Sore itu di Plaza Indonesia, cahaya matahari yang mulai turun memantul lembut di dinding kaca restoran Serunai Rasa, membuat suasana terasa hangat dan tenang.
Di meja dekat jendela, Lily dan Mama Jani sedang memesan makanan. Mereka sudah lapar lagi. Makan siang jam setengah dua belas sebelum berangkat tadi ternyata terlalu cepat, sementara seharian dihabiskan untuk ke salon dan berkeliling mall.
"Saya ulang ya, Mbak. Satu ayam cabai garam, satu beef blackpepper, satu pokcoy garlic, tahu isi udang, dua nasi. Minumnya es jeruk sama air mineral."
"Ya, betul. Terima kasih," jawab Lily sambil tersenyum tipis.
Pelayan itu pergi membawa iPad berisi pesanan mereka.
Mama Jani kembali melirik Lily yang sedari tadi lebih banyak diam. Bahkan sebelum memesan makanan, anaknya itu terlihat beberapa kali melamun.
"Kok diem aja sih, Teh?" tanyanya santai sambil merapikan ujung blouse.
Lily yang sedang melihat ponselnya langsung mengangkat wajah.
"Nggak juga."
Padahal pikirannya sedang penuh.
Pertemuan dengan Raffi dan keluarganya tadi terus terbayang di kepalanya. Bukan karena mengkhayal macam - macam, hanya saja semuanya terasa terlalu hangat untuk orang yang baru kenal.
Cara Oma Gia tersenyum padanya, lalu mengajaknya mampir ke rumah, membuat Lily heran sendiri. Apa semua oma - oma memang seramah itu, ya, sama teman cucunya?
Tapi rasanya tidak juga.
Buktinya, Nininya sudah berkali- kali bertemu Angga dan belum pernah sekali pun diajak main ke rumah di Kebayoran, padahal mereka pacaran sudah lama.
Belum lagi tatapan Oma Gia yang terasa tulus dan penuh keramahan tadi.
Lily buru - buru mengambil tumblr dari dalam tote bag-nya lalu meneguk air putih sedikit, seolah ingin mengusir pikirannya sendiri..
Tapi rupanya Mama Jani juga belum selesai memikirkan keluarga Raffi tadi.
"Teh ..." panggilnya tiba - tiba.
"Hm?"
"Oma sama Mamanya Raffi cantik, ya ..."
Lily langsung menatap mamanya. Mama Jani terlihat benar - benar serius memikirkan itu.
"Mama juga cantik."
"Ckk ... Mama lagi ngomongin keluarganya Raffi."
"Hmm .."
"Mirip sama Raffi. Nurun dari omanya kayaknya ya. Tapi kok nggak mirip sama Vina, sih, Teh?"
Lily spontan terkekeh kecil, ternyata mamanya mengingat jelas wajah Vina, dan ia tidak menyangka mamanya masih membahas silsilah keluarga Raffi.
"Vina itu sepupu Raffi dari papanya, Ma. Papanya Vina adik papanya Raffi. Jadi kalau mama bilang Vina nggak mirip Raffi ya wajar aja. soalnya Raffi kan mirip keluarga mamanya."
"Oh pantes ..."
Mama Jani mengangguk - angguk kecil seperti baru mendapatkan jawaban penting.
"Udah ya, Ma. Jangan dipikirin lagi deh. Aku tuh nggak ada apa - apa sama Raffi, dan nggak pernah ada apa - apa."
Mama Jani malah menatapnya lebih dalam.
"Teteh belum move on emangnya dari si Angga itu?"
Pertanyaan itu membuat Lily diam beberapa detik. Bukan karena ia sakit hati, tapi nama Angga memang selalu membawa rasa kesal yang malas untuk dibahas.
Ia memundurkan tubuh ke sandaran kursi lalu menghela napas kecil. Mungkin memang bukan cuma mamanya yang berpikir seperti itu, mungkin papapnya, aa’ nya, adiknya .. pokoknya seluruh keluarganya berpikiran hal yang sama.
Soalnya ia cukup lama sendiri sejak hubungannya dengan Angga berakhir, dan sejak saat itu ia memang belum pernah terlihat dekat dengan laki - laki mana pun lagi. Dua adik sepupunya di Medan bahkan sudah menikah lebih dulu. Tapi bukan dia yang perawan tua, umurnya masih dipertengahan antara dua puluhan ke tiga puluhan, memang adik - adik sepupunya itu saja yang nikah muda karena ada alasan yang kuat, yaitu pasangan sudah ada.
Sementara ia masih sibuk dengan hidupnya sendiri. Tapi Lily tidak pernah merasa tertinggal, buatnya, menikah bukan perlombaan, dan ia pun tidak ingin buru - buru, karirnya baru saja dimulai.
"Bukannya aku nggak move on, Ma ..." katanya akhirnya pelan. "Aku cuma lebih selektif sekarang. Jangan sampai kejadian dulu terulang lagi. Lagian, aku kan lagi sibuk, ada waktu senggang dikit ya buat tidur atau jalan - jalan sama mama kayak gini."
Mama Jani menatapnya lembut.
"Waktu itu Teteh salah pilih laki - laki kayaknya ya, Teh?"
Lily tertawa hambar.
"Iya kayaknya, lagian mana aku tahu dia ternyata tukang selingkuh dari zaman dulu."
Suaraya memang terdengar santai, tapi jelas ada rasa pahit di sana, merasa tertipu.
"Kayaknya selingkuh itu emang penyakit yang nggak bisa hilang deh. Aku aja yang nggak tahu selama ini. Untung belum terlanjur nikah."
Mama Jani langsung menghela napas panjang.
Ia masih ingat bagaimana hancurnya Lily dulu meski anaknya itu berusaha terlihat kuat.
Tidak menangis berlebihan atau drama macam - macam. Tapi justru itu yang sempat membuatnya khawatir. Karena Lily memilih memendam semuanya sendiri.
"Udah nikah ya, dia?" tanya Mama Jani lagi.
Lily langsung tersenyum sinis.
"Aku nggak nanya."
"Nggak nanya? Maksudnya masih kontak?"
"Dia masih sempat WA aku."
Mama Jani langsung bereaksi cepat.
"Hah! Masih berani?"
"Tadinya nggak aku blokir karena aku pikir ya sudahlah, bodo amat. Tapi akhirnya aku blokir juga."
"Kenapa baru belakangan?"
"Mulai ganggu, soalnya."
Mama Jani langsung mendekatkan tubuhnya sedikit.
"Ganggu gimana, Teh?"
"Minta balikan lagi."
"Eh jangan mau!" Mama Jani langsung refleks setengah emosi. "Laki - laki kurang ajar gitu nggak boleh dekat - dekat keluarga kita lagi."
Lily tertawa kecil melihat ekspresi mamanya.
"Untung aja Papa, A' Bian, sama Yudha nggak dengar cerita ini," lanjut Mama Jani. "Bisa habis dia nanti."
Lily masih menatap mamanya sambil tersenyum geli.
"Siapa juga yang mau balikan sama dia? Aku nggak secinta itu juga, kali, Ma."
Ia berhenti sebentar lalu terkekeh kecil.
"Mungkin aku dulu cuma khilaf."
Mama Jani langsung nyeletuk cepat,
"Khilaf kok awet."
Lily spontan tertawa sampai menunduk.
"Ya ampun, Ma ... kenapa jadi sewot gitu, sih?"
Mama Jani ikut tertawa akhirnya..
"Udah ... mama jangan pikirin itu lagi. Nanti tensi naik."
Mama Jani akhirnya ikut tersenyum lagi.
Namun beberapa detik kemudian, seperti biasa, pembicaraan kembali berbelok.
"Tapi ..." katanya pelan sambil memegang ponselnya diatas meja,. "Raffi itu kayak anak baik deh, Teh."
Lily langsung tahu arah pembicaraan ini ke mana.
"Nggak mau coba dekat dulu, siapa tau nyambung?" tanya mama Jani.
"Nggak."
"Nggak atau belum mau?"
Lily mendesah panjang.
"Nggak naksir."
Mama Jani menyipitkan mata penuh curiga.
"Tapi dia naksir Teteh kayaknya."
"Ma ..." Lily langsung protes sambil tertawa geli. "Jangan ambil kesimpulan sendiri deh."
"Feeling aja."
"Ck ... percayalah, feeling orang lagi lapar itu suka ngaco."
Mama Jani malah tertawa semakin lebar.
"Bukan feeling lapar. Tapi karena Mama sempat lihat cara dia lihat Teteh tadi."
"Lihat apa sih, perasaan biasa aja."
"Waktu kita mau pisah tadi, dia kan senyum juga."
Lily yang tadinya santai langsung salah tingkah sendiri.
Untung saja saat itu pelayan datang membawa minuman mereka, jadi Lily bisa pura - pura sibuk menerima gelas pesanannya.
Padahal dalam hati, ia tahu Mama Jani tidak sedang mengarang.
Raffi memang beberapa kali memperhatikannya tadi. Tapi bukan seperti laki - laki yang sedang tertarik pada seorang perempuan yang diincar jadi pacar. Bukan tatapan penasaran, apalagi kagum seperti yang dipikirkan mamanya.
Lily tahu persis alasannya.
Sejak awal, Raffi sebenarnya bukan tertarik padanya. Laki - laki itu hanya terlalu sibuk menjadi mak comblang untuk omnya sendiri, Mahardika Atmaja.
Lagi - lagi nama itu kembali muncul begitu saja di kepalanya sampai Lily buru - buru meneguk minumannya.
Ia masih ingat jelas bagaimana semua kekacauan itu dimulai dua bulan lalu.
Untung saja Mama Jani tidak tahu cerita sebenarnya. Kalau sampai tahu dirinya pernah hampir dijodohkan diam - diam dengan duda kaya raya yang usianya jauh di atasnya, mamanya pasti sudah heboh duluan. Entah heboh senang atau heboh panik, dua - duanya beda tipis.
"Mama terlalu mikir macam - macam. Coba tadi Raffi cemberut, pasti pikiran Mama udah beda lagi."
"Ih nggak. Teh, serius deh."
Untung makanan mereka datang. Lily langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menghentikan pembahasan soal Raffi.
"Kita makan dulu yuk. Tadi katanya Mama lapar. Nanti kalau udah kenyang, baru bahas lagi. Aku yakin pendapat Mama juga udah beda."
Mama Jani tersenyum sambil mengambil lauk di hadapan mereka.
"Mama kalau udah yakin, ya yakin aja. Mau lapar atau kenyang, tetep sama," jawabnya santai.
Lily langsung tergelak kecil.
"Auk ah .." kata Lily lalu menikmati makanannya.
Gara - gara bertemu Raffi mamanya jadi heboh, bahkan ia tidak pernah mengingat Raffi sejak pertemuan mereka pertama dulu, yang terbayang malah si Om jutek itu.
Walau wajahnya juga mirip sama Oma Gia dan tante Heni, tapi kok tingkat keramahannya berbeda, ya?
Pikir Lily.
Mama Jani memperhatikan Lily.
"Nah kan dipikirin juga, percayalah kata mama. orang yang Teteh pikirkan itu akan muncul lagi, lihat aja nanti .. mau nggak sengaja kayak tadi, ataupun lewat WA dulu, pokonya pasti ketemu lagi," kata mama Jani yakin.
Lily tersenyum sambil menggelengkan kepala, yang muncul dipikirannya siapa, yang dipikiran mamanya siapa.
Mamanya benar - benar sudah salah kira.