Semua pasukan langsung membentuk formasi penjagaan dan pertahana yang ketat untuk melindungi raja dan ratu dari ancaman musuh. Sebagian langsung membawa ratu untuk menyingkir sedangkan pasukan lain langsung ikut bersama raja untuk menumpas musuh, mereka sangat yakin bukan hanya dua orang saja yang ada di sana dan mereka harus siap dengan segala situasi tak terduga tersebut.
Dua orang pasukan segera menyerang penyusup, hening yang sebelumnya mereka rasakan kini berubah menjadi suasana genting mengerikan yang begitu mengejutkan. Suara dentingan pedang menghasilkan ngilu bagi siapapun yang mendengar tak terkecuali mereka yang tengah bertarung hingga menumpahkan darah.
Charles sangat marah apalagi melihat pasukannya yang begitu lemah dan hampir dikalahkan oleh musuh yang jumlahnya jauh lebih kecil dibanding mereka. Wajah memerah itu langsung mengibaskan pedang membabi buta, kegilaan Charles tak hanya sampai di sana ia bahkan menuntaskan semuanya dengan pedang panjang yang ia bawa.
"Bodoh kalian semua!" maki Charles dengan urat yang mengeras serta rahang yang sama kerasnya menandakan kemarahan.
Ia tak habis pikir sehari-hari prajurit ini habiskan untuk berlatih agar mampu mengalahkan musuh tapi yang terjadi malah sebaliknya mereka yang begitu mudah dikalahkan musuh.
Setelah diyakini musuh sudah disapu bersih, Charles mengacungkan pedang pada salah satu prajurit yang ia anggap termasuk dalam deretan terkuat yang mereka miliki.
"Sepertinya latihanmu selama ini tidak ada gunanya!" tambah Charles.
Tak ada satupun diantara pasukan yang berani menjawab makian dan celaan yang Charles layangkan pada mereka. Cukup pasrah dan memekakkan telinga masing-masing agar kuat mendengar segala cecaan dari Charles.
Sebenarnya kita semua kuat tapi akan ada saatnya kita menjadi lemah apalagi jika dipimpin oleh pemimpin yang tak mampu membangkitkan kekuatan dari pasukannya. Seperti yang Charles lakukan termasuk dalam satu dari sekian banyak tindakan yang mampu menurunkan kekuatan para kesatria kerajaan Iceland, karena apa? Karena bagaimana kita bisa kuat dan bagaimana kita bisa membangkitkan semangat jika seseorang yang seharusnya menjadi pegangan kita dan menjadikan kita lebih berkeinginan kuat untuk menjaga suatu kerajaan malah ia yang perlahan menjatuhkan kita dari dalam.
Meski banyak beban yang ingin mereka muntahkan pada Charles tetap saja tak ada satupun mulut yang berani mengeluarkan pendapatnya. Hinaan? Cercaan? Cacian? Makian? Pada akhirnya semua itu akan dibalas dengan diam.
"Sekarang cari tempat yang aman untuk bermalam, tempat ini sudah tidak aman."
***
Malam gelap hanya dibantu cahaya obor yang dibawa dua orang prajurit dari barisan terdepan dan satu lagi di barisan paling belakang yang menjadi penerang jalan mereka menembus hutan.
Kita memang bisa menyiapkan kemungkinan terburuk ketika kerjaan diserang tapi seharusnya kerajaan sudah menyiapkan beberapa opsi yang bisa digunakan untuk tempat persembunyian tidak seperti ini malah jadi luntang-lantung tidak jelas. Sebenarnya kesalahan ini kembali lagi pada sang raja yang terlalu naif berpikir bahwa mereka tak akan pernah angkat kaki dari kerajaan malah mereka yang akan mengusir kerajaan lain dari istana mereka, pikiran naif dan terlalu kepedean yang dimiliki raja inilah yang menjadi salah satu kelemahan pertahanan kerajaan Iceland. Jika saja Charles lebih membuka diri dan menerima berbagai saran yang diberikan mungkin akan ada beberapa hal yang mereka lakukan berjalan lebih mudah tapi sayang seribu sayang sangat sulit memahami isi kepala Charles.
Suara langkah demi langkah berpadu dengan nyanyian jangkrik di tengah hutan, pekatnya malam sudah bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk terus masuk semakin dalam melewati pepohonan besar bahkan semak belukar. Tak ada keluhan ataupun rintihan yang seharusnya seorang tuan putri keluhkan karena tak terbiasa berjalan sejauh ini, Clarissa sangat berbeda dengan putri kebanyakan.
"Apa kamu yakin jalan ini benar?" tanya Clarissa memastikan.
Robet yang berada di depan sembari membersihkan jalan untuk Clarissa mengangguk yakin, bulir-bulir keringat di tubuhnya menunjukkan betapa seriusnya seorang panglima perang akan menjaga tuan putri melebihi nyawanya sendiri.
"Maaf tuan putri apakah anda butuh istirahat atau membutuhkan hal lain?" Robert menghentikan langkahnya kemudian berbalik menunggu jawaban Clarissa sembari menunduk penuh hormat.
"Tidak Robert, saya hanya bertanya saja. Mari lanjutkan," tambah Clarissa.
Semakin cepat mereka menembus semak belukar ini maka akan semakin cepat pula Clarissa dan Robert bisa menyusul pasukan kerajaan.
Dengan penerangan seadanya dari obor kecil yang Clarissa bawa akhirnya mereka tiba juga ke tempat yang Robert ketahui akan menjadi persembunyian pasukan kerajaan Iceland jika kerajaan dikuasai musuh.
Mata Clarissa membelak sempurna, tangannya terkepal erat dengan wajah berembun yang belum padam keringat. Robert juga sama terkejutnya melihat tempat tersebut sudah banyak pasukan terkapar baik yang mengenakan pakaian kerajaan Iceland maupun prajurit kerajaan lain. Melihat hal tersebut membuat Robert langsung waspada karena ditakutkan masih ada pasukan musuh yang bersembunyi di sekitar sana, hal utama yang harus ia lakukan adalah memastikan bahwa Clarissa aman dari musuh dan kembali pada kerajaan tanpa kurang satu apapun.
"Tuan putri tetap waspada saya akan memastikan terlebih dahulu apa masih ada pasukan kita yang tersisa dan apakah tempat ini sudah aman dari musuh," ujar Robert memeriksa beberapa orang yang ada di sana.
Dengan perlahan ia menekan bagian nadi orang-orang yang tergeletak untuk memastikan apakah orang tersebut masih hidup atau sudah mati. Setelah semua ia periksa ternyata tak satupun dari mereka yang tersisa masih hidup dan kabar buruknya Robert hanya mengetahui tempat ini yang akan dijadikan sebagai persembunyian dari kerajaan Iceland. Jika sudah seperti ini kejadiannya jangan tanyakan pada Robert apa yang harus mereka lakukan karena dia sendiri sudah merasa cukup buntu dengan jalan ini.
"Bagaimana apakah ada petunjuk?" tanya Clarissa.
Robert sendiri tak memiliki jawaban lain selain menggelengkan kepala tak tahu. Clarissa mengembuskan napas berat, terkadang inilah yang harus ia siapkan ketika kejadian tak sesuai dengan pikirannya. Samasekali tak terlintas dalam benaknya bahwa malam ini ia akan berkeliaran di hutan dengan pakaian musuh seperti ini, tak pernah terbayangkan musuh sekarang tengah tersebar di kerajaan dan menduduki tahta tertinggi di kerajaan Iceland.
Clarissa menyipitkan matanya melihat di ujung sana ada seberkas sinar yang memberinya sedikit harapan. Hatinya berdenyut, semoga saja pasukan kerajaan Iceland yang selamat tengah berjalan di ujung sana.
"Robert cepat!" ujar Clarissa berlari mengejar cahaya tersebut.
Malam semakin larut, bulir keringat di dahi Clarissa mengalahkan dinginnya hutan malam ini. Ia sudah tak peduli kakinya tertusuk duri tajam, matanya tak pernah beralih dari lentera yang tampak semakin dekat.
Tapi ada yang aneh dari pergerakan di ujung sana tampaknya mereka sedang mendekat ke arah Clarissa dan Robert. Semakin mendekat semakin memacu detak jantung Clarissa semakin cepat.
Damn!
Ternyata bukan pasukan kerajaan Iceland melainkan pasukan kerajaan LOV yang sekarang mengelilingi mereka. Kesialan Clarissa tampaknya tak berhenti di sana, pangeran angkuh nan sombong itu juga ternyata berada di antara pasukan.
"Rupanya kau tak sepandai yang ku kira," ejek Louis bertepuk tangan.
Clarissa membulatkan matanya lalu mengibaskan pedang menandakan perlawanan. Para prajurit langsung bersiaga namun pangeran Louis menghentikan dengan satu isyarat tangannya.
"Biarkan aku yang mengurusi tikus kecil ini," tambahnya.
Clarissa semakin kesal apalagi Louis seolah meremehkan kekuatan yang ia miliki, tatapan Clarissa kian tajam lalu dengan cepat ia langsung menyerang namun tampaknya Robert tak akan membiarkan Clarissa yang maju. Dengan tenaga kuda yang ia miliki, ia menyerang Robert seolah lelaki bertitel pangeran itu tak akan selamat dan akan mati di tangannya.
Mata Robert sangat mengerikan tapi jangan kira Louis adalah tandingan yang sepadan dengannya, tentu saja Robert hanya tikus kecil yang akan sangat mudah Louis kalahkan. Terbukti s
Saat ini ia sudah berhasil melumpuhkan Robert dan membiarkan pasukan mengikatnya sebagai tawanan. Louis menatap Clarissa dengan seringai mengerikan kemudian mengembalikan pedang ke dalam tempatnya. Sepertinya Louis tak akan melawan Clarissa dengan senjata, hal itu tentu membuat Clarissa semakin terhina. Sekuat tenaga ia harus mengalahkan pangeran sombong ini.
Harusnya Clarissa sadar, Robert saja dengan mudah Louis kalahkan lalu bagaimana dengan dirinya yang anak kemarin sore baru belajar ilmu perang dan itupun hanya sekilas diajarkan Mpu Geras. Sangat mudah bagi Louis mengalahkan dan melumpuhkan Clarissa.
"Sayangnya kau terlalu percaya diri," bisik Louis membuat Clarissa merinding.
Clarissa tak bisa berkutik tenaganya sudah lemah dan ia juga tak berani bergerak dalam ancaman pedang yang berjarak beberapa sentimeter dari lehernya. Pedang yang seharusnya ia gunakan untuk melawan Louis malah jadi senjata mematikan bagi dirinya sendiri.
Pada akhirnya Clarissa dan Robert kembali menjadi tawanan kerajaan LOV, mau sekuat apapun Clarissa berusaha tapi ia takkan bisa melarikan diri dari penjara bawah tanah yang sangat mengerikan tanpa pencahayaan ini. Clarissa merasa penjara kerajaan LOV jauh jauh lebih mengerikan dibandint penjara kerajaan Iceland. Di sini ia benar-benar merasa hidupnya sudah tak akan lama dan di sini pula ia tak pernah terpikir apa yang akan terjadi lima menit di depan apakah ia masih hidup atau tinggal nama. Seorang tawanan dinyatakan tewas terbunuh, bukankah sangat mengerikan ketika mendengar berita tersebut.
Setiap saat Clarissa berdoa agar pasukan kerajaan Iceland segera datang dan membantunya terbebas dari tempat terkutuk ini sayangnya hingga kini sudah menjelang satu minggu ia ditawan belum sedikitpun terdengar kabar pasukan kerajaan Iceland menyerang balik. Apa mereka tak peduli dengan keadaannya?
"Cepat beritahu di mana pasukan Iceland bersembunyi?!" bentak lelaki berbadan besar yang samar terlihat dari lentera yang ia bawa, lelaki ini sangat mengerikan dan entah bagi Clarissa tak ada detik yang lebih mengerikan daripada ketika ia bertatapan dan mendengar suara prajurit tersebut.
Rasanya nyawa Clarissa sudah tak tertolong lagi.
"Cuih!" Clarissa meludah tepat mengenai wajah mengerikan itu kemudian berkata, "Saya lebih baik mati daripada mengkhianati kerajaan."
Algojo itu tentu sangat marah namun ia tak bisa memukul atau membunuh Clarissa karena perintah pangeran. Ia hanya bisa mengancam dan memaksa Clarissa membocorkan rahasia kerajaan namun hingga kini tugasnya belum mampu ia selesaikan karena Clarissa terlalu keras kepala untuk ia tundukkan.
"Bodoh!" bentak lelaki itu kemudian memukul besi penjara membuat Clarissa langsung mundur ketakutan.
Louis yang berada di luar penjara langsung masuk mendengar suara hantaman keras tersebut. Ia memang menginginkan bocornya rahasia kerajaan hanya saja ia tak akan menbunuh wanita ini, ia bisa menjadikan Clarissa sebagai alat untuk mengalahkan Charles.
"Berhentilah bersikap bodoh!"
Seringai dari Louis semakin membuat Clarissa tertekan, rasanya sudah tak ada harapan hidup baginya. Entah kapan mereka akan membunuhnya tampaknya Clarissa hanya tinggal menunggu waktu saja untuk itu.
"Sampai mati kamu tak akan mendapat apapun dari saya!" balas Clarissa keras kepala.
Ia memang sudah terdesak namun ia samasekali tak akan merendahkan harga dirinya di hadapan kerajaan yang sudah menjadikan ia terpisah dari kerajaan Iceland. Clarissa lebih memilih mati terhormat daripada tetap hidup dan menjadi penghianat kerajaannya sendiri.
"Baiklah jika itu maumu," balas Louis mengisyaratkan prajurit membuka pintu penjara.
Clarissa semakin mundur, meski ia berkataseolah tak ada satupun yang ia takutkan namun sesungguhnya Clarissa tengah berperang dengan ketakutan di dalam dirinya. Ia sangat takut jika Louis dan pasukan berbuat macam-macam padanya, ia sangat ketakutan berada di tempat gelap dan pengap ini tapi ia juga tak akan menunjukkan sisi lemah tersebut di depan musuh.
Louis menyentuh tangan Clarissa menggenggamnya erat hingga tubuh Clarissa menabrak keras tembok di belakangnya.
"Apa yang ingin kamu lakukan!"
Clarissa berusaha melawan namun tenaga Louis bukanlah tandinganya. Tangan Louis satu menggenggam kuat tangan Clarissa sedangkan tangan yang lain mengunci tubuh Clarissa agar tak bisa bergerak kemanapun.
"Bukankah saya bisa melakukan apapun pada tawanan perang?"
Suara dingin dengan nada rendah itu semakin menciutkan nyali Clarissa, matanya sudah memerah dengan degup jantung menggila yang sudah tak tahu bagaimana mendeskripsikan betapa cepat pacuan jantung itu berdetak.
"Lelaki b***t!" hina Clarissa.
Louis semakin tergelak senang melihat Clarissa ketakutan, wajah ketakutan ini seolah sangat ia nikmati.
"Kamu hanya perlu membuka mulut dan semua akan selesai," ujar Louis.
"Cuih!"
Clarissa meludah di wajah Louis tak terima dengan penghinaan yang Louis berikan padanya. Mendapat serangan demikian membuat Louis naik darah kemudian memukul dinding tepat di samping wajah Clarissa. Louis memang kejam tapi ia tak akan melukai wanita lemah seperti Clarissa. Dengan emosi memuncak Louis meninggalkan penjara dan memerintahkan prajuritnya kembali mengunci penjara tersebut.
"Ini belum dimulai," ancam Louis pada Clarissa.
Setelah itu Louis benar-benar pergi meninggalkan Clarissa di penjara namun hal yang samasekali tak Clarissa duga terjadi. Prajurit yang tadinya diminta mengunci kembali pintu penjara malah masuk dan mulai melakukan hal menjijikkan di depan Clarissa. Prajurit berbadan besar dengan otot keras menghiasi tubuhnya itu mulai membuka pakaian perangnya dan mendekat pada Clarissa.
"Apa yang kamu lakukan!" teriak Clarissa.
Prajurit tersebut menyeringai dengan wajah mesumnya. Clarissa merasa tenggorokannya tercekat, apa ia akan dilecehkan di sini? Clarissa benar-benar tak rela kesuciannya direnggut manusia paling laknat di kerajaan LOV ini. Clarissa lebih memilih mati daripada menjadi w************n seperti yang akan prajurit ini sematkan padanya.
"Pergi!" teriak Clarissa melawan.
"Sudahlah kau pasti akan menikmatinya," ujar prajurit m***m tersebut semakin mendekat.
"TOLONG!"