Aku berusaha untuk fokus dan tidak meremehkan permainan lompat tali yang diinginkan Rubik. Permainan ini harus dimenangkan agar aku bisa mendapat giok pertama itu.
"Aku akan coba," ucapku memulai permainan.
Benar saja yang dikatakan Boma, sekarang aku bisa melompat dengan mudah, tubuhku terasa ringan seperti biasa.
"Kau telah mampu bermain dengan baik, Eliza. Maka, terimalah ini." Rubik memberikan sebuah batu padaku.
"Rubik, aku ingin giok biru, kenapa kau malah memberikan batu?" protesku yang tidak menerimanya.
"Coba kau baca mantra untuk merubah wujud asli," perintah Rubik padaku.
Aku menuruti perintah koala itu, semoga saja dia tidak berbohong. Aku mengucapkan kata "La Pia Rose" dan ternyata batu biasa tadi berubah menjadi batu giok berwarna biru.
"Terima kasih, Rubik," ucapku seraya tersenyum pada koala itu.
"Sekarang kalian bisa lanjutkan perjalanan."
Aku dan yang lain melanjutkan perjalanan menemukan batu giok berikutnya. Dalam perjalanan beberapa kali aku memperhatikan giok biru yang baru saja kudapat. Sangat cantik dan terlihat sangat luar biasa. Kira-kira sebesar apa kekuatan satu batu giok ini hingga aku harus mencari delapan batu giok lainnya?
Aku terlalu memperhatikan giok biru hingga tidak menyadari telah keluar dari hutan larangan. Aku mengira semua batu giok ada di hutan larangan, tetapi tebakanku salah.
Tibalah aku dan yang lain di sebuah desa. Tempat ini terlalu sepi untuk dikatakan sebuah desa. Aku sama sekali tidak melihat satupun manusia kecuali aku dan dua sahabatku.
"Kemana perginya semua orang?" tanya Frans yang juga merasakan hal aneh yang aku rasakan.
"Ini sepi sekali. Semua pintu rumah juga ditutup. Atau ... memang tidak ada orang di desa ini?" imbuh Steven.
"Tidak, itu tidak mungkin. Lihatlah, tempat ini sangat bersih, mana mungkin tidak ada orang di sini?"
Steven mencoba mengetuk salah satu pintu rumah untuk bertanya dan memastikan kalau di desa ini ada manusia.
Beberapa kali diketuk, tetap tidak ada jawaban, seolah desa ini desa mati yang tidak berpenghuni. Tiba-tiba aku merasa merinding.
"Rose! Masuk, kau tidak boleh di luar," seru seorang wanita paruh baya pada anak perempuan yang keluar dari rumahnya.
"Nyonya, tunggu! Aku ingin bertanya sesuatu." Aku berlari untuk bertanya pada mareka. Namun, aku kalah cepat, mereka sudah masuk kembali ke dalam rumah sebelum aku sempat bertanya.
Ada apa sebenarnya dengan desa ini? Kenapa mereka seolah sembunyi dan tidak ingin ada orang lain tahu kalau mereka masih menghuni desa ini?
"Percuma kita tanya, tidak akan ada yang menjawab. Kita lanjutkan saja perjalanan kita," usul Steven.
Apa yang dikatakan ada benarnya. Percuma juga membuang waktu di sini sedangkan batu-batu giok itu harus segera dikumpulkan.
Aku dan yang lain melanjutkan perjalanan tanpa menghiraukan yang terjadi di desa ini. Belum sempat keluar dari desa ini, aku melihat seorang wanita tua tengah menangis di hadapan wanita paruh baya yang membawa tongkat berwarna silver. Wanita tua itu seolah sedang memohon pada wanita paruh baya itu.
Aku berniat untuk mendekat. Namun, Roar tidak menginjinkanku, dia mengatakan bahwa dia sendiri saja yang akan mencari tahu apa yang terjadi.
Aku diminta untuk bersembunyi di tempat lain bersama Frans dan Steven, sedangkan Roar akan mencari tahu sendiri tentang apa yang terjadi.
Cukup lama aku menunggu, tetapi Roar juga belum kembali. Tempat persembunyianku adalah sebuah gubuk yang dekat dengan sumur. Tempat ini jauh dari desa, jadi tidak akan ada yang tahu aku dan yang lain bersembunyi di sini.
"Lama sekali, apa yang sedang Roar lakukan di sana?" gumam Frans.
Ditengah penantian, Roar akhirnya kembali. Ingin langsung bertanya, tetapi aku merasa tidak enak karena Roar terlihat muram.
"Semua ini ulah Nyonya Alberth," ucap Roar.
Nyonya Alberth? Siapa dia? Kenapa aku merasa tidak asing dengan nama itu?
"Siapa dia, Roar? tanyaku penasaran.
"Dia adalah tetangga Tuan Rodrigo. Kau tidak mengenalnya, Eliza?"
"Oh, ya, aku ingat. Dia wanita jahat yang sangat suka dengan serigala. Kenapa dia ada di sini?"
"Dia diutus oleh Ratu Samara untuk membawa anak-anak desa ini ke istana. Mereka akan dijadikan patung untuk membuat kekuatan Ratu Samara semakin kuat," jelas Roar.
Kejam! Sungguh kejam ratu itu.
Bagaimana dia bisa melakukan hal kejam seperti itu pada anak-anak sedangkan dia sendiri punya anak.
"Aku akan mencari tahu info lainnya. Aku akan berpura-pura menjadi serigala bernama Logan. Kalian tetap di sini sampai aku kembali lagi."
Jika Roar pergi, bagaimana nasib warga desa ini? Akan sangat berbahaya jika mereka masih di sini dan Nyonya Albert tahu tentang kebenaran Roar.
"Roar, kita harus membuat warga desa ini pergi dari sini dulu. Akan berbahaya jika mereka masih di sini," usulku.
Roar menerima usulanku, dia menyuruh Frans dan Steven mengumpulkan para kuda terbang untuk membawa warga desa ke hutan larangan tempat para Roughus tinggal.
Dengan keyakinan, aku membujuk warga desa untuk segera pergi dari tempat ini. Beberapa kali aku bujuk. Namun, mereka tetap tidak ingin keluar dari rumah mereka.
Apa aku harus menyerah sekarang. Mereka adalah rakyatku, rakyat Lootopia, aku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja dan membiarkan anak-anak itu menjadi korban keserakahan Ratu Samara.
"Nona, aku mau pergi," ucap gadis kecil yang bernama Rose. Dia dengan berani melawan orang tuanya dan keluar dari rumah untuk bertemu denganku.
"Kau ingin pergi? Kalau begitu bantulah untuk berbicara dengan yang lain," pintaku pada gadis kecil itu.
Frans dan Steven telah mengumpulkan para kuda terbang. Semua kuda itu sudah bersiap. Namun, warga desa belum juga muncul. Apa Rose gagal?
"Mungkin kita gagal," ucap Frans lesu.
"Tidak! Kita tidak boleh menyerah!" Aku berlari masuk ke desa untuk mencoba membujuk orang-orang itu lagi.
Belum sampai di desa, aku melihat para warga desa sedang berjalan menuju keluar dari desa. Apa mereka sekarang sudah yakin untuk pergi dari desa?
"Kalian bersiap untuk pergi?" tanyaku pada mereka.
Mereka, para warga desa itu mengangguk bersamaan. Aku, Frans dan Steven membantu mereka menaiki kuda terbang yang sudah disiapkan Steven dan Frans.
"Rose, bantu aku menjaga mereka, ya," pintaku pada gadis kecil itu.
Rose memang gadis kecil. Namun, dia lebih kuat dan berani daripada manusia dewasa. Dia gadis luar biasa yang akan jadi pelindung warga desa. Keberaniannya yang akan menjadi kekuatan bagi gadis kecil itu.
Para kuda terbang bersiap untuk berangkat ke hutan larangan. Aku harap mereka akan sampai dengan selamat di sana. Para Roughus akan menjaga mereka dengan aman.