Lagi-lagi Helio terjebak. Kali ini pada sepasang manik biru Aria yang tengah mengerjap-ngerjap memancarkan keterkejutan. Bulu mata lentiknya ikut berayun. Polos tetapi menggoda, menawan sekaligus misterius. Di manik biru yang mengingatkan Helio pada angkasa itu, terdapat sesuatu yang memerangkap dan menariknya ke dalam pusaran. Helio seperti dilempar ke dimensi lain yang dipenuhi konstelasi bintang, hamparan bunga musim semi, dan semilir angin sejuk yang membuatnya betah berlama-lama di sana untuk mengagumi serta menikmati euforia yang sedang melanda diri.
"Tolong beritahu aku... siapa namamu?"
Kalimat barusan Helio ucapkan dengan terengah-engah. Kepayahan menenangkan debaran jantung yang seakan mampu mendobrak rangka, sementara angin yang menerbangkan anak-anak rambut gadis di depannya semakin membuatnya kesulitan mempertahankan kewarasan. Berbeda dengan Helio yang memandangnya penuh kekaguman, Aria yang baru sadar dari keterkejutan tentu saja menganggap Helio aneh. Pria asing yang datang entah dari mana ini perlahan tapi pasti membuat rona di wajah Aria berubah. Aria mulai dicekam rasa takut sehingga dia mulai defensif dan meronta.
"Lepas!"
Aria berusaha mendorong tubuh Helio. Namun Helio yang masih berjuang melawan arus justru mengetatkan pegangan tangannya di pinggang ramping Aria.
"Aku bilang lepas!"
Suara Aria yang meninggi berhasil membuat Helio menapak bumi. Sehingga ketika Aria mendorong bahu Helio dengan tenaga yang lebih kuat, pria itu langsung melepaskan tangannya di pinggang Aria atas kemauannya sendiri. Jarak di antara mereka pun merenggang, Helio sadar kalau dia telah hilang kendali dan tak seharusnya dia bersikap seperti ini.
"Ma-maaf." Helio kikuk ditatap nyalang oleh Aria. "Aku hanya ingin tahu siapa namamu."
"Untuk apa kau tahu namaku? Pergi sana!"
Aria hendak berbalik, tetapi suara takut Helio yang diiringi upaya untuk menahannya membuat Aria mengibaskan tangan sebelum Helio benar-benar menyentuhnya tanpa izin.
"Nona! Aku benar-benar minta maaf. Tapi—"
"Jika kau tidak ingin aku teriak, cepat pergi dari sini dan jangan ikuti aku! Dasar orang aneh."
Rangkaian kalimat dari Aria terasa begitu menusuk hingga Helio membeku di tempatnya, terpasung secara otomatis. Langkah pergi gadis itu diiringi titik air yang turun perlahan. Hingga hujan berubah deras, Helio masih bergeming di tempatnya meski Aria sudah tidak lagi terlihat. Sekujur tubuhnya basah kuyup, sementara sorot matanya yang menatap lurus ke depan sangat tidak terjamah. Helio memang sengaja bersatu dengan hujan. Berharap tetes air yang jatuh lalu meresap ke bumi ikut membawa kegilaannya.
"Tidak apa-apa. Besok akan aku coba lagi," katanya, sebelum memutuskan untuk pulang.
...
"Jadi kesimpulannya, hari ini tidak terjadi peristiwa penting yang harus aku catat," kata Aerin lewat sambungan telepon.
"Iya." Aria tidak menceritakan tentang laki-laki aneh yang tadi dia temui karena menganggap kejadian tersebut bukanlah sesuatu yang harus Aerin ingat.
"Ya sudah," Aerin langsung menjatuhkan pena dari tangannya ke atas buku lalu berguling hingga posisinya berubah telentang. "Hah, lelah sekali. Dengar, ya, Aria. Kau harus cepat lulus dari sana dengan nilai yang tinggi. Aku bosan meneleponmu setiap hari hanya untuk menanyakan hal-hal yang tidak penting seperti ini."
Aku juga sama. Sangat bosan, muak bahkan sampai ingin muntah.
"Aku tidak sabar menunggumu lulus. Karena setelah kau lulus, aku akan menikah dengan Troy." Aerin tertawa mengejek. "Troy sudah sadar dari komanya omong-omong."
"Troy sudah sadar?" Sepasang netra Aria membulat. "Bagaimana keadaannya?"
"Untuk apa kau tahu bagaimana keadaannya? Jangan lupa, dia itu tunanganku." Aerin mengultimatum Aria untuk tidak bertindak di luar batas. Dan simpati yang Aria rasakan untuk Troy mantan kekasihnya, bagi Aerin adalah tindakan di luar batas yang paling membuatnya murka.
"Dengar, Aria. Jangan pernah berpikir atau mencoba menemui Troy karena aku tidak suka. Kau pasti tidak lupa 'kan kalau kau nyaris membuatnya kehilangan nyawa? Percaya padaku, ibunya tidak akan pernah melepaskanmu jika kau nekat menemui putranya lagi. Lakukan saja tugasmu dengan baik. Seperti yang kau tahu, aku tidak membutuhkan gelar akademis apa pun karena setelah aku menjadi Nyonya Troy, aku hanya akan duduk manis sambil menikmati kekayaan yang aku miliki."
Aria gagal meredam tremor di kepalan kuat kedua tangannya. Jantungnya seperti dicabut paksa sepanjang kata-kata yang terucap dari bibir Aerin, tetapi kenyataan menyuruhnya untuk tidak menangis apalagi merengek seperti anak kecil. Rasa sakit yang mengundang kilas balik itu mengangsur getir pada pangkal lidah. Tidak mungkin Aria lupa kalau dirinya adalah akar dari kemalangan yang menimpa Troy.
Troy, pria yang menjadi cinta pertama Aria memang laki-laki paling bodoh sedunia. Aria selalu menganggapnya seperti itu di hari-hari penuh penyiksaan ketika dia menunggu Troy sadar dari koma sambil menahan rindu. Troy sendiri yang bilang kalau dia tidak bisa lagi bersama Aria karena ibunya menentangnya. Tapi dia sendiri yang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Aria yang pergi membawa tangis hingga dia tidak sadar ada sebuah kendaraan yang melaju cepat ke arahnya. Dan semuanya terjadi begitu cepat. Troy terlempar ke udara, terhempas ke hamparan aspal bersama darah yang mengucur.
Bayangan tentang Troy membuat Aria kehilangan fokus. Gadis itu masih mendengarkan Aerin yang terus berceloteh di seberang sambungan. Sayangnya sebagian besar yang Aerin ucapkan tidak masuk ke kepala sampai Aerin mulai membahas kedua orangtua Aria yang telah tiada.
"Ini kesempatan terakhirmu untuk mengungkap misteri kematian ayah dan ibumu. Dua tahun lagi masa kadaluwarsa kasus mereka akan habis. Jadi ketika penjahatnya tertangkap sekali pun, kau tidak bisa melakukan apa-apa." Aerin sengaja diam sambil menajamkan pendengaran. Embus napas Aria yang memburu mengatakan kalau dia masih di sana sehingga Aerin tidak ragu melanjutkan kalimatnya yang terjeda. "Jangan lupa pakai softlens-mu dan berdandanlah semirip mungkin denganku. Aku bisa berbohong kalau aku menjalani operasi plastik jika ada masalah di kemudian hari. Tapi kau juga harus berusaha. Mengerti?"
...
Terlalu banyak hal yang berkecamuk di pikiran Aria sampai-sampai dia mengabaikan isyarat tubuhnya untuk segera bersembunyi di bawah kehangatan lewat getar halus yang disebabkan oleh suhu rendah. Setiap kali Aria menjatuhkan pandangannya ke bawah, selalu saja terdengar bisikan yang menyuruhnya melompat dari rooftop supaya segala penderitaannya berakhir. Aria lelah dan hampir putus asa. Namun dia tidak memiliki sandaran yang bisa dijadikan sarana melepas penat tanpa harus menjadi orang lain.
Aria menutup tirai matanya demi menyamarkan kesedihan yang tersirat di sana meski sebenarnya dia tidak perlu bersembunyi dari siapa-siapa. Gadis itu sendirian sekarang. Di rooftop apartemen sederhana yang dia tinggali. Hasratnya untuk tidur lenyap tak bersisa ketika seluruh pikirannya terpusat kepada Troy, mantan kekasihnya yang hingga kini masih bertahta di hati.
"Aerin?"
Aria menoleh ke belakang, mendapati Sarah yang sedang merapatkan jaketnya berdiri di ambang pintu. Sejurus kemudian Aria memutar kembali tubuhnya ke posisi semula, memandangi kerlap-kerlip lampu kota sambil melipat kedua tangan di atas pagar pembatas.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Sarah lagi.
"Hanya sedang merenung."
"Merenung? Sendirian dan malam-malam begini?"
Aria mengangguk, menoleh ke arah Sarah sambil lalu. "Kau sendiri? Kenapa tidak tidur?"
"Tiba-tiba saja aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi." Sarah menengadah menatap langit yang sepenuhnya hitam. "Aku merindukan ibuku. Makanya aku tidak bisa tidur."
"Aku juga... merindukan ibuku."
"Setidaknya kau masih bisa menghubunginya."
Sarah yang ibunya juga telah meninggal tidak tahu kalau Aria sebenarnya senasib dengannya. Ketidaktahuan Sarah membuat Aria tersenyum ironi sebelum berkata, "Kau benar. Aku masih bisa menghubunginya."
"Aku suka iri padamu gara-gara itu," Sarah tertawa pelan, "aku merasa kalau ibumu sangat perhatian. Nyaris setiap malam dia menghubungimu untuk menanyakan kabarmu."
Bukan menanyakan kabarku, Sarah. Mereka hanya ingin memastikan kalau aku melakukan semua yang mereka perintahkan.
"Kau di sini malam-malam apa karena ibumu baru saja meneleponmu?"
"Itu benar. Kami mengobrol di sini sampai lupa waktu."
Nyatanya berpura-pura itu sangat melelahkan. Nada suara Aria datar nyaris tanpa emosi. Namun air mata yang membayang di pelupuk matanya mengatakan hal lain. Setelah menyadari adanya perbedaan antara kata dan sorot mata, Sarah tahu kalau sahabatnya sedang berupaya menyembunyikan sesuatu.
"Hei, kau kenapa?" Sarah melongok menatap Aria supaya ekspresi wajah sahabatnya terlihat lebih jelas.
"Kenapa memangnya? Aku tidak kenapa-kenapa."
Sarah tersenyum sebelum meluruskan pandangannya lalu mendesah. Gadis itu tahu sahabatnya yang tertutup ini tidak akan mengatakan apa-apa meski dipaksa. Makanya Sarah mengiyakan saja ketika Aria berkata bahwa dia tidak apa-apa walau tidak bisa dipungkiri Sarah tetap merasa kecewa. "Aku sering merasa kalau kau sedang menyembunyikan sesuatu."
Hening merangkak seiring berjalannya waktu.
"Aku tahu kalau kau masih belum mempercayaiku sehingga kau lebih memilih diam dan memendamnya sendiri."
"Sarah..."
"Kau tidak perlu merasa bersalah padaku, Rin. Tidak apa-apa, kok." Sarah tersenyum, menepuk lembut bahu Aria sebelum menjauh dari pagar. "Hujan lagi. Sebaiknya kita berdua masuk." Sarah menarik tangan Aria lalu pindah ke belakang Sang Sahabat. Gadis itu meletakkan kedua tangannya di bahu Aria, memaksa Aria berjalan dengan cara yang lembut.
Sarah terkejut mendapati di bawah telapak tangannya bahu ringkih Aria gemetar. "Aerin? Kau menangis?"
Aria menggelengkan kepala, kontras dengan getaran di bahunya yang semakin hebat.
"Astaga, Aerin... sebenarnya kau sedang ada masalah apa?"
Sarah cemas bukan main. Ini pertama kalinya dia melihat Aria menangis sesedih ini. Isakannya terdengar begitu pilu, seolah-olah sudah teramat letih oleh sembilu yang terus mengiris kalbu.
"Maaf," desis Aria di sela-sela tangisan. Ketika Sarah bertanya padanya kenapa dia meminta maaf, lagi-lagi Aria menggelengkan kepala sementara air mata membuat wajah cantiknya terlihat menyedihkan.
"Maaf karena aku tidak bisa memberitahumu kalau aku bukan Aerin tetapi Aria," bisik Aria dalam hati.
Sarah masih berusaha menghibur sahabatnya dengan memberinya pelukan dan memberinya usapan lembut di punggung. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Rin?
Benar! Sebenarnya apa yang dialami Aria sampai dia terluka separah ini?