"Apa yang terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba pergi merantau ke tempat ini? Bukannya akan lebih baik kalau merantau ke kota?" tanya Erfan.
Saat ini kami ada di salah satu kedai kopi sederhana di daerah ini. Setelah pertemuan pertama kami, dia lebih sering mengirimkan pesan untukku. Bersikap sangat baik denganku, dan aku tidak mempermasalahkannya. Seakan wajah tampannya telah membiusku. Kuakui, aku memang terpesona padanya.
"Tapi tidak ada orang yang akan menerimaku di kota hanya seorang lulusan SMA. Paling hanya akan menjadi OG, itupun kalau diterima. Aku rasa ini lebih baik. Aku juga tidak begitu menyukai keramaian kota. Sangat menyesakkan."
Erfan menatapku seperti heran.
"Bagaimana dengan kakak sendiri? Bukankah pertanyaan itu juga tertuju pada kakak? Dengan gelar sarjana yang kakak dapat, ada banyak yang mau membayar kakak. Lagipula kakak kan jurusan bisnis, rasanya tidak ada yang cocok untuk dibisniskan di tempat ini."
Aku mengubah panggilanku menjadi kakak karena merasa tidak nyaman memanggil langsung namanya. Sangat tidak sopan walau dia sendiri yang memintanya.
Erfan tersenyum. "Jangan pikir karena tidak ada perusahaan besar di sini maka tidak ada jalannya bisnis. Justru ada banyak yang bisa dijadikan prospek menguntungkan. Hanya saja pemikiran mereka masih perlu dibenahi."
"Lalu apa yang akan kakak lakukan sekarang?"
"Mungkin kakak akan menjadi kuli juga sepertimu di tempat pak Jonan. Sejauh ini tidak ada yang bisa kakak ajak kerja sama." Erfan mendesah panjang. Sudah seminggu sejak kedatangannya dan sehari setelah tiba dia bertemu dengan beberapa orang penting di daerah ini, sepertinya membicarakan sesuatu yang sangat krusial.
Aku terkekeh mendengar jawabannya.
"Atau kakak akan melamar jadi manager saja disana. Sepertinya cocok. Menggoda pak Jonan agar beristirahat di hari tuanya dan biar kakak yang menggantikannya."
Tawaku semakin pecah mendengarnya. "Tidak mungkin Nigo akan mengijinkannya. Kakak lihat sendiri bagaimana kelakuannya. Aku pikir kakak sudah bisa menyadarinya. Sifatnya saja sangat menyebalkan seperti itu."
Kali ini giliran Erfan yang tertawa. "Tidak boleh terlalu membenci seseorang, malah nanti dia yang jadi jodoh kamu, mau?"
Gelengan kepalaku cepat bahkan sebelum Erfan menyelesaikan kalimatnya itu, yang aku sudah tau bagaimana ujungnya. Membuat dia semakin terpingkal menahan geli di perutnya.
"Kamu lucu banget tau nggak, Er," katanya di akhir tawanya. Mata coklat terangnya dengan cepat melirik jam tangan di pergelangan tangan kiri dan balik menatapku. "Udah malam nih, kakak anterin pulang yuk. Nanti malah kemalaman di sini, kakak akan takut pulang juga," kekehnya.
"Memangnya kakak bawa mobil, bawa motor sok mau anterin aku? Kakak sendiri aja takut malah mau nganterin. Aku pulang sendiri aja kak," balasku dengan nada bercanda.
Erfan mengacak rambutku gemas. "Kakak hanya bercanda. Bagaimana mungkin bisa takut, percuma dong cowok. Udah yuk."
"Eh, Erfi. Kebetulan sekali kita ketemu di sini. Kamu mau pulang? Aku anterin yuk." Sosok tengil tiba-tiba muncul begitu saja. Ini anak seperti anak jin saja, selalu datang tanpa aba-aba. Membuat kaget saja. Untung kesehatan jantungku tidak bermasalah. Kalau tidak, dia sudah mengalami kerugian besar karena biaya pengobatanku.
Yang lebih mengagetkan lagi, dia juga -secara tiba-tiba- sok akrab denganku. Seringkali menawarkan diri untuk mengantarku pulang dari toko, yang selalu aku tolak dengan berbagai macam alasan. Aku tidak ingin dinilai t***l juga menaiki mobil mewah itu di jalanan seperti ini.
"Aku pulang sama kak Erfan. Kami masih ada yang ingin dibicarakan selama di jalan nanti. Sebaiknya kamu pulang aja, tadi pak Jonan nyariin kamu." Kutarik lengan Erfan untuk berjalan segera meninggalkan Nogi.
"Kamu terdengar seperti artis yang sangat mahir melakukan kebohongan," bisik Erfan dalam perjalanan kami.
Ah, kebohonganku sudah semakin meningkat saja. Bahkan sepertinya lidahku sudah sangat lancar melakukannya, tanpa harus berpikir lagi. Oh tidak, hidupku sudah berubah jalur secara perlahan.
Aku menggelengkan kepala pelan saat Erfan tak menyadarinya. Bisa-bisa aku harus membuat kebohongan baru lagi.
"Tapi kan itu untuk menghindariku dari tindakan konyolnya. Kakak bayangkan saja dia mengendarai mobil marcedez-nya di jalanan seperti ini. Sangat disayangkan. Dan aku tidak ingin dicap bodoh sama sepertinya karena menaiki mobil itu dengannya. Jauh lebih baik kalau aku menggerakkan kakiku," jelasku jujur.
Erfan terkekeh geli. "Kakak pikir hanya kakak yang menyadari hal itu. Ternyata kamu juga sama." Dia mempercepat langkahnya dan aku ikuti. Untuk saat ini, jalanan berbatu yang kami lalui masih sama hingga ke persimpangan nanti, dimana dia akan belok ke kanan dan aku tetap lurus.
Eni, salah seorang anak kos sedang berdiri di depan kamarku dan mengetuk pintu saat aku tiba. "Kenapa kak?" tanyaku bingung.
Dia menatapku sedikit heran. Tidak biasanya aku pulang selarut ini. "Aku pikir kamu sudah ada di dalam. Tadi ada paket untukmu, sudah kuambilkan. Ada di kamar, kamu ambil sendiri. Barangnya cukup berat," jelasnya.
Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya menuju kamar yang hanya berselang dua pintu denganku. Kotak berukuran sedang tergeletak begitu saja di lantai. Aku meminta temanku mengirimkan beberapa barang milikku yang ada padanya, dengan memintanya untuk tidak memberitahukan pada siapa saja kalau aku tinggal di sini. Dengan selang waktu yang hampir dua minggu, aku pikir mama dan papa tidak akan melakukan pengecekan akan hal ini.
Sekedar info, sejak SMA, Levi adalah sahabat dekatku. Seorang yang dengan berani mendekatiku saat siswi lain tidak ada yang mau berteman denganku karena alasan bodyguard-ku ada banyak. Dia sangat tau tentangku dan demikian denganku. Tidak ada penghalang keterbukaan kami.
Benar kata Eni, barang kiriman Levi cukup berat. Dan aku tidak menyangka ada sebanyak ini yang dia kirimkan. Ternyata di antara baju dan jeans, dia menyelipkan beberapa biskuit dan cemilan lainnya. Aku tertawa tak percaya. Seakan diriku sangat menyedihkan di matanya.
"Maaf aku tidak bisa berkunjung. Kamu baik-baik aja kan di sana? Aku akan menangani disini. Oh ya, aku lupa memeberitaumu. Pesta pertunanganmu minggu lalu benar-benar kacau. Aku bahkan hampir menangis melihat kondisi om dan tante. Tapi apa yang kamu lakukan sudah benar, Kiza. Kamu harus memperjuangkan kebahagiaanmu sendiri. Selamat berjuang, Kiza. Aku merindukanmu. Kembali setelah kamu menemukan kebahagiaan itu. Mereka dan aku juga akan menunggumu. Sangat disayangkan juga kamu harus melepaskan kesempatan kuliah yang sudah kamu dapatkan." Isi sebuah pesan yang dituliskan pada selembar kertas kecil dan dilampirkan beberapa buah foto yang menunjukkan kondisi rumah papa yang cukup kacau.
Hanya bisa berharap kalau kondisi di sana tidak berubah semakin kacau karena ulahku dan semoga papa dan mama baik-baik saja.
Kuambil ponsel butut yang menemaniku, mengetikkan pesan disana. "Thank you, Levi. Ingat, jangan pernah kasih tau posisiku dan semua pesanku hapus segera. Jangan sampai ketahuan kalau aku berhubungan denganmu."