"Ka Panglima," panggil salah satu gadis yang sedari tadi memang memperhatikan mereka.
Libra kira gadis itu bukan memanggil pacarnya tapi ternyata yang gadis itu panggil adalah lima.
Dengan wajah bersemu gadis itu berjalan degan malu-malu. Menjjikan, pikir Libra.
"Hallo ka," ucap Perempuan itu melambaikan tangannya "masih inget aku kan? Aku Sindi yang kemarin kaka anterin" ucap gadis itu mengigatkan.
Kemarin Lima nganterin cewek ini? Lah apa kabar pacarnnya? Sia-sia status itu buat gue. Pikir Libra.
"Oh...ya gue inget kenapa?" tanya Lima.
"Ngak papa, aku cuman mau ngucapin terima kasih kemarin udah nganterin aku" ucapnya.
"Sama-sama" ucap lima, untuk ukuran cowok sepecicilan Lima jawaban itu terlalu sederhana.
"Permainan kaka hari ini bagus baget" puji wanita yang baru Libra ketahui namanya Sindi.
"Biasa sih, permainan gue lebih bagus dari itu ko," untuk kata yang keluar dari mulut Lima yang satu itu Libra harus mendelikkan matanya tajam.
"Hahah... iya sih kaka emang paling bagus," ucapnya yang di akhiri dengan kata "paling ganteng," lanjut Sindi bergumam.
"Hah...iya apa?" tanya Lima sok-sokan tidak mendengar.
"Ah...ngak ini siapanya ka Panglima?" tanya Sindi "pacar?" tebak Sindi. Dari raut wajahnya saha Libra sadar bahwa perempuan ini menyukai Lima.
"Dia," tunjuk Lima.
"Emang nama lo Panglima yah?" tanya Libra berbisik.
"Eh...ngak mungkin kan pacarnya ka Panglima ngak tau nama kaka?!" ucap Sindi harap-harap cemas.
"Gue pacarnya!" ucap Libra sewot, "gue kasih tau sama lo ya bocah, ngak penting siapa nama pacar lo yang penting itu hatinya, lo nyaman sama dia udah cukup!" Lanjut Libra dengan keyakinan penuh saat mengucap kannya.
"Kaka jangan ngaku-ngaku deh!" kesal Sindi.
"Lo tuh yah...dasar bocah.."
"Dia pacar gue, sorry gue ngak tertarik sama roti bantet!" ucap Lima membatasi antara Libra dan Sindi Libra merasa ada di awang-awang saat ini.
"Maksud kaka aku roti bantet gitu?!"
"Sorry gue ngak bilang itu lo, tapi kalo lo ngerasa gue sih bersyukurkarna ternyata lo nyadar diri" ucap Lima lempeng. Untuk pertama kalinya Libra bersyukur karna tuhan memberiakan mulut tanpa saringan kepada Lima.
"Udah yah dedek emech... nanti nagis kalo di terusin gih sana belajar dulu yang bener!" ucap Libra lembut dan gemas, gemas untuk menghina wanita di hadapannya ini.
"Ka Panglima aku kekelas dulu yah," pamit Sindi sopan.
Libra tidak megerti apa kata-kata Lima kurang jelas atau dia yang budeg?!
"Cieeee pacar, cemburu," goda Lima saat Sindi telah pergi.
"Apa lo," kesal Libra melotot.
"Aahhh...pacar ko sweet baget sih!" goda Lima lagi.
"i***t! Kenapa ngak bilang kalo nama lo Panglima?" kesal Libra menuntut penjelasan.
"Lah lo bilang tadi ngak penting siapa nama pacar lo, yang penting nyaman kan!"
"Itu kan tadi bukan sekarang,"
"Cie pacar kepo nama lengkap gue yahhh!" goda Lima lagi.
"Bodo amat!!!!" ucap Libra final lalu meningalkan lapangan Futsal.
"CIEEE...PACAR" teriak Lima tidak tau malu.
...
"Oy...pacar!" pangil Lima saat melihat Libra melintas di hadapannya tanpa melihat Lima.
Tanpa melihat siapa yang memanggilnya Libra menggeser gerbang di sampingnya dengan kesal.
Lima maju dengan mengendarai motornya dan berhenti di depan Libra.
"Kenapa?" tanya Lima pelan tidak ingin memancing keributan.
Libra diam melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Ngak mau ngomong yaudah!" tanpa melihat Libra lagi Lima pergi begitu saja dengan motornya.
Satu-satunya yang membuat libra bertahan adalah ramalan bodoh yang ia percayai.