama.
“Mari!” Ajak paman Supar kepada kedua tamu.
“Oh ya Bu. Tolong panggilkan Rama.” Pinta paman Supar kepada istrinya yang hendak kembali ke belakang.
Istri dari paman Supar itu pun menemukan Rama yang sedang bersiap-siap berangkat kerja di kamarnya. “Rama! Sana ke ruang tamu. Kamu dicari Paklik.” Beritahunya. Paklik adalah sebutan lain untuk paman dan Bulik adalah sebutan lain untuk bibi.
“Memang ada apa, Bulik?” Tanya Rama.
“Sudah. Kamu kesana saja.” Perintah Bulik.
Rama mengambil tas dan topinya lalu berjalan ke ruang tamu dengan pakaian kerja yang sudah rapi.
“Eh Rama! Sini sebentar!” Panggil paklik Supar yang melihat Rama datang.
” Ini kenalkan teman Paklik yang dari Semarang. Namanya pak Ali. Dan ini anaknya namanya…?” Ucapan paman Suparjo terpotong.
“Safya!” Jawab gadis 17 tahun yang baru mendapatkan kesempatan bicara itu sambil mengulurkan tangannya bersama dengan pamannya, Ali. Mereka bertiga saling berjabat tangan setelah diperkenalkan.
“Oh iya saya ingat! Paklik Supar pernah bercerita tentang pak Ali sewaktu masih bekerja di Semarang kemarin. Senang bisa bertemu dengan pak Ali, tapi maaf saya tidak bisa ikut berbincang banyak. Saya harus segera berangkat ke tempat kerja ini.” Izin Rama kepada tamu.
“Lho kamu tidak ngobrol dulu dengan Safya, Ram?” Tanya paman.
“Aduh! Hari ini ada inspeksi mendadak Paklik. Jadi harus siap-siap lebih awal.” Rama beralasan sambil cengar-cengir.
‘Tidak apa-apa Par. Mungkin lain waktu bisa ngobrol lagi.” Bela pak Ali.
“Iya. Permisi semuanya. Assalamu’alaikum!” Pamit Rama.
“Wa’alaikumsalam..!” Jawab ketiganya.
Hampir satu jam pak Ali beserta anaknya bertamu di rumah paman Rama. Kemudian mereka pun mohon pamit. Tak lupa paman Supar meminta untuk kapan-kapan berkunjung lagi. Ia pun berjanji kalau ada waktu akan main ke rumah pak Ali di Semarang bersama Rama. Kedua tamu itu kembali melanjutkan perjalanannya dengan membawa beberapa kotak berisi bakpia, oleh-oleh buatan sendiri paman Suparjo sekeluarga.
Mereka melanjutkan perjalanannya dengan menaiki angkutan umum. Di dalam bus Safya bertanya kepada ayahnya, “Pak, tadi itu anak yang pernah Bapak ceritakan waktu itu kan?”.
“Iya. Kenapa memangnya? Jangan bilang kalau kamu…” Sindir ayahnya sambil menyeringai dan menggerak-gerakkan kedua alisnya.
Safya lalu berceloteh, “Bukan apa-apa, Pak. Sepertinya anak itu berbeda jauh dari apa yang Bapak ceritakan dulu. Tadi saja dia tidak menghiraukan kita sebagai tamu. Safya kira…”.
“Kamu kira apa? Bapak pikir dia anak yang baik. Kebetulan saja kita datang di waktu yang tidak tepat. Pas Rama sudah siap untuk berangkat kerja. Lagi pula kita kesana kan untuk bertemu teman lama Bapak. Iya kan?” Ujar pak Ali secara halus.
Safya menjawab, “Iya sih, Pak. Tapi…” .
“Tapi apa lagi? Sudah. jangan membicarakan kejelekan orang! Kasihan dia itu anak yatim. Bapak lihat Rama itu anaknya pekerja keras, bagus kan?” Tanya ayahnya.
Safya hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil menggaruk ujung alisnya.
Akhirnya Safya dan ayahnya sampai di depan sebuah gapura. Mereka turun dari bus lalu berjalan kaki menyusuri jalan masuk itu hingga menemukan sebuah rumah yang dikelilingi pagar-pagar batu. Langkah mereka terhenti tepat di depan pintu pagar depan halaman. Belum sempat mengucapkan salam ataupun mengetuk pintu, seorang wanita paruh baya sudah berteriak dan bergegas menyambut keduanya. Dia adalah simbok Darsih.
“Ali! Walah..sudah sampai sini saja kalian! Ayo masuk!” Ajak mbok Darsih masuk ke rumah itu menuju ke ruang belakang. Safya dan ayahnya hanya mengikuti saja.
“Duduk sini! Maaf langsung tak bawa ke ruang belakang. Tidak enak kalau Saya terima kalian di ruang depan.” Kata mbok Darsih yang sibuk membereskan tempat istirahat untuk adik dan keponakannya itu.
“Bagaimana perjalanannya Li?” Tanya simbok Darsih.
“Alhamdulillah lancar Mbakyu. Selamat sampai tujuan. Tadi pagi kami juga sempat mampir ke rumah teman lamaku.” Jawab pak Ali. Mbakyu adalah panggilan lain untuk kakak perempuan dalam bahasa Jawa.
“Kamu bagaimana Safya? Tidak mabuk kendaraan kan?” Tanya Budenya, Darsih.
“Tidak Bude. Hanya sedikit pegal-pegal di badan saja.” Jawab keponakannya itu.
Simbok Darsih lalu berkata, “Kalian pasti lelah. Makan siang dulu! Tak siapkan ya? Safya nanti kalau mau tidur, di kamar Bude saja.”
“Iya Bude.” Jawab Safya. Mbok Darsih juga memanggil pak Subekti penjaga rumah itu untuk makan siang bersama pak Ali dan Safya.
Selesai makan siang, mereka bertiga melanjutkan perbincangan sementara pak Subekti kembali ke pos keamanan.
“Nanti malam kamu menginap dulu di sini kan, Li? Saya mintakan izin ke bu Ajeng, istrinya pak Bupati.” Ucap mbok Darsih memberi saran.
“Tidak Mbakyu. Habis ini saya mau langsung pulang ke Semarang. Besok ada tanggungan pekerjaan.” Ungkap pak Ali kepada kakak perempuannya itu.
“Oalah. Ya mau bagaimana lagi. Kalau begitu saya bungkuskan beberapa makanan untuk bekal di jalan. Sebentar!” Pintanya. Mbok Darsih pun segera mengemas makanan camilan yang telah disajikannya di atas meja.
“Saya titip Safya selama di sini ya Mbakyu? Kalau perlu apa-apa langsung saja kirim surat ke rumah.” Pesan pak Ali.
“Iya. Kamu tenang saja. Safya juga sudah saya anggap seperti anak sendiri. Ini ada sedikit uang untuk perjalanan pulang. Salam ya untuk istrimu di rumah!” Ujar mbok Darsih lalu memberikan bekal di tangannya.
“Baik Mbak. Oh ya Safya, Kamu di sini baik-baik. Jaga perilakumu. Jangan sampai merepotkan Bude Darsih!” Pesan pak Ali kepada anak perempuannya itu.
“Iya Pak. Akan saya ingat.” Jawab Safya.
“Ya sudah kalau begitu Saya pamit sekarang Mbakyu. Assalamu’alaikum!” Kata pak Ali yang kemudian dijawab oleh kedua orang yang tinggal di ruang belakang itu.
“Wa’alaikumsalam.”
Waktu sore pun telah tiba. Kediaman Bupati yang sepi mulai diramaikan suara para penghuni rumah. Pak Bupati sudah pulang bersama istri yang menyertainya untuk menghadiri suatu acara resmi pemerintah. Mbak Shinta juga sudah pulang dari tempat kursus bahasa asing.
“Safya?” Panggil mbok Darsih.
“Iya Bude. Ada apa?” Tanyanya.
“Sana kamu mandi dulu! Nanti kalau sudah siap, Bude mau kenalkan ke pak Bupati sekeluarga. Bude sekarang mau menyiapkan makan untuk beliau semua.” Kata Bude Darsih.
“Iya.” Jawab Safya singkat.
Saat keluarga Bupati itu berkumpul santai di ruang keluarga, simbok Darsih membawa Safya masuk untuk menemui mereka.
“Permisi Pak, Bu, mbak Shinta!”
“Ada apa Mbok? Tanya sang Kepala keluarga yang tengah membaca surat kabar edisi harian.
“Ini Pak. Saya mau memperkenalkan keponakan Saya yang mau bantu-bantu di sini.” Jawab Simbok.
Hal itu lalu menjadi perhatian ketiga anggota keluarga yang sibuk dengan aktivitas masing-masing di ruangan itu. Safya pun muncul menunjukkan wajahnya dengan senyum malu-malu.
“Namanya Safya. Safya..Beliau ini pak Bupati, bu Ajeng dan Nona Shinta.” Simbok Darsih memperkenalkan.
“Jadi anak ini yang mau membantu pekerjaanmu di sini?. Kelihatannya dia bahkan lebih muda dari Shinta.” Tanya Bupati itu.
“Iya Pak. Dia hanya akan membantu saya di sini sementara saja Pak. Dia anaknya juga cekatan jadi meski terlihat kekanakan tetapi bisa diandalkan. Begitu Pak, Bu.” Kata mbok Darsih menerangkan.
“Tidak apa-apa Mbok! Lagi pula tidak lama di rumah ini juga akan tambah sibuk kan? Jadi syukurlah kita dapat tambahan tenaga bantu sekarang. Iya kan Pak?” Bu Ajeng membalas tanya kepada suaminya itu.
“Iya ya? Ya sudah. Kamu mulai sekarang tinggal di sini. Bantu pekerjaan Budemu dengan sungguh-sungguh! Rumah Dinas ini akan segera ramai karena hajatan besar.” Ucap pak Bupati.
“Baik Pak. Terima kasih atas izinnya Pak, Bu, Mbak! Kalau begitu kami permisi pergi ke belakang.“ Kata mbok Darsih juga mewakili Safya.
Kemudian keluarga itu melanjutkan aktivitas awal. Shinta yang kembali merajut sebuah syal berwarna biru laut dengan motif gelombang, terus merasa terusik dengan ucapan ayah dan ibunya tadi. “Hajatan besar apa yang akan dilaksanakan di rumah ini?” Pikirnya.
Ia pun memberanikan diri untuk bertanya. “Bapak, Ibu! Memang di sini mau diadakan acara apa?” Tanyanya dengan sopan.
“Lho belum lama ini kan anaknya pak Gubernur meminang kamu untuk dijadikan istri!” Jawab Ibunya.
“Tapi kan itu baru omongan Bapak dengan pak Gubernur itu!” Protes Shinta.
“Ya itu sudah kesepakatannya. Kamu tinggal tunggu saja keluarga Gubernur itu datang ke sini melamar kamu secara resmi.” Jawab Bapaknya dengan lugas.
“Saya tidak mau! Dari awal Shinta tidak setuju dengan perjodohan ini.” Bantah Shinta dengan suara agak meninggi.
“Kamu mau melawan Bapak!” Balas Bupati itu sambil menggebrak meja dengan surat kabar yang ada di tangannya.
“Shinta tidak bisa, Pak. Shinta sudah..” Perkataannya terpotong.
“Sudah apa? Ini keputusan Bapak. Kamu tidak bisa menolaknya!” Tegas Bapaknya itu.
“Shinta tahu! Bapak memutuskan perjodohan ini hanya untuk mempertahankan jabatan ini bahkan kalau bisa Bapak yang akan menggantikan posisi Gubernur itu kan?” Terka Shinta terhadap diri sang Bupati. Ucapan dari anaknya itu membuat kemarahan pak Bupati memuncak.
“Sudah! Sudah!. Shinta sebaiknya kamu menuruti perintah Bapak. Itu yang terbaik untuk keluarga kita.” Kata Ibunya menengahi ketegangan itu.
Mata Shinta terbelalak, tidak mengira Ibunya sudah sepihak dengan keputusan itu. Shinta pun tidak habis pikir lalu pergi masuk ke kamarnya.
-
Mendengar kegaduhan itu, Safya merasa kasihan dengan nona Shinta.
“Hush! Sedang apa kamu di sini? Jangan suka menguping sembarangan!” Kata simbok Darsih kepada Safya yang mengintip dari balik pintu samping ruang keluarga itu.
“Bukannya menguping Bude. Tapi suaranya kedengaran sampai sini!” Jawab Safya banyak alasan.
“Tolong bawakan puding ini ke mbak Shinta. Biasanya beliau sebelum tidur suka membaca di teras dekat taman itu.” Pinta Budenya.
“Baik Budhe.” Jawab Safya.
Sesampainya di beranda samping rumah, Safya menaruh puding yang dibawanya ke atas meja seperti apa yang diperintahkan oleh simbok Darsih. Malam itu langit nampak gelap. Tidak terlihat cahaya bulan ataupun bintang yang berkelap-kelip.
“Hemm...Nampaknya suasana langit malam ini tak jauh beda dengan perasaan nona Shinta.” Ungkap Safya lirih lalu menghela napas.
Di bawah remang cahaya lampu minyak yang tergantung di dekat meja taman itu tampak samar bayangan sebuah miniatur rumah yang menarik perhatiannya. Safya pun ingin melihatnya dari dekat. Di saat ia terkesan dengan hasil seni kriya tersebut, tiba-tiba seseorang membuka pintu dari kamar di dekat taman itu. Namun Safya nampak sangat tertarik dengan benda itu sampai-sampai tidak sadar ada seseorang di belakangnya.
“Hihihihihi!” Tawa seorang wanita yang mengagetkan semua saraf di kulit kepalanya. Safya sampai tersentak, lalu refleks berlari kecil secara mundur dengan cepat. Matanya membelalak melihat seseorang yang juga tengah melihatnya. Safya seketika berpura-pura pingsan.
“Eh! Kamu kenapa? Saya tidak bermaksud mengagetkan.” Kata Shinta. Tanpa ditolong Safya langsung bangun sendiri dari tempatnya.
“Hehe. Maaf Nona Shinta. Saya tidak kenapa-kenapa kok.” Jawab Safya malu.
Shinta lalu menjelaskan, “Saya melihat kamu sangat antusias dengan miniatur rumah adat Palembang ini. Sikapmu sama seperti seseorang yang saya kenal. Namanya Rama. Dia yang suka mengantarkan surat pos ke sini.”
“Rama?” Tanya Safya dalam hati.
Ia teringat sesuatu lalu berkata, “Oh ya! Saya tadi disuruh bude Darsih membawakan puding kesukaan nona Shinta.”
Shinta pun langsung menjawab dengan senyuman, “Panggil saja saya Mbak Shinta tidak apa-apa. Usia kita juga tidak berbeda jauh kan?”
“Iya mbak Shinta. Kalau begitu saya kembali ke belakang dulu.” Ujar Safya.
“Tunggu Safya! Bisakah kamu menemani saya di sini sebentar?” Tanya Shinta.
Safya hanya mengangguk, mengiyakan. Shinta kemudian mengajak Safya duduk santai di bangku-bangku teras samping taman.
“Kamu pasti sudah mendengar semuanya!” Ucap Shinta dengan yakin.
“Hah? Tidak! Saya tidak mendengar apa-apa Mbak.” Jawab Safya lalu segera menutup kedua telinganya. Ia sadar apa yang dimaksudkan oleh mbak Shinta.
Shinta pun tersenyum kecut kemudian bercerita kepada Safya. “Saya sebenarnya sudah punya kekasih. Pemuda dari tanah seberang. Tepatnya dari pulau Sumatera.”
“Hah?” Safya langsung membuka telinga. Ia tidak menyangka akan mendengar kebenaran yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
“Iya. Tetapi selama ini kami hanya berkomunikasi melalui surat saja. Namanya Yusuf Mahmud Abdillah. Saya berkenalan dengannya hampir satu tahun yang lalu. Tidak sengaja kami bertemu saat saya ke candi Prambanan untuk mempraktikkan ketrampilan berbahasa asing kepada turis mancanegara. Tidak ada kesan istimewa di awal perbincangan kami. Saya hanya fokus membicarakan mengenai arsitektur dan sejarah candi yang terkenal dengan legenda kisah cinta seribu candi. Kami pun lalu terpisah bersama rombongan masing-masing. Saat sudah naik ke dalam bus untuk pulang, Saya baru tahu kalau buku catatan kami tertukar. Jadi saya berusaha turun kembali sebelum bus berangkat. Saya harap pemuda itu masih ada di sekitar kompleks candi. Belum penuh kaki saya melangkah keluar dari bus, Yusuf sudah berlari menuju ke arahku dengan melambaikan buku bersampul biru di tangannya. Saat itulah dia memanggil namaku. Kami lalu saling mengembalikan buku catatan yang tertukar. Yusuf lalu mengucapkan salam perpisahan dengan senyuman ramah hingga nampak gigi-gigi depannya. Saya hanya mengucapkan terima kasih lalu memandangi kepergiannya dari pintu bus. Sekadar kamu tahu, dialah yang pertama kali mengirimkan surat. Pada amplopnya ditujukan persis ke alamat yang kutulis di halaman depan buku milikku. Begitulah Saya dan Yusuf berbagi kabar satu sama lain hingga ada rasa ketertarikan yang menguat diantara kami. Kami pun menjadi sepasang kekasih. Pada awalnya hampir dua hari sekali Yusuf berkirim surat. Namun entah karena kesibukan atau apa, lama-kelamaan dia jarang melakukannya. Belum lama ini saya baru mengirimkan surat dan hadiah untuknya. Saya berharap kami bisa segera bertemu kembali.” Tutur Shinta.
Selesai menikmati uraian kisah cintanya, Shinta menolehkan wajah ke arah gadis di sampingnya.
“Safya? Kamu tidur ya?” Sambil menepuk pundak gadis tersebut.
Safya lalu terjaga dan berkilah, “Eh? Eh? Wah...mbak Shinta dan kekasihnya pasti benar-benar saling mencintai ya?”.
“Mungkin saja. Semoga saja dia cepat memberikan jawaban.” Kata Shinta.
“Tapi bagaimana dengan perjodohan…?” Safya langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.
“Entah bagaimana caranya, saya akan berusaha untuk mengulur waktu sampai Yusuf datang ke sini untuk meminang.” Jawaban tegas dari Shinta.
Safya dengan mata yang mengantuk, menatap sendu ke muka Shinta yang terlihat cemas.
Seminggu kemudian pak Narendra datang ke rumah dinas tersebut. Ia mengantarkan surat milik pak Bupati. Melihat pak Rendra ada di kediamannya, Shinta lalu menegur dan menanyakan apakah tidak ada kiriman surat untuknya. Namun pak Narendra hanya berpesan bahwa ia akan menanyakannya kepada Rama.
Ini sudah terlambat beberapa hari dari biasanya. Hal tersebut membuat hati Shinta menjadi gelisah. Safya yang melihat dari balik jendela dapur, pun bisa merasakan kegundahan hati seorang gadis yang mengharapkan kekasihnya tersebut.
Seusai makan siang, Safya dan mbok Darsih membereskan peralatan makan yang kotor. Safya juga diminta Budenya itu untuk mengambil piring makan, gelas minum dan sisa makanan dari meja makan milik mbak Shinta yang sedang libur kursus menari. Safya lalu kembali ke dapur dengan membawa satu buah nampan penuh, berisi apa saja yang baru saja diambilnya.
“Bude! Sepertinya mbak Shinta tidak menyentuh makanannya sedikitpun. Semuanya masih utuh, bahkan air minumnya pun tidak berkurang.” Ujar Safya memberitahu.
“Ya sudah. Mungkin mbak Shinta sedang tidak nafsu makan. Coba kamu periksa di taman beliau ada atau tidak. Tawarkan roti isi selai nanas ini ke mbak Shinta. Siapa tahu beliau mau.” Saran simbok Darsih kepada Safya.
Dengan segera Safya membawakan roti isi selai nanas yang diletakkan di atas piring kecil menuju taman. Sesampainya di sana, Ia melihat mbak Shinta yang sedang membaca buku di bawah kerindangan pohon Kiara Payung.
Safya lalu berkata dengan nada sedikit keras, “Ini saya bawakan roti, mbak Shinta!”.
“Iya..taruh saja di meja sana mbok!” Jawab Shinta dengan keras pula tanpa mengalihkan matanya sedikitpun dari kertas-kertas itu.
“Mbok?” Heran Safya yang disangka mbok Darsih oleh Shinta.
Shinta sangat menikmati kebiasaannya membaca buku. Apalagi waktu siang hari dengan diselingi sejuknya angin semilir di bawah pohon yang meneduhkan.
“Begitulah cinta. Deritanya tiada akhir. Layakkah aku memiliki cinta. Sementara cintaku dan cintanya harus terpisah oleh cinta yang dipaksakan karena kecintaan orang tuanya pada dunia??” Safya melisankan salah satu bait tulisan dari buku yang dibaca oleh Shinta.
“Hah? Sejak kapan kamu ada di sini?” Tanya Shinta kepada Safya yang tiba-tiba muncul dengan wajah tersenyum di samping kepalanya.
“Hehe. Habis mbak Shinta serius sekali tadi. Memangnya buku apa yang mbak Shinta baca?” Tanya Safya ingin tahu.
“Oh! Ini novel romance. Kamu ingin membacanya?” Jawab Shinta dengan menawari Safya.
“Haha! Tidak Mbak, terima kasih! Safya tidak suka membaca soalnya. Saya lebih senang minum es jeruk siang-siang begini. Ah, segarnya….!” Ucap Safya dengan ekspresi ceria.
Shinta hanya tertawa kecil mendengar gurauan si Safya. Suasana lalu hening sejenak hingga Safya berbicara dengan tenang dan bersungguh-sungguh terhadap ucapannya.
“Mbak Shinta tidak perlu khawatir. Jodoh dan maut itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Jika mbak Shinta memang berjodoh dengan mas Yusuf, pasti akan dipersatukan. Sudah selayaknya bagi kita untuk bersyukur. Namun jika memang tidak berjodoh pasti akan digantikan dengan yang lebih baik untuk keduanya. Dan sudah selayaknya pula bagi kita untuk bersabar.”
Mendengarkan hal tersebut, Shinta menoleh ke wajah Safya yang memandang jauh ke arah awan yang bergerak ditiup angin. Ia pun tersenyum kemudian ikut menyaksikan birunya langit di siang itu.
Petang harinya, Safya kembali kembali dari warung untuk membeli keperluan pribadi. Di tengah jalan menuju rumah dinas Bupati, Ia melihat seseorang yang tingkahnya mencurigakan di dekat pagar rumah. Karena suasana agak gelap, wajahnya tidak kelihatan.
“Woi!” Safya yang memergoki langsung mengambil ancang-ancang untuk berlari terus melepaskan satu tendangan tepat mendorong pinggang sosok tersebut. Tubuh orang itu terjatuh ke arah samping. Kemudian Safya beraksi dengan sebuah tongkat dari ranting pohon. Ia memainkan tongkat itu layaknya seorang Kungfu Master.
Mendengar keributan dari arah belakang kamar, Shinta keluar untuk memeriksa. Ia terus mendekati sumber suara dan didapatinya Safya sedang bertingkah untuk mengusir orang yang disangka seorang pencuri. Shinta lalu keluar halaman melalui pintu pagar belakang. Meski dengan pencahayaan yang minim, Shinta sekilas mengenali wajah dan topi yang dipakai orang yang terduduk itu.
“Rama?” Tebak Shinta.
Rama pun mengangkat topinya dan berkata, “Iya Mbak. Ini saya.”
“Sedang apa kamu malam-malam di sini?” Tanya Shinta sambil menolong Rama untuk berdiri.
Safya yang melihat perlakuan mbak Shinta menjadi kebingungan.
“Safya...Ini Rama! Orang yang suka mengantarkan surat milik saya itu. Kenapa mau kamu pukul?” Tanya Shinta.
“Ma..Maaf Mbak! Saya kira dia mau merampok rumah ini, jadi spontan saya melawan.” Jelas Safya.
Setelah menghela napas, “Kamu juga Rama! Kenapa tidak masuk lewat pintu depan? Kan ada pak Subekti yang berjaga!” Keluh Shinta.
“Maaf mbak Shinta! Tetapi saya ke sini bukan untuk mengantarkan surat. Saya hanya kebetulan lewat sini tapi tiba-tiba anak ini menendang saya sampai terjatuh.” Tutur Rama.
“Ya habisnya dia celingukan ke arah dalam halaman. Saya kan jadi curiga.” Jawab si Safya.
Kemudian Shinta mengalihkan pembicaraan. “Jadi, kamu belum mendapati surat kiriman dari Yusuf sejak hari itukah?” Tanyanya kepada Rama.
“Belum ada Mbak!” Jawab Rama singkat.
Shinta merasa kecewa. “Ada apa dengan Yusuf? Padahal Shinta sangat mengharapkan surat balasan darinya dalam waktu dekat.”
“Mungkin memang benar-benar sibuk Mbak! Jadi dia tidak sempat.” Kata Safya berusaha menenangkan Shinta yang nampak cemas.
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih kamu sudah memberitahu saya. Saya mau kembali ke dalam dahulu.” Ucap Shinta.
“Silakan Mbak! Saya juga mau langsung pulang.” Jawab si Rama.
Shinta kemudian berjalan kembali masuk lewat pintu belakang. Safya yang mengikuti langkah untuk menyusul Shinta. Dia memberikan tongkatnya ke tangan Rama. Safya pun pergi berjalan pelan-pelan dengan raut mukanya yang tidak merasa bersalah.
“Hoi!” Tegur Rama yang membuat Safya langsung berlari secepat kilat memasuki pintu pagar belakang tersebut dan menghilang dari pandangan.
Safya, seorang gadis yang satu tahun lebih muda dari Rama. Rambut panjangnya lebih sering dikepang. Pakaiannya memperlihatkan bahwa ia berasal dari keluarga biasa, sama seperti masyarakat desa secara umum pada masanya. Warna kulit kuning langsat, wajah bersih dengan lesung pipi di kedua pipinya. Sekarang dirinya telah memasuki kisah cinta semu si Rama. Lalu takdir apakah yang akan terjadi diantara mereka bertiga?