"Teh."
Suara Mama Jani membuat Lily kembali mendongak.
"Ya, Ma?"
"Dokter Asta gimana? Ada kelanjutannya nggak?"
Lily langsung mengernyit heran.
"Dokter Asta? Kok tiba - tiba jadi Dokter Asta? Mama random banget, deh," jawab Lily sambil terkekeh dan geleng - geleng kepala, pertanyaan mamanya agak mengagetkan soalnya.
Tentu saja Lily heran, Mamanya mendadak membawa nama teman internshipnya dulu ke dalam obrolan sore ini, tidak ada angin tidak ada hujan.
Mama Jani tersenyum.
"Masih suka kontak nggak sama dia? Mama udah lama nggak dengar ceritanya," tanya mama Jani mengabaikan keheranan Lily.
"Bahkan aku udah lama banget nggak kontak. Ketemu aja dulu pas Internship udah mau selesai. Denger - denger dia sekarang di Makassar, keluarganya punya klinik di sana."
"Mama dulu sempat pikir kalian bakal jadian. Kan Teteh deket juga sama dia."
Lily menggeleng pelan sambil tersenyum kecil menatap makanannya.
"Deket biasa aja, Ma. Temen doang. Mana pernah aku deket lebih dari itu. Makanya agak aneh mama nanyain dia."
Nada suaranya santai, tanpa beban.
Mama Jani terdiam sebentar sebelum kembali bicara.
"Padahal orangnya baik, ya kayaknya."
"Hm."
Jawaban Lily pendek saja, ia tidak mau membahas lebih lanjut.
"Sama pilot mau nggak, Teh? Pasti temen aa' banyak."
"Nggak!"
Jawaban Lily langsung keluar cepat tanpa pikir panjang. Ia harus memotong sebelum mamanya makin jauh menjodoh - jodohkan dengan pilot.
Mama Jani malah tersenyum geli. Dari dulu Lily memang selalu bilang tidak mau punya pasangan pilot. Ia tidak suka ditinggal terus - menerus seperti mama dan kakak iparnya. Lily tidak suka sendirian di rumah, kecuali kalau memang terpaksa.
"Mama kenapa sih dari tadi ngomongin cowok terus?"
Mama Jani terkekeh santai.
"Namanya juga usaha. Mama udah pengen punya mantu lagi, deh kayaknya."
"Mama tenang aja. Jodoh nanti datang sendiri. Sekarang aja belum waktunya," ujar Lily mencoba menenangkan mamanya.
"Harus diusahakan juga, Teh. Kalau nggak ngapa - ngapain, gimana mau dapat pacar? Lagian mama nggak yakin nggak ada yang mau sama Teteh. Tetehnya aja .."
Lily tertawa kecil.
"Ngapa - ngapain tuh gimana sih, Ma? Aku juga sibuk di rumah sakit."
"Ya buka hati sama teman sejawat. Jangan serius terus mukanya."
"Kalau nggak suka atau nggak cocok, gimana mau buka hati? Namanya jadi maksa."
Mama Jani mengambil gelas minumnya lalu meneguk sedikit.
"Mama cuma pengen Teteh dapat laki - laki yang benar - benar sayang sama Teteh."
Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat d**a Lily terasa hangat.
Ia menatap wajah mamanya beberapa detik. Wajah yang masih terlihat terawat dan menenangkan untuk wanita seusia Mama Jani. Wajah yang selalu tampak adem di depan orang lain, padahal diam - diam paling khawatir memikirkan masa depan anak perempuan satu - satunya.
"Aku juga pengen bahagia kok, Ma. Jadi Mama nggak usah terlalu khawatir. Sekarang aku cuma butuh waktu supaya nggak salah pilih lagi kayak dulu," jawab Lily pelan.
"Tapi jangan nutup hati terus, mukanya jangan galak, senyum sedikit."
Lily tersenyum kecil.
Sebenarnya ia bukan menutup hati. Ia hanya belum siap kecewa lagi. Belum siap mengulang kesalahan yang sama. Rasanya ia masih takut percaya terlalu dalam, lalu dihancurkan lagi seperti dulu.
Namun sebelum sempat membalas ucapan mamanya, pelayan datang membawa tambahan makanan yang tadi dipesan Lily belakangan.
Mama Jani langsung berbinar.
"Wanginya enak banget."
Lily pun tertawa kecil melihat perubahan suasana hati mamanya yang cepat sekali. Baru beberapa menit lalu serius membahas jodoh, sekarang sudah sibuk memuji makanan.
Mereka melanjutkan makan malam yang terlalu cepat ini. Entah lapar atau memang hidangan didepan mereka terlalu mengugah selera, mereka sampai tidak bicara beberapa saat.
Lily pikir sudah aman pembicaraan soal pria, ternyata salah.
"Tapi jujur ya, Teh. Mama serius suka sama Raffi, orangnya kayaknya baek."
Lily hampir tersedak makanannya sendiri.
"Ma ..."
"Apa? Mama serius. Menurut kaca mata Mama, ya, Teh. Raffi itu Anaknya sopan, perhatian, jarang - jarang anak cowok mau jalan sama keluarganya kayak gitu, lihat aja Yudha."
"Yudha kan memang ajaib."
"Tapi keluarganya juga kelihatan baik, Omanya aja ngajak Teteh ke rumahnya,itu bukan basa - basi, Teh, kelihatan seriusnya, berarti sreg sama Teteh."
Lily menghela napas panjang. .
Dan selalu saja, saat mamanya menyebutkan Raffi dan keluarganya lagi ... yang muncul malah bayangan wajah Mahardika.
Padahal pria itu bahkan tidak ada di sana tadi. Tapi justru karena itu bayangannya terasa semakin mengganggu.
Lily langsung terbayang wajah Mahardika waktu pertama kali bertemu, tampang menyebalkan! Tatapannya berbeda dengan laki - laki lain seusianya yang mungkin lebih ramah dan dewasa. Wajah Om Dika menunjukkan seolah hidup sudah mengajarinya terlalu banyak hal.
Dan anehnya...di antara semua hal yang harusnya membuat Lily menjauh, justru ada sesuatu yang diam - diam membuatnya mendadak penasaran lagi.
"Kok malah bengong."
Suara Mama Jani membuat Lily langsung tersadar lagi.
"Nggak bengong."
"Mikirin Raffi ya?"
Lily langsung memijat pelipisnya pasrah.
"Astaga, Ma. Please stop ngomongin Raffi terus."
Mama Jani malah tertawa puas.
"Gemes ih! Mama lihat kalian cocok."
"Cocok dari mananya, sih? Mama ada - ada aja."
"Ya feeling aja."
Lily sedikit gemas, dari tadi mamanya bicara soal feeling terus yang jelas - jelas salah.
Lalu mereka melanjutkan makan lagi.
"Ma ..." panggil Lily tiba - tiba.
"Hm?"
"Kalau misalnya, ini baru misalnya ya ..."
Lily berhenti sebentar, membuat Mama Jani menatapnya penasaran.
"Apa."
"Kalau ternyata jodohku sama duda ... gimana menurut Mama?"
Mama Jani yang tadi mau mengambil daging langsung berhenti.
"Kok tiba - tiba nanya begitu?"
"Ya cuma kepo aja."
Mama Jani memperhatikan wajah anak gadisnya itu untuk beberapa detik.
Lily berusaha terlihat biasa saja, meski sebenarnya jantungnya sedikit tidak tenang setelah menanyakan itu, agak sedikit menyesal sebenarnya. Entah kenapa malah ia bertanya soal duda, duda siapa pula maksudnya?
Mama Jani lalu sedikit mundur dan bersandar pelan pada sandaran kursi, tentu saja sambil berpikir.
"Ya ... uhm kalau dudanya baik, pria yang bertanggung jawab, sayang sama Teteh, ya kenapa nggak?" jawab mama Jani, walau terdengar agak ragu.
Lily terdiam.
"Beneran nih mama nggak masalah kalo aku dapat duda? Ntar ribut lagi."
"Asal bukan duda yang aneh - aneh, ya nggak masalah."
Lily terlihat agak heran.
"Maksudnya duda aneh - aneh itu kayak apa, Ma?"
"Ya maksud mama tuh jangan duda yang cerainya karena KDRT atau selingkuh gitu, Teh. Redflag deh itu, jangan coba - coba dekat. Dan jangan yang masih sibuk sama masa lalunya juga. Ada aja yang nikah lagi cuma butuh pengganti istri. Jangan yang nyari ibu buat anaknya doang, ntar disuruh jadi pengasuh gratisan."
Lily tertawa.
" Ya kali ... aku juga nggak mau kalau cuma dimanfaatkan aja."
"Tapi kalo bisa yang cintanya kayak Papap, yang benar - benar cinta sama mama tanpa membawa kepentingan apapun, dan nggak perduli mau apapun kondisinya.."
Kalimat itu langsung membuat Lily tanpa sadar mengingat seseorang lagi, entah apa korelasinya sampai ia mengingatnya. Pria yang bahkan belum benar - benar ia kenal dan yang seharusnya tidak lagi ia pikirkan.
Lily mulai bertanya - tanya sendiri dalam hatinya,
'Kenapa ia menanyakan hal ini ke mamanya?'
"Memang ada Duda yang naksir Teteh?" tanya mama Jani lagi.
"Oh nggak kok ... nggak ada," jawab Lily agak gugup, dan ia cepat - cepat menggeleng sambil mengambil sendoknya lagi, berusaha terlihat santai.
"Tapi kok mendadak nanya soal duda?"
"Aku cuma iseng aja nanya. Pengen tahu batas persyaratan soal calon pendampingku nanti. Aku mau tahu batasan Mama sampai mana."
"Batasan mama?" ulang Mama Jani sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Iya ... bukannya setiap ibu - ibu juga punya kriteria calon menantu buat anaknya, ya?" kata Lily mencoba terdengar biasa saja meski dalam hati mulai sedikit panik karena mamanya menanggapi pertanyaannya terlalu serius.
"Aku penasaraan aja tanggapan mama, kira - kira kalau aku berjodoh sama duda, dibolehin apa nggak ... atau mama maunya aku sama perjaka aja?"
Mama Jani tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil gelas minumannya lebih dulu, menyeruput perlahan sambil berpikir jawaban terbaiknya. Jangan sampai ia salah memberi jawaban.
Sementara itu, Lily diam - diam memperhatikan reaksi mamanya. Entah kenapa jantungnya jadi sedikit tidak tenang. Padahal ini cuma pertanyaan biasa. Harusnya ia juga bisa menanggapinya biasa saja, tanpa perlu gugup seperti sekarang.
Tapi sejak bayangan Mahardika Atmaja kembali muncul di kepalanya, semuanya terasa jadi lebih rumit.
“Iya sih, mungkin kebanyakan ibu - ibu memang punya kriteria begitu ya buat calon menantunya ...” gumam Mama Jani sambil meletakkan gelasnya pelan, lalu ia menatap Lily lagi.
“Tapi Mama nggak yang kaku banget soal jodoh anak, serius. Mau perjaka atau duda, buat Mama sama aja. Itu kan cuma status.”
Lily membalas tatapan mamanya penuh perhatian.
Anehnya, ucapan santai mamanya itu justru membuat dadanya terasa lega. Padahal tidak ada siapa - siapa yang sedang harus ia bela mati - matian dengan menanyakan ini. Tidak ada laki - laki yang sedang mengisi hatinya juga.
Mama Jani kembali melanjutkan,
“Buat Mama, siapapun laki - laki yang Teteh pilih, yang penting seiman, baik, dan bertanggung jawab. Teteh sama dia juga harus saling cinta, jangan berat sebelah. Jangan Teteh yang kecintaan juga sama dia, sementara dia biasa aja, atau sebaliknya," ucap mama Jani,"intinya Mama sama Papa pasti restui, mau dia perjaka atau duda.”
Nada suara Mama Jani terdengar tenang dan tulus.
“Tapi ...” lanjutnya lagi, “... kalau dia duda, Mama cuma mau ngingetin beberapa hal. Cari tahu dulu kenapa dia bisa jadi duda dan tujuannya menikah lagi itu apa? Itu yang menentukan bisa lanjut atau nggak, meskipun saling mencintai."
Lily diam mendengarkan, ingin bertanya lagi sebenarnya, tapi ditahannya dulu.
Mamanya benar - benar sedang serius sekarang.