Kedekatan terus terjalin antara aku dan Erfan, dilengkapi sekian banyak gangguan dari si tengil Nigo. Sudah sebulan berlalu, Erfan kini memulai suatu bisnis kecil di bidang properti. Entah apa yang dia pikirkan saat memutuskan melakukan hal itu. Dan aku juga bingung darimana dia mendapatkan modal untuk memulainya. Jawaban darinya adalah tabungan ditambah sekian banyak pinjaman dari teman dan bank. cukup beresiko menurutku, tapi justru menantang untuknya.
Dari pengamatanku, memang cukup lumayan. Banyak warga yang mulai tertarik dengan berbagai penawaran yang dia berikan. Hal itu dibantu dengan beberapa kali penyuluhannya tentang hidup sehat. Aku mengaguminya.
Pikiranku melayang pada kedua orang tuaku, seperti itukah dulu papa hingga kini menjadi seorang yang terpandang?
Andai aku masih ada di sana, mungkin aku sudah memulai bangku kuliahku.
Tapi hal yang pasti terjadi adalah aku sudah menjadi tunangan Arya, seorang pria yang aku sangat tidak suka. Dan tidak lama akan menjadi istrinya. Ough, itu mimpi buruk bagiku. Aku tidak menyesali telah kabur meski memulai segalanya sangat sulit disini. Dan aku bangga bisa hidup sekian lama dengan usaha sendiri.
Tabunganku selama ini memang kubawa untuk berjaga-jaga jika saja tidak ada yang menerimaku bekerja. Beberapa buku tabungan aku cairkan di sore menjelang aku melarikan diri. Tapi syukurlah, sejauh ini masih lancar.
Seseorang datang menghampiriku saat aku merapikan rak di toko. "Hai, Erfi. Hm, dengar. Aku tidak mau bercanda lagi. Kali ini aku serius dengan apa yang aku katakan. Aku menyukaimu, Erfi. Menikahlah denganku. Kamu lihat, tidak ada seorangpun yang bisa menandingiku di tempat ini, bahkan si Erfan sekalipun. Apa yang kamu lihat darinya, bukankah aku jauh lebih baik untukmu? Aku bisa memberikanmu apapun yang kamu inginkan, kamu tidak perlu bekerja seperti ini lagi. Hanya duduk manis di rumah, dan semuanya tersedia."
Aku menarik nafas panjang mendengar ocehannya. Kemudian memutar kepalaku untuk menoleh padanya. "Kamu tau, aku sama sekali tidak butuh kekayaanmu. Dan aku tidak tertarik dengan penawaranmu," balasku jutek.
"Come on, Erfi. Tidak perlu munafik. Cewek mana sih yang menolak kekayaan? Hanya cewek bodoh, mungkin. Di kampusku saja ada banyak cewek yang suka denganku, tapi aku tetap memilih kamu."
"Dan aku memang cewek bodoh itu, yang menolak semua hartamu. Pergilah sama mereka, aku tidak tertarik sama sekali."
Nigo mencekal tanganku dan membalik tubuhku dengan paksa. "Hei, dengar ya, cewek bodoh. Aku akan membuatmu bersujud di kakiku dan memintaku untuk menikahimu. Aku akan segera kembali."
Sudut bibirku terangkat mendengar ancamannya. "Dan entah apa yang kamu lihat dari cewek bodoh ini," cibirku.
"Nigo, hentikan semua kebusukanmu itu atau papa akan menarik semua barang-barang kamu. Jangan menganggu Erfi lagi, kamu pergilah!" bentak pak Jonan.
Aku tertawa menang dan membuat Nigo semakin kesal. Pak Jonan memang terang-terangan menginginkan menantu yang lebih sepadan dengan anak tunggalnya itu, tapi tidak lantas menunjukkan sikapnya yang menolakku. Beliau tetap bersikap ramah, bahkan melindungiku setiap kali Nigo akan berbuat aneh. Dan selalu saja pak Jonan mengetahui perbuatan Nigo.
Saat Nigo sudah menjauh, pak Jonan mendekat dan tersenyum tulus seperti biasanya. "Maafkan Nigo, Erfi. Apa yang dia katakan jangan terlalu diambil hati. Kebiasaan bapak yang memenuhi semua keinginannya membuatnya seperti itu. Teruskanlah pekerjaanmu," kata pak Jonan.
Tidak ada bantahan dariku, aku memang sama sekali tidak menganggap semua kata-kata Nigo untukku. Dia hanya seorang pria tidak dewasa walau usianya tiga tahun lebih tua dariku. Seharusnya dia bisa menunjukkan sisi dewasanya sedikit. Itulah yang membuatku ilfeel dengannya. Sangat beda dengan Erfan yang sangat mengagumkan.
Erfan yang tiga tahun lebih tua dari Nigo benar-benar sosok yang sangat dewasa. Hm, tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Bukan hanya aku, banyak gadis yang terang-terangan menyukainya walau tidak sebanyak Nigo. Ah, dua pria itu tidak perlu dibandingkan. Dalam segala hal baik, Erfan akan berada di posisi atas.
Senyumku tak bisa menghilang saat mengingat sosok itu. Sejak kemarin aku belum melihatnya, karena dia memang sedang sibuk dengan bisnis kecilnya itu.
"Ambillah istirahatmu besok, kamu tidak perlu masuk setiap hari. Tubuhmu juga butuh istirahat walau jiwa mudamu begitu kuat," perintah pak Jonan saat aku akan meninggalkan toko.
"Bapak tidak memecatku kan karena Nigo?" selorohku.
Pak Jonan tertawa keras. "Tentu saja tidak. Tidak mungkin bapak memecat pegawai tekun sepertimu hanya karen sikap buruk Nigo. Kamu hanya perlu mengistirahatkan diri sesekali. Kamu bahkan tidak punya waktu untuk berkencan dengan pacarmu itu. Pulanglah, hari sudah semakin malam."
Ah, bosku itu sangat baik. Aku mengangguk sebelum akhirnya melangkahkan kakiku.
Seseorang menarik kerah bajuku dari belakang membuatku mau tak mau menoleh. Ternyata pelakunya adalah Erfan. Dengan menampilkan senyuman tak bersalah, dia mensejajari langkahku.
"Dari mana saja, kak? Sepertinya pebisnis ini mulai sibuk hingga jarang terlihat lagi. Atau aku memang seseorang yang terlupakan?" tanyaku setelah menoleh padanya sesaat.
"Ternyata kamu juga merindukanku. Aku pikir hanya aku sendiri yang merasakannya. Ah, aku sangat lega," balasnya dengan mengelus dadanya.
Aku mendengus. "Siapa yang merindukan kakak? Aku bilang aku hanya tidak pernah melihat kakak," sanggahku. Dalam hati memang sangat merindukannya. Hei, ini bahkan hanya kemarin aku tidak melihatnya. Sebegitu besarkah pengaruh dirinya?
"Makan bareng yuk. Kakak udah lapar banget," lanjutnya sembari merangkul pundakku.
Langkah kakiku mengikutinya begitu saja, membawaku ke salah satu warung nasi yang menjadi tempat langganan makan kami. Tidak ada restoran mahal di sini, hanya satu toko makanan cepat saji yang kelasnya sedikit lebih baik.
"Bagaimana bisnis kakak?" tanyaku sambil menikmati teri sambal yang cukup lezat dengan rasa pedasnya yang pas.
"Masih seperti biasanya. Pelanggannya sedikit bertambah. Ya, seperti itulah," jawabnya abstrak. Aku kan tidak mengerti bisnis yang dia maksud, tapi aku hanya manggut-manggut. Setidaknya aku tau usahanya berjalan dengan baik.
Tidak ada pembicaraan yang terlalu berarti lagi selanjutnya, hanya sedikit guyonan dari Erfan, seperti biasanya.
Kami kembali melanjutkan perjalanan pulang setelah memenuhi keinginan perut yang lapar. Hari sudah semakin larut, dan jalanan mulai sepi. Tidak banyak orang yang beraktivitas di luar saat malam hari seperti ini. Akan sangat tenang dan senyap saat hari sudah gelap. Anak-anakpun tidak lagi bermain di halaman saat adzan magrib sudah berkumandang. Jauh berbeda dengan tempat asalku yang tanpa hentinya kesibukan orang di luar rumah.