"Kakak kenapa ikut denganku? Tidak perlu mengantarkanku, kan aku sudah biasa pulang sendiri," tanyaku saat Erfan mengikuti langkahku, tidak berbelok di pertigaan dimana biasanya kami berpisah.
Erfan menarik pundakku untuk terus berjalan tanpa memberikan jawaban apa-apa. Pandangannya lurus ke depan di antara sinar remang-remang dari cahaya lampu rumah warga dan cahaya bulan. Jika dia pria jahat, aku yakin dia sudah memikirkan sesuatu yang buruk. Ah, dia tidak seperti itu.
Kami berhenti saat tiba di depan kosku. "Kakak pindah kesini sejak hari ini," katanya singkat dan menjawab semua kebingunganku sejak tadi. Tapi malah membuatku terpekik kaget.
"Apa?"
Dia menaruh jari telunjuk di bibir. "Ssttt, ini sudah malam. Orang-orang sudah pada tidur. Kakak kasih tau sekali lagi, kakak pindah kesini. Kakak kos disini mulai hari ini. Jadi kamu tidak akan merindukan kakak lagi, kita bisa bertemu setiap hari seperti keinginanmu."
Aku tertawa tidak percaya. "Hello... memangnya aku siapa kak meminta kakak untuk bertemu denganku setiap hari. Kakak seorang yang sibuk, dan tidak mungkin aku meminta kakak begitu saja. Aku juga tau diri kali, kak."
Jari telunjuknya yang tadi di taruh di bibirnya kini menggaruk pelipisnya. "Ah, begitu ya. Ya sudah, kita pcaran saja," balasnya santai.
Oh my gosh. Demi apa Erfan mengajakku pacaran?
Dia menyukaiku?
Benarkah?
"Ya, kakak menyukaimu sejak awal kita bertemu, Erfi. Dan sikapmu yang selalu mendukung kakak yang bukan siapa-siapa ini semakin meyakinkan kakak kalau kamu adalah seorang yang tepat untuk kakak."
Astaga, dia juga bisa membaca pikiranku. Berarti dia juga tau kalau aku mengaguminya. Eh, bahkan lebih. Aku menyukainya.
"Hm, kakak tau."
Aku melotot seketika. Oh my gosh, malunya diriku.
Kepalaku menunduk dengan wajah merengut. Jangan memikirkan apa-apa. Hentikan semua pikiran konyol, hentikan! batinku.
"Bagaimana?" tanya Erfan saat aku masih terdiam.
"Eh?"
"Kamu mau tidak jadi pacar kakak? Bukannya kakak udah bilang tadi."
Tidak memikirkan apa-apa lagi, aku mengangguk malu-malu. Kesempatan itu dimanfaatkan Erfan untuk meraihku dalam pelukannya. Tubuhku hanya bisa menegang tanpa membalas pelukannya. Semua berjalan begitu saja.
Sesuatu yang hangat mendarat di keningku saat dia melepaskan pelukannya. Dia mencium keningku!
"I love you," bisiknya.
Tidak ada balasan dariku, bibirku seakan masih enggan mengucapkan kalimat pendek itu. Tapi dalam hatiku berteriak kalau aku juga sama dengannya.
"Naiklah," perintahnya.
Kamarku memang ada di lantai atas. Lantai atas dikhususkan untuk wanita single, sedangkan di lantai bawah untuk laki-laki dan keluarga. Ada dua keluarga kecil yang tinggal di bawah.
Kebanyakan anak kos memang anak-anak sma dan juga beberapa yang sama sepertiku, tinggal di sini sebagai perantau.
Tanganku memegangi jantung yang masih berdetak kencang. Astaga, aku mempunyai seseorang yang mencintaiku untuk pertama kalinya. Rasanya begitu menyenangkan. Inikah yang sejak dulu dirasakan semua teman-temanku dan tidak pernah kurasakan sekalipun?
Aku menghirup nafas dalam-dalam. Sepertinya aku akan gila karena rasa ini.
"Tidurlah segera, jangan berpikiran macam-macam." Sebuah pesan dari Erfan.
Bagaimana Erfan bisa tau kalau aku sedang senyum-senyum sendiri di sini? Aku menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran buruk. Erfan bahkan tidak tau letak kamarku yang mana.
Sengaja tidak kubalas pesannya, agar dia mengira kalau aku sudah tertidur.
Sosok tampan itu sudah menunggu di pintu depan saat aku menuruni anak tangga. Senyumnya begitu manis menyambutku pagi ini. Semangatku meningkat drastis begitu melihatnya. Langkahku kupercepat dan langsung menggamit lengannya.
Lihatlah bagaimana perbedaan kami saat ini. Dia sangat rapi dengan kemejanya, sedangkan aku hanya mengenakan kaos kucel yang berhasil kubawa dari rumah.
"Kakak ganteng banget pagi ini, mau ketemu siapa?" tanyaku dalam perjalanan.
"Ingin ketemu pacar dulu, lalu ketemu beberapa pelanggan nanti, masih ditemani si pacar. Kita sarapan dulu," ajaknya.
Hari ini aku berniat menemaninya karena pak Jonan memberiku libur hari ini. Tidak ada salahnya untuk mengetahui bagaimana cara kerja kekasihku ini. Hatiku tergelitik saat menyebutnya kekasih.
Aku mengangguk cepat. Perutku sudah lapar. Seperti biasa, makan di tempat yang sama dengan semalam. Sepertinya tempat ini sudah menjadi markas saja. Bukan hanya kami berdua, banyak orang lain juga, termasuk beberapa pengisi kosku. Beberapa yang masih mengenakan seragam putih abu-abu, dan lainnya sepertiku dan Erfan.
"Kayaknya ada pasangan baru, nih," celutuk seseorang.
Ocehan singkat itu mampu membuatku tersedak. Erfan dengan sigapnya mengambilkan segelas air untukku dan kutegak hingga menyisakan sedikit. Tangan Erfan juga mengelus pundakku perlahan.
Beberapa dari mereka tertawa melihatku. Astaga, ini memalukan sekali. Bagaimana seorang Kiza bisa sebodoh ini? Erfan bahkan tersenyum padaku.
"Bagaimana mereka bisa tau secepat itu, kak?" bisikku saat orang-orang sudah mulai bepergian.
Jari telunjuk Erfan menyentuh keningku. "Terlihat jelas disini. Kakak pikir mereka juga bisa membaca pikiranmu. Wajahmu memang sangat menunjukkan apa yang sedang kamu pikirkan. Sangat mudah ditebak," ledeknya.
Aku merengut kesal. Melanjutkan sarapanku yang sempat tertunda.
"Kamu tunggu kakak di sini. Kakak sedang ada tamu. Kalau seseorang mencari kakak, bilang saja untuk menunggu sejenak," pintanya yang kubalas dengan anggukan. Sepertinya seorang tamu yang penting.
Dia berlalu dengan langkah tegas. Dari belakang saja dia sangat tampan. Aku tersenyum menyaksikannya. Seseorang di ujung sana sudah menunggunya. Melihat penampilannya, sangat menunjukkan kalau dia orang yang penting.
Hanya sepuluh menit berlalu, seorang ibu paruh baya datang menghampiriku yang duduk di kursi kasir. "Mbak, mas Erfannya dimana?" tanyanya.
"Oh, kak Erfan masih ada tamu penting, bu. Kalau tidak keberatan, ibu bisa menunggu sebentar," jawabku dengn senyuman tipis.
Si ibu manggut-manggut kecil sambil perlahan melangkahkan kakinya meneliti beberapa barang sampel yang ada di ruangan. Terbersit sedikit kecurigaan dalam pikiranku, tapi segera kuenyahkan. Tidak baik berburuk sangka.
Beberapa menit kemudian, si ibu datang lagi ke arahku dan duduk di salah satu kursi yang tersedia. Meletakkan tas yang sejak tadi diapitnya di bawah lengan. Sepertinya cukup mahal dilihat dari penampilannya. Aku sering menilai barang milik mama, walau aku tidak menyukai hal-hal seperti itu. Entah karena aku terlalu sering bergaul dengan ketiga kakakku, aku menjadi tidak feminim layaknya seorang gadis pada umumnya.
"Kira-kira masih lama nggak ya?"
Kulirik jam tanganku. "Mungkin sekitar sepuluh menit lagi, bu. Kalau ibu buru-buru, bisa datang lain kali," balasku.
Si ibu menggeleng. "Oh, nggak. Ibu bisa tunggu sebentar lagi. Mbak siapanya mas Erfan ya?"
Wah, kepo nih ibu-ibu. Sepertinya ibu-ibu gosip yang sering ikut arisan.
"Oh, saya kenal dekat dengan kak Erfan, bu."
Si ibu mengangguk lagi. Sebenarnya apa yang membawa ibu ini kesini? Dia tidak berniat menggoda pacarku kan?
Hush! Pikiran macam apa itu?