Aku menguping dari balik tembok. Aku harus tau apa yang terjadi di balik sana. Gerombolan pria tadi memaksa Erfan masuk setelah menyelesaikan urusannya dengan pelanggan. Bisa kulihat Erfan melakukan penolakan, tapi tidak berhasil mengingat mereka yang mengeroyoknya cukup banyak. Hal itu membuatku harus tau apa yang sedang terjadi.
Suara ribut ada di dalam sana. Adu mulut dengan berbagai kalimat bujukan dan penolakan.
"Bapak sudah mencari kamu, Erfan. Jangan bertindak kekanakan lagi. Kembalilah. Bapak akan mempertimbangkan keputusannya sebelumnya. Beliau akan membiarkanmu memilih jalanmu sendiri."
Aku menutup mulut dengan apa yang sempat kudengar. Ternyata Erfan adalah anak dari orang kaya yang melarikan diri kesini, sama sepertiku. Dan dia telah berhasil membodohiku sama seperti yang kulakukan. Kami ternyata sama.
Dengan cepat aku meraih ponselku dan merekam apa yang terjadi. Mungkin akan bisa kumanfaatkan jika dia mengetahui kebenaran tentang diriku dan marah padaku, walau aku sangat tidak menginginkan hal itu terjadi. Aku hanya ingin semuanya berjalan mulus. Hal yang sangat tidak mungkin. Tidak ada yang bebas dari tantangan di dunia ini.
"Sudah berapa kali aku bilang, Jo. Aku tidak mau kembali. Bilang sama bos kamu itu kalau aku tidak akan kembali. Aku bosan hidup dalam kungkungannya. Kalau memang dia tidak memberiku warisannya, terserah. Serahkan saja semua pada kakak. Aku tidak peduli. Aku sudah cukup bahagia disini."
"Tapi bapak menginginkanmu kembali, Erfan. Beliau meminta maaf atas kesalahannya memaksakan kehendak padamu. Beliau merindukanmu, Erfan."
"Tidak perlu berbasa-basi lagi, Jo. Sampaikan saja padanya seperti apa yang aku katakan. Tidak perlu datang mencariku dan memintaku pulang lagi. Aku tidak akan mau. Dan, jauhkan orang-orangmu ini dariku. Aku tidak membutuhkannya. Pergilah sebelum aku membuat mereka semua masuk rumah sakit."
"Erfan!"
"Apa? Kau ingin memukulku? Bukankah bosmu memintamu untuk membawaku kembali dalam keadaan selamat? Seperti itu kan yang biasa dia lakukan?"
Pria dengan tampilan berbeda yang dipanggil Jo oleh Erfan melangkah mendekat. "Tapi tidak kali ini Erfan. Bapak memintaku untuk membawamu pulang apapun yang terjadi. Sekalipun harus melumpuhkanmu supaya tidak bisa melarikan diri lagi."
Erfan menantangnya. "Oh ya? Ya sudah, mari kita lakukan."
Astaga, kenapa malah jadi begini? Ingin melerai, tapi aku takut ketahuan sedang menguping. Apa yang harus aku lakukan?
Aku hanya terpekik dan menutup mulutku dengan tangan saat mereka melakukan aksi saling serang. Mataku terpaku hanya pada Erfan yang melawan balik beberapa orang yang berusaha melukainya. Tapi jauh dari dugaan, dia sangat ahli bela diri. Sebagian dari pria-pria tegap itu sudah terjatuh dengan rintihan yang tak bisa ditahan karena pukulan Erfan.
Rekamanku kuhentikan saat Erfan hampir menyelesaikan pertarungannya. Aku harus segera pergi dari sini sebelum dia menyadarinya. Kakiku melangkah cepat menuju toko utama, mengambil posisi di meja kasir seperti yang biasa aku lakukan.
Dalam beberapa menit, Erfan datang dengan sedikit lebam di wajahnya dan kaki yang pincang.
"Apa yang terjadi, kak? Kenapa kakak jadi seperti ini?" tanyaku menghampirinya.
Senyumannya masih seperti biasa, tidak tergantikan manisnya. Rintihan kecil terdengar dari bibirnya, mungkin terasa sakit saat bibirnya dipaksa tersenyum.
"Duduk, aku ambilkan obat," perintahku. Segera mengambil kotak P3K tanpa menunggu balasan Erfan.
Aku membersihkan luka di ujung bibirnya dan tangannya. kemudian mengambilkan es untuk mengompres lebam di wajahnya. Sepertinya masalah antara dia dengan orangtuanya cukup rumit juga, membuat dia tidak ingin kembali lagi. Tapi aku tak ingin menanyakannya. Yang ada malah akan memperkeruh suasana dan memperburuk hubungan kami. Biarkan dia menanganinya sendiri.
"Kamu tidak ingin tau siapa mereka?" tanyanya sambil memegangi bungkusan es yang menempel di wajahnya.
Aku menggelengkan kepala.
Dia menghela nafas dan menunduk.
"Kita pulang aja ya, kak. Kakak butuh istirahat," bujukku. Hari memang sudah sore. Tidak akan ada banyak pelanggan lagi -menurutku.
Tidak ada penolakan darinya. Aku bergegas menutup toko, merapikan barang-barang dan menyimpan buku pesanan. Tak kuijinkan dia melakukan apapun selain memegangi kompresannya. Yang bisa dilakukannya hanyalah memperhatikanku dari tempat dimana dia duduk.
"Yuk," kataku sambil menggandeng tangannya.
Masih di perjalanan, seseorang meneleponnya. Ternyata adalah seorang pelanggan yang menanyakan keberadaannya, menanyakan kenapa sudah tutup saat hari masih sore. Dia menjelaskan kalau ada sedikit masalah. Aku hanya tersenyum samar mendengar pembicaraan mereka. Padahal baru beberapa menit kami pulang. Pelanggan itu sedang tidak beruntung.
"Wah, kamu pintar juga ya, Erfi menghindar dariku. Sampai kamu malah mengundurkan diri dari toko papa demi bersama pria miskin ini." Celaan dari Nigo yang tiba-tiba ada di depan kami. Tumben sekali dia tidak mengendarai mobil mewahnya itu. Entahlah, beberapa hari ini mobil itu tidak pernah terlihat melintas.
"Ah, aku lupa. Dia sudah sedikit naik kelas dengan usaha propertinya itu. Hm, dia berani sekali menyaingiku," sambungnya lagi.
"Berhentilah menganggu kami," kata Erfan tak ingin melibatkan emosi. Dia masih kekurangan tenaga untuk membalas pria ini, sekalipun kalau adu jotos bisa aku pastikan Erfan yang akan memenangkannya. Tapi itu bukan tujuannya sekarang.
"Ouh, dia bahkan sudah berani memerintahku sekarang. Kau pikir kau siapa?" tantang Nigo.
"Berhentilah Nigo. Aku tidak ingin berurusan denganmu lagi," selaku.
"Tapi urusan kita memang belum selesai, Erfi. Kamu masih belum lupa kan dengan kata-kataku? Aku bilang aku akan kembali untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Aku akan tetap menepatinya, Erfi."
"Aku tidak akan menurutinya sampai kapanpun, Nigo. Sudahlah, kami sedang buru-buru." Kutarik lengan Erfan untuk melanjutkan langkah kami.
Tiba-tiba saja Nigo berlari ke arahku dan sepertinya akan berbuat sesuatu padaku. Tapi sayangnya kalah cepat dengan Erfan yang paham akan situasi. Dia mengambil posisi di depanku lebih dulu dan menghalangi tubuhku akan serangan Nigo. Hal itu membuat wajah Erfan begitu dekat denganku. Hidung kami bahkan bersentuhan karena dia sedikit menunduk.
Erfan memberikan sebuah kode padaku, tidak kumengerti apa maksudnya. Sedetik kemudian sesuatu menempel di bibirku. Sesuatu yang lembut dan basah. Aku mengerjap tak percaya beberapa kali. Bibir Erfan-lah yang kini menempel di bibirku. Dan dia mulai bergerak, tidak sekedar menempel lagi sekarang. Rasanya begitu manis. Aku memejamkan mata ingin menikmatinya. Bodo amat masalah ini adalah first kiss-ku. Yang melakukannya juga orang yang kucintai.
"Apa yang kalian lakukan di depanku?" teriak Nigo frustasi.
Erfan melepaskan ciumannya di bibirku. Mengedipkan sebelah matanya padaku, kemudian berbalik menghadap Nigo.
"Memangnya ada masalah denganmu kalau aku mencium calon istriku? Kalau tidak ingin melihatnya jangan berada di sekitar kami. Atau memang kamu ingin menyaksikannya lagi? Tidak masalah bagiku," balas Erfan sangat santai.
Nigo menghentak kesal. Melangkah dengan sangat cepat meninggalkan kami tanpa mengatakan apa-apa lagi. Hanya dengan seperti itu membuatnya menyerah? Benarkah seperti itu?
"Mungkin dia akan kembali lagi, tapi kakak yang akan menghadapinya. Yang penting kamu jangan berkeliaran sendiri. Dia sepertinya tidak terima dan akan membalaskanmu." Erfan berbalik melihatku lagi.
Ah, tanpa melihat wajahkupun, dia bisa tau apa yang kupikirkan. Sungguh mengesalkan! Tidak bisa menyembunyikan apa-apa.
"Memangnya apa yang mau kamu sembunyikan dari kakak?" tanyanya. Kami masih berada di tempat tadi, belum melangkah selangkah kakipun.
"Tidak ada. Kakak tau, itu adalah ciuman pertamaku. Aku tidak menyangka akan hilang dalam keadaan terpaksa seperti ini," balasku mengalihkan.
Erfan terbelalak. "Benarkah? Kalau kamu menyesal, kamu bisa mengambilnya kembali." Dia mendekatkan wajahnya padaku, membuatku refleks mundur. Tanganku tergerak menutupi mulutnya.
Dia terkekeh saat tanganku sudah disingkirkannya dari mulutnya, tentunya tak lupa memberikan kecupan singkat di punggung tanganku. "Tapi sepertinya kamu juga menyukainya walau keadaannya seperti itu." Tangannya kemudian bergerak mengelus pipiku lembut dengan punggung jemarinya. "Thanks for your first kiss," bisiknya.
Kata-katanya tidak kubalas, bingung harus mengatakan apa. Sama-sama?