Lily baru saja selesai bersiap untuk dinas malam di Rumah Sakit Royal. Rambutnya yang tadi sore ia cuci, masih setengah basah dan ia biarkan tergerai saja, sementara jas putih sudah digantungan, dan perlengkapan kerjanya sudah tersusun di dalam tote bag besar yang biasa ia bawa untuk jaga.
Malam minggu adalah jadwal jaga Lily di IGD, memang hanya seminggu sekali, tepat malam minggu sampai Minggu pagi. Setelah itu Senin ia libur total sebelum kembali bertugas di Poli dan rawat inap dari Selasa sampai Kamis.
Ia sengaja memilih ritme kerja seperti itu.
Dan tentu saja pilihannya bisa diakomodir tanpa ada masalah.
Bagaimanapun direktur rumah sakit tempatnya bekerja adalah abang sepupunya sendiri. Rumah sakit itu juga milik keluarga besar papapnya. Jadi selama Lily tetap profesional dan pekerjaannya beres, tidak ada yang mempermasalahkan.
Lagipula hampir semua orang di rumah sakit tahu kalau Lily bukan tipe dokter 'anak pemilik' yang manja.Ia tetap ikut jaga malam, tetap turun langsung ke IGD, dan tetap menghadapi omelan keluarga pasien saat keadaan sedang ramai. Ia juga tjdak pernah pilih - pilih pekerjaan hanya karena keluarganya punya jabatan di rumah sakit itu.
Mungkin karena itu juga banyak perawat senior menyukainya. Walaupun Lily sadar, pasti ada beberapa yang sekadar menjaga hubungan baik karena status keluarganya. Tapi Lily tidak begitu peduli, ia tidak akan memaksa semua orang senang kepadanya.
Lily keluar dari kamar sambil membawa ponselnya saja, barang - barang masih di kamar.
Dari arah ruang makan terdengar suara orang sedang mengobrol pelan.
Ternyata Papapnya ada di rumah malam ini.
Jarang sekali.
Jadwal terbang Papap Owka sebagai pilot memang tidak menentu. Kadang tiga hari penuh ada di luar kota, kadang baru pulang lalu terbang lagi keesokan harinya. Jadi momen makan malam ada papapnya seperti ini tidak selalu bisa terjadi.
"Mau jalan, Teh?" tanya Papap Owka begitu melihat Lily datang.
"Iya, tapi masih sebentar lagi. Papap baru pulang?"
"Udah satu jam yang lalu," jawab Papap Owka.
Lily duduk dikursinya yang berhadapan dengan mamanya.
Di meja makan itu sudah tersaji beberapa lauk favorit keluarga mereka. Ada ikan bakar sambal andaliman, tumis bunga pepaya, ayam goreng lengkuas, dan sup hangat yang masih mengepul.
Namun perhatian Lily justru tertarik pada sebuah paper bag besar di kursi disebelah mamanya.
Paperbag warna putih dengan logo brand terkenal dari Paris.
Alis Lily langsung terangkat.
"Apa tuh? Belanjaan mama?" tanyanya sambil menunjuk paper bag itu.
"Bukan. Ini Papap bawain buat Teteh," jawab Mama Jani sambil mengambil paper bag tersebut dan memberikannya ke Lily.
"Wuih ..."
Lily langsung duduk lebih tegak dan menerimanya paperbag itu.
Ia membuka paperbag itu penuh rasa penasaran, lalu mengeluarkan sebuah kotak dari dalamnya.
Begitu melihat isi-nya, Lily langsung menoleh cepat ke arah papapnya.
"Papap beliin aku tas lagi?"
Papap Owka hanya tersenyum kecil sambil melanjutkan makan.
"Iya, suka nggak?"
Lily belum langsung menjawab.
Ia membuka dust bag itu perlahan dan beberapa detik kemudian wajahnya langsung berubah sumringah.
Matanya berbinar benar - benar seperti anak kecil dapat hadiah.
"Wahhh ..."
Ia mengangkat tas itu tinggi - tinggi memperhatikan warnanya di bawah cahaya lampu ruang makan.
"Kalau ini aku suka banget!" katanya cepat. "Soalnya aku belum punya warna ini."
Tas kulit warna deep burgundy itu memang cantik sekali. Elegan, tapi tetap cocok dipakai sehari - hari.
Lily langsung berdiri lalu menghampiri kursi papapnya.
Ia memeluk papapnya dari belakang sambil mencium pipinya dengan gemas.
"Makasih, Pap."
"Iya."
Papap Owka tertawa kecil sambil menepuk tangan anaknya sekilas.
Mama Jani yang melihat itu cuma tersenyum geli.
Suaminya memang selalu begitu, tipe romantis yang tidak suka banyak bicara, tapi selalu perhatian lewat tindakan kecil.
Kadang pulang membawa hadiah tanpa alasan.
Minggu lalu ia yang dibelikan sepatu.
Hari ini Lily dapat tas.
Bulan lalu Yudha dibawakan jam tangan karena ada model baru yang terlihat keren dibelikan di Jepang.
Lain waktu giliran Aki dan Nininya Lily, atau abang papapnya yang juga dokter itu, mereka sering tiba - tiba dibawakan barang sama papap Owka.
Lily masih memperhatikan tas barunya sambil tersenyum puas.
"Ini bagus banget, Pap. Papap pilih sendiri?"
"Iya."
"Mama aja nggak dibeliin warna itu," celetuk Mama Jani pura - pura protes.
Papap Owka langsung menjawab,
"Kamu kan minggu lalu udah dibeliin sepatu, aku belum ketemu tas yang cocok buat kamu."
"Nggak usah A', aku udah banyak tas."
"Kalo kamu sudah bosen, kasih aja ke siapa gitu, nanti aku belikan yang baru lagi.
Mama Jani terkekeh kecil mendengar jawaban suaminya yang selalu santai begitu.
Lily ikut tertawa sambil kembali duduk.
Makan malam sering diisi candaan receh atau obrolan random yang kadang tidak penting sama sekali.
"Kemarin ke Plaza Indonesia ya?" tanya Papap Owka sambil mengambil ayam goreng kesukaannya.
"Iya."
"Sama mama aja?"
"Iya lah. Masa sama satpam."
Mama Jani langsung tertawa.
Papap Owka menggeleng kecil mendengar jawaban anaknya.
"Belanja apa aja?"
"Sedikit."
"Itu berarti banyak."
Lily nyengir.
"Mama yang banyak."
"Fitnah," sahut Mama Jani cepat. "Siapa yang beli parfum dua?"
"Itu karena baru datang, aku belum punya, wanginya enak."
"Alasan klasik."
Mereka kembali tertawa.
Di tengah obrolan itu, Lily mulai makan sambil sesekali melihat jam di tangannya. Ia masih punya waktu sekitar empat puluh menit sebelum berangkat ke rumah sakit.
"IGD ramai terus akhir -akhir ini?" tanya Papap Owka lagi.
"Standar. Apalagi malam minggu. Biasanya anak motor kecelakaan, atau pasien sakit lambung yang kambuh karena telat makan."
"Makan yang bener juga kamu, Teh."
"Iya, Pap. Aku makannya bener, kok."
"Jangan diet ya. Teh, nanti peyot badannya, sekarang udah pas," kata Mama Jani langsung menimpali,
"Aku juga nggak diet."
"Jangan kopi terus."
Lily terkekeh.
"Kalo itu sekali - sekali."
"Orang yang paling susah diatur soal pantangan sama obat, ya memang dokter," sahut Papap Owka santai.
Lily tertawa lagi.
"Nggak kok Pap. Aku aman - aman aja, medical check up juga bagus. Mama tuh asam uratnya naik dikit."
Papap Owka menoleh ke mama Jani.
"Udah minum obat?"
"Udah," jawab mama Jani.
Obrolan mereka terus berlanjut ringan sampai akhirnya Lily selesai makan.
Ia meletakkan sendok dan garpunya lalu mengambil gelas untuk meminum air putihnya.
Rasanya nyaman sekali bisa makan malam ada papapnya yang sedang di rumah.
Karena jadwal mereka kadang sulit untuk bertemu.
"Jam berapa pulang besok?" tanya Mama Jani.
"Paling jam sembilan atau setengah sepuluh."
"Habis itu tidur yang cukup."
"Siap, Bu," kata Lily lalu mengambil gelasnya lagi untuk menghabiskan sisa minumannya.
Mama Jani menatap Lily beberapa detik lalu tersenyum kecil.
Lelah memang terlihat jelas di wajah anaknya akhir - akhir ini. Tapi Lily tetap kelihatan bahagia menjalani semuanya. Dan itu yang paling penting buat mereka.
"Pap ... kemarin aku sama Teteh ketemu temen Teteh, cowok ... cakep deh. Aku pikir dia naksir Teteh " kata mama Jani.
Lily hampir saja tersedak minumannya. Mamanya mulai lagi, padahal sudah jelas - jelas dia bilang soal tidak naksir Raffi.
"Siapa, Teh?" tanya Papap Owka sambil menoleh ke anak gadisnya itu.
"Astaga mama ...." ucap Lily lalu menatap mamanya tidak percaya.
Kemudian ia menoleh ke Papapnya.
"Nggak ada Pap, itu bener - bener temenku. Dia itu sepupunya Vina temen koasku dulu. Aku kenal dia dua bulan yang lalu, sekali lewat aja. Kebetulan kemarin itu aku sama mama ketemu sama dia, dan keluarganya, itu juga nggak sengaja. Mana mungkin naksir - naksiran, lagian dia juga bukan type-ku," jawab Lily tegas.
"Padahal kelihatan baik, mana ganteng lagi," sela mama Jani seperti masih berusaha.
Lily memutar bola matanya malas.
"Nggak ah, biar ganteng kalo nggak suka gimana?"
Papap Owka menatap Lily.
"Kalo belum niat serius sama cowok, jangan bawa ke rumah atau kenalin sama Papap, nanti kayak yang lama itu."
Lily mengangguk, ia memang tidak ada niat seperti itu, siapapun cowoknya nanti.
"Pokoknya yang dulu nggak akan terulang lagi, Pap," jawab Lily.
Papap Owka memang tidak tahu soal perselingkuhan mantan Lily, memang tidak diceritakan, mama Jani khawatir reaksi suaminya itu, jadi cuma jadi rahasia mereka berdua. Papap Owka tahunya Lily putus karena ketidakcocokkan yang tidak mungkin disatukan, dan Papap Owka juga tidak ambil pusing soal keputusan Lily itu, baginya kalau tidak cocok jangan diteruskan.
"Aku mau siap - siap berangkat dulu ya," kata Lily sambil berdiri.
"Hmm, diantar, kan?"
"Iya, Pap."
"Ya udah, siap - siap."
Lily beranjak sambil membawa tas baru dari Papapnya itu. Baru beberapa langkah berjalan, Lily kembali menoleh sambil mengangkat tas barunya.
"Pap ... serius ini aku suka banget. Thank you ya, Pap."
Papap Owka tertawa kecil.
"Iya, pakai aja kalo gitu."
"Ya nggak dipake ke rumah sakit juga dong, apa kata dunia nanti."
"Terserah Teteh aja."
Lily tersenyum lebar sebelum akhirnya berjalan kembali ke kamarnya untuk mengeringkan rambut, bersiap dan mengambil barang - barang bawaannya.
Sementara Mama Jani memperhatikan punggung anaknya sambil tersenyum tipis.
"Anak papap banget," gumamnya pelan.
Papap Owka santai mengambil minumnya.
"Memang."
"A', kalo teteh dapat duda gimana?"
"Duda?" tanya papap Owka sambil mengerutkan dahinya.
"Cuma nanya aja. dia sih nggak punya pacar kayaknya."
"Tergantung bagaimana dulu dudanya," jawab papap Owka.
Mama Jani tersenyum.
"Berarti kamu sama dengan aku. Duda boleh tapi syarat dan ketentuan berlaku."
Papap Owka mengangguk, tapi tanpa senyum.
---
Sebelum keluar kamar, Lily sempat menelepon Mbak Sumi lebih dulu. Ia ingin memastikan bekal untuk jaga malamnya sudah siap.
Jaga malam di IGD itu butuh asupan. Bukan cuma soal lapar, tapi juga supaya ada yang bisa dikunyah saat rasa kantuk mulai datang. Untuk membeli rasanya sulit, tidak banyak pilihan kuliner lewat tengah malam, dan kalaupun ada, belum tentu cocok.
“Mbak, bekalku udah?” tanya Lily ketika panggilannya diterima mbak Sumi.
“Udah, Teh. Mbak taruh di kursi belakang ya, di bawah.”
“Banyak nggak?”
“Banyak.”
Lily langsung tertawa kecil.
“Ya udah. Makasih ya, Mbak.”
“Sama - sama, Teh.”
Setelah menutup telepon, Lily mengecek barang bawaannya sekali lagi. Dompet, ponsel, charger, tumblr, dan perlengkapan lainnya sudah lengkap.
Begitu merasa tidak ada yang tertinggal, ia mematikan AC dan lampu kamar, lalu keluar dan menutup pintu kamarnya.