Kedatangan Erfan menyelamatkanku dari segala pikiran buruk. Dia sudah menyelesaikan segala urusannya dengan bapak-bapak buncit kepala setengah botak tadi.
"Eh, ibu Jani. Ada yang kurang lagi, bu?" sapa Erfan begitu melihat si ibu ada di dekatku. Sepertinya cukup akrab.
Astaga! Kenapa dengan diriku. Apakah harus dipermasalahkan ketika Erfan menghadapi pelanggannya? Sudah pasti kalau si ibu ini sedang mencari properti makanya datang ke tempat ini. Tidak akan ada alasan lain, batinku.
Si ibu yang disebut ibu Jani oleh Erfan berdiri dengan cepat, mendekati Erfan dan menarik lengannya untuk menjauh dariku. Wah, si ibu semakin membuatku curiga saja. Kalau memang bicara bisnis, memangnya tidak bisa dilakukan disini saja? Sepertinya dia tidak ingin aku mendengarnya.
Aku hanya mengamati keduanya dari dalam sini. Beberapa kali terlihat si ibu menyentuh lengan Erfan, terlihat seperti sedang membujuk atau apalah.
Kepala kusandarkan ke meja, tidak ingin melihat lebih banyak lagi. Ugh, ternyata aku seorang pencemburu juga.
"Kenapa cemberut gitu?" tanya Erfan beberapa saat kemudian. Dia sudah selesai dengan si ibu ternyata.
Aku hanya menggeleng. "Tidak apa-apa."
Erfan tersenyum geli. "Tidak perlu memikirkan yang aneh-aneh. Cinta kakak hanya untuk kamu. Ibu tadi memang meminta kakak menjadi menantunya, tapi kakak tolak mentah-mentah. Sepertinya dia sudah mencium sesuatu yang baik untuk masa depan. Tapi kamu tenang saja, kakak tidak tertarik. Sekarang kakak mau ke gudang dulu," katanya dan berlalu begitu saja.
Ah, aku lupa kalau dia bisa membaca pikiranku. Sekalipun aku berbohong mengatakan tidak apa-apa, dia akan mengetahuinya.
Dan jujur sekali dia mengatakan hal itu. Tidak ingin menyembunyikan apa-apa dariku. Aku jadi merasa bersalah telah menyembunyikan jati diriku yang sebenarnya. Bagaimana kalau dia marah besar saat mengetahuinya nanti?
Eh, jangan sampai memikirkan hal itu di depannya, bisa-bisa dia mengetahui segalanya dan hancur sudah semua yang aku lakukan. Aku akan mencari cara untuk memberitahukannya nanti. Bagaimana aku mempertanggungjawabkannya, akan menjadi masalah nanti. Aku nikmati saja yang ada sekarang, mumpung aku masih diijinkan untuk ini.
"Kak, bagaimana kalau aku bekerja di tempat kakak saja? Seperti tadi, kakak sedang ada tamu, aku bisa menjaga tokonya. Aku jadi tidak harus bertemu dengan Nigo dan diganggu terus olehnya," ideku tiba-tiba.
"Kakak belum bisa membayarmu seperti yang kamu dapat disana. Itulah kenapa kakak juga tidak menerima pekerja lain. Kakak berencana kalau semakin lancar, akan mengajakmu kesini juga."
Aku menggeleng. "Tidak masalah. Aku tidak memikirkan berapa uang yang aku peroleh, yang penting aku nyaman saja. Dan aku menikmati disini."
Erfan mencolek hidungku. "Kamu bukan menikmati tempat ini, tapi menikmati kakak. Puas memandangi kakak seharian, huh?"
Haha. Dia tidak bisa dibohongi.
"Kakak nerima aku nggak jadi karyawan kakak?" desakku tak ingin membahas tebakannya yang sangat tepat.
"Ya sudah. Kamu bekerja di sini. Kakak akan memberitahukan beberapa hal padamu mulai besok. Kakak juga sangat senang kamu mau pindah kesini. Kakak pikir kamu sudah sangat nyaman di toko Nigo. Malah membuat kakak berpikir ulang akan mengajakmu."
Aku melonjak kegirangan. Aku akan bebas dari si bocah tengil itu.
"Eh, kalau pak Jonan nggak ijinin aku berhenti gimana?"
"Kalian tidak ada kan terikat kontrak? Tidak masalah sama sekali kalau kamu kabur begitu saja. Dia tidak punya hak untuk memaksa kamu tetap bekerja untuknya. Kamu bebas pergi kapan saja kamu mau."
Benar juga katanya. Aku tidak pernah membuat kontrak kerja dengan pak Jonan. Aku hanya bekerja karena keinginanku.
***
"Hai mas Erfan," sapa seseorang tiba-tiba.
Kami menoleh bersamaan. Sosok seorang ibu muda muncul di depan kami. Ibu muda yang cukup modis di tempat ini. Terkenal karena kecantikannya. Katanya sih memang berasal dari kota.
"Bagaimana dengan pesanan saya kemarin, mas?" tanyanya dengan nada yang terdengar, ugh, menggelikan. Apa semua pelanggan Erfan seperti ini? Bisa jadi sih, mengingat lebih banyak ibu-ibu yang terlibat dengan properti. Ini tidak benar. Pilihanku untuk menjadi karyawannya adalah pilihan yang sangat tepat meski aku harus sering berhadapan dengan makhluk-makhluk seperti ini.
"Oh, sudah ada bu. Mau diambil sekarang?"
"Iya," balas si ibu modis dengan manja.
Erfan berjalan menuju gudang penyimpanannya yang tidak jauh dengan toko utama. Tidak terlalu besar.
Tak lama, sebuah mobil muncul. Jasa antar barang. Erfan masih menyewa mereka dengan alasan belum mempunyai cukup biaya untuk membeli mobil pengangkut sendiri.
"Pelanggan kakak kebanyakan ibu-ibu?" tanyaku dalam perjalanan pulang.
Sudah beberapa hari ini aku bekerja dengannya, sejauh pengamatanku, tujuh puluh persen pelanggannya tampilannya sama. Aku tidak menyangka ada sebanyak itu ibu-ibu modis di daerah ini. Dan ternyata memang bukan hanya dari daerah ini saja yang datang pada Erfan dari desa tetangga juga datang, mengingat hal ini masih sangat baru disini. Kuakui Erfan cukup pintar memilih dan melakukannya.
"Tidak perlu berpikiran macam-macam, sayang. Wajar saja kan, ibu-ibu yang mengurusi rumah, jadi tau betul apa yang kurang di rumah mereka."
"Iya, tau sih. Tapi kayaknya modelnya seperti itu semua. Nggak ada yang lebih baik apa."
"Justru ibu-ibu yang seperti itu yang sangat menginginkan hal-hal baru di rumahnya. Kamu perhatikan saja ibu-ibu yang standar, mereka lebih mementingkan hal yang mendesak dan perlu. Bukan untuk tampil mewah. Dan kamu pasti akan lebih mudah memahaminya."
Pikiranku melayang pada mama. Mama memang salah satu dari sekian banyak ibu modis, dan menurutku sangat menggilai hal-hal mahal. Mengoleksi puluhan hingga ratusan tas dan sepatu mahal. Didukung oleh keuangan papa yang tidak tersendat sedikitpun. Menyanggupi segala sesuatu yang diinginkan mama, tak ada penolakan.
Beberapa lama aku terlibat dengan Erfan, aku akhirnya bisa menerima kenyataan itu. Dia memang selalu berhadapan dengan ibu-ibu itu. Aku sangat salut padanya yang tidak tergoda sedikitpun saat beberapa dari mereka meminta Erfan menjadi menantu mereka. Memangnya siapa sih yang tidak menyukai pemuda yang gigih sepertinya.
Sosok Nigo bahkan perlahan tenggelam karena keberhasilan Erfan dengan bisnisnya. Bagi mereka, Nigo tidak lebih dari seorang pria yang hanya mengandalkan harta orang tuanya, tidak seperti Erfan yang berusaha sendiri melakukannya.
Aku tersenyum melihat Erfan yang sedang bernego dengan seorang pelanggan. Dari yang aku dengar sebelumnya, mereka dari kampung sebelah dan berencana membeli banyak barang. Mereka baru saja pindah kesana.
Sebuah mobil mewah berhenti dan sepertinya Erfan masih belum menyadarinya. Aku berjalan mendekat, mungkin mereka adalah pelanggan lain hari ini.
Sebelum aku mencapai mereka, beberapa pria dengan setelan serba hitam turun dari mobil. Jantungku berdegup sangat kencang. Jangan-jangan mereka adalah suruhan papa dan mereka menemukanku.
Terlambat untuk bersembunyi, mereka sudah melihatku sejak tadi. Salah sendiri aku terlalu pede menemui mereka. Beginilah akibatnya. Mana aku tidak bisa mengenali mereka, bahkan aku tidak pernah mengenali dari sekian bodyguard yang pernah menjagaku selain mas Galang yang paling tampan diantara semuanya dengan wajah datarnya. Tapi tidak ada pria itu di antara sekian orang yang kulihat. Mungkin ini bodyguard lain.
Sebaiknya kuhadapi saja mereka. Tidak ada yang bisa kulakukan lagi. Kalau memang mereka akan membawa paksa aku untuk pulang, aku akan menyerah sebelum kemudian nanti akan melarikan diri lagi jika aku dipaksa menikah.
"Permisi, benar ini toko milik Erfandi?" tanya salah seorangnya.
Oh, mereka bukan mencariku. Tapi mencari kak Erfan. Dari wajahnya ini bukan pelanggan. Tapi sangat mencurigakan. Mereka bukan penjahat yang merencanakan sesuatu yang buruk pada Erfan kan?
"Iya," jawabku menganggukkan kepala. "Itu, kak Erfannya ada disana." Aku menunjuk dimana Erfan masih berbincang dengan sepasang suami istri dengan seorang anaknya tadi.
Pria yang tadi menanyakanku mengangguk pelan seakan mengucapkan terima kasih. Dia membawa semua temannya menuju ke arah Erfan. Seorang dari mereka mengenakan pakaian yang berbeda. Mungkin dia adalah bosnya.