Pagi ini agatha sudah berada di dalam kelasnya. Kini dia sedang duduk di bangkunya dan membaca sebuah buku novel. Kelas terlihat masih sepi. Namun agatha sudah tiba di sekolah.
Agatha sengaja untuk datang pagi ke sekolah karena agatha tidak ingin bertemu dengan ibu dan saudaranya. Dia lelah jika nanti disuruh memasak oleh saudaranya. Dan mungkin sekarang sedang dalam keadaan tidak sehat.
Wajah agatha terlihat pucat. Kemarin dia tidak makan selama seharian. Harusnya agatha tidak masuk sekolah hari ini. Namun agatha tidak ingin melewatkan hari bertemu dengan andra.
Beberapa menit kemudian kelas pun sudah mulai sedikit ramai. Banyak siswa dan siswi kelas XI IPA1 sudah berdatangan. Dua orang siswi yang duduk di depan agatha datang dan duduk di depannya. Agatha sedikit melirik ke arah mereka namun hanya sebentar dia kemudian beralih ke bukunya lagi.
"Hari ini kita jamkos ya...??" Ujar siswi yang duduk di depan agatha.
"Iya, kenapa lo masuk? Biasanya lo kalo ada acara beginian di sekolah gak masuk." Tanya siswi di sampingnya.
"Ya gue.... pengen lihat most wanted sekolah kita main dong...." ujarnya. Agatha mendengarkan perbincangan mereka diam diam.
"Emang dia ikut?" Tanya siswi di sampingnya lagi. Siswi di depan agatha mengangguk
"Iyalah.... diakan kapten basket sekolah kita." Ujarnya. Agatha mengernyit bingung.
Bukankah kapten basket sekolah itu rio? Agathaa menatap mereka berdua bingung. Agatha pikir mereka suka pada andra ternyata suka pada rio. Jadi benar apa yang nara bilang jika banyak yang menyukai rio. Agatha mendengus kesal. Bahkan andra jauh lebih baik daripada rio.
"Woyy....!!!" Agatha tersentak kaget mendengar teriakan nara. Dia menoleh kesal pada nara yang tersenyum cengengesan padanya.
"Ih nara!!! Lo bikin gue jantungan aja sih!" Seru agatha kesal. Nara duduk di samping agatha dengan pandangan heran. Tangan nara terulur memegang pipi kanan agatha. Namun tangan agatha menyentaknya.
"Tha.... in....ini kenapa? Pipi lo kenapa? Kok kayak lebam gitu sihhh...??? Lo berantem lagi sama nyokap lo?" Tanya nara. Agatha menunduk
"Enggak ra... gue habis jatuh dari kamar mandi jadi pipi gue kepentok deh...." ujarnya masih menunduk. Nara menggeleng.
"Gue tau tha lo bohong...." ujar nara.
"Seorang ibu... tidak akan pernah bisa untuk menyakiti anaknya. Jadi lo jangan berburuk sangka gitu." Tutur agatha. Nara tersenyum kecut.
"Lo kira gue gak tahu?! Haha... tha tha... gue tahu tha gue tahu apa yang dirasakan sahabat gue kalau di rumahnya. Lo gak di sayangkan... sama ibu lo. Dia itu cuman sayang sama si stella aja. Gue tahu tha." Ujar nara sambil memegang kedua tangan agatha..
"Gue pernah lihat lo di bentak dan di suruh nyapu rumah sama ibu lo di rumah..." lanjutnya. Agatha menoleh kaget.
"Kapan?!" Tanyanya. Nara tersenyum sambil memeluk agatha merasa kasihan pada sahabatnya itu.
"Gue pernah lihat lo di marahin waktu pulang sekolah. Gue gak sengaja lihat karena waktu itu habis antar lo gue balik mau balikin buku ipa lo yang ada di gue. Dan yeah gue lihat ibu lo mukulin lo pakai sapu." Katanya sambil melepaskan pelukan. Agatha menunduk. Ternyata keburukan ibunya yang agatha sembunyikan diketahui sahabatnya sendiri.
"Gue gak tahu ra harus apa. Tapi gue bener bener sayang sama ibu. Gue terima aja dia perlakuin gue kayak apa." Ujar agatha tidak ingin menatap sahabatnya itu. Nara tersenyum kecil dan memukul lengan agatha berniat untuk menghiburnya agar tidak malu.
"Gue tau apa yang lo rasain. Lo ha-"
'Aaaaarrrrggghhhh....!!!!! Liandra....!!!! Lo keren bangeeeett....!!!'
Agatha mendongak kaget menatap nara heran. Nara tersenyum melihat raut wajah agatha dia bisa menebak jika agatha tidak tahu apa yang terjadi.
"Kenapa cewek cewek pada teriak andra? Memangnya andra sudah datang?" Tanya agatha heran.
"Bukannya lo suka andra? Tapii… kenapa lo gak tahu semua tentang dia?" Ujar nara menyindir agatha.
"Ye... nara. Lo kan tahu gue gak cari tahu andra lagi beberapa hari ini. Eh emang ada apa sih???" Tanya agatha. Nara tersenyum.
"Lo gak mau lihat penyelamat lo main basket?" Tanya nara. Agatha terbelak. Agatha pernah menceritakan perihal andra yang menolongnya dulu karena nara ingin tahu alasan apa yang membuat agatha menyukai sosok dingin itu.
"E...emangnya andra ikut main basket?!" Tanya agatha kaget. Nara mengangguk.
"Malah dia jadi kaptennya." Ujarnya. Agatha terbelak.
"Apa?! Bukannya Rio kapten basketnya?!" Tanya agatha kaget.
"Nggak. Minggu lalu waktu lo gak masuk kelas kita olahraga basket sama kelasnya rio. Dan pak Agus nyatain andra sama rio duel. Dan lo gak akan percaya tha.... andra main basket keren banget tahu. Dia itu udah kayak pemain basket internasional!!!" Seru nara menggebu. Agatha terbelak.
"Seriusan lo?! Aaahhh.... ayo kita ke lapangan!!!" Seru agatha sambil menarik nara. Dia sungguh tidak sabar melihat sang pujaan sedang bermain basket. Dan bahkan agatha melupakan kejadian kemarin yang membuatnya sedikit takut dengan sosok andra.
"Eh tapi tha lo gak papa? Lo kelihatan pucat." Ujar nara menghentikan langkah agatha. Agatha menggeleng.
"Gak papa. Cuma sedikit pusing. Tapi kalo lihat andra pasti ilang pusingnya." Ujarnya. Agatha menarik nara keluar kelas menuju lapangan. Nara hanya bisa memutar bola matanya malas mendengar itu. Mana ada begitu!
Sampainya di sana agatha dan nara berdesakan untuk mendapatkan tempat di depan. Agatha mengedarkan pandangannya mencari tempat yang nyaman.
"Ra kita kesana yuk! Disana jarang ada orangnya!" Ujar agatha sedikit berteriak sambil menunjuk arah seberang lapangan. Nara mengangguk. Mereka berdua pun berjalan ke seberang lapangan melewati jalan pinggir lapangan untuk dampai ke tempat yang di maksud agatha.
dugh....
"Awwhh... pala gue!" Seru agatha. Pusing yang dia rasakan semakin parah karena benturan dari bola yang mengenai kepalanya. Nara yang melihatnya menjadi panik. Dia memegang lengan agatha panik.
"Thaa... lo gak papa???! Tha....!!! Agatha....!!!" Seru nara. Agatha menggeleng berusaha memulihkan pengelihatannya yang sedikir buram.
"Gue gapapa ko-"
bruk
"Eh.... agathaa...!!!!" Seru nara panik saat agatha limbung dan pingsan. Kepala agatha berada atas paha nara. Nara duduk sambil menepuk pipi agatha. Beberapa pemain. Basket berjalan ke arah mereka berdua tak terkecuali orang yang melempar bola itu.
"Heh...!!! Lo harus tanggung jawab yah... agatha pingsan itu semua gara gara elo!!!" Seru nara pada orang itu.
"Itu bukan salah gue! Salahin tuh si liand! Dia yang tepis lemparan gue sampai kena agatha!" Serunya menunjuk seseorang yang berdiri di tengah lapangan. Orang itu mengedikkan bahunya.
"Salah lo kali! Siapa yang nyuruh lo kenain bola itu hampir kena pala gue!" Serunya.
"Gue gak peduli! Heh... liand! Kalo lo cowok gentle lo harus tolongin nih cewek. Lo yang buat dia kayak gini!" Seru nara kesal. Laki laki itu menghela nafas dan berlari menghampirinya. Dia pun menggendong agatha yang pingsan dan membawanya ke UKS di ikuti Nara.
****
agatha mengerjapkan matanya saat di rasa pengelihatannya terasa buram. Saat matanya terbuka rasa pusing mendera kepalanya. Dengan perlahan lahan dia bangun dari tidurnya dan berusaha untuk duduk.
"Gue di uks...." ujarnya saat mengedarkan pandangannya. Dipejamkan matanya dan menghela nafas.
"Ini semua gara gara gue gak makan kemarin. Hhh.... jadinya gue gak bisa lihat andra main deh... siapa sih yang lempar bola basketnya sampe kena pala gue! Mana keras lagi lemparannya tadi!" Serunya marah. Tiba tiba pintu uks terbuka.
Nara masuk ke dalam uks dan tersenyum melihat agatha sudah sadar dari pingsannya. Di tangannya ada semangkuk nasi soto dan teh hangat. Dia berjalan masuk ke dalam uks menghampiri agatha.
"Akhirnya lo sadar juga....." ujarnya lalu menaruh mangkuk dan teh itu di atas nakas. Nara duduk atas ranjang yang diduduki agatha.
"Sumpah gue panik banget waktu lo pingsan tadi. Gue bener bener marah banget sama si liandra. Gara gara dia tuh makanya lo pingsan." Ujar nara. Agatha mendelik kaget.
"Andra?! Jadi yang ngelempar bolanya andra? Trus.... siapa yang bawa gue ke UKS. Kan gak mungkin lo yang bawa." Tanya agatha. Nara tersenyum.
"Menurut lo siapa?" Tanya nara membuat agatha penasaran.
"Siapa emang?"
"Liandra." Jawabnya dengan senyum menggoda menatap agatha. Agatha ternganga.
"Maksudnya?" Tanya agatha takut apa yang ada di dalam pikirannya berbeda maksud dengan nara.
"Ya maksudnya... andra tadi yang gedong lo ke uks. Gue yang suruh dia karena udah buat lo pingsan kayak gini." Ujar nara. Agatha mengangguk angguk mengerti dan tersenyum.
"Eh tapi tha... kenapa lo bisa pingsan? Setau gue... lo itu orangnya susah banget buat pingsan. Lo gak sarapan ikut upacara panas panasan gak akan pingsan. Tapi kenapa sekarang kena bola langsung pingsan?!" Tanya nara heran. Agatha menatap atap langit uks.
"Eummm... gue... gue kemarin gak makan seharian. Dan tadi juga gak sarapan." Ujarnya. Nara terbelak.
"Apa?! Lo gak makan?! Tapi kenapa?! Harusnya lo tuh makan tha biar gak sakit...!" Ujar nara. Agatha menghela nafas.
"Gue di hukum sama ibu gak boleh makan karena gue gak mau masak buat stella." Jawab agatha. Nara menatap agatha tidak percaya.
"Apa?! Gak boleh makan?! Pantesan aja lo langsung limbung. Nih... gue kasih makanan. Baikkan gue.... untung lo gue beliin nasi di kantin." Ujar nara sambil mengambil mangkuk yang berisi nasi soto itu. Nara menyuapi agatha dengan telaten. Agatha menatap nara dengan senyum bahagianya.
'Sahabat adalah orang yang paling mengerti kita. Di saat kita sedih dia pasti akan menghiburmu. Di saat kita senang dia akan ikut senang. Dia tidak akan meninggalkanmu sendirian. Dia akan selalu bersamamu. Itulah sahabat sejati.'
****
Hari ini sekolah dipulangkan lebih awal karena para guru sedang mengadakan rapat. Andra keluar dari gerbang sekolah dan berjalan ke arah warung yang berada di depan sekolah.
Di edarkan pandangannya ke penjuru warung. Matanya berhenti saat melihat orang yang dia cari berada di pojok warung. Di sana terlihat 2 orang sedang bergurau bersama. Andra menghampiri kedua pemuda itu dan duduk di sana.
"Eh andra. Udah dateng lo..." kata salah satu temannya yang duduk di sampingnya yang bername tag Dafa Pratama. Andra menoleh ke arahnya.
"Hmm..." jawabnya dan mencomot pisang goreng yang ada di atas meja.
"Oh... wiya.... gue huampir lupa!" Seru pemuda yang duduk di samping dafa. Dia bernama Mike. Dia menelan makanan yang ada di mulutnya.
"Lo di ajak balapan lagi sama si rio." Ujarnya. Andra menoleh.
"Rio? Cowok yang semalam itu?" Tanya andra. Kedua temannya mengangguk.
"Siapa lagi kalau bukan dia! Gue benci banget tahu sama dia. Di sekolah aja dia sok pintar, alim, baik padahal aslinya beehh.... jangankan ke masjid. Sholat aja gak pernah." Ujar dafa. Mike mengangguk menyetujui kata kata dafa.
"Kok kalian tahu banget sih tentang dia?" Tanya andra. Kedua temannya saling tatap.
"Hahahaha..... andraa.... lo kebanyakan di rumah besar lo sihh... gue inget waktu kita ketemu di depan sekolah lo. Ndraa ndraa... sekolah lo tuh bagus tapi kenapa lo milih sekolah negeri kayak sekolah kita sih?" Kata mike sambil tertawa.
"Gue udah lulus!" Kata andra dingin.
"Yahh... gue tau! Lo kan anak pintar! Jadi lo bisa lulus sebelum waktunya ya gak mike?!" Tanya dafa pada mike. Mike mengangguk.
"Jangan lupa daf... rajin sholat tuh si andra.... gak kayak lo. Sholatnya masih bolong." Jawab mike. Dafa memukul bahu kawannya kesal.
"Ngaca dong!!! Lo juga kali... sholatnya bolong!" Seru dafa sambil menggetak kepala mike. Mike mengaduk kesakitan sambil memegang kepalanya. Andra yang melihatnya menggelengkan kepalanya.
"Udah udah! Kalian kayak anak kecil aja sih." Ujar andra.
"Dulu gue juga sama kayak kalian. Tapi seseorang telah merubah hidup gue." Ujarnya sambil mengingat pertemuannya dulu sewaktu kecil bersama seseorang.
"Gue jadi pengen tahu siapa sih cewek yang udah bikin lo jadi rajin banget solat?" Tanya dafa heran.
"Gue gak tau! Yang pasti dia cantik imut kayak malaikat." Jawab andra.
"Di sekolah kita ada gak cewek kayak gitu?" Tanya mike. Andra menggeleng.
"Gak!" Ujarnya. Andra berdiri dari duduknya.
"Kalo gitu gue pergi dulu. Gue harus ke bengkel! Oh iya bayarin yah..." Ujar andra. Kedua temannya mengangguk. Andra berjalan keluar dari warung.
"Nanti kita nyusul!" Teriak mike.
Andra memberi jempol tanpa membalikkan badan menjawab ucapan kawannya itu. Dua lalu berjalan menuju bengkel yang dia tuju. Saat dia berada di pertigaan jalan tiba tiba dia menabrak seseorang. Dia mengernyit melihat orang yang dia tabrak.