Louis tak bisa mengungkapkan seberapa terkejutnya ia karena kerajaan di bagian timur laut ternyata sudah dikuasai musuh, susah payah mereka mempertahankan tapi ternyata diam-diam dari pihak musuh sudah mengatur strategi untuk merebut kembali apa yang sudah mereka dapat. Lagi-lagi mereka kalah cepat dan itu bukan salah siapapun melainkan salah Louis sebagai pemimpin.
"Kerahkan pasukan dan perketat penjagaan di bagian perbatasan," titah Louis.
Para prajurit yang berdiri tak jauh dari tempat Louis tentu bisa merasakan kemarahan seorang pangeran karena tak mampu mempertahankan wilayah kekuasaan yang telah mereka dapat.
"Jangan sampai lengah dan saya tak ingin mendengar terjadi kecolongan lagi," imbuhnya.
Semua orang hanya bisa mengangguk patuh tanpa berkomentar apapun, salah bicara maka semua bisa berubah sulit.
Clarissa menyadarkan dirinya pada tembok tebal yang mengukungnya dalam ruangan cantik bernamakan penjara sangkar emas itu berusaha menguping pembicaraan di luar sana. Terbesit rasa senang dalam dirinya karena mendengar bahwa sedikit demi sedikit sudah ada kemajuan dari kerajaan Iceland. Clarissa sangat berharap semua ini akan segera berakhir dan ia bisa kembali pada kerajaan yang sangat dicintainya.
"Dan satu lagi, perketat penjagaan penjara emas jangan sampai ada penyusup yang datang dan membebaskan putri Clarissa."
Deg!
Jantung Clarissa seakan melompat dari tempatnya, bagaimana bisa Louis bersikap begitu overprotektif terhadapnya. Apa untungnya juga mereka memenjarakan Clarissa, tak akan ada bedanya jika mereka melepas atau menangkapnya karena Clarissa sendiri sudah kecil hati terhadap Raja Charles, ia merasa ayahnya tak akan mengotori tangan hanya untuk membebaskan Clarissa. Akan ada banyak hal yang lebih penting untuk ia urus daripada sekadar mengurusi dirinya yang mungkin tak berarti apa-apa di mata Raja Charles.
***
Semua pemuda desa dikumpulkan, bahkan para pemuda yang sejatinya tak ingin ikut berperang mau tak mau kini ikut belajar perang bersama pasukan kerajaan. Satu yang luput dari pengawasan para prajurit kerajaan, sosok pemuda tampan bergelar anak tetua adat ternyata menghilang. Nakula benar-benar menuruti perintah ayahnya untuk menyelamatkan Clarissa, untuk saat ini tak ada yang lebih penting daripada kebebasan seorang putri bagi Nakula. Hidup dan matinya akan ia pertaruhkan demi putri kerajaan Iceland.
"Pelajari dengan benar, jika kalian tak serius bagaimana bisa kita merebut tanah kelahiran kita?" ujar salah seorang prajurit berusaha menyemangati.
"Kita pasti bisa menyelamatkan putri," celetuk salah seorang pemuda.
Raja Charles yang tadinya tersenyum sumringah kini berbalik, respon demikian yang rakyat lihat tentu membuat mereka merasa sangat tidak senang. Putri Clarissa adalah putri satu-satunya yang akan mewariskan tahta kerajaan Iceland, bagi mereka putri Clarissa sudah menjadi lambang bagi kerajaan Iceland. Tanpa putri Clarissa yang merupakan keturunan langsung kerajaan Iceland tentu tak akan mampu memakmurkan kerajaan.
Bisik-bisik dari para pemuda yang sungguh mengagumi kecantikan putri membuat Robert kesal, ia mungkin tak mencintai Clarissa tapi Clarissa sudah ia klaim akan menjadi istrinya dan tak ada yang boleh mengganggu gugat lagi untuk hal itu.
Wajah masam yang Robert tampakkan sungguh kentara bagi siapapun yang melihatnya, entah apa yang akan terjadi untuk kerajaan Iceland kedepannya jika diisi orang-orang seperti Charles dan Robert. Tak ada rongga untuk bernapas bagi rakyat dan tak ada kemakmuran yang sudaj digariskan untuk keluarga Iceland. Satu yang mereka takutkan jika keturunan langsung keluarga Iceland sudah tak tersisa pasti akan ada bencana besar yang harus mau tak mau mereka hadapi.
Ditengah pergempuran pedang yang saling menyahut untuk ditangkiskan ke pedang lain, di suatu hutan Nakula tengah berjuang untuk menggapai kerajaan LOV demi menyelamatkan putri Clarissa. Tatapannya selalu waspada melihat sekeliling demi keamanan, jangan sampai ia mati sia-sia sebelum menyelamatkan Clarissa.
"Apapun yang terjadi saya akan menyelamatkan putri," tegasnya pada diri sendiri melangkahkan kaki panjangnya untuk menembus hutan.
Nakula tak peduli semak belukar yang harus ia lewati atau bahkan terdapat banyak duri yang menancap di kakinya, Nakula hanya peduli bagaimana sebelum matahari tenggelam ia sudah harus berada di lingkungan kerajaan. Ia juga harus mengenali lingkungan kerajaan agar bisa melangkah dengan mudah tanpa kebingungan, Nakula harus menghapal titik mana yang bisa ia jadikan titik pokus untuk menyusup di kerajaan LOV.
Perjalanan ini bukanlah perjalanan singkat, menghadapi berbagai rintangan dan halangan di tengah perjalanan belum lagi ada hal yang tak terduga bisa terjadi kapanpun. Kita tak pernah bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi kedepannya yang bisa kita lakukan hanya bagaimana cara kita menyikapi hal tak terduga itu agar bisa terselesaikan dengan baik.
Setelah melewati jauhnya perjalanan kini Nakula sudah semakin mendekat pada kerajaan, sebelum itu ia beristirahat di sebuah tempat untuk mengisi kembali energi yang sudah terkuras. Nakula memesan segelas air putih dan sepiring nasi yang sengaja ia minta doble nasi karena merasa sangat lapar setelah perjalanan yang jauh. Sedikit lagi ia akan menemukan titik terang dan mampu menyelamatkan putri Clarissa.
"Kabar-kabarnya pasukan kerajaan tengah memenjara seorang putri dari kerajaan Iceland," ujar penjual pada wanita muda yang membantunya di dapur.
"Kemarin ayah bilang putri sangat cantik dan benar-benar seperti keturunan Iceland padahal seperti yang kita tahu sendiri sudah tak ada yang tersisa dari keturunan asli keluarga kerajaan Iceland setelah tragedi yang terjadi puluhan tahun lalu," sahut wanita tersebut.
Nakula hanya diam menyimak seolah tak mengerti apapun meski ia sendiri sudah mengetahui sedikit banyak sejarah keluarga kerajaan Iceland. Selain itu ayahnya yang merupakan tetua adat juga pernah bekerja di kerajaan sehingga membuat ayahnya semakin mengetahui bagaimana sejarah sebenarnya yang selama ini disembunyikan. Terkuburnya ilmu pengetahuan mengenai sejarah kerajaan membuat para generasi muda lingkungan kerajaan Iceland banyak yang tak mengetahui sebenar-benarnya sejarah.
"Tapi dari berita yang simpang siur putri yang ditangkap itu sangatlah cantik ditambah lagi ia memiliki kekuatan es yang saat ini masih sulit ditaklukkan hingga akhirnya mereka mengurung putri di sangkar emas," sahut yang lainnya.
Pembahasan mengenai putri yang ditangkap memang tak ada habisnya apalagi mengingat dulu kerajaan Iceland dan kerajaan LOV adalah dua kerajaan yang saling mendukung dan saling membantu demi mencapai kemakmuran. Sekarang saja dua kerajaan itu bagaikan air dan api, air dan minyak bahkan seperti tak akan pernah menyatu dan berdamai.
Semakin lama mendengar obrolan mengenai putri yang sempat dijadikan b***k di kerajaan membuat Nakula berang, berani-beraninya mereka memperlakukan putri secara tak layak. Nakula segera membayar makanannya kemudian melanjutkan kembali perjalanan. Untuk saat ini jarak tempuhnya sudah semakin dekat tak seperti tadi yang memakan waktu seharian, mungkin sekitar sepuluh menit ia akan tiba di istana utama.
Sesampainya di istana utama, Nakula mulai menjalankan misinya untuk menyusup ke sangkar emas yang disebutkan sebagai tempat yang dijadikan penjara untuk putri. Tak sulit bagi Nakula untuk menemukan tempat tersebut namun tak semudah itu untuknya masuk ke sana.
Jika dilihat-lihat maka kita akan sadar penjagaan di sekitar sangkar emas jauh lebih ketat daripada sudut lain di kerajaan LOV.
Nakula menunduk bersembunyi dari penjaga, wajah yang ia tutup dengan kain berwarna hitam membuat Nakula sudah seperti kesatria yang memang diutus untuk menyelamatkan sang putri. Setelah melompati atap dan membuka sedikit cela, Nakula berhasil masuk melalui atap. Awalnya Clarissa sangat terkejut melihat kedatangan Nakula namun setelah mendapat penjelasan singkat dari Nakula sekarang Clarissa bisa mengerti dan menuruti instruksi yang Nakula berikan untuknya.
"Kita harus segera melarikan diri sebelum para penjaga menyadari keberadaan saya tuan putri," ujar Nakula mengingatkan.
"Saya tak mengerti dengan diri ini, semua daya dan upaya yang saya lakukan hanyalah sia-sia. Kekuatan yang saya miliki juga seketika tak bisa digunakan," ungkap Clarissa dengan nada sedih.
"Tak apa tuan putri, saya akan membantu tuan putri untuk bebas dari tempat terkutuk ini."
Ucapan Nakula bukan sekadar janji belaka, semua yang keluar dari mulutnya akan ia buktikan kebenarannya termasuk janjinya untuk menyelamatkan Clarissa. Tentu ia akan menepati ucapannya pada Clarissa, akan ia pastikan Clarissa keluar dari tempat itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku tak ingin membahayakanmu," sedih Clarissa menunduk.
Nakula mendekat kemudian memberi salam pada Clarissa lalu berkata, "Hidup dan mati akan saya serahkan demi keselamatan putri."
Setelah berbincang banyak dan meyakinkan Clarissa bahwa ia akan baik-baik saja akhirnya Clarissa mau untuk pergi dari sana. Sangat sulit menembus pertahanan di sana apalagi dengan kondisi Clarissa yang melemah, entah apa yang ada di sangkar emas sampai-sampai energi Clarissa terkuras begitu banyak di sana.
Nakula menuntun Clarissa untuk bersembunyi di atap, tak ada penolakan ataupun keluhan dari Clarissa meski ia tampak kesulitan untuk menyeimbangkan tenaga Nakula.
"Tuan putri masih sanggup?" tanya Nakula memastikan.
Tarikan napas berat lalu tak lama Clarissa mengangguk yakin, mana boleh ia menyerah secepat ini. Di luar sana orang-orang tengah berjuang untuk merebut kembali tanah kelahiran mereka dan di sini sudah dikirimkan malaikat baik untuk membantu Clarissa jangan sampai ia menyia-nyiakan kesempatan yang sudah terbuka lebar untuk kebebasan.
Mereka pada akhirnya melanjutkan kembali upaya melarikan diri, setelah beberapa saat menunggu kini mereka mendapati samping kerajaan sedikit sepi sehingga mereka bisa mencoba lari dari lingkungan kerajaan.
"Cepat tuan putri sebelum prajurit musuh menyadari keberadaan kita," ujar Nakula memutarkan pandangannya ke sekitar sembari memerhatikan di mana orang-orang yang tadinya menjaga.
Perjuangan mereka akhirnya menghasilkan dan Clarissa sudah berhasil terjun dari tembok tinggi kerajaan tanpa ketahuan penjagaan musuh sayangnya ketika Nakula ingin keluar dari lingkungan kerajaan ia ketahuan. Nakula takut jika ia memilih keluar maka risikonyo Clarissa juga akan ketahuan, maka dari itu Nakula lebih memilih turun dan memberi isyarat pada Clarissa untuk lari sebelum ketahuan.
Nakula berusaha keras agar bisa mengalahkan penjaga, ilmu yang ia miliki memang belum sepenuhnya sempurna tapi jika dibandingan prajurit kerajaan tampaknya kekuatan yang Nakula miliki lebih unggul dari mereka.
"Siapa kau dan apa yang kau lakukan di atas sana?!" panggil penjaga.
Dengan berani Nakula berkata, "Saya ... Saya hanya rakyat kecil yang membutuhkan makan tuan."
Para penjaga yang melihat Nakula tampaknya tak percaya bahwa lelaki tampan ini tengah kelaparan karena samasekali tak ada tanda-tanda kelaparan di sana yang ada hanya wajah tampan dengan alis tebal yang pasti akan menyaingi ketampanan para penjaga.
"Bohong! Apa yang sebenarnya kamu lakukan?!" desak yang lainnya.
Melihat tatapan yang diberikan semakin tak percaya membuat Nakula melakukan gerakan tiba-tiba untuk menyerang para penjaga hingga menumbangkan beberapa prajurit dan menyisakan beberapa yang lain. Sekuat tenaga Nakula berusaha menyelamatkan diri, kekuatan pedangnya ia kerahkan untuk menembus pertahanan musuh dan awalnya ia berusaha menggunakan cara halus untuk melarikan diri sayangnya dari wajah para prajurit tampak mencurigai gelagat Nakula.
Pada akhirnya pertarungan itu tak bisa dielakkan.