"Roar!" Aku berteriak saat Roar hendak menerkam Nyonya Alberth hidup-hidup.
Saat melihatku, wajah Nyonya Alberth yang tadinya ketakutan karena Roar berubah menjadi raut terkejut. Mungkin dia tidak percaya jika aku yang menghentikan Roar.
"Eliza ...." Suara Nyonya Alberth terdengar tidak bertenaga. Aku rasa ia sudah kehabisan tenaga saat mencoba menghindari sergapan Roar yang berpura-pura sebagai serigala bernama Logan.
"Ada apa, Nyonya Alberth? Kau merasa aneh dwngan keberadaanku di sini?" Aku mendekat pada wanita jahat yang masih terlihat tidak berdaya.
Kurebut tongkat silver di tangannya. Emosiku sudah mencapai puncak. Dia, wanita jahat memanfaatkan rakyatku demi kepentingan diri sendiri.
"Kau adalah wanita jahat yang tidak pantas untuk hidup!" Aku membuang tongkat silver milik Nyonya Alberth yang tadi kupegang.
"Memang kau siapa? Aku diutus oleh Ratu Samara, pemilik Lootopia. Kau itu bukan siapa-siapa," ucap Nyonya Alberth seraya berdiri dengan tegak dan terlihat mencoba tidak takut di depanku.
"Kau bertanya aku siapa? Apa kau tidak merasa aku ini istimewa, Nyonya?"
Nyonya Alberth terus menatapku intens. Mungkin dalam hatinya bertanya-tanya apa maksud perkataanku tadi. Ia terlihat bingung dan takut. Namun, aku rasa dia tidak mau orang lain tahu kalau dia merasa takut di depanku.
"Me-memang kau siapa?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Aku ... adalah keturunan suci Lootopia. Putri dari Ratu Alexa dan Raja Daniel."
Mata Nyonya Albert terbelalak saat aku menyelesaikan ucapanku. Sepertinya dia sangat terkejut dengan fakta yang baru aku katakan.
"Kenapa? Kau tidak percaya dengan ucapanku? Baiklah. Roar, kau bisa makan Nyonya ini," ucapku menakuti Nyonya Alberth.
"Jangan! Jangan, aku mohon jangan lakukan itu. A-aku percaya kau adalah keturunan suci Lootopia." Suara Nyonya Alberth menunjukkan bahwa ia sangat takut pada Roar.
Wanita seperti Nyonya Alberth memang harus diancam agar dia merasa takut. Wanita paruh baya itu tidak punya hati, jadi untuk apa aku berbuat baik padanya.
"Steven. Ikat dia dengan tali sihirmu," perintahku pada Steven.
Tali sihir Steven hanya bisa dilepas oleh Steven, jadi Nyonya Alberth tidak bisa pergi kemana-mana dan memberitahu oada Ratu Samara soal jati diriku.
Aku harus menyembunyikan jati diriku pada orang-orang yang mendukung Ratu Samara sebagai ratu Lootopia, agar tujuanku tercapai tanpa halangan.
Aku dan yang lain meninggalkan Nyonya Alberth yang terikat di rumah itu. Aku melihat sekeliling, terasa sangat sepi, bukan karena para penghuni yang sudah pergi ke hutan larangan melainkan kesepian yang terjadi karena kekejam hati sang ratu.
Aku tidak tahu, bagaimana seorang ratu yang harusnya bersikap adil malah bersikap kejam pada rakyatnya. Apa yang akan terjadi jika Ratu Samara terus memimpin Lootopia? Semua rakyat akan menderita karena kekejamannya.
Entah kenapa hatiku terasa sakit saat ini. Aku terduduk lemas di tanah, rasanya tidak sanggup berdiri. Perlaham air mata yanh aku tahan sejak tadi mengalir. Aku merasa sangat sakit sekarang.
"Eliza, ada apa?" tanya Frans seraya memegang pundakku.
"Apa banyak yang merasakan kekejaman Ratu Samara? Aku merasa sangat sakit melihat mereka dimanfaatkan hanya untuk kepentingan ratu jahat itu."
"Itulah yang terjadi selama ini, Eliza," ucap Roar.
"Ratu itu selalu berbuat kejam dan tidak adil," lanjut Roar.
Melihat kekejaman ini, aku bersumpah untuk membuat Ratu Samara mengalami hal paling menyedihkan dalam hidupnya. Aku bersumpah demi rakyat Lootopia.
"Aku pernah dengar Ratu Samara membuat sebuah desa menjadi desa patung. Seluruh warga desa itu jiwanya terkurung dalam patung mereka. Ratu Samara sangat marah karena warga desa itu selalu tidak suka dengan kepemimpinannya," jelas Steven panjang.
Mendengar cerita Steven, aku menjadi lebih benci padanya Ratu Samara. Dia adalah kakak dari nenekku itu artinya dia adalah nenekku juga. Namun, sikap kejamnya sangat keterlaluan.
"Aku tidak bisa menunggu. Kita harus segera mencari giok yang lain agar Ratu Samara bisa dikalahkan." Aku berdiri mencoba tegar untuk melanjutkan perjalanan.
"Lalu, apa kita harus membawa warga desa ini kembali?" tanya Frans.
"Biarkan mereka tinggal bersama para Roughus dulu. Mereka akan mendapat bahaya jika kembali ke sini," jawab Roar.
Setelah cukup lama berbincang untuk menentukan langkah selanjutnya. Aku dan yang lain memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan lagi.
Keluar dari desa, perjalanan berlanjut dan kini aku dan yang lain melewati padang rumput yang tinggi. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Pemandangan ini membuat rasa sedihku berkurang.
Pandang rumput ini terasa sangat panjang. Aku merasa perjalananku tidak berujunh di sini atau memang jalan di padang rumput ini panjang?
"Berhenti! Aku rasa ada yang aneh di sini," ucap Steven.
"Sepertinya perjalanan ini terus diulang. Aku merasa sudah melewati daerah ini. Lalu, kenapa kembali ke sini lagi?" lanjutnya.
Apa yang Steven rasakan aku juga merasakannya. Anehnya perjalanan ini seperti tidak berujung, aku tidak mengerti.
"Ini adalah padang rumput kebingungan. Kita tidak bisa melewati tempat ini kecuali malam hari. Saat malam padang rumput ini hilang dan jalanan akan terlihat," jelas Roar.
Aku baru tahu kalau di Lootopia ada tempat seperti ini. Tempat yang aneh tapi unik.
"Hah melelahkan sekali." Frans duduk karena kelelahan.
Perjalanan setengah hari sia-sia. Sekarang, aku hanya bisa menunggu malam datang dan perjalanan bisa kembali dilanjutkan. Mungkin ini waktu yang sesuai untuk istirahat.
Aku kembali mengingat Rose, gadis kecil pemberani itu membuatku bersemangat untuk memberi pelajaran pada Nyonya Alberth. Lootopia butuh anak-anak seperti Rose untuk menjadi negeri sihir yang hebat lagi.
"Jika waktu bisa diulang, kita tidak pernah merasakan petualangan seperti ini," ucap Steven tiba-tiba.
Apa yang dikatakan Steven benar, aku tidak akan pernah merasakan petualangan seperti ini jika waktu bisa diulang karena kekejaman Ratu Samara juga tidak akan terjadi.
Aku rindu ayah dan ibu. Aku belum pernah bertemu mereka secara langsung. Namun, hati ini sudah sangat rindu pada mereka. Kira-kira apa mereka juga merindukanku? Atau kekejaman Ratu Samara membuat ayah dan ibu melupakanku?
Sepertinya waktu berjalan lambat, malam tidak kunjung datang atau mungkin ini perasaanku saja karena sudah tidak sabar untuk melanjutkan perjalanan lagi.
Aku punya harapan besar untuk tidak melihat hal-hal kejam yang dilakukan oleh Ratu Samara. Namun, rasanya itu hal yang mustahil. Ratu jahat itu sudah menjadikan hati yang kejam miliknya menjadi pemilik tubuhnya, karena itu hanya kekejaman dan kejahatan yang dia lakukan pada rakyat Lootopia.
Keserakahan yang dilakukan oleh Ratu Samara memang sudah keterlaluan, dia seakan tak punya belas kasih. Seorang ratu adalah ibu bagi sebuah negeri. Ratu adalah ibu bagi rakyatnya, tetapi ibu macam apa yang melakukan hal jahat pada anak-anaknya. Ya, mungkin hanya dia ibu yang jahat.