"Agathaa!!!"
Agatha tersentak kaget dan menoleh ke arah stella yang berteriak memanggilnya. Dia mengernyit melihat amarah stella. Kenapa stella yang marah? Seharusnya dia yang marah bukan stella.
"Gara gara lo gue di marahin sama andra!" Serunya. Dia berjalan ke arah agatha dan menarik rambutnya.
Agatha meringis dan memegangi rambutnya. Dia berusaha melepaskan tangan stella dari rambutnya. Namun dia di dorong hingga jatuh terduduk.
Agath mendongak dan melihat banyak siswi yang tengah mengelilinginya. Agatha menghela nafas dan menunduk. Waktunya penyiksaan.
"Karena lo andra jatuh dan dia nyalahin gue!" Seru stella. Agatha mendongak. Dan tersenyum miring.
"Emang lo kan yang pasang tali itu bukan gue." Kata agatha. Stella menahan marah dan tangannya bergerak untuk menampar agatha. Agatha memejamkan matanya takut.
"Gue bisa laporin kalian ke BK loh dan dapat skorsing kalau kalian lanjut nyiksa dia!"
Suara itu membuat tangan stella menghentikan langkahnya. Agatha mendongak melihat siapa yang menghentikan stella. Terkejut dan lega agatha melihat dafa tengah berdiri bersedekap d**a menatap para fans gila andra yang akan menyiksanya.
"Jangan ikut campur urusan kita!" Seru stella. Dafa terkekeh kecil menatap stella kesal.
"Udah sana bubar! Kalau gak bubar gue laporin nih foto!" Katanya sambil memperlihatkan foto di mana agatha yang meringis kesakitan sambil memegang kepalanya.
Melihat itu stella mendengus kesal dan dan menyuruh semua teman temannya pergi. Agatha melihat mereka yang pergi menghela nafas lega. Dia mendongak saat sebuah tangan terulur padanya. Agatha tersenyum dan menerima uluran tangan itu dan berdiri.
"Kenapa lo di tindas gak lawan sih?" Kesal daffa. Agatha tersenyum.
"Melawanpun mereka akan semakin menjadi." Jelasnya. Dafa mendengus.
"Lagipun gue kalah jumlah." Lanjutnya dan membenarkan rambutnya. Dafa hanya bisa melihat agatha kasihan. Agatha melihat dafa.
"Makasih yah dafa udah nolongin." Kata agatha lalu berjalan pergi. Dafa menaikkan sebelah alisnya. Siapa dia? Kenapa bisa mengenalinya?
****
Matahari yang terik di siang ini. Andra berjalan dengan kepala menunduk dengan kepala yang di tutup dengan tudung jaket. Seperti biasa andra pergi ke bengkel milik om indra. Untung saja tidak ada gangguan apapun selama perjalanan andra menuju bengkel.
"Om Indra!" Panggil andra saat dia sampai di bengkel. Om indra yang tadinya sibuk memperbaiki mobil menoleh ke arah andra.
"Andra sudah datang? Tumben? Biasanya telat." Ujar om indra dan berdiri di hadapan andra. Andra tersenyum.
"Hari ini andra gak di kejar sama orang suruhan papa." Jawab andra. Om indra menaikkan kedua alisnya kaget.
"Mereka masih ngejar kamu?" Tanya om indra tidak menyangka. Andra mngangguk. On indra menghela nafas.
"Andra sebaiknya kamu pulang saja. Papamu itu sayang padamu. Makanya dia menyuruh orang untuk menjemputmu." Kata om indra. Andra tersenyum miring dan menggeleng.
"Mana ada orang sayang tapi selalu mengekang dan menyuruhku untuk selalu belajar hingga aku kehilangan masa masa remajaku. Seharusnya dia sendiri yang menjemputku atau mencariku bukan nyuruh orang." Jawab andra.
Om indra menghela nafas dan menepuk pundak andra. Lalu dia kembali memperbaiki mobil yang dia tinggalkan tadi. Andra yang melihat itu langsung berganti pakaian dan ikut memperbaiki motor yang rusak.
Tak selang beberapa lama mike dan dafa datang. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam menghampiri andra. Dafa menepuk pundak andra. Andra yang sedang memperbaiki motor menoleh.
"Apa?!" Tanya andra dan kembali fokus pada motornya.
"Enggak kita cuma mau ngomong kalo nanti malam lo di ajak balapan sama vino." Kata mike. Andra mengernyit saat mendengar nama yang asing itu. Dia menatap mike dan dafa.
"Vino? Siapa?" Tanya andra. Mike menghela nafas.
"Itu temen gue. Tapi bukan vino yang bakalan balapan sama lo." Ujar mike. Andra mengernyit heran.
"Terus siapa?"
"Dia cewek. Dan lo harus hati hati sama cewek itu karena masih belum ada orang yang bisa ngalahin dia. Julukannya aja 'The Queen Drivers' " Jawab dafa. Andra diam namun akhirnya dia mengangguk.
"Oke jam berapa?"
"Kayak biasa." Jawab dafa. Mike menggeleng.
"Enggak ini beda. Balapannya bukan jam 12 malam tapi jam 9 malam." Jawab mike.
"Lho? Kenapa jam segitu?" Tanya dafa. Mike mengedikkan bahunya.
"Gak tahu. Vino bilang tuh cewek cuma bisa sampai jam segitu." Jawab mike. Andra mengangguk.
"Kita siapin berapa? Eh jangan banyak banyak yah... uangnya tinggal dikit." Kata andra. Dafa dan mike menoleh kaget.
"Uang 15 juta udah habis?" Ujar dafa kaget.
"Ya... gak habis cuma tinggal 7 juta." Jawab andra enteng.
"Apa?! Uang 8 jutanya lo kemanain ndra?!" Tanya mike kaget.
"Uangnyaa... gue pake buat beli mesin motor gue. Ada yang rusak." Jawab andra sedikit terbata. Mike dan dafa menatap andra tidak percaya.
"Yaudah lah. Biarin aja. Itukan uang andra sendiri. Pokoknya lo nanti harus datang ya ndra. Kita siapin 3 juta aja deh." Ujar dafa. Andra mengangguk. Dia kembali memperbaiki motor di depannya. Dafa dan mike pergi untuk mengganti bajunya dan memperbaiki motor yang rusak.
***
Agatha sedang membaca novelnya yang belum di selesai di bacanya. Setelah solat maghrib dia langsung duduk di atas ranjangnya. Dia tidak udah memasak lagi karena tadi dia sidah memasak. Kini agatha tinggal duduk santai.
cklekk
Pintu kamar agatha terbuka. Stella muncul di balik pintu. Dia tersenyum miring menatap agatha. Agatha yang mendegar pintu kamarnya di buka menoleh. Dia menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Ada apa? Ngapain lo ke kamar gue?" Tanya agatha. Stella berjalan mendekat. Agatha melihat penampilan stella. Setella memakai baju rapi sepertinya dia mau pergi.
"Tha lo ikut gue yah!" Ujar stella dan melemparkan sebuah gaun pada agatha. Agatha mengambil gaun itu.
"Ini buat apa?" Tanya agatha. Stella menghela nafas.
"Ya itu gaun buat lo. Cepet pake lo harus ikut gue hari ini!" Ujar stella. Agatha menggeleng.
"Gak ah..."
"Lo bisa gak sih nurut sama gue! Pokoknya lo harus ikut gue!" Seru stella. Agatha mendegus kesal.
"Iya iya gue pake. Udah sana lo tunggu di luar!" Seru agatha. Stella tersenyum.
"Gitu dong. Cepetan yah..." ujar stella dan menutup pintunya. Agatha langsung mengganti pakaiannya.
Agatha meringis melihat tapilanya di cermin. Menurutnya baju ini terlalu terbuka. Selama ini dia tidak pernah memakai baju dan rok seperti ini.
Dia menatap penampilannya sekali lagi. Rok panjangnya hanya di atas lutut itu membuat agatha risih. Dan juga atasan yang hampir memperlihatkan belahan dadanya dengan tanpa lengannya itu membuat agatha tidak nyaman. Apa dia akan tetap memakainya? Agatha mendesah kesal dan keluar kamar.
Stella memandang agatha. Dia bedecak dan menggelengkan kepalanya. Namun kemudian dia menatap agatha dengan datar.
"Lama banget sih! Ayo cepet temen gue udah nunggu lama." Ujar stella dan menarik tangan agatha.
"Aduuhhh.... stellaa! Lo mau bawa gue ke mana sih?! Ini udah malam! Dan bajunya juga gue gak nyaman pakai ini." Seru agatha. Stella menatap agatha kesal.
"Lo diem aja deh! Tinggal ikut aja apa susahnya sih?!" Kata stella kesal. Agatha diam.
Stella menarik agatha keluar rumah. Di depan rumah ada sebuah mobil audy berwarna putih terparkir di sana. Disana ada kedua teman stella. Mereka bernama Lisa dan Fany. Stella menarik agatha ke arah mereka.
"Eh... kita udah siap. Berangkat sekarang." Ujar stella. Stella melepaskan tangan agatha dan membukakan pintu penumpang untuk agatha di ikuti fany. Lisa masuk ke kursi kemudi dan stella di sampingnya. Mobilpun berjalan meninggalkan rumah.
"Fany kita mau kemana?" Tanya agatha. Fany menoleh.
"Aduh agatha.... kita tuh mau dugem. Masa lo gak tau sih?" Ujar fany polos. Memang fany adalah orang yang lola di antara stella dan lisa. Stella membelakkan matanya.
"Fany! Kok lo kasih tahu sih??!" Seru stella kesal. Fany menutup mulutnya reflek.
"Ups... sorry la gue lupa." Ujar fany. Agatha terbelak kaget.
"Apa?! Gak gak gue gak mau! Lisa turunin gue disini!" Seru agatha. Fany memegang tangan agatha.
"Aduh agathaa... yang dugem itu cuma gue sama lisa. Kalo lo sama stella... ups..." ujar fany menutup mulutnya saat melihat stella melotot di balik kaca. Melihat itu agatha semakin curiga mereka mau melakukan hal aneh padanya.
"Gue sama stella apa?" Tanya agatha heran. Fany menggeleng.
"Enggak." Jawab fany singkat.
Selama perjalanan yang entah kemana agatha tidak tahu. Agatha tidak berbicara apapun. Yang ada hanya suara stella, lisa dan fany saja. Entah apa yang mereka bicarakan agatha tidak perduli. Dia hanya menatap jalanan dar balik jendela mobil. Dia memikirkan apa yang akan terjadi nanti.
"Agathaaa...!!!" Seru fany tepat di telinga agatha. Agatha terlonjak kaget. Di tolehnya ke arah fany.
"Apa?" Tanya agatha.
"Kita udah sampai lo gak mau turun?" Tanya fany. Agatha mengedarkan pandangannya. Dapat dia lihat banyak kalangan anak remaja berjalan ke sebuah gedung yang terlihat remang remang.
"Ini dimana?" Tanya agatha sambil menatap fany. Fany tersenyum.
"Ya kalo lo pengen tahu ayo ikut." Ujar fany. Agatha membuka pintu dan keluar dari mobil. Fany langsung menarik agatha. Di luar stella dan lisa menunggu.
"Lama banget sih!" Ujar lisa jengkel.
"Yaudah yuk kita masuk aja!" Seru stella. Mereka pun masuk ke gedung itu. Di dalam mereka berjalan di lorong yang penerangannya remang seperti di luar. Agatha memegang tangan fany ketakutan. Samar samar agatha mendengar suara dentuman musik.
"Kita kemana sih?" Tanya agatha. Namun tidak ada yang menjawabnya. Mereka bertiga sibuk sendiri. Agatha menghela nafas kesal. Dia diam saja mengikuti stella dan kedua temannya.
Suara dentuman musik terdengar semakin keras dan agatha terbelak melihat apa yang ada di depannya. Ada seorang laki laki dan perempuan sedang berciuman. Agatha berdigik melihatnya. Dia menutup matanya dan semakin mengeratkan pegangannya pada fany.
Suasananya semakin ramai. Banyak orang berjoget di sana. Lampu warna warni berkedip kedip di ruangan yang terlihat gelap itu membuat agatha pusing saat dia membuka matanya. Agatha merasa takut. Dia tidak pernah ke tempat seperti itu.
Agatha di dudukkan di sebuah meja bar dan stella duduk di sampingnya. Fany dan lisa pergi entah kemana. Stella menoleh ke arah agatha dan tersenyum miring.
"Agatha lo tunggu di sini. Gue mau ke sana sebentar." Ujar stella sedikit berteriak. Agatha menoleh.
"Mau kemana?!" Seru agatha. Stella menoleh.
"Gue mau kesana sebentar. Nih ada minuman lo minum aja!" Seru stella dan memberikan sebuah minuman ke pada agatha. Agatha melihat minuman itu. Seperti teh warnanya.
"Ini teh?" Tanta agatha. Stella mengernyit. Dia tidak mendengar apa yang di tanyakan agatha. Namun dia mengangguk saja dan pergi.
Agatha menghela nafas. Di edarkan pandangannya ke penjuru ruangan itu. Banyak anak anak yang berumuran sebaya dengannya. Dia berdigik melihat beberapa anak berciuman di sana. Agatha mengernyit saat melihat ada seorang laki laki yang terlihat familiar.
"Itu bukannya rio ya? Ah tapi masa sih rio ke tempat ginian. Dia itukan anak baik. Mungkin gue salah lihat." Ujar agatha. Sambil menggelengkan kepalanya. Di tatapnya minuman yang di berikan stella. Tiba tiba ada yang menepuk pundaknya. Agatha menoleh. Dia mengernyit melihatnya.
"Hai. Sendirian aja?" Tanya orang itu dan duduk di samping agatha. Agatha mengernyit. Siapa laki laki itu. Dia tidak mengenalnya. Laki laki itu memegang tangan agatha yang ada di atas meja bar. Agatha langsung menarik tangannya.
Dia merasa takut. Tenggorokannya tercekat. Di ambilnya minuman yang di berikan stella. Agatha mengernyit saat merasakan panas di tenggorokannya saat minuman itu mengalir di tenggorokannya. Kepalanya terasa sedikit berat dan pusing. Laki laki itu memegang pundak agatha. Agatha menghempaskannya dengan memegang kepalanya.
plakk
"Lo kira gue cewek apaan?! b*****t!" Seru agatha.
Dia langsung keluar dari ruangan itu dengan sempoyongan. Kepalanya benar benar terasa pusing. Dia benar benar menyesal ikut stella tadi. Kini dia harus pulang. Tapi naik apa dengan keadaan mabuk seperti ini.
****
Suara deru motor dan teriakan terdengar di sebuah jalan yang terlihat ramai itu. Banyak anak remaja berdiri di pinggir jalan sambil bertepuk tangan meneriakkan nama seseorang. Di tengah jalan ada dua orang yang sedang naik motornya. Motor itu berwarna orange dan merah. dan di tengahnya seorang wanita seksi membawa bendera hitam putih.
Dapat di lihat di balik helm si pemilik motor berwarna merah itu seorang laki laki yang memiliki mata yang tajam menatap ke depan. Bulu matanya yang lentik dan bola mata yang berwarna hitam pekat itu menatap lurus ke depan.
"Satu! Dua! Tiga! Mulaiii....!!!" Seru wanita itu dan mengangkat benderanya tinggi tinggi. Kedua motor itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Saling menyalip diantara mereka. Kecepatan mereka sama. Saat sampai di dekat garis finish. Motor merah itu melaju sangat cepat dan dialah pemenang dari balapan itu.
Dia memberhentikan mobilnya dan membuka helmnya. Andra tersenyum miring menatap pemilik motor berwarna orange itu. Dafa dan mike berjalan mendekat ke arah andra. Mike menepuk pundaknya.
"Weeesss... lo hebat ndra biaa ngalahin seorang 'The Queen Drivers'. Gue aja gak pernah bisa ngalahin tuh cewek!" Seru mike.
"Yoi. Kita menang 6 jutaaa...!!!" Seru dafa membalas ucapan mike. Andra hanya tersenyum miring dan menatap pemilik motor berwarna orange itu. Orang itu membuka helmnya. Dan rambut panjang tergerai indah di terpa angin. Gadis itu membenarkan rambutnya supaya tidak menghalangi pengelihatannya. Dia menatap andra dengan kesal. Kesal karena baru kali ini dia di kalahkan.
Andra menatap heran gadis itu. Dia merasa familiar dengan wajah gadis itu. Dia merasa pernah melihatnya di sekolah. Tapi itu tidak mungkin karena gadis itu tidak bersekolah di SMA Nusa Bangsa Dia bersekolah di SMA Tunas Bangsa sekolah elit di jakarta ini. Itu kata mike.
"Eh tuh cewek kayak anak yang gue tolong di sekolah tadi." Ujar dafa. Andra menoleh.
"Siapa?" Tanya andra heran. Dafa menghela nafas.
"Itu tadi ada cewek gue tolongin dari kejaran fans lo. Dia kayaknya sering jadi korban bullyng di sekolah. Gak nyangka aja dia jadi pembalap di malam hari." Kata dafa sedikit kagum. Andra mengernyit dan mengingatnya. Ahh... dia ingat sepertinya perempuan itu adalah salah satu siswi perempuan di kelasnya. Kenapa dia sering bertemu dengan perempuan itu? Di sekolah ataupun luar sekolah.
"Woy! Malah ngelamun lo ndra!" Seru mike. Andra tersadar dan menatap mike.
"Ini duit lo!" Ujar mike memberikannya pada andra.
"Gue ambil 2 juta aja. Sisanya buat kalian." Ujar andra. Mike dan dafa tertawa senang mendengarnya.
"Thanks ndra lo kasih duitnya buat kita!" Ujar dafa senang. Namun tiba tiba terdengar suara sirine polisi. Seluruh orang menjadi bingung untuk bersembunyi.
"Eh ndra kita masuk ke club yah sembunyi di sana!" Seru dafa. Andra mengangguk dan menyalakan motornya dan langsung melajukan motornya meninggalkan area balapan menghindari kejaran polisi itu.