"Apakah saya pantas menjadi seorang selir?" Tanya Clarissa berapi-api. Tentu saja, dirinya yang sangat pantas naik tampuk kekuasaan sebagai ratu tidak pantas jika hanya dijadikan selir.
"Lalu apa maumu?"
"Jadikan saya ratu utama," putus Clarissa sudah tak memiliki jalan lain.
Louis tersenyum tertarik dengan pemikiran gadis itu, benar juga sangat disayangkan jika Clarissa hanya dijadikan seorang selir lagipula ia juga akan membutuhkan sosok ratu untuk mendampinginya yang akan segera naik tahta.
"Baik." Putus Louis cepat.
Clarissa tergagu, dia kira Louis akan menolak permintaannya tapi ternyata ia salah menduga. Bagaimana ini sekarang ia malah terjebak dalam rencananya sendiri.
Langkah pangeran Louis kian mendekat, Clarissa tak tahu harus bagaimana.
Dengan gerakan cepat, Clarissa mengambil pedang yang pangeran Louis bawa.
"Mundur!" Hentaknya.
Apa-apaan ini, pangeran Louis benar-benar tak habis pikir apa yang putri Clarissa inginkan sedetik yang lalu mereka sudah berada dalam kesepakatan tapi sekarang putri malah kembali ingin menyerangnya.
Tanpa berkata apapun, pangeran Louis langsung menyergap Clarissa dengan gerakan cepat. Karena tak siap dengan gerakan pangeran Louis akhirnya ia tertangkap.
"Prajurit!" Panggil pangeran Louis naik pitam.
Dua orang prajurit yang tadinya berjaga di depan pintu langsung masuk.
"Bawa dia ke penjara bawah tanah!" Perintah pangeran Louis.
Clarissa panik, bagaimana ia bisa kabur jika sudah masuk penjara? Apa dirinya akan membusuk di sana? Lalu apa yang harus ia lakukan? Sekuat tenaga ia memberontak, dengan sekuat tenaga hampir saja Clarissa lupa bahwa ia memiliki satu kekuatan yang tak dimiliki orang lain tapi bagaimana cara ia mengeluarkan kekuatan es kenapa saat terdesak seperti ini malah kekuatannya tak berfungsi?
Dalam penjara Clarissa berusaha mengeluarkan kekuatannya dengan berbagai cara namun hasilnya tetap nihil.
"Aaa!" Geramnya mulai frustasi.
"Putri Clarissa?" Panggil seseorang yang terhalang tembok penjara.
Clarissa merasa kenal dengan suara itu, sangat tak asing.
"Robert?" Panggil Clarissa ragu.
"Iya tuan putri, ini saya."
"Bagaimana kau bisa berada di sana?" Tanya Clarissa mendekati tembok. Ditempelnya telinga hingga menyentuh tembok kasar itu untuk mendengar lebih jelas.
"Panjang ceritanya, yang pasti kita harus bisa melarikan diri." Pungkas Robert.
Clarissa sangat setuju dengan perkataan sang panglima, mereka harus bisa melakukan sesuatu agar bisa keluar dari tempat terkutuk itu.
Robert mulai mengorek tembok menggunakan potongan baju perang miliknya sedangkan Clarissa tetap berusaha mengeluarkan kekuatan yang entah bagaimana bisa hilang secara tiba-tiba.
Ditengah kesibukan mereka, terdengar suara gemuruh yang cukup kencang di bagian atap penjara. Setetes demi setetes air sedikit merembes ke tempat Clarissa. Gadis itu menyentuh air lalu membasahkan telapak tangannya dan keajaiban itu terjadi.
Kekuatan Clarissa kembali!
"Panglima, saya perintahkan kamu mundur jangan mendekati tembok," ujar Clarissa.
Tanpa menunggu lama, gadis itu langsung mengarahkan telapak tangannya ke arah tembok dan benar saja tembok itu langsung hancur. Ia tak peduli lagi dengan larangan raja, lagipula ini situasi yang sangat sulit dan kekuatan milik Clarissa cukup membantu.
Robert terkejut bukan main, bagaimana bisa Clarissa meruntuhkan tembok dengan begitu mudah dan darimana datangnya kepingan-kepingan es yang kini tepat berada di sekelilingnya. Bukankah kekuatan itu sudah tak dimiliki siapapun di kerajaan Iceland?
"Bagaima—"
"Lupakan saja, kita harus segera keluar dari sini," potong Clarissa cepat.
Setelah meruntuhkan besi-besi yang menjadi pintu penjara akhirnya mereka mulai mengendap-endap keluar dari penjara. Sayangnya tak semudah itu, para penjaga ternyata hilir mudik di sekitar pintu utama penjara.
Robert mengalihkan perhatian salah seorang prajurit lalu dengan sigap menyergapnya, kemudian datang seorang prajurit lagi yang mendengar adanya keributan sayangnya prajurit itu masih kalah jauh dengan Robert dan akhirnya kembali disergap.
Mereka berdua mengganti pakaian menggunakan seragam prajurit agar tak nampak mencolok saat keluar dari penjara. Baju Clarissa nampak kebesaran, namun semua itu tak menutup kecantikannya. Untuk menyempurnakan penyamaran, Clarissa menutup bagian wajah dengan pengikat kepala membentuk seperti masker.
"Tuan putri tetaplah di dekat saya," ujar Robert mengingatkan.
Dengan perlahan mereka keluar dari penjara, bersembunyi di sudut tembok kemudian berjalan mengendap menuju pohon besar. Gerbang sudah nampak semakin dekat.
"Berhenti, mau kemana kalian?" Panggil salah seorang prajurit.
Robert menarik tangan Clarissa lalu berlari, tak menunggu waktu lama sudah banyak prajurit yang mengejar mereka karena gelagat yang aneh.
Clarissa mengikuti tarikan Robert, jangan sampai mereka kembali ditangkap dan dimasukkan dalam penjara. Tinggal sedikit lagi mereka akan lolos dari sana.
Pangeran Louis berlari dari dalam istana ikut mengejar Robert dan Clarissa, kejar-kejaran tak dapat dihindari.
Merasa terdesak, Clarissa mengarahkan tangannya ke arah prajurit Louis dan keajaiban itu kembali terjadi. Dinding es tebal dan kuat mengurung Louis beserta pasukannya sementara Robert dan Clarissa kembali berlari semakin menjauh.
"Akan kemana kita?" Tanya Clarissa kebingungan.
"Hutan putri, raja sudah mempersiapkan tempat apabila kerajaan jatuh ke tangan musuh."
***
Sementara di dalam hutan ratu Anne panik bukan main karena tak mendapati putrinya dimanapun. Entah apa yang sudah terjadi pada putrinya, yang pasti ia berharap bahwa putrinya dalam keadaan baik dimanapun dia berada.
"Lupakan dia! Mungkin sudah mati di tangan musuh, jangan buang tenaga untuk hal tak berguna!" Murka raja pada Anne.
Singkirkan titel bahwa ia adalah raja, apakah pantas seorang ayah berkata demikian mengenai putrinya sendiri?
"Tolong selamatkan dia yang mulia," mohon Anne berlutut berurai air mata.
Para dayang dan prajurit yang tersisa tak berani berkomentar, meski dalam hati mereka sangat dongkol dengan sikap raja. Putri Clarissa sangatlah baik dan dicintai rakyanya berlainan dengan raja yang sangat angkuh.
"ADA PENYUSUP!" teriak seorang dayang yang melihat dua orang mendekat dengan seragam prajurit kerajaan LOV.
Dengan sigap semua mengepung mereka dan raja sendiri sudah mengayunkan pedang ke arah dua orang yang disangka penyusup.
Apakah mereka benar-benar penyusup atau malah Clarissa dan Robert? Lalu apa yang akan terjadi?