.
"Teteh jangan mikir, ‘Mama ini gimana sih? Katanya boleh sama duda, kok pakai syarat segala? Seharusnya kalau boleh ya boleh aja, nggak usah pakai syarat macam - macam', gitu kan?” ucap Mama Jani sambil menatap Lily.
Kali ini wajahnya tidak lagi terlihat menggoda seperti tadi, benar - benar serius.
Lily hanya diam mendengarkan. Ia tidak menyela ataupun berkomentar. Untuk sekarang, ia memang lebih memilih jadi pendengar saja.
“Duda itu kan sudah punya pengalaman dalam pernikahan sebelumnya, Teh. Jadi kita juga harus cari. tahu latar belakangnya, kenapa sih dia bisa jadi duda, cerai hidup atau cerai mati?”
Mama Jani menjeda ucapannya sebentar, ia mengambil satu lembar tisu didekatnya lalu menyeka bibirnya sebelum kembali melanjutkan dengan nada lebih serius.
“Kalau cerai hidup, kita juga harus tahu penyebabnya, yang bermasalah itu istrinya atau suaminya? Terus dia dulu kasar nggak sama istrinya? Pernah KDRT nggak? Suka selingkuh nggak? Atau punya kebiasaan buruk yang bikin rumah tangganya hancur?” kata Mama Jani lalu menggeleng pelan.
“Kalau ternyata begitu, jangan ya, Teh. Jangan sok jadi Superwoman yang merasa bisa mengubah laki - laki kayak gitu jadi lebih baik. Biasanya nggak akan berhasil. Itu udah tabiat dari sananya, kalau kata orang bawaan orok.”
Lily tersenyum geli mendengar pilihan kata mamanya.
"Ih mama sampe merinding sendiri, temen mama ada tuh korban KDRT. Untungnya dii keluarga kita juga nggak ada yang model begitu. Semuanya sayang istri dan setia.”
Lily langsung mengangguk kecil. Ia mengakui itu. Dari Yangpa, Aki, sampai Papap-nya, tidak ada yang red flag. Ia memang masih kecil waktu para tetua itu muda, tapi ia banyak mendengar cerita mereka. Dalam keluarga mereka, hanya Aa’-nya yang pernah gagal dalam hubungan pacaran, aa'nya selingkuh, tapi itu karena masalah hati, bukan karena kelakuannya yang memang buruk suka gonta ganti pasangan.
“Iya, Ma.”
“Dan Teteh juga pasti nggak mau sama laki - laki begitu, kan?”
“Nggak lah, Ma.”
“Nah, itu. Mama tadi cuma mau negesin aja.”
Lily terdiam sebentar sambil memainkan ujung sendoknya.
Namun rasa penasarannya belum hilang.
“Yang Mama maksud belum selesai sama masa lalunya tadi apa?”
Mama Jani tampak berpikir sebentar, lalu langsung mengerti arah pertanyaan Lily.
“Oh, itu...”
Ia kembali bersandar santai.
“Kan ada juga duda karena istrinya meninggal. Istilahnya cerai mati. Kayak Mama sama papanya Aa’ Bian dulu.”
Lily refleks menatap mamanya lebih serius.
"Begitu dekat dengan papap, mama sudah selesai dengan masa lalu mama, bukan melupakan, bagaimanapun itu papanya Aa', tapi mama menjalani hidup selanjutnya ya dengan orang yang ada disebelah mama dong, masa mama terus terperangkap masa lalu dengan orang yang udah nggak ada? Nggak fair buat papap. Nah kalau mau nikah sama duda, pastikan dia sudah selesai sama masa lalunya."
Lily mengangguk paham.
“Takutnya dia belum move on. Yang ada di pikirannya masih mantan istrinya yang sudah meninggal itu. Kan nggak enak juga,” lanjut Mama Jani pelan.
Lily tetap menyimak tanpa memotong.
“Apalagi kalau sudah punya anak, Teh.”
Lalu tiba - tiba Mama Jani tertawa kecil sendiri.
“Kayak yang Mama bilang tadi, jangan - jangan dia cuma cari baby sitter gratis.”
Lily ikut tertawa.
“Ya ampun, Ma, sadis banget kalo begitu kenyataannya.”
“Tapi bener loh,” lanjut Mama Jani sambil tertawa geli. “Ada juga yang buru - buru nikah lagi bukan karena siap jatuh cinta, tapi karena bingung ngurus rumah dan anak. Atau ya ... cuma buat memenuhi kebutuhan biologis aja dari pada 'jajan kemana - mana.”
Lily mengangguk pelan.
“Iya sih...”
Wawasannya terasa sedikit lebih terbuka setelah mendengar penjelasan mamanya soal tipe - tipe duda. Dan apa yang dikatakan Mamanya itu benar adanya, ia tidak pernah berpikir sejauh itu.
Tapi kemudian Lily sadar sesuatu.
Kok obrolannya jadi spesifik banget membahas duda?
Entah kenapa, sejak tadi pembicaraan mereka terasa terus mengarah pada satu sosok yang diam - diam memenuhi pikirannya.
Mahardika Atmaja.
Padahal pria itu bahkan tidak ada di sana.
Tidak ada yang sedang membahasnya secara langsung. Tidak ada pesan masuk darinya juga. Tapi anehnya, nama itu terus muncul di kepala Lily sejak tadi.
“Tapi sekarang banyak juga duda tanpa anak yang modus,” lanjut Mama Jani lagi sambil mengambil potongan tahu isi di piringnya. “Baru ditinggal istrinya sebentar udah buru - buru cari pengganti. Tanah makam istrinya aja mungkin masih basah.”
Mama Jani mendecakkan lidah pelan.
“Nggak sabaran banget. Tunggu beberapa bulan kek. Kadang jadi curiga, jangan - jangan sebelumnya udah punya cadangan.”
Lily spontan tertawa mendengar cara bicara mamanya yang terlalu jujur.
Mama Jani ikut tertawa. Ia memang selalu seperti itu. Blak - blakan, kadang sedikit pedas, tapi tidak pernah benar - benar berniat buruk.
Mungkin cara berpikirnya juga dipengaruhi pengalaman pribadinya sendiri yang beruntung dalam pernikahan.
Sejak menikah dengan Papap Owka, Mama Jani memang terlihat sangat bahagia. Papap Owka benar - benar berhasil mengubah hidupnya jadi lebih baik.
Cara Mama Jani memandang cinta pun sederhana. Bertemu orang yang tepat, saling menyembuhkan, lalu masa lalu selesai dengan sendirinya.
Mama Jani adalah janda cerai mati yang beruntung dan Papap Owka juga perjaka yang beruntung mendapatkan istri cantik, baik, dan tidak banyak macam - macam.
Namun di dalam hati, Lily tahu tidak semua orang seberuntung itu.
Karena kenyataannya...
Tidak semua orang benar - benar selesai dengan masa lalunya.
Dan anehnya, contoh pertama yang langsung muncul di kepala Lily lagi - lagi adalah Mahardika Atmaja. Pria yang sebenarnya hanya ia kenal sepintas dari cerita Vina dan Raffi.
Seorang duda karena istrinya meninggal. Cerai mati, seperti kata mamanya tadi. Dan dari cerita mereka, Mahardika sangat mencintai istrinya. Bahkan mungkin terlalu mencintai.
Lily masih ingat jelas ekspresi Vina waktu bercerita tentang omnya itu. Tentang bagaimana Mahardika berubah jauh lebih dingin setelah istrinya meninggal. Tentang bagaimana ia menolak semua usaha perjodohan dan comblang, seolah hatinya memang sudah habis untuk mendiang istrinya saja.
Mungkin memang seperti itulah arti cinta mati yang sebenarnya.
Lalu tanpa sadar, ucapan mamanya tadi kembali terngiang di kepalanya.
“Takutnya dia belum move on.”
Lily menunduk menatap piringnya.
Kalau memang begitu...
Kenapa Raffi dan Vina malah sibuk menjodohkannya dengan laki - laki seperti itu?
Apa mereka benar - benar yakin Mahardika sudah siap membuka hati lagi?
Atau jangan - jangan ... Mereka hanya kasihan melihat omnya hidup sendirian dan merasa Lily cocok jadi pawang untuk om mereka itu?
“Loh, malah bengong lagi.”
Suara Mama Jani membuat Lily cepat tersadar.
“Hah? Enggak.”
Mama Jani langsung menyipitkan mata curiga.
“Tapi dari tadi kelihatan lagi mikir. Jangan - jangan sekarang Teteh lagi deket sama duda ya? Siapa, Teh?”
Lily buru - buru tertawa kecil untuk menutupi rasa gugupnya.
“Mana ada. Aku cuma nanya aja kok. Siapa tahu nanti ketemu yang kriterianya begitu.”
Mama Jani menggeleng pelan.
“Kayaknya ada yang lagi Teteh pikirin deh.”
“Mikir makanan ini. Kok enak banget ya? Sampai mau habis begini.”
“Ayo, jangan bohong sama Mama,” goda Mama Jani yang sudah kembali santai seperti tadi.
“Eh, beneran lagi.”
“Mama nggak yakin.”
“Serius. Ini juga sambil mikir apa aku bawa menu begini aja ya ke rumah sakit. Besok kan jaga malam di IGD,” jawab Lily lagi, berusaha meyakinkan mamanya.
Mama Jani akhirnya terkekeh kecil dan tidak melanjutkan godaannya lagi. Ia tahu anaknya memang sedang memikirkan sesuatu, hanya saja belum tahu apa.
“Repot kalau harus mampir ke sini dulu. Suruh Mbak Sumi aja bikinin bekal.”
Lily langsung mengangguk lega.
Namun sementara Mama Jani mulai sibuk menghabiskan makanan mereka yang tinggal sedikit, Lily justru kembali diam.
Tatapannya kosong sesaat.
Baru sekarang ia sadar...
Selama dua bulan terakhir ini, bisa dikatakan ia hampir tidak pernah memikirkan Mahardika Atmaja lagi.
Tapi hari ini, tiba - tiba saja nama pria itu kembali memenuhi kepalanya.
Sekonyong - konyong muncul begitu saja tanpa izin, dan semuanya jelas gara - gara bertemu Raffi tadi.
Kalau bukan karena pertemuan itu, obrolan tentang duda dan masa lalu tidak akan sampai membuat pikirannya jadi kacau begini.
“Sial...” batin Lily pelan.