Sky Village, Hannam-dong, Seoul. Rumah keluarga Kim lima belas tahun yang lalu.
Denting lagu dari tuts-tuts piano yang kini tengah menyenandungkan Moonlight Sonata milik Beethoven mengalun merdu memanjakan telinga. Jemari kecil itu terus menari dengan lihai, kedua matanya terpejam erat ketika jiwa yang dia miliki seakan melebur bersama nada-nada indah yang mengudara, sedangkan tarikan tipis di kedua sudut bibirnya seumpama lembayung senja yang mampu membuat orang ikut tersenyum.
Di seberang ruangan, pria bernama Johan Kim yang memiliki profesi sebagai komposer lagu itu berjalan mendekati istrinya yang sedang berdiri sambil memandangi putri mereka dengan penuh kekaguman. Tangan kekarnya melingkar di pinggang ramping Mina, sementara satu kecupan manis di pipi merajuk meminta setitik atensi.
"Dia hebat sepertimu." Suara lembut Johan berbisik tepat di telinga Sang Istri. Mina pun menoleh menatap wajah tampan milik pria yang dia nikahi tujuh tahun lalu diiringi lengkung manis di bibir yang mengintip malu-malu hingga lekuk anggun di kedua pipi halus itu terbentuk.
"Dia juga hebat sepertimu, Sayang. Putri kita tidak hanya cantik. Dia juga pintar dan berbakat. Kau tahu? Aku baru mengajarkan lagu itu padanya sekitar dua hari yang lalu. Tapi sekarang dia sudah bisa memainkannya sendiri. Bahkan aku rasa, dia lebih mahir dariku."
"Siapa dulu ibunya," puji Johan, sebelum menghela napas panjang seraya mendongakkan kepala.
"Kenapa?"
"Aku tidak menyangka kalau malaikat akan turun dan tinggal di rumahku." Kernyit yang terbentuk di kening Mina membuat Johan tersenyum. "Kalian berdua adalah malaikat yang dianugerahkan kepadaku. Aku benar-benar merasa beruntung."
Kata-kata manis dari bibir Johan seperti madu yang keluar dari mulut lebah. Manis, candu, dan membuat tersipu hingga semburat merah jambu di pipi Mina mekar bagaikan bunga di musim semi. Wanita cantik itu terkekeh pelan, dengan lembut melepaskan rangkulan tangan suaminya sebelum berbalik menatapnya dan memberikan kecupan singkat di bibir.
"Pantas."
Johan mengernyit. "Apanya yang pantas?"
"Pantas saja kata-katamu manis. Bibirmu pun manis."
Pria bermata biru itu tersenyum lebar hingga deretan giginya yang putih terlihat. "Sejak kapan kau pintar menggombal?"
"Tentu saja sejak menikah denganmu. Kau 'kan raja gombal."
"Jadi, apakah sebentar lagi aku akan memiliki adik?"
Johan dan Mina lantas menoleh ke arah putri mereka. Sambil tersenyum polos, Aria kembali berkata, "Kata temanku, tanda-tanda kalau kau akan segera memiliki adik salah satunya adalah ketika kau melihat kedua orang tuamu semakin sering bermesraan."
Senyum geli tertahan di bibir dua sejoli itu. Sempat saling bertukar pandang, Johan maju mendekati putrinya. "Tuan putri, siapa yang berkata seperti itu kepadamu?"
"Tentu saja Niki. Dia memberitahuku kalau di perut ibunya ada adik bayi. Lalu setelahnya, Niki berkata seperti itu kepadaku."
"Oh, begitu, ya."
Aria mengangguk. "Jadi, apa itu benar?"
"Eum... bagaimana, ya?" Johan menunjukkan ekspresi sok berpikir keras sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di bibir.
Terlihat tak sabar, gadis kecil nan cantik itu pun meletakkan kedua tangannya di pipi Sang Ayah seraya merajuk manja. "Ayolah, Ayah. Aku ingin punya adik. Niki saja punya adik. Kenapa aku tidak?"
"Untuk itu," Johan lantas mengangkat tubuh putrinya ke dalam gendongan, "kita harus bertanya pada ibumu dulu. Apa ibumu bersedia mengandung seorang bayi supaya kau punya adik? Kalau ibumu bersedia, Ayah pasti akan berusaha lebih keras lagi."
Menuruti perintah sang ayah, Aria yang kini diajak Johan mendekati Mina pun bertanya kepada ibunya persis seperti yang diajarkan Johan kepadanya barusan. Wajah imut putrinya membuat Mina tertawa renyah. Namun ketika dia melirik ke arah Johan, senyum sensual yang tersungging di sana membuat Mina merasa sedikit ketar-ketir.
"Eum... baiklah. Kalau Aria mau punya adik, ibu dan ayah akan berusaha memberikannya untukmu."
"Benarkah?"
" Tentu saja, Sayang."
"Wah, asyik!" Aria mengepalkan kedua tangannya dengan penuh semangat. "Nanti kalau adiknya sudah jadi, aku juga mau pamer pada Niki! Aku akan berkata padanya kalau bukan dia saja yang akan memiliki seorang adik!"
Celoteh tanpa dosa itu membuat Johan gemas. Laki-laki bermata biru itu mengusap lembut puncak kepala putrinya sebelum mendaratkan satu kecupan sayang.
"Karena latihan pianonya sudah selesai, ayo kita makan malam. Makanannya sudah Ibu siapkan di meja."
...
"Ayah, bukankah hari ulang tahunku sudah dekat?"
Pertanyaan dari gadis kecil berumur lima tahun itu terlontar setelah makan malam selesai disantap. Setelah membasahi tenggorokannya dengan segelas air minum, Johan pun menjawab, "Itu benar. Kenapa, Sayang?"
Sebelum mengutarakan keinginannya, Aria turun dari kursi kemudian berjalan menuju tempat ayahnya duduk. "Aku merindukan nenek, Ayah. Bagaimana kalau kita merayakan ulang tahunku di tempat nenek. Bukankah sudah lama kita tidak pergi ke sana?"
Suasana tegang yang tidak disadari Aria tercipta begitu saja akibat permintaan sederhananya barusan. Kang Mina dan Kim Johan pun saling melempar pandangan, sementara rasa enggan merasuk ke dalam hati mereka berdua sebab suatu alasan.
"Nak, Ayah sedang ada pekerjaan. Jika kita pergi ke rumah nenek, nanti pekerjaan Ayah bagaimana?"
Johan mencoba memberi pengertian kepada putrinya. Bagi Aria yang pemikirannya masih belum dewasa, penolakan halus itu tetap saja mengundang kekecewaan. Gadis itu pun langsung mengerucutkan bibir. Rona keceriaan hilang dari wajahnya diikuti liquid bening yang lambat laun mulai menggenang di pelupuk mata.
"Bukankah di sana Ayah masih bisa bekerja? Ayah 'kan tinggal membawa peralatan musik Ayah ke sana. Lagi pula, kita sudah lama tidak main ke rumah nenek."
"Iya, Sayang. Ayah mengerti.
Tapi—"
"Sudah tidak apa-apa." Ketika Johan menoleh ke arah Mina dengan lekuk dalam di kening, wanita bersurai hitam legam itu hanya tersenyum simpul sambil mengangguk pelan. "Pergi ke rumah nenekmu bukan ide yang buruk, kok."
"Tapi, Mina—"
"Ayah..." Aria kembali merajuk, "Ibu saja sudah setuju. Masa Ayah tidak? Boleh, ya?"
Johan seperti dihadapkan pada sebuah pilihan berat. Jika istrinya tidak keberatan menuruti keinginan putri mereka untuk pergi berlibur ke kampung halamannya, Johan sedikit bertentangan dalam hal ini. Di desa mereka, sudah menjadi rahasia umum kalau adik tiri Johan yang bernama Yordan jatuh cinta kepada istrinya. Sejak Johan membawa Mina untuk dikenalkan kepada ibunya beberapa tahun silam, Yordan tidak pernah bisa melupakan gadis itu meski dia tahu kalau Mina adalah calon adik iparnya yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan dengan sang kakak.
Perasaan terlarang yang Yordan rasakan kepada Mina berhasil pria itu sembunyikan dari penglihatan Johan. Namun pengekangan hati menjadi semakin sulit dilakukan karena berada dalam satu rumah bersama Mina selagi apartemen baru yang Johan beli di kota belum siap, membuat Yordan kelimpungan hingga pria itu pun nekat mengutarakan rasa cintanya kepada Mina yang tentu saja langsung ditolak mentah-mentah.
Cinta menggebu yang tak terbalas itu membuat Yordan gelap mata. Situasi rumah yang sepi karena Johan sedang mengantar ibu mereka ke rumah sakit, seakan menjadi faktor pendukung yang membuat Yordan semakin berani. Pria itu pun berusaha menodai Mina supaya sang kakak merasa jijik kepada istrinya kemudian menceraikannya.
Niat b***t itu nyaris saja terlaksana jika Johan tidak kembali tepat waktu. Johan yang marah besar setelah melihat niat busuk adik yang dia sayangi, langsung menghajarnya tanpa ampun. Kekecewaan yang menyayat hati serta kemarahan yang meluap-luap membuat Johan nyaris membunuh Yordan dengan pukulan bertubi-tubi.
Ibunya yang mencoba menengahi pertikaian tersebut tetapi kewalahan karena perbedaan kekuatan, segera berlari keluar dan berteriak meminta tolong supaya para tetangga mau membantunya memisahkan Johan dan Yordan sebelum salah satu dari mereka tewas. Sejak saat itu, hubungan dua orang kakak beradik itu pun hancur. Setelah Johan dan istrinya angkat kaki dari rumah di hari itu juga, ibunya yang tak luput dari perasaan kecewa berinisiatif mengirim Yordan ke luar negeri untuk kuliah di sana. Dan yang menjadi masalahnya sekarang adalah, Johan mendapat kabar dari ibunya kalau sang adik sudah kembali ke kampung halamannya dua bulan yang lalu.
Johan khawatir obsesi adiknya kepada istrinya masih belum hilang. Maka dari itu, Johan benar-benar merasa keberatan ketika Aria mengajaknya berlibur ke sana, sedangkan dia tidak bisa menjelaskan duduk perkara yang membuatnya enggan kembali ke kampung halaman.
"Baiklah. Kalau begitu, ayah akan mengantarmu ke rumah nenek. Tapi ibumu tidak ikut."
"Kenapa begitu?"
"Ada konser musik klasik di pusat kebudayaan. Ibumu akan berpartisipasi di sana. Jadi dia harus sering-sering latihan."
"Ah... Ayah.... Bagaimana bisa ulang tahunku tidak dihadiri salah satu dari kalian."
Isak tangis putri mereka membuat Johan semakin galau. Mina yang sedari tadi diam mulai menghela napas panjang sebelum mendekat ke arah Johan lalu menyusurkan tangannya di bahu lebar suaminya. "Sudah, tidak apa-apa. Kita bisa ke rumah ibumu dan menginap di sana selama dua hari. Ibumu juga sering bilang padaku kalau dia merindukan cucunya. Tidak enak jika terus-terusan beralasan."
Dengan berat hati, Johan pun terpaksa mengiyakan permintaan dari istri dan anaknya untuk pergi ke kampung halaman walau di dalam hati kegelisahan datang menghampiri.
...
Sesuai dengan rencana yang dicanangkan di awal, Johan sekeluarga hanya menginap selama semalam di rumah ibunya. Di sana mereka bertemu dengan Yordan, tetapi tidak banyak bicara dengannya karena Yordan terlihat sangat tidak bersahabat kepada Johan dan Mina, meski dia masih menunjukkan sikap baik di hadapan keponakannya yang sering dia puji cantik seperti Mina.
Johan yang saat itu sedang menyetir mobil menuju Seoul, berulang kali melirik ke arah Mina yang tampak lebih diam dari biasanya. Lewat kaca spion, Johan melihat sambil lalu ke arah Aria yang sedang tertidur pulas di bangku belakang sebelum menoleh kembali ke istrinya. "Ada apa? Kenapa kau terlihat murung?"
Mina terkesiap, tertarik dari lamunan sesaat dan menoleh ke arah Johan. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedang fokus memperhatikan jalan."
"Apa adikku mengganggumu lagi?" tanya Johan to the point.
"Tidak. Dia tidak menggangguku."
Dusta itu terlalu kentara. Sayangnya Johan tahu kalau istrinya tidak akan berkata apa-apa kepadanya jika tidak dipaksa dan dibujuk terus-terusan. Johan pun melambatkan laju kendaraannya sebelum memutar kembali arah tujuan mereka.
"Sayang, kenapa putar balik?"
"Aku akan menghajar Yordan karena dia masih saja berani mengganggumu."
"Jangan! Aku tidak apa-apa. Sungguh!" Mina panik setengah mati. Karena bagaimanapun, perkelahian antara Johan dan Yordan dahulu membekas begitu dalam di hatinya. Dia tidak mau hal buruk itu terulang. Tapi kata-kata yang diucapkan Yordan kemarin, tak bisa bisa dipungkiri berhasil mengganggunya hingga perasaan gelisah tak bisa dia sembunyikan lama-lama.
"Jelas sekali kau tidak sedang baik-baik saja. Kenapa berbohong?"
Di tengah perdebatan kecil mereka, beberapa pengendara motor yang melaju berlawanan arah tiba-tiba datang dan mengepung mobil Johan. Menggunakan tongkat baseball, lima orang laki-laki yang menutupi wajah mereka dengan helm hitam tanpa ragu memukul kaca mobil Johan hingga hancur dan memaksanya turun. Pukulan di kepala Johan, serta bekapan obat bius yang diterima Mina dan Aria membuat mereka tak berdaya.
Sesuai mandat dari orang yang menyewa jasa mereka, mobil Johan diambil alih dan para korban di bawa ke tepi hutan yang sepi. Di sana, Yordan yang sudah menunggu kehadiran para anak buahnya pun langsung tersenyum puas begitu melihat orang-orang buruannya berhasil ditangkap.
Dari bibir Yordan, asap cerutu mengepul ke udara. Langkahnya yang santai namun mengancam mendekat ke arah Mina yang masih pingsan. Sambil memegang dagu wanita yang sudah lama menjadi obsesinya, Yordan berkata, "Setelah sekian lama, akhirnya kita bertemu lagi, Cantik."
...
Seringai layaknya Lucifer tersungging di bibir Yordan. Mata pria itu mulai menelusuri tubuh Mina dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan kurang ajar, sementara aura bengis terpatri di raut wajahnya yang sudah segelap dosa. Tak seperti Johan dan putrinya yang dibiarkan berada di dalam mobil sebelum dieksekusi dengan dijatuhkan ke dalam jurang, Mina yang memang menjadi sasaran utama rencana busuk sang adik ipar itu dibawa masuk terlebih dahulu ke dalam hutan tepat setelah Yordan memberikan kode kepada dua orang pria yang menahan tubuh Mina melalui entakan kepala.
"Baringkan saja tubuhnya dibalik pohon besar itu," titah Yordan, melirik sambil lalu ke arah anak buahnya yang berdiri di belakang.
Pria yang menggendong Mina pun maju melangkahi semak belukar yang tak terlalu tinggi, kemudian merebahkan tubuh tak berdaya Mina tepat di bawah salah satu pohon pinus yang tumbuh berdekatan dengan pohon lainnya. Sekembalinya pria itu di sisi Yordan usai melaksanakan perintah, Yordan segera mengeluarkan amplop tebal berisi uang dari balik jaket hitam yang dia kenakan. "Ambillah. Ini bonus untuk kalian. Sisanya akan aku berikan jika mereka semua sudah selesai dibereskan."
"Terima kasih, Tuan. Senang bekerja sama dengan Anda," jawab orang suruhan Yordan sambil tersenyum lebar, sesekali melirik ke segepok uang yang berada di genggaman tangannya.
Mata Yordan kini tertuju ke arah Mina yang rebah di atas rerumputan basah bekas hujan tadi sore. Disirami cahaya bulan purnama sebagai satu-satunya pelita yang bisa diandalkan di tengah hutan gulita, Mina dan ketidakberdayaannya bagaikan darah segar yang tidak akan pernah ditolak oleh drakula. Darah panas berdesir di bawah kulit Yordan, gelora membuat napasnya berat, sementara nafsu yang bergulung-gulung di dalam jiwa telah membutakan mata hati dan melumpuhkan akal sehat.
Penolakan halus yang dilakukan oleh Kang Mina beberapa tahun lalu, ternyata berhasil menorehkan luka yang begitu dalam sekaligus menjatuhkan ego Yordan sebagai laki-laki yang tidak pernah meraih kata gagal dalam menaklukkan hati wanita, hingga dia nekat berusaha menodai istri kakaknya sendiri yang berujung pukulan keras, permusuhan kental, serta pengusiran halus dari sang ibu yang dia anggap sebagai tindakan pilih kasih.
Selama dia berada di negeri orang, kemarahan serta kebencian yang berkobar di dalam dadanya terhadap Mina dan Johan terus berkembang alih-alih surut apalagi lupa. Obsesi yang Yordan rasakan kepada Mina terlebih lagi setelah dia mengetahui bahwa Mina adalah gadis yang selama ini dia cari-cari, kini telah berubah menjadi kanker ganas yang perlahan tapi pasti membunuh empati.
Meski Mina adalah gadis yang dahulu pernah menolongnya ketika Yordan sedang menjadi samsak hidup bagi segerombolan preman gara-gara menolak memberikan uang, meski Mina adalah sosok gadis yang selama ini dia cari-cari setelah pertemuan tak sengaja mereka saat Yordan masih duduk di sekolah menengah, meski Mina adalah gadis yang membuatnya masuk ke dalam euforia cinta pertama yang tak pernah bisa dia lupakan, meski Mina adalah istri dari kakaknya, menantu pertama ibunya dan ipar bagi dirinya, Yordan tidak lagi mempedulikan poin-poin itu saat dia mulai melucuti pakaian Mina dan berniat melakukan tindakan tak senonoh.
"Kalian berbaliklah ke belakang dan tetap di tempat kalian!" seru Yordan, sebelum dia benar-benar mengoyak harga diri Kang Mina tanpa belas kasih.