Walau sudah mengetahui kebenarannya, Naufal bersikap biasa saja di sekolah. Ia tidak berniat untuk memutuskan Lusi karena ia akan membalas perbuatan gadis itu secara perlahan, namun membekas.
“Naufal!” suara ceria Lusi membahana di seluruh lapangan basket. Sudah ada satu botol air minum yang ia bawa untuk diberikan pada sang kekasih. “Buat kamu!”
“Gue udah minum.”
“Iya udah. Buat nanti!” Lusi meletakkan botol tersebut di sebelah Naufal. “Keringat lo banyak,” Lusi mengambil alih kain yang tadinya dipegang Naufal. Ia mengusap kepala Naufal pelan, namun pasti.
“Lus, beliin gue makanan di kantin. Gue laper.” Pinta Naufal mendadak.
Lusi terhenti. “iya. Mau makan apa?”
“Bakso sama es teh. Lo yang bayar, boleh?”
“Boleh dong! Masa sama pacar sendiri gak boleh. Aku pamit ke kantin kal