"Kamu tau kan raja sudah mengatakan bahwa kamu terlarang membahas dan menggunakan kekuatan itu?" Peringat Anne tegas.
Jawaban Anne benar-benar tak memberikan pencerahan apapun bagi Clarissa, dia butuh penjelasan bukan sanggahan. Tapi lagi-lagi ia tak bisa berbuat apapun, hanya bisa diam dan mengangguk santun.
Suasana medan perang semakin sengit, darah berceceran dimana-mana. Louis dengan kibasan pedangnya menangkis tiga pedang prajurit sekaligus, tak ada takut yang tampak di matanya, urat-urat leher yang kian tertarik, rahang mengeras, dan keringat bercucuran tak menutup ketampanannya.
Suara tangkisan pedang terdengar ngilu, meski menghadapi tiga prajurit sekaligus Louis tak kewalahan. Dengan tangkas ia menangkis, mengayunkan pedang, dan menghabisi siapapun yang menghalangi jalannya.
Jika dilihat dari kekuatan mungkin tenaga pangeran Louis akan sama saat dibandingkan 100 perajurit.
Penyerangan kali ini Louis menjadi pimpinan perang, di bawah kendalinya saat ini mereka dapat dikatakan hampir menang dalam waktu yang cukup singkat.
"Kau sangat pandai bermain pedang," puji salah seorang prajurit yang sudah berumur.
Louis tersenyum lalu kembali mengibaskan pedang, seakan di hadapannya adalah benda mati yang memang disiapkan untuk ia tebas.
"Ini semua berkat bantuan kalian," tegas Louis memantik semangat.
Pangeran Louis memang pandai bermain kata, terkadang ia terlihat angkuh, terkadang tampak sombong, dan terkadang ia juga bisa terlihat berwibawa. Mungkin banyak yang berpikir bahwa ia baik tapi tidak sedikit pula yang tak suka dengannya. Louis tidak ambil pusing.
Mereka unggul, musuh perlahan dipukul mundur dan sisanya tergeletak tak berdaya. Sebenarnya Louis hanya mengikuti arahan yang raja Henry berikan, berperang bukanlah hal sulit baginya jadi ia bersedia turun langsung menuju medan perang.
Selain di tempat mereka saat ini, di sisi utara juga tengah terjadi perang yang dipimpin langsung oleh raja Henry. Berita mengenai salah seorang yang kerajaan LOV utus telah dihukum mati oleh raja Charles menjadi pemantik amarah raja Henry hingga memerintahkan melakukan p*********n saat kerajaan musuh tengah lengah.
"Kita menang!" Sorak salah seorang prajurit yang memancing suka cita.
***
"Siapkan pasukan! Kita akan segera menuju perbatasan utara dan panglima Robert beserta pasukan akan menuju perbatasan selatan!" Perintah tegas Charles.
Hingar bingar, ketegangan dan langkah-langkah berlarian kesana-kemari mengumpulkan para prajurit. Raja Charles benar-benar marah mendengar berita bahwa pasukannya kalah di perbatasan yang artinya pertahanan mereka akan ditembus oleh musuh.
Tak perlu menunggu lama pasukan telah siap, raja beserta pasukannya langsung menuju perbatasan utara sedangkan Robert dan pasukannya menuju perbatasan selatan.
Pasukan Louis semakin mendekati kerajaan namun perjalanan mereka terhenti saat Robert beserta pasukan menghadang. Genderang perang kembali berbunyi nyaring, tangkisan pedang saling berasahut-sahutan, kali ini Louis mengakui bahwa yang ia hadapi bukan sekumpulan benda mati yang memang siap ditebas. Robert cukup tangguh.
"Menyerahlah pasukanmu sudah semakin berkurang," hardik Louis sembari lincah menggerakkan pedang.
"Tak akan pernah!" Balas Robert semakin beringas.
Keduanya terlibat pertarungan sengit bahkan Robert sudah terluka di lengan kanannya.
Ternyata kehebatan Robert belum bisa menandingi kekuatan pangeran Louis, panglima itu berhasil ditangkap dan dibawa paksa oleh para pasukan kerajaan LOV.
Pertahanan kerajaan Iceland akhirnya bisa perlahan ditembus oleh pasukan Louis. Sementara di perbatasan utara, raja Charles mulai kewalahan ditambah berita kekalahan di perbatasan selatan membuat mereka perlahan mundur. Setelah mengerahkan beberapa prajurit untuk menjemput beberapa orang di istana, mereka akhirnya mundur dan masuk dalam hutan.
Keriuhan terjadi di istana, mereka diboyong menuju hutan yang telah diperintahkan raja Charles, semua sibuk mengurus ratu dan keluarga mereka agar tak terkena imbas tembusnya pertahanan kerajaan.
Setelah jauh dari istana, ratu yang sedari tadi mencari keberadaan putri Clarissa sangat panik karena tak menemukan putri dimana-mana namun seorang dayang mengatakan bahwa pasukan putri telah berangkat lebih awal hingga ratu dapat bernapas lega.
Sementara Clarissa yang baru kembali dari belahar pedang dengan kakek Geras kebingungan mendapati istana sepi dan tampak prajurit asing berada di sana.
"Lihat itu!" Teriak seorang prajurit.
Setiap pasang mata tertuju pada gadis yang kini berdiri cengo keheranan dengan apa yang ia lihat. Pangeran Louis yang berada tak jauh dari gerbang langsung mendekati gadis itu dan menempelkan pedang di leher Clarissa.
"Siapa kamu?"
Clarissa susah payah menelan ludahnya sendiri, apa istana telah dikuasai musuh?
"Harusnya saya yang bertanya! Berani-beraninya kamu berlaku tak sopan!" Balas Clarissa tak kenal takut.
Menarik. Pangeran Louis menurunkan pedang lalu menatap Clarissa dari atas hingga bawah seolah menilai.
"Keturunan kerajaan Iceland, bukankah semuanya telah musnah?" Tanya Louis mendekat.
Siapa yang tak kesal jika tatapan menilai ditampakkan pada kita apalagi situasinya kita seorang diri seolah salah masuk kandang yang padahal tempat itu adalah rumah sendiri?
Louis mendekat kemudian berusaha menyentuh rambut Clarissa, tak terima Clarissa langsung menepis tangan kekar itu namun tiba-tiba kekuatan es keluar dari tangannya.
Pangeran Louis beserta pasukannya terkejut bukan main ternyata isu bahwa sudah tak ada lagi yang memiliki darah asli kerajaan Iceland yang dapat dilihat dari kekuatan es yang mereka miliki ternyata tidak benar adanya.
Dengan satu kode yang diberikan pangeran, seorang prajurit meniupkan sejumlah jarum yang berisi bius ke arah putri Clarissa hingga pingsan. Kini gadis yang memiliki kekuatan es itu sudah menjadi tawanan pangeran.
Dalam ruang yang Clarissa sadari adalah kamarnya sendiri ia mendapati seorang pangeran tengah berdiri di samping ranjang.
"Siapa kamu? Beraninya kamu masuk kamar saya!" Clarissa berusaha bangun.
"Putri Clarissa, kamu sudah menjadi tawanan perang." Perempuan di hadapan pangeran Louis sangatlah cantik, diketahui dari seorang yang berhasil mereka tangkap bahwa putri Clarissa adalah putri yang akan meneruskan tahta kerajaan Iceland. Louis terpana, belum pernah ia dapati putri kerajaan lain yang memiliki paras secantik Clarissa.
"Kamu akan saya jadikan selir," ujar Louis mendekati Clarissa.
Gadis itu spontan berdiri menjauh.
"Saya seorang putri! Pantaskah kau mengatakan kalimat menjijikan seperti itu?" Sinis Clarissa tanpa kenal takut.
Pangeran Louis tertawa menyeramkan, Clarissa tak tahu bagaimana nasibnya selanjutnya semua ini benar-benar terjadi secara tiba-tiba.
"Bisakah kamu memilih?" Seringai Louis membuat nyali Clarissa menciut.
"Pergi!" Usir Clarissa melemparkan seluruh barang yang bisa ia gapai.
Merasa lawan yang ada di hadapannya tak sepadan akhirnya pangeran Louis memilih mundur dan keluar kamar Clarissa.
Sedikit lega, namun semua itu tak berarti apa-apa. Ternyata kamar Clarissa telah dijaga ketat lalu bagaimana ia akan melarikan diri dari?
***
Raja Henry beserta pasukan telah memenangkan perang di bagian utara perbatasan, mereka kembali ke kerajaan LOV setelah mendengar bahwa pangeran Louis telah berhasil menduduki kerajaan Iceland. Memang tak diragukan lagi kehebatan pangeran Louis hari ini ia telah membuktikannya.
Sementara pangeran Louis lebih memilih sementara tinggal di kerajaan Iceland apalagi ada seorang putri cantik yang kini menjadi tawanannya. Mengatur sistem pemerintahan di kerajaan yang baru mereka dapat dan sembari berusaha membuat Clarissa tunduk tanpa merasa takut itulah tujuan pangeran Louis.
"Apakah saya pantas menjadi seorang selir?" Tanya Clarissa berapi-api. Tentu saja, dirinya yang sangat pantas naik tampuk kekuasaan sebagai ratu tidak pantas jika hanya dijadikan selir.
"Lalu apa maumu?"
"Jadikan saya ratu utama," putus Clarissa sudah tak memiliki jalan lain.