Di malam yang dingin dan sunyi, suara desahan Yordan ketika dia mencapai titik kenikmatan menjadi alunan erotis yang membuat kedua anak buahnya menelan saliva diam-diam. Bahkan setelah melakukannya berkali-kali, dahaga yang mendera Yordan seperti tidak terpuaskan. Tubuh pria itu masih bergerak selaras hasrat yang dia punya. Matanya memejam, dan bibirnya bergerilya ke tempat mana saja yang bisa dia jangkau. Barulah setelah dia mendengar suara ribut-ribut di tempat anak buahnya berada, Yordan menghentikan kegiatannya dan menoleh sambil menyipitkan mata.
Pria itu pun bangun sambil membenahi pakaiannya secara asal, kesal setengah mati karena kegiatannya harus terusik di saat dia hampir meraih puncak kenikmatan untuk yang ke sekian kali. Mendekat ke arah sumber suara, Yordan menyipitkan mata sebelum mengeluarkan senyum sinis begitu dirinya melihat Johan sedang berkelahi dengan dua anak buahnya.
"Wah... rupanya dia sudah sadar. Cepat sekali, ya?" katanya santai sambil menyalakan cerutu.
Perkelahian yang terjadi di depan matanya terus berlanjut. Yordan sangat menikmati pemandangan ketika Johan dipukuli hingga babak belur, karena kondisi Johan saat ini mengingatkan Yordan akan dirinya sendiri sewaktu sang kakak memukulinya tanpa ampun dahulu. Ketidakseimbangan tenaga, jumlah, serta kondisi Johan yang sejatinya masih dalam pengaruh obat bius membuat pria itu mudah untuk dibekuk.
Di bawah cekalan tangan orang suruhan Yordan, Johan dipaksa bersimpuh sementara Yordan berdiri pongah di hadapan sang kakak. "Kenapa?" Johan tersengal, pandangannya yang tajam naik dan mengunci mata adik tirinya. "Kenapa kau melakukan hal ini, Yordan? KENAPA?!" Teriakan keras dari Johan menggema seiring dengan angin malam yang menerpa dedaunan dan mengundang suara gemerisik.
Membuang cerutunya ke rerumputan basah kemudian menginjaknya sampai padam, Yordan mendekat ke arah Johan dengan kedua tangan tersembunyi di balik saku. "Kenapa? Kau tanya padaku kenapa?" Yordan memiringkan kepala dan berdecih jijik. "Apa kau tidak ingat kalau dulu kau pernah memukuliku sampai babak belur? Gara-gara kau juga, Ibu jadi mengirimku ke luar negeri dengan dalih supaya aku melanjutkan kuliahku di sana. Masa kau tidak ingat?"
"Jadi karena itu kau berbuat seperti ini?" Johan mendengus kasar. "Dasar, tidak waras. Kau memang pantas dipukuli karena kau berusaha melecehkan istriku. Jika saja Ibu tidak menghalangiku, kau pasti sudah aku bunuh!"
Perkataan Johan yang bernada ancaman mengundang decak meremehkan dari Yordan. Membuat Johan tertengadah dengan tarikan kuat di rambut, Yordan pun berkata, "Apa kau masih belum sadar situasi, hm? Yang ada bukan kau yang membunuhku, tapi aku yang membunuhmu. Huh!" Yordan melepaskan cengkeraman tangannya di rambut Johan dengan kasar, "dasar pecundang!"
"Cepat katakan di mana istriku. Jika kau memiliki dendam pribadi denganku, jangan libatkan istri dan anakku."
"Kau mencari istrimu? Itu," kepala Yordan mengentak ke belakang, ke arah pohon pinus tempat Mina masih tidak sadarkan diri dengan pakaian acak-acakan, "istrimu ada di sana. Sesuai dugaanku, tubuhnya benar-benar nikmat. Aku jadi ingin melakukannya lagi. Apa kau tidak keberatan menontonku bermesraan dengan istrimu secara live?"
Johan bukan hanya kehilangan napasnya, tapi hampir kehilangan dirinya sendiri. Semburan kuat amarah mengalir di seluruh vena pria itu setelah mengetahui bahwa Yordan sudah mengobrak-abrik harga diri wanita yang sangat dia cintai. Johan meronta, memaki, berteriak penuh amarah dan frustasi ketika dia berusaha melepaskan diri dan melonjak hendak berdiri, tapi kekangan yang dia terima di kedua tangan serta tekanan di kedua bahu bak kerangkeng yang memutus segala pergerakan.
"Beraninya kau berbuat keji kepada istriku! Kau benar-benar bukan manusia! Aku akan membunuhmu! Lepaskan aku! Penjahat kalian semua!" Perlawanan Johan yang bisa dikatakan tidak memiliki efek apa pun itu berbuah satu pukulan keras di rahang. Yordan pun terbahak dengan keras melihat Johan tersungkur tanpa daya sebab perbuatan anak buahnya, seolah-olah selama dia hidup, tidak pernah ada momen membahagiakan lain selain peristiwa yang terjadi saat ini.
"Kakakku yang malang. Sudahlah, jangan menghabiskan tenagamu untuk hal yang sia-sia. Kau hanya perlu berdiam diri di sini dan jadi anak baik. Bukankah itu yang selalu kau katakan padaku tiap kali aku dimarahi Ibu?" ucap Yordan setelah Johan tersungkur dan nyaris kehabisan napas.
"Tolong... tolong jangan sakiti istri dan anakku. Cukup aku saja yang menjadi sasaran kebencianmu."
"Kalau hanya kau yang menjadi sasaranku, tentu saja aku tidak akan merasa puas." Yordan diam sejenak ketika memoar menariknya kembali ke masa lalu. "Sejak kita masih kecil, Ibu selalu membelamu. Kau selalu menjadi prioritas Ibu yang paling utama. Sedangkan aku, tidak peduli apa yang aku lakukan, di matanya aku selalu salah. Selalu saja kau yang benar. Ibu selalu menoleransi kesalahan-kesalahan kecil yang kau lakukan. Dia tidak pernah memukulmu, mengucapkan kata-kata kasar kepadamu, atau membuatmu merasa tidak berharga. Tidak cukup menyabotase kasih sayang Ibu, kau juga merebut gadis yang selama ini aku cari-cari. Padahal aku duluan yang bertemu dengan Mina. Tapi kenapa malah kau yang menikah dengannya? Hidup memang tidak adil."
Rentetan kalimat yang sarat akan kekecewaan bersembunyi di balik nada suara Yordan yang tenang. Johan tidak memungkiri fakta bahwa hubungannya dengan sang adik tidaklah baik. Mereka kerap kali bertengkar hanya karena masalah sepele dan jarang bertegur sapa walaupun hidup bersama dalam satu atap.
Yordan yang oleh ibunya sering dibandingkan dengan Johan karena Johan lebih pintar, tidak banyak tingkah dan tidak pernah membuat masalah, lama kelamaan merasa minder, iri, dan cemburu kepada sang kakak tiri yang kata ibunya harus dia contoh jika ingin lebih diperhatikan. Sebab hal itu, Yordan merasa tidak disayangi, disisihkan, dan tidak dipedulikan oleh satu-satunya orang tua yang dia miliki.
Sifat Johan yang dewasa, suka mengalah, dan sering meminta maaf duluan kepada Yordan meski bukan dia yang memulai pertengkaran, justru semakin membuat Yordan muak. Akumulasi dari perasaan insecure yang terpendam di dalam hatinya terus menumpuk seiring berjalannya waktu. Dan puncak dari semua perasaan negatif itu adalah ketika Yordan mengetahui bahwa sang kakak akan menikahi gadis yang dia sukai, sementara dirinya yang saat itu sedang kuliah di luar negeri tidak bisa melakukan apa pun untuk mencegahnya.
"Jangan memutarbalikkan fakta, Yordan! Kenapa kau selalu menyalahkan orang lain atas kemalangan yang menimpa dirimu? Dengar, Ibu sama sekali tidak pernah pilih kasih terhadap kita. Kasih sayang yang Ibu berikan kepada kita berdua itu sama! Lalu tentang Mina, jika ternyata dia adalah gadis yang dulu kau sukai, kenapa kau tidak berjuang untuk mencari dan mendapatkannya! Kau tidak pernah berusaha mendapatkan kebahagiaanmu sendiri. Kau tidak pernah berusaha meraih impianmu dengan tanganmu sendiri. Dan sekarang, kau malah menyalahkan orang lain atas semua kekecewaan yang kau dapatkan!"
Senyum mencemooh yang tersungging di bibir Johan menciptakan magma yang meletup-letup di dalam diri Yordan, sampai-sampai dia merasa kalau sebentar lagi mulutnya akan memuntahkan lava panas. Kepalan tangan Yordan mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara geraman rendah tertahan dari pria itu sudah seperti ultimatum tanda bahaya. Di detik selanjutnya, Yordan merangsek maju memukuli Johan layaknya orang yang sedang kesetanan.
"Diam kau! Tahu apa kau! Kau yang selalu mendapatkan pembelaan dan kasih sayang, tidak akan pernah mengerti rasa sakit yang aku rasakan!"
Hujan pukulan masih terus berlanjut. Suara rintih kesakitan, derak rahang yang patah, serta kata-kata umpatan yang keluar tanpa henti dari bibir Yordan ketika dia menghajar Johan secara membabi buta perlahan-lahan mulai menarik kesadaran Mina. Wanita itu mengerjapkan mata. Mengernyit ketika hantaman palu terasa begitu nyata di kepala, sedangkan bibirnya mengeluarkan desis halus akibat rasa nyeri yang dia rasakan di sekujur tubuh terutama di bagian sensitif miliknya.
Untuk sepersekian detik dalam usaha keras Mina memindai situasi yang belum dia pahami, suara memelas Johan yang diselingi suara tangis putrinya ketika dia meminta agar pamannya berhenti memukuli ayahnya, menjadi cambuk yang memaksa kedua mata Mina terbuka lebar. Dalam remang cahaya bulan, wanita itu menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum berhenti di satu titik. Jantung Mina seperti terkena sengatan listrik tegangan tinggi tatkala dirinya melihat Johan yang kini sedang memeluk protektif tubuh putri mereka berada di bawah todongan revolver yang diacungkan oleh Yordan.
Wanita itu sontak berlari ke arah suami dan anaknya. Lalu ketika Mina memeluk Johan yang kondisinya terlihat sangat menyedihkan, sorot mata keji dari Yordan berubah semakin gelap. "Minggir!" Suara rendah penuh ultimatum dari Yordan membuat Mina tertengadah menatapnya. Namun alih-alih menatapnya seperti kelinci yang sedang ketakutan, wanita yang duduk bersimpuh tak jauh dari hadapan Yordan itu justru menantang maut dengan mengangkat dagunya tinggi-tinggi serta mengunci mata Yordan dengan aura kebencian yang mendalam.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berbuat seperti ini kepada kami!" bentak Mina bersama air mata kemarahan yang tertahan.
"Kau ini ternyata bodoh seperti suamimu, ya? Tentu saja aku sedang balas dendam kepada kalian."
"Kau balas dendam karena dulu aku menolak cintamu? Kau benar-benar tidak waras!"
"Aku sudah tidak waras dari dulu," Yordan mengedikkan bahu tidak peduli, "suamimu dan ibunyalah yang membuatku begitu."
"Ah, kau juga membuatku semakin menjadi-jadi," ralat Yordan cepat-cepat.
Di akhir kalimat, moncong revolver yang tadinya berada tepat di tengah kening Johan, kini berpindah ke pelipis Mina. Tangis Aria semakin keras bersama tubuh yang menggigil hebat karena ketakutan, sedangkan Johan yang hendak melawan di sisa-sisa tenaga yang dia miliki kembali di blokade oleh para anak buah Yordan.
"Yordan, cepat lepaskan anak dan istriku," pinta Johan sambil terengah-engah di tengah kesadaran yang kian menipis, "aku akan melakukan apa pun yang kau minta asalkan kau mau membebaskan mereka. Kumohon... apa pun... apa pun yang kau minta, akan aku penuhi semuanya."
"Hm, bagaimana, ya? Tawaranmu boleh juga. Sebentar, aku pikir-pikir dulu." Dengan gaya sok sedang berpikir keras, Yordan menimbang-nimbang usul dari Johan tetapi tidak mengendurkan pengawasannya dari Mina. "Kalau begitu, tetaplah di sini sebelum aku membunuhmu. Dan kau," menggunakan ujung revolver, Yordan mengangkat dagu Mina, "cepat ikut aku!"
Tanpa menunggu persetujuan, Yordan langsung mencengkeram lengan Mina dan menariknya kasar. Sempat terjadi aksi tarik menarik tak seimbang antara Yordan dan Aria yang tidak membiarkan Ibunya dibawa pergi oleh Pamannya yang jahat. Hanya dengan satu sentakan saja dari Yordan, pegangan tangan gadis kecil itu pun terpisah dari sang ibu. Mina lantas dibawa ke tempat yang tak begitu jauh, sehingga Johan dan putrinya masih bisa menyaksikan dengan jelas apa yang akan dia lakukan kepada Kang Mina.
"So, jika kau ingin suami dan putrimu selamat, layani aku seperti kau melayani suamimu. Mudah, kan?" Yordan menyeringai sedangkan Mina terkesiap mendengar permintaan gila dari adik iparnya sendiri.
"K-kau... kau benar-benar tidak waras, Yordan! Kau bukan manusia! Kau monster!" Mina terus melangkah mundur sedangkan Yordan terus mengikuti Mina seiring langkah yang dibuat oleh wanita itu, seolah-olah dia adalah harimau yang senang membuat mangsanya tersudut. Sialnya, perasaan takut yang menjadi-jadi membuat Mina nyaris tak bisa bergerak.
Perasaan putus asa yang tidak pernah Mina rasakan membuat tangis wanita itu kian deras, takut setengah mati kalau Yordan benar-benar akan menodainya tepat di hadapan suami dan anaknya sendiri. Sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan tubuh, Mina berkata dengan suara penuh iba.
"Tolong... jangan lakukan itu padaku. Tolong lepaskan kami, aku mohon.... Kau boleh mengambil harta benda yang kami miliki. Tapi jangan... jangan..." Mina tersekat, tidak sanggup melanjutkan kata-katanya sendiri karena membayangkannya saja pun sudah ngeri.
"Jangan apa, Sayang. Apa di alam mimpimu, kau tidak bisa merasakan sentuhanku? Aku melakukannya berkali-kali loh tadi."
"A-apa?" Mina tercengang, membeku, terbelalak.
Jadi hal itukah yang menjadi penyebab rasa nyeri di tubuhku?
Mina melirik kembali ke arah pakaiannya yang acak-acakan, sebelum refleks memeluk dirinya sendiri dan histeris sejadi-jadinya seraya memukuli Yordan—pukulan yang sama sekali tidak menyebabkan rasa sakit apa pun di tubuh sang adik ipar.
"Teganya kau! Aku ini istri kakakmu sendiri! Bisa-bisanya kau berbuat seperti itu!"
Untuk sementara waktu, Yordan membiarkan Mina memukuli dan menamparnya sepuas hati. Untuk menanggapi sesuatu yang dia rasakan sebagai cubitan kecil tak berarti, Yordan justru tertawa terbahak-bahak sebelum mengekang kedua tangan Mina dalam satu kali tangkap lalu merobohkan wanita itu ke tanah. Aksi tak bermoral Yordan pun terjadi di depan kedua mata Johan yang berteriak seperti orang gila, dan Aria yang menangis tak karuan.
Perbuatan Yordan tak hanya terjadi sekali. Bahkan setelah mendapat klimaks pertama, Yordan kembali mengejar kenikmatan lagi hingga Mina benar-benar tak berdaya di bawah kuasa mengerikan pria yang berada di atas tubuhnya. Selang beberapa waktu, suasana di sekitar mereka berubah cukup hening. Tidak lagi terdengar suara Mina yang meronta-ronta meminta Yordan menghentikan kegilaannya, pun dengan sumpah serapah yang terus menyembur dari bibir Johan.
Yang ada di sana hanyalah isak tangis dari Johan dan Aria ketika mereka harus melihat orang yang mereka cintai mendapat perlakuan tidak manusiawi sedangkan mereka sendiri tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Yordan berjalan mendekat ke arah Johan sambil menaikkan resleting celananya yang turun, seolah-olah dia ingin pamer kepada Johan bahwa apa yang hanya bisa menjadi milik Johan, nyatanya bisa dia nikmati pula.
"Hm... leganya. Tenang saja. Istrimu akan aku lepaskan jika aku sudah bosan kepadanya. Dan sekarang," Yordan mengeluarkan kembali revolver yang sempat dia simpan kemudian mengokangnya, "nikmatilah kematianmu."
Johan yang merasa dunianya hancur tak berbentuk, harga dirinya diinjak-injak, tidak berdaya dan sangat lemah, sudah sampai ke titik di mana dia pasrah dengan apa pun yang akan adik tirinya lakukan kepadanya. Johan bergeming dengan kepala tertunduk dalam, sedangkan jari telunjuk Yordan bersiap menarik pelatuk revolver yang dia pegang.
Aria yang tidak terima melihat ayah dan ibunya disakiti, berinisiatif memanfaatkan celah di mana dia lepas dari pengawasan anak buah pamannya yang biadab untuk beringsut ke belakang dan mengambil tongkat baseball yang berada tak jauh darinya. Di saat yang tepat, Aria mengayun tongkat tersebut ke tangan Yordan hingga benda itu terlempar.