Perjalanan panjang akhirnya membuahkan hasil, setelah panas mendengar desas-desus yang ada di sekitar kerajaan kini Robert berhasil menemukan keberadaan pasukan Kerajaan Iceland.
Matahari sudah terbenam, nyala api unggun menjadi sumber penerangan. Rasa hangat dari api mulai menjalar ke seluruh tubuh menghalau dingin yang terasa menusuk kulit di hutan ini. Mereka duduk dan berbincang mengenai strategi terbaik untuk melumpuhkan kerajaan LOV.
Robert menjadi salah satu petinggi yang memiliki ide-ide brilian untuk melumpuhkan pertahanan kerajaan Iceland. Dari otak-otak yang terkumpul muncul berbagai strategi, mungkin dari segi pasukan mereka saat ini sudah kalah namun dari segi kelicikan mungkin kerajaan Iceland bisa memenangkannya. Hanya butuh otak cerdas dan licik akan menjadi perpaduan yang sempurna untuk mengalahkan LOV.
"Titik selatan adalah bagian penjagaan paling lemah dikarenakan dari letak geografis yang cukup jauh dan sulit digapai akan memudahkan kita menaklukkan bagian selatan kerajaan," usul salah seorang sembari menggerakkan batu yang mereka susun di atas tanah yang mereka umpamakan sebagai kerajaan Iceland.
Beberapa mengangguk setuju dan yang lainnya masih fokus mendengarkan arahan. Malam yang semakin larut tak membuat mereka terkantuk malah mereka semakin bersemangat untuk menyusun strategi agar bisa kembali merebut tampuk kekuasaan kerajaan. Tak akan semudah itu membuat mereka menyerah apalagi Charles dengan ambisinya yang ingin menjadikan kerajaan Iceland menjadi kerajaan terbesar dan terkuat di dunia.
"Bagaimana dengan bagian timur laut yang seringkali lepas dari pengawasan karena sangat jarang ada yang menyerang perbatasan di sana," imbuh yang lain.
Mereka tampak berpikir dan kembali mengangguk, tampaknya akan lebih mudah merebut bagian timur laut karena di sana didominasi penduduknya diisi para petani dan nelayan yang tak pandai bertarung. Dapat disimpulkan bahwa timur laut adalah bagian paling tepat mereka jadikan sasaran p*********n, di sana pula mereka dapat menghimpun pasukan dari warga yang sangat jarang berjumpa dengan pasukan luar sehingga masih mudah bagi mereka mempengaruhi warga untuk ikut bergabung dan memerangi kerajaan LOV.
"Dua tempat ini memang penjagaannya tak sekuat dari lokasi lain namun sepertinya akan lebih menguntungkan kita jika menyerang bagian timur laut sembari menambah pasukan perbatasan."
Setiap orang termasuk raja Charles setuju dengan pendapat Robert, mereka mulai menyusun rencana untuk berangkat malam ini hingga menjelang pagi mereka sudah tiba di sana sewaktu penjagaan lenggang di pagi hari akan dua kali lipat menguntungkan bagi mereka.
Sementara pasukan mulai mempersiapkan diri untuk oergi, para wanita dan beberapa prajurit akan tetap berada di persembunyian. Mereka tak ingin jika keberadaan para wanita yang mereka anggap lemah akan membuat pasukan mereka kalah.
Berbeda dengan pasukan kerajaan Iceland, Clarissa sekarang terkurung di ruangan yang ia sendiri tak tahu bagaimana membuat kekuatan yang ia miliki jadi tak berfungsi. Clarissa sudah berusaha keras untuk kembali mengeluarkan kekuatannya sayang seribu sayang ia tak mampu bahkan segelas air saja tak mampu ia kendalikan.
"Percuma kekuatanmu tak akan berfungsi di ruangan ini," ujar seseorang memasuki ruangan.
Ruang bersekat ini membuat Clarissa tak bisa melihat pemilik suara yang berbicara di balik pembatas. Meski ia tahu bahwa suara itu adalah milik pangeran Louis dan benar saja tak menunggu waktu lama kini pangeran Louis sudah berada di hadapan Clarissa.
"Sebenarnya apa maumu?"
"Mauku?" Louis balik bertanya sambil tertawa mengejek. "Apa aku tak salah dengar?" sambungnya.
Clarissa sangat kesal dengan Louis, jika saja kekuatannya bisa ia gunakan mungkin target utama yang harus ia bekukan adalah pangeran Louis. Rasanya semua yang keluar dari mulut Louis hanyalah sampah yang tak patut ia dengarkan.
"Baiklah jika kau ingin tahu, kerajaan Iceland selalu mencari masalah dengan kerajaan LOV. Peringatan secara baik-baik selalu saja tak diindahkan oleh kerajaan Iceland, mungkin ada baiknya menghilangkan nama Iceland dari kerajaan yang ada di dunia ini," ungkap Louis penuh percaya diri.
"Tak berperasaan! Apa kau kira kami akan menyerah begitu saja padamu? Kau salah besar, lihatlah kau tak akan bertahan lama di dunia ini. Aku yang akan membunuhmu!" ancam Clarissa.
"Apakah kau tak sadar bahwa kini tengah menjadi tawanan kerajaan LOV, nyawamu kini berada di tanganku. Sekali saja ku perintahkan prajurit untuk membunuhmu maka kau akan langsung lenyap."
Clarissa terdiam, ia tak bisa menyangkal fakta yang baru saja Louis katakan. Memang benar nyawanya saat ini tidak berada di posisi yang aman, tapi Clarissa juga tak sudi merendahkan harga dirinya di depan Louis. Rasa bencinya semakin besar pada lelaki ini, apa yang bisa Clarissa lakukan untuk membebaskan diri dari penjara berbentuk istana yang tengah ia rasakan ini.
"Cepat katakan di mana pasukan kerajaan Iceland!" desak Louis.
Langkah lelaki itu semakin mendekat, Clarissa sudah tak bisa menghindar lagi hingga punggungnya menabrak meja di dekat blangkar. Louis memegang bahunya mengangkat dagu Clarissa hingga terdongak menatap wajah Louis yang tinggi di depannya.
Jika saja tak ada konflik antara kerajaan Iceland dan kerajaan LOV mungkin Clarissa akan memuja wajah tampan ini sayangnya karena perselisihan di antara keduanya menatap wajah ini saja membuat Clarissa malas.
"Bisakah kau katakan di mana pasukan kerajaan Iceland padaku?" tanya Louis kali ini suaranya pelan dan berat.
Suara itu membuat Clarissa kebingungan, degup jantung Clarissa tampaknya selalu bermasalah ketika berhadapan dengan pangeran angkuh ini. Clarissa tak bisa berbohong, jantungnya berpacu lebih kuat dan tangannya terkepal hebat dengan keringat yang basah di dalamnya. Tatapan mereka bertemu, Clarissa tak bisa untuk tak terhipnotis tatapan Louis. Katakanlah Clarissa bodoh terperdaya wajah tampan di hadapannya, tak seharusnya Clarissa mengagumi ketampanan Louis. Clarissa memang bodoh, di dalam hati ia memaki dirinya sendiri. Pantang baginya menyukai seseorang yang berniat melenyapkan kerajaannya.
Spontan Clarissa menggeleng, gerakan perlahan yang Louis lakukan membuat Clarissa terhipnotis. Lelaki itu mendekat dan membisikkan kalimat yang membuat Clarissa langsung mendorong bahu Louis untuk menjauh.
"Jadi apakah penawaran menjadi istriku sudah diterima?" bisiknya.
Susah payah Clarissa menelan ludah, bongkahan besar mencekat tenggorokannya. Mata Clarissa membulat sempurna melihat Louis tidak percaya dengan ucapan lelaki tersebut. Apa yang membuat Louis begitu ingin menjadikannya istri, Clarissa takut Louis akan memanfaatkannya untuk mendapatkan hati rakyat Iceland dan Clarissa tak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia tak tahu apa yang akan terjadi pada rakyatnya jika Louis benar-benar menjadi raja di kerajaannya.
Clarissa pernah mendengar hanya dengan menikahi keturunan asli berdarah Iceland yang akan memakmurkan kerajaan jika tidak maka perlahan kerajaan akan hancur dengan sendirinya. Mungkin mitos itu yang membuat Louis ingin menjadikannya istri, sayangnya Clarissa tak akan mudah terbujuk dengan ucapan Louis.
"Tak akan!" balas Clarissa yakin.
Louis kembali mendekat tatapannya menatap dalam-dalam pada manik mata hijau milik Clarissa.
"Kita lihat saja," ujarnya.
Clarissa mengikuti arah pergerakan Louis yang kini menduduki ranjang yang disediakan di ruangan tersebut kemudian menyeringai.
"Tak akan ada yang tersisa dari keluarga Iceland dan itu semua karenamu," ujarnya kemudian berdiri tanpa memberikan kesempatan bagi Clarissa untuk menjawab perkataannya.
Setelah yakin Louis sudah pergi dari ruangan tersebut dengan mendengar suara pintu terkunci membuat Clarissa terduduk di lantai. Jantungnya yang menggila tak bisa diajak bekerjasama, ia tak boleh jatuh pada pesona pangeran angkuh itu. Clarissa yakin jika bersama Louis ia pasti akan menderita dan bagaimana nasib rakyat akan semakin menderita pula. Clarissa tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Clarissa pada dirinya sendiri.
Perlahan Clarissa menyusun meja untuk mengintip melalui ventelasi di ruangan itu karena memang tak tersedia jendela dan hanya ada satu pintu tentu hal itu membuat Clarissa semakin sulit melarikan diri ditambah kekuatannya yang tak berfungsi di sana.
Ditengah kegundahan yang Clarissa rasakan, kini pasukan kerajaan Iceland tengah berpesta karena berhasil menguasai bagian timur laut dengan sambutan sukacita dari rakyat yang memang sangat menyayangi kerajaan Iceland. Dari sini mereka sudah mendapat pasukan tambahan baik dari yang berlatar belakang petani maupun nelayan di sana.
Robert kini baru sampai ke bagian timur laut setelah menjemput para wanita di tempat persembunyian. Letak yang cukup jauh dari kerajaan membuat tempat ini begitu mudah mereka taklukan ditambah ketika mereka melakukan p*********n, rakyat yang ada di sana ikut membantu membuat pasukan mereka semakin kuat.
"Kita harus segera menyelamatkan putri Clarissa," ujar salah seorang pak tua.
Clarissa memang menjadi putri yang sangat disayang rakyat tak heran ketika Clarissa ditawan musuh hal itu menyulutkan amarah rakyat. Mereka tentu tak rela jika Clarissa ditawan musuh apalagi sampai di penjara.
Raja Charles yang tampak tak acuh membuat rakyat marah, mereka tentu tak suka jika Raja Charles mengacuhkan putri. Para tetua adat yang mengetahui jelas sejarah kerajaan Iceland begitu membenci Raja Charles, jika saja mereka memiliki kekuatan mungkin mereka akan berjuang untuk mengusir pangeran Charles dari tampuk kekuasaan.
"Kita harus memikirkan strategi yang matang jangan sampai salah langkah apalagi posisi saat ini putri sedang berada di istana utama dan menjadi tawanan di sana, akan sangat berbahaya jika langsung menyerang istana utama dengan pasukan yang kalah jauh."
Charles sedikit menarik bibirnya tersenyum simpul atas pendapat yang Robert. Entah apa yang Charles pikirkan, mana ada seorang ayah yang akan membiarkan anaknya ditawan di istana musuh dan bagaimana bisa ia setenang itu bahkan setelah ia tahu bahwa nyawa anaknya bisa lenyap detik ini juga? Tetua adat yang berkumpul di sana hanya bisa mengelus d**a menyabarkan diri. Mereka memang bisa berpendapat tapi apa gunanya berpendapat jika tak didengarkan?
Tetua adat yang tadinya bersemangat pada akhirnya hanya bisa diam malas mengeluarkan pendapatnya. Dia sangat ingin menolong putri Clarissa, tutur ramah dan sopan yang selalu ia lihat dari seorang putri Clarissa ditambah lagi ia selalu menyayangi rakyat sepenuh hati semakin membuat rakyat memiliki ikatan kuat dengannya. Apalagi para tetua yang memang tahu siapa Clarissa sebenarnya tentu akan semakin menyayangi Clarissa.
Setelah mendapat keputusan untuk mencari sekutu yang akan membantu mereka untuk mendapat tambahan pasukan dan bantuan lainnya akhirnya diskusi dihentikan.
Semua kembali ke tempat masing-masing dan sebagian berjaga jikalau sewaktu-waktu pasukan musuh melakukan serangan balik. Jangan sampai lengah karena lengah sedikit nyawa taruhannya.
Ketia semua sudah kembali ke tempat, Raja Charles meminta Robert untuk tetap berada di sana. Akan ada banyak hal yang perlu ia bicarakan dengan orang kepercayaannya itu. Bagi Charles tak ada satupun orang di sana yang ia yakinkan mampu memimpin perang untuk melawan kerajaan LOV, hanya Robert yang bisa.
"Persiapkan diri panglima," ujar Charles membuka suara.
Suara api yang membakar kayu seperti itulah gambaran kobaran semangat yang mereka miliki untuk merebut kembali kerajaan Iceland. Robert menambah kayu bakar di sana untuk memberi hangat pada raja, tak salah bagi Charles memilih Robert sebagai orang kepercayaannya. Semua yang panglima lakukan begitu memukau bagi Charles.
"Apakah kau siap memimpin sebuah kerajaan?" tanya Charles tiba-tiba.
Robert menghentikan tangannya yang sibuk membenarkan api, sejenak ia menyeringai namun raja tak dapat melihat karena posisi Robert yang menghadap api dan sedikit menunduk.
"Izin raja, hidup dan mati saya demi kerajaan Iceland."
Mendengar jawaban Robert semakin membuat Charles yakin ia tak salah pilih menobatkan Robert sebagai kandidat penerusnya. Mungkin ini terdengar tergesa-gesa tapi tampaknya sekarang sudah waktunya bagi Charles mempersiapkan calon penerus untuk mendampingi Clarissa. Tak pantas jika kerajaan dipimpin seorang wanita, Charles merasa kerajaan akan lemah sama seperti sifat alamiah yang wanita miliki yakni lemah.
"Persiapkan dirimu, kerajaan membutuhkan pemimpin sepertimu."
Setelah mengucapkan hal demikian, Charles pergi dari tempat tersebut. Robert melebarkan senyumnya, sejak dulu ia memang memiliki ambisi untuk menjadi seorang raja apalagi sekarang ia sudah mendapatkan lampu hijau dari raja sendiri tentu hal itu akan memuluskan jalannya.
Di balik tembok kayu sebuah rumah dengan penerangan lampu teplok serta obor di depan rumahnya, seorang lelaki tua terduduk lemas mendengar pernyataan raja. Apakah pantas raja berbicara demikian padahal seorang putri dari kerajaan tersebut sebagai penerus dan pewaris tahta tertinggi kerajaan adalah putri Clarissa yang saat ini nyawanya terancam? Ia tak habis pikir, jika memang raja tak ingin menaikkan Clarissa menjadi ratu ataupun membebaskannya maka dirinya dan tetua adat lain dibatu kaum muda di desa akan berjuang sendiri tanpa mengharap bantuan raja.
Tetua adat nampaknya begitu kecewa, bahkan matanya yang mulai menampakkan kemerahan tanda tak terima atas perlakuan raja membuat ia terlihat mengerikan.
"Apa yang terjadi, ayah?" tanya lelaki muda yang bisa dipastikan adalah putra tetua adat.
Nakula itulah namanya, anak seorang tetua adat di desa yang berperilaku santun lagi baik hati.
"Kau harus menyelamatkan putri dari Raja Charles dan dari musuh," pesannya.
Nakula sejenak terdiam mencerna ucapan ayahnya, perlaha ia melihat di luar jendela tinggal panglima duduk menyendiri menghadap pada api unggun.
"Maksud ayah? Bukankah putri anak raja Charles lalu untuk apa kita menjaga dari ayahnya sendiri?"
Sejenak tetua adat itu terdiam lalu memelankan suaranya dan berkata, "Tak ada yang bisa kita percaya di dunia ini."