Andra berjalan menuju bengkel tempatnya bekerja. Saat dia berada di pertigaan jalan tiba tiba dia menabrak seseorang. Dia mengernyit melihat orang yang dia tabrak. Lalu memutar bola matanya jengah saat dia mengenali siapa yang dia tabrak. Dia adalah Rio.
"Lo udah tahu kan... kalo..."
"Ya! Eh tapi... lo gak takut?!" Tanya andra pada rio. Dia tersenyum sinis pada andra.
"Ngapain takut?!" Ujarnya. Andra menaikkan sebelah alisnya.
"Mungkin aja lo takut kalah lagi. Gak kapok lo?!" Kata andra. Rio menatapnya dengan mata melotot. Dia kesal dengan ucapan andra. Semalam dia memang sudah kalah 10 juta dan dia kalah banyak.
"Itu gue emang ngalah sama lo!" Ujarnya marah. Andra mengedikkan bahunya acuh.
"Oke! Nanti malam gue akan beri 10 juta!" Lanjutnya. Andra menaikkan sebelah alisnya.
"Yakin lo?! Gak takut kalah?!" Tanya andra.
"Yakin.... gue pastiin kali ini gue yang menang." Jawab rio. Andra melirikkan matanya ke arah sebrang jalan. Wajahnya terlihat satar dan menahan marah. Dia melihat ke arah rio. Rio yang melihatnya menjadi heran kenapa wajah andra berubah menjadi gelisah seperti itu.
"Kenapa lo?!" Tanya rio heran. Andra menoleh.
"Hah? Gak papa. Eummm... gue pergi dulu!" Ujar andra dan langsung pergi dengan cepat. Menjauhi rio.
Pemuda tampan itu terlihat berlari saat sudah jauh dari rio. Andra menoleh dan dapat dia lihat 5 orang berpakaian hitam berlari mengejarnya. Dia mendesis kesal sambil berlari kencang. Kesal pada orang orang yang mengejarnya. Dia berlari dengan cepat menghindari mereka. Andra berlari ke kerumunan banyak orang.
Tak lama andra keluar dari kerumunan tersebut dan menghela nafas lega saat tidak melihat mereka. Diapun kembali melanjutkan jalannya menuju bengkel. Berjalan beberapa meter penuda itu sudah dampai di sebuah bangunan yang memperlihatkan banyak motor dan mobil rusak. Tempatnya sedikit berantakan dengan peralatan bengkel yang sudah di pakai.
"Andra apa itu kamu?!" Seru seseorang. Andra menoleh ke asal suara. Namun tidak ada orang.
"Iya! Om dimana?!" Ujar andra.
"Di sini!" Sahut seseorang. Andra menoleh ke belakang. Dia tersenyum kecil melihat seorang laki laki paruh baya dengan pakaian lusuhnya berjalan ke arahnya. Andra menyalami tangan orang tersebut.
Dia adalah om Indra omnya dafa yang membuka sebuah bengkel. Andra bekerja di sana untuk menghidupinya. Tapi sebenarnya uangnya banyak dari hasil balapan yang di lakukan setiap malam.
Andra tinggal di rumah mike yang kebetulan mike adalah anak yang jauh dari orangtua. Jadi andra bisa tinggal di sana bersama dengan mike. Tinggal bersama temaan lebih menyenangkan bagi andra dari pada pulang ke rumah.
"Kanapa datang sekarang? Kamu gak sekolah?" Tanyanya. Andra menggeleng.
"Pulang lebih awal. Guru guru rapat!" Jawab andra. Om indra mengangguk mengerti dan menunjuk sebuah mobil dengan dagunya.
"Perbaiki itu." Katanya sambil lalu. Andra mengangguk dan melepas seragam sekolahnya dan menyisahkan kaos putih polosnya.
"Kamu yakin kerja pakai baju gitu?" Tanya om indra berbalik menghampiri andra sambil memberikan sebotol oli. Andra menunduk meligat penampilannya.
"Kenapa?!" Tanya andra heran.
"Ini bengkel. Bisa bisa bajumu kotor kalo pake putih." Ujarnya. Andra menggeleng.
"Gak papa lahh.... kan bisa di laundry." Jawab andra lalu langsung mulai bekerja. Om indra hanya menggeleng mendengar teman ponakannya yang sudah dia anggap ponakan sendiri itu tidak habis pikir.
****
Agatha sedang berada di rumahnya. dia sedang belajar fisika. Menurut agatha fisika adalah mapel paling sulit. Agatha jadi pusing memikirkannya.
"Agathhaaaaaaa......!!!" Teriak stella dari luar kamar. Agatha memutar bola matanya dan mendegus kesal. Dengan segera dia beranjak dari duduknya berjalan menuju pintu kamar keluar menghampiri stella.
"Apa?!" Tanya agatha saat sudah sampai di depan stella yang menonton tv.
"Beliin gue cemilan ke mini market dong!" Suruh stella. Agatha terbelak.
"Beli cemilan?! Ogah gue! Mini marketkan jauh!" Seru agatha malas. Minimarkte itu jauh. Butuh waktu 25 menit untuk naik motor kesana. Dan agatha ke minimarket dengan jalan kaki. Agatha takut jalan sendirian malam malam.
"Ohh... lo mau gue aduin ke-"
"Oke oke! Selalu itu alasan lo. Mana gue beliin!" Seru agatha kesal. Hari ini dia sedang tidak ingin berdebat dan tidak mau ada luka di wajahnya. Pipinya saja masih lebam gara gara tamparan itu.
"Nah gitu dong... nih uangnya." Ujar stella sambil memberikan uang 50 ribu ke agatha. Agatha berjalan ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
Setelah berganti pakaian agatha langsung keluar dari rumahnya. Agatha berjalan ke mini market dengan santai. Sambil sesekali merapatkan jaketnya. Udara malam ini benar benar dingin.
Tiba di sebuah gang agatha sedikit berdigik. Tempat itu sungguh sepi dan ramang. Di tambah lagi udara di sini sungguh dingin membuat agatha merinding.
krakk.....
Agatha menoleh cepat ke belakang. Suara benda patah terinjak yang menandakan ada seseorang atau hewan ada disana. Di tempat gelap seperti itu mungkin hewan sedang bersembunyi. Tapi agatha tidak yakin dengan itu.
"Siapa ada di sana?!" Teriak agatha takut. Dia benar benar takut. Bagaimana jika ada perampok di sana dan akan berbuat macam macam padanya? Membayangkannya saja agatha berdigik ngeri.
Cukup lama agatha diam melihat kesana namun tidak ada pertanda apapun yang mencurigakan. Agatha menghela nafas lega. Setelah memastikan tidak ada apapun di sana agatha kembali melanjutkan langkahnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat ada beberapa orang berada di sebrang sana.
Agatha terbelak melihatnya. Di cahaya lampu yang remang itu agatha tidak dapat melihat wajah mereka. Agatha mundur perlahan. Mulutnya sudah siap untuk berteriak meminta pertolongan. Namun seseorang telah membrkap mulutnya. Agatha memberontak takut berusaha melepaskan diri. Pasti orang ini adalah salah satu dari mereka.
"Akh...!!!" Pekik orang yang membekap mulut agatha saat agatha menggigitnya. Agatha terbelak saat menolehkan wajahnya dan yang di lihatnya adalah wajah orang selalu dilihatnya dari jauh dan sekarang dia melihatnya dari dekat. Sangat dekat bahkan hidung mereka sangat dekat.
"Heiii....!!! Itu dia!!!" Seru seseorang dan membuat jarak itu terkikis. Agatha masih terus memandang andra yang sedang melihat ke arah gerombolan orang tadi. Agatha mengernyit melihat wajah andra terlihat panik.
"s**t!!! Mereka tau!" Umpat andra. Dia langsung menarik tangan agatha dan menggandengnya untuk ikut berlari bersamanya. Agatha terpekik. Kenapa dia ikut di tarik? Agatha ikut berlari sambil menolehkan kepalanya ke belakang dan andra. Merasa bingung dengan apa yang terjadi kini.
Agatha menarik tangannya dari genggaman andra. Nafasnya terengah. Dia sudah tidak kuat lagi. Agatha langsung berjongkok.
"Aku... kenapa hah aku harus lari?" Ujar agatha ngos ngosan. Dia langsung duduk selojoran di aspal. Jalan sudah sepi. Hari sudah sangat malam. Andra menatap agatha dingin.
"Baru lari gitu aja udah capek. Dasar lemah!" Ejek andra. Agatha mendongak lalu mendegus.
"Kamu kira lari gitu gak capek. Kenapa juga aku harus ikut." Guman agatha kesal.
"Ngapain lo tadi teriak?! Itu membuat mereka tahu gue!" Seru andra datar. Kesal pada sosok gadis yang kini tengah duduk selonjoran di bawahnya.
"Bukan berarti aku harus ikut lari jugakan?!" Jawab agatha kesal. Andra berjongkok menyesejajarkan wajahnya dan agatha lalu mendekatkan wajahnya ke agatha. Agatha terdiam dan matanya membesar.
"Lo mau di tangkap mereka?!" Tanya andra pelan di depan mulut agatha. Agatha menggeleng dan tangannya reflek mendorong andra agar menjauh. Astaga! Jantung agatha rasanya mau copot melihat andra sedekat itu. Dia tampan sekali. Wajah andra yang biasanya dia lihat dari jauh saja sudah tampan apalagi jika jaraknya sangat dekat seperti itu.
"Pftt.... hahahahaha.... wajah lo hahaha... lucu!!" Seru andra tertawa. Agatha mengernyit melihatnya. Di rabanya wajahnya dengan bingung.
"Kenapa wajahku?" Tanya agatha heran. Andra berhenti tertawa dan menatap agatha. Tawa geli yang dia tampakkan menghilang dan kembali datar.
"Muka lo merah!" Jawab andra. Dia berdiri dan pergi meninggalkan agatha. Agatha ternganga. Dengan segera dia berdiri dan membersihkan bajunya yang kotor. Agatha tidak bicara apapun hanya diam memandang andra yang berlalu.
"Ishh... udah bawa pergi ditinggalin di jalanan sendirian. Kayak cabe cabean aja!" Gerutu agatha kesal.
Tiba tiba agatha menepuk dahinya. Dia lupa jika dia harus membelikan camilan untuk stela. Dilihatnya jam yang melingkar di tangannya. Dia terbelak melihatnya.
"Jam setengah dua belas malam?!" Pekik agatha. Mini market itu pasti sudah tutup karena mini market itu bukan dua puluh empat jam buka. Pukul sepuluh mini market itu sudah tutup. Agatha berbalik untuk pulang dan memilih jalan yang berbeda dan lebih jauh karena takut ada hal yang tidak di inginkan seperti tadi.
*****
"Ahahahahaha.....!!!!!" Tawa nara menggema di kelas X IPA1. Agatha mendegus melihatnya. Tadi agatha sedang bercerita tentang pertemuannya dengan andra semalam. Dan saat mendengar akhir ceritanya nara tertawa.
"Kasian banget lo tha! Di tinggalin di jalanan!" Seru nara.
"Kasian yah? Tapi kenapa lo ketawa?!" Seru agatha marah. Nara menatapnya dengan cengiran di wajahnya.
"Sorry abis lucu banget sih. Udah di bawa lari malah di tinggalin di jalan hahaha... ups!" Ujar nara dan membekap mulutnya saat melihat agatha melotot ke arahnya.
"Terus lo gimana? Kan lo belum beli camilan buat si stella." Tanya nara.
"Pintunya di kunci gue gak bisa masuk. Akhirnya gue ke rumah sila deh buat numpang tidur." Ujar agatha. Nara terbelak.
"Apa?! Lo dikunciin? Eh... tapi emang lo deket banget yah sama si qila?" Tanya nara. Agatha mengangguk. Sila adalah gadis yang berumur 15 tahun tetangga agatha. Agatha sangat dekat dengan sila. Kadang jika sila tidak bisa mengerjakan tugas sekolah dia meminta ajarkan pada agatha. Bahkan keluarga silapun juga dekat dengan agatha.
"Untung aja lo gak tidur di luar. Eh tapi nyokap lo gimana? Gak marah?" Tanya nara lagi yang lagi lagi agatha hanya menggeleng.
"Gue balik ke rumah subuh. Gue gedor gedor pintunya dan di bukain ibu. Awalnya dia marah sih... tapi gue ngomong kalo gue di suruh stella beli cemilan. Akhirnya dia gak marah deh...." kata agatha. Stella mengangguk angguk mengerti.
"Eh.... ada bu Fio! Ada bu Fio!!!" Seru dimas si ketua kelas masuk ke dalam kelas dengan panik. Seluruh murid yang tadinya ramai kini langsung pergi ke tempat duduknya.
Pintu terbuka di saat beberapa murid masih belum duduk di tempatnya. Mereka menahan nafas sambil melihat ke arah pintu. Merasa takut karena ramai di jam pelajaran mereka ramai di kelas.
Andra masuk ke dalam dan merekapun menghembuskan nafasnya lega. Dengan santainya dia masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya.
"Huuhh.... gue kira tadi bu fio! Huhh... bisa gawat kalo bu fio tau kita ramai tadi." Ujar salah satu siswa yang belum duduk.
"Ekhmm....!!!" Dehem seseorang yang ada di belakang siswa itu. Agatha dan seluruh murid menahan tawanya melihatnya. Adit menoleh ke belakang dan tersenyum meringis saat melihat bu fio berdiri di depannya dengan wajah garangnya.
"Ehh... bu fio! Saya duduk dulu yah bu...." ujarnya dan duduk di tempatnya. Bu fio hanya menggeleng dan berjalan ke meja guru mulai membuka bukunya dan memulai pelajaran.
Sambil mendengarkan guru di depan agatha menoleh ke belakang sesekal. Dan di tengah pelajaran agatha menoleh dan menggelengkan kepalanya melihat andra tertidur.
'selalu tidur. Kenapa kamu suka banget sih tidur di kelas.' Batin agatha heran.
"Andra!" Panggil bu fio. Seluruh murid menatap andra tak terkecuali agatha. Andra terbangun dari tidurnya dan menatap bu fio heran. Andra menegakkan badannya dan menatap bu fio tanpa rasa takut dan bersalah.
"Kamu kerjakan soal di depan!" Suruh bu fio. Dengan santai tanpa takut andra berjalan ke papan tulis dan mengerjakan soal di depan. 2 menit andra sudah mengerjakan soal di depan papan tulis yang memiliki rumus yang sulit bagi murid IPA1. Agatha saja masih mengerjakan setengah dari tugas itu.
"Benar? Andra apa kamu tadi mendengarkan penjelasan saya?" Tanya bu fio. Andra mengangguk.
"Tapi kenapa saya lihat tadi kamu tidur?" Tanya bu fio heran. Andra langsung berjalan ke bangkunya tidak peduli.
"Siapa yang bisa mengerjakannya lagi?" Tanya fio lagi. Semua murid yang mendengarnya langsung menundukkan kepalanya. Lalu bel istirahat berbunyi. Seluruh murid menghela nafas lega mendengarnya. Bu fio yang tadinya ingin menunjuk salah satu murid mengurungkan niatnya.
"Baik kalian boleh istirahat. Assalamualaikum." Ujar bu fio dan pergi meninggalkan kelas. Nara berdiri dari bangkunya. Dan menoleh ke arah agatha yang sedang menulis.
"Tha.... ke kantin yuk!" Ajak nara. Agatha menoleh sebentar.
"Lo duluan aja deh ra. Gue bentar lagi mau ke toilet bentar." Ujar agatha. Nara mengangguk dan pergi meninggalkan agatha.
Sepeninggalnya nara. Agatha langsung membereskan bukunya dan memesukkannya ke dalam tasnya. Di edarkan pandangannya ke penjuru kelas. Hanya ada dia dan andra yang tidur di dalam kelas. Agatha langsung buru buru keluar kelas.
"Heh lo!" Agatha terhenti saat mendengarkan suara andra. Namun kemudian dia melanjutkan jalannya menghiraukan panggilan andra. Mungkin andra tengah mengigau?
Andra mengernyit melihat cewek yang di panggilnya itu malah pergi. Dia ingat cewek itu adalah cewek yang kemarin waktu itu. Dia hanya ingin berntanya ini jam berapa. Andra mengedarkan pandangannya dan kelas sudah sepi dan menyisahkan tas tas mereka yang menandakan jika kini dedang istirahat. Andra berdiri dan menyampirkan tasnya ke punggung dan berjalan pergi meninggalkan kelas.
****
Agatha keluar dari bilik toilet. Dia menghela nafas lega dan mencuci tangannya di wastafle. Dia menatap kaca di depannya.
'Seorang upik abu tidak akan bisa mendapatkan sang pangeran. Jika bisa mungkin itu hanya ada di dongeng aja.' Ujar agatha.
Tiba tiba pintu toilet terbuka. Stella dan teman temannya berjalan masuk ke dalam. Agatha menghela nafas.
'dan upik abu selalu di tindas oleh tuan putri dan kswan kawan.' Batin agatha kesal. Memang jika di sekolah stella akan membullynya habis habisan. Pernah sekali agatha di siram dengan tepung dan telur busuk oleh stella. Dan agatha hanya bisa diam karena takut di marahi ibunya jika membalas stella. Lagipun dia tidak akan sanggup melawan stella dengan teman temannya.
Agatha mengernyit heran saat stella dan kedua temannya hanya melewatinya. Dia heran kenapa stella tidak membullynya seperti biasa? Syukurlah jika dia tidak di bully hari ini. Agatha segera berbalik dan keluar dari toilet.
cklekk
"Aaaakkkhhh.....!!!!"
brukk...
"Aw!" "Aduh!"
Agatha meringis sambil memegangi pinggangnya yang erasa nyeri. Di lihatnya di bawah pintu toilet ada sebuah tali melintang yang membuatnya tersandung hingga menabrak orang yang sedang lewat di depannya. Agatha meringis dan memegang pinggangnya yang terasa nyeri. Dia memejamkan matanya. Agatha menggeram dalam hati menyumpahi stella. Mereka suka sekali menjadikan dia bahan tontonan dan di tertawakan. Namun hening tak ada tawa hanya suara pekikkan tertahan.
"Aduh kenapa bisa kena liandra juga sih??! Eh agatha! Lo kalo jalan lihat lihat dong!" Seru stella saat keluar toilet melihat agatha yang duduk dengan memegang pinggangnya dan andra meringis sambil memegang bokongnya duduk di samping agatha.
Agatha melotot memandang stella. Harusnya dia yang marah bukan stella. Dengan sedikit kesakitan dia berdiri. Namun tanpa dia tahu ada kulit pisang ada di depannya dan terinjak agatha. Sehingga membuat agatha terpeleset lagi dan menimpa andra yang duduk di sampingnya.
brukk
"Awh!" "s**t!"
Seru agatha. Namun saat mendengar u*****n itu dia membuka matanya dan menoleh ke belakang. Andra meringis kesakitan sambil memegang perutnya. Agatha terbelak dan menelan ludahnya ketakutan saat memandang andra yang melihatnya dengan wajah menahan marah. Agatha berdiri dengan cepat dan menatap andra takut.
"Maaf aku gak sengaja." Kata agatha takut. Andra berdiri sambil menatapnya marah.
"Maaf lo gak akan buat badan yang sakit ini sembuh!" Katanya. Agatha menggigit bibirnya takut dan menunduk. Andra melirik melihat ke arah pintu yang terbentang tali di bawah. Di tatapnya sosok perempuan dengan gaya aneh yang kini tengah berdiri di dekat pintu itu. Senyu miring dengan tangan bersendekap itu sudah membuktikan bahwa perempuan itulah yang melakukan hal ini.
"Kalau mau bully orang jangan disini! Di gudang sana! Jangan buat orang lain juga kena imbas!" Kata andra dan kemudian berlalu pergi meninggalkan sebuah masalah besar bagi agatha.