Hari ini Rama masuk kerja paling pagi karena kebagian jadwal piket. Ia membuka gembok pintu dengan kunci cadangan yang diberikan pak Bagyo sebelum Rama pulang kemarin. Tidak ada siapapun di dalam kantor mereka yang minimalis itu.
Rama lalu meletakkan tasnya di rak karyawan. Bergegas ia membersihkan debu di meja, kursi, bagian luar rak-rak yang berisi dokumen dan menyapu lantai seluruh ruangan. Rama harus sudah selesai sebelum para senior datang.
Selesai beres-beres ruangan, Rama istirahat sejenak. Ia berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada salah satu gawang pintu depan. Dengan masih memegangi sapu ijuk, Rama menonton keramaian jalan yang berada di area pasar tradisional pada pagi itu. Gerak matanya mengikuti laju kendaraan yang berseliweran. Seketika dirinya teringat ucapan Shinta beberapa hari yang lalu. Shinta begitu berharap surat balasan dari pemuda asal Palembang itu. Rama merasa kasihan, namun dalam hati ia juga memendam rasa pada Shinta yang telah ia kenal selama ini. Bahkan kalau bisa memilih, Rama justru berharap Shinta melepaskan hubungan asmaranya yang terpisahkan oleh jarak tersebut.
Apa yang bisa Rama perbuat agar Shinta dapat kembali tersenyum bahagia saat di hadapannya?. Rama pun terhanyut dalam angan-angan kosong.
“Sepatu!”
Rama masih melamun.
“Sepatu...Ini sepatu...!”
Rama masih belum beranjak dari pintu masuk itu.
“Rama! Ini lho sepatu saya kotor kena debu yang kamu sapu!” Bentak pak Harso, karyawan paling senior.
Rama sadar bahwa dirinya menyapukan debu lantai ke sepasang sepatu yang dikenakan pak Harso. “Waduh! Maaf Pak, silakan masuk!. Kata Rama lalu menyingkir dari pintu untuk membuka jalan.
Tidak lama kemudian masuklah pak Narendra diikuti pak Darjat, pak Bagyo, mas Paijo dan tiga karyawan baru lainnya. Tepat pukul 08.00 semuanya memulai bagian pekerjaannya masing-masing. Pak Darjat memberikan tumpukan surat yang sudah disortir kemarin siang, ke atas meja para pengantar surat. Yaitu pak Narendra, Rama, beserta ketiga pegawai baru.
Ketika sampai di mejanya Rama bertanya, “Pak Bagyo! Hari ini apakah ada surat masuk untuk dikirim ke rumah dinas bupati?”.
“Maksudmu untuk anak perempuannya itu?” Tanya balik pak Bagyo.
“Iya.” Jawab Rama sambil menganggukkan kepalanya.
“Emmmm. Tidak ada! Kalau surat untuk pak Bupati ada di pak Rendra.” Jelas pak Bagyo.
Melihat rekan kerjanya yang putus asa, Paijo menanyai Rama.
“Ada apa Ram? Penting sekali kamu menanyakan perihal surat orang lain.”
Lalu Rama menjawab, “Iya tidak penting sih bagi saya! Tapi saya merasa tidak nyaman kalau orangnya terus menanyakan hal itu, mas Jo!”.
“Halah! Bukannya karena tanpa ada surat-surat itu kamu jadi tidak bisa sering menemui Shinta lagi kan?” Sindir mas Jo.
“He he. Iya juga sih!” Jawab Rama. “Eh Mas! Kalau hadiah yang bisa membuat senang seorang gadis itu, kira-kira apa ya?”.
“Hemmm! Kalau dari pengalamanku sih ya biasanya bunga atau cokelat atau boneka atau tas atau sepatu. Ya...banyak lah!” Jawab si Paijo.
“Terus gadis itu menyukainya?” Rama kembali bertanya.
“Ya pastilah! Apalagi kalau kamu beri pesan dengan kata-kata yang romantis.” Jawab mas Jo dengan percaya diri.
“Mas Jo memangnya pernah memberikan hadiah untuk seorang gadis?” Tanya lagi Rama ingin tahu.
“Tidak adalah! Kan saya belum pernah punya pacar. Itu semua hanya yang saya tonton dari film-film. Memangnya kenapa? Kamu mau menyindir saya ya?” Celoteh Paijo.
“Lha? Mas Paijo yang memberitahu kok malah saya yang dimarahi!” Ketus Rama.
Mereka pun menyudahi pembicaraan yang sia-sia tersebut dan kembali fokus bekerja.
Menjelang sore seusai Rama mengantarkan semua suratnya, ia mampir ke sebuah toko. Dibelinya satu buket bunga mawar berwarna merah jambu dengan selembar kartu ucapan yang masih kosong. Kemudian Rama melaju dengan sepedanya menuju ke kediaman Shinta.
Lagi-lagi hari sudah mulai petang saat Rama berada di sana. Belum sampai di depan pintu depan, dari luar pagar Rama melihat Shinta duduk sendiri memandangi miniatur rumah Limas sementara tangannya membolak-balikkan sampul surat lama. Rama langsung menarik rem dan turun dari sepeda. Menyadari hal tersebut, Rama pun tahu jika saat ini yang diinginkan Shinta hanyalah surat balasan dari Yusuf. Dia lantas menunduk dan bersembunyi dari balik pagar karena tiba-tiba ada seorang perempuan yang mendatangi Shinta dari teras samping rumah itu.
Pandangan Rama kemudian tertuju pada satu buket bunga yang dibawanya. Rama ada ide!. Ia lalu mengeluarkan secarik kertas buram ukuran folio dari buku catatan. Rama dengan terampil menuliskan sesuatu. Kertas itu dilipatnya dengan rapi lalu memasukkannya ke dalam sebuah amplop. Rama juga mengambil sebuah kartu ucapan yang masih kosong dari saku mantelnya.
“Apakah caraku ini akan berhasil?” Pikir Rama. “Tapi demi Shinta aku akan melakukannya!”
Tanpa ragu lagi Rama menuliskan pada kartu ucapan tadi, - dari : Yusuf - lalu menyelipkannya pada rangkaian bunga. Tidak lupa ia juga menuliskan nama dan alamat pengirim serta penerima pada bagian belakang sampul surat yang dibuatnya. Rama sudah begitu hafal di luar kepala. Kemudian dengan tenang Rama berdiri terus berjalan kaki ke arah pintu masuk. Ditemuinya pak Subekti yang berjaga di pos keamanan.
“Selamat sore!” Sapa Rama.
“Sore Mas! Ada perlu apa?” Tanya pak Subekti.
“Tolong sampaikan surat ini ke mbak Shinta! Ada kiriman bunga juga!” Pinta Rama.
“Dari siapa Mas?” Kata pak Subekti banyak tanya.
“Nanti mbak Shinta juga sudah tahu sendiri kok Pak!” Jawab Rama penuh rahasia.
“Baiklah kalau begitu.” Pak Subekti lalu masuk ke dalam rumah dengan membawa barang-barang titipan dari Rama.
Rama pun berbalik ke tempat ia memarkirkan sepedanya. Sambil memegang stang, dilepaskannya standar sepeda onthel itu. Rama menengok ke arah Shinta yang masih berada di tempatnya semula. Namun kali ini ia melihat Shinta tertawa bahagia setelah menerima surat dan buket bunga mawar berwarna merah muda itu. Rama juga tersenyum-senyum sendiri lalu dengan bangga pergi bersama kayuhan sepedanya.
Sejak saat itu, setiap tiga hari sekali Rama membuat tulisan surat yang ditujukan untuk Shinta. Ia tidak berpikir hal itu suatu kesalahan karena berbohong dengan menggunakan nama orang lain. Lagi pula ini salahnya si Yusuf yang tidak pernah mengirimkan surat balasan itu. Bahkan sampai empat bulan ini, tidak sedikit pun tercium aroma surat dari Yusuf di meja kerja Rama. Tidak pernah Rama kehabisan kata-kata untuk disampaikan kepada Shinta. Pikirannya lurus, dirinya tak mempermasalahkan jika Shinta menganggap itu semua surat dari kekasihnya yang berada di pulau lain. Rama hanya ingin bisa bertemu dan melihat Shinta merasa bahagia.
Pada awal pekan bulan September, saat jam makan siang Rama baru kembali dari berkeliling dengan sepeda kerjanya. Ia terburu-buru menuju meja kerjanya.
“Istirahat dulu Ram!” Kata pak Darjat sedang berdiri lalu mengambil segelas air yang sudah tersedia.
“Iya Pak!” Jawab Rama yang kelabakan lalu duduk di kursinya dan segera mengambil kertas serta pena. Kemudian ia mulai menulis dengan semampunya.
Saat itu mas Jo berdiri di belakang Rama dan mengintip apa yang ditulis Rama pada selembar kertas putih ukuran folio itu. Rama terlalu fokus pada tulisannya. Saking penasarannya, Paijo merebut kertas yang diletakkan Rama di atas meja. Lalu dibacanya tulisan yang belum selesai itu dengan terbata-bata. Rama berusaha merebutnya kembali dari tangan mas Jo.
“Jangan dibaca mas Jo! Tolong kembalikan! Saya tidak punya banyak waktu ini! Cepatlah!” Rengek si Rama.
“Tunggu dulu! Surat apa ini? Untuk Shinta?” Mas Paijo bertanya-tanya namun seketika kertas itu berhasil direbut oleh Rama.
“Wohoho…! Kamu menulis surat untuk anak Bupati itu ya?” Tuduhan mas Jo kepada Rama.
“Bukan begitu Mas. Saya…” Kalimat Rama terhenti.
“Tapi kenapa di amplopnya kamu tulis nama pengirimnya adalah Yusuf?” Ucap mas Jo yang melihat ke arah sampul surat yang sudah disiapkan Rama di atas mejanya.
Secepatnya Rama menutupi amplop itu dengan seluruh telapak tangannya. “Mas Jo, tolong rahasiakan ini! Terutama pak Narendra. Jangan sampai dia tahu!” Rama memohon dengan sangat.
“Tapi gaji kamu bulan ini untuk saya ya?” Canda si Paijo.
“Jangan begitu lah..! Aku melakukan ini hanya karena kasihan pada Shinta, mas Jo. Aku hanya ingin membuatnya merasa senang. Itu saja!” Ujar si Rama. “Untuk sementara waktu sampai si Yusuf itu membalas suratnya yang dahulu.” Tambahnya.
“Ckckck.. Oke oke! Aku akan jaga rahasiamu ini.” Jawaban mas Jo yang membuat Rama menjadi tenang.
Rama kembali menyelesaikan tulisannya. Setelah itu ia mengambil makan siang, istirahat sejenak lalu bersiap melanjutkan tugas sebagai pengantar surat. Tidak lupa ia memasukkan surat yang dibuat untuk Shinta.
Ketika Rama memakai sepatunya yang sempat dilepas saat istirahat, mas Jo mendatanginya yang duduk berjongkok di emperan.
Mas Jo berbicara setengah berbisik kepada Rama. “Sudah berapa lama kamu memalsukan surat untuknya?”
“Baru beberapa kali ini Mas.” Jawab Rama yang baru selesai memakai sepatu. Kemudian ia berdiri sambil membenarkan posisi topinya. Mas Jo juga langsung ikut berdiri.
“Rama! Sebaiknya kamu sudahi ini! Tidak perlu lah kamu mencampuri urusan orang lain. Apalagi itu urusan pengguna jasa kita. Takutnya nanti nama kantor ini ikut terseret.” Nasihat mas Jo yang merasa khawatir.
“Sudah mas Jo tenang saja! Yang penting rahasia ini kita tutup rapat-rapat. Oke?” Jawab Rama dengan santai.
“Tidak oke lah! Masalahnya kamu itu mencampurkan perasaan pribadimu dengan persoalan di keluarga Bupati itu.” Tegas mas Jo.
Rama lantas memegang kedua pundak mas Paijo dan berkata dengan sikap tenang.
“Mas Jo! Masalah perasaan pribadiku itu hanya dengan Shinta. Aku sama sekali tidak mencampuri urusan perjodohan di keluarganya. Jadi bersikaplah tenang! Ini tidak akan lama.”.
“Tapi kamu tahu sendiri, siapa yang Shinta cintai saat ini. Dan kamu malah menyampaikan isi hatimu atas nama orang itu? Kamu juga pasti tahu kan apa isi surat yang ditulis Shinta yang sampai sekarang belum mendapat balasan itu?” Protes mas Paijo.
“Benar! Aku kira aku mengetahuinya. Tapi aku sama sekali tidak menyingung jawaban tentang permintaan Shinta dalam suratnya. Aku hanya memanfaatkan waktu agar dirinya tidak terbebani dengan hanya menunggu sesuatu yang belum jelas.” Jawab Rama.
“Terserah kamu saja lah! Aku hanya memperingatkanmu, jangan sampai terlibat masalah dengan keluarganya apalagi dengan Bupati itu!”. Tegur mas Jo kepada Rama lalu berbalik badan meninggalkannya.
Rama mengerti maksud perkataan mas Jo. Tetapi caranya ini adalah pilihan terbaik untuk situasi sekarang. Rama kemudian pergi dengan tetap menjalankan rencananya sendiri .